Aku langsung mematikan ponsel sebelum air mataku meledak begitu saja di hadapan trotoar di mana orang-orang sedang lalu lalang. Sakit yang kupendam semalam seolah sudah sampai di puncaknya. Hingga aku tidak bisa lagi menahan kemarahan dan kesabaranku. Mungkin dia pikir aku bodoh dengan diam dan terus bersabar, mungkin dia kira aku menyerah dengan semua ini dan memilih bertahan demi anak-anak. Mungkin dia merasa bahwa aku masih mencintainya, sehingga tidak menggugatnya sampai hari ini. Lelaki itu sudah bertindak begitu jauh dan semena-mena padaku, sehingga aku tidak akan memberinya ruang lagi untuk menyakiti diri ini. Aku langsung memutar kemudi motorku untuk pergi ke bandara dan membalaskan dendam ku yang selama ini bertumpuk di dalam d**a. Setelah 40 menit berkendara di flyover dan j

