Sabtu sore aku dijemput bersama kedua anakku, oleh Mas Fadli kami akan dibawa untuk fitting pakaian persiapan lamaran. Kebetulan ini adalah akhir pekan di mana lelaki itu hanya punya waktu di hari Sabtu dan Minggu. Kesibukan bisnis dan mengatur perusahaannya membuat dia jarang sekali bisa berkendara jauh keluar kota untuk menemui atau sekedar. Ada desas desus selama rencana pernikahan, komentar-komentar dari tetangga dan orang-orang sekitar, ada yang turut bahagia bahwa kami akhirnya akan memiliki sosok imam keluarga, tapi ada juga yang nyinyir. Mereka menertawai calon suamiku yang hanya penjual ayam dan telur. Mungkin dipikirnya, Mas Fadli hanya pedagang kulakan di pasar yang memborong lalu menjual kembali. Mereka tidak tahu Mas Fadli adalah pemilik perusahaan poultry terbesar di Sur

