13. Jalan Terbaik

1269 Words
"Kenapa harus ngontrak, kan enak di sana mas, aku takut sendirian," ujar Aisyah. "Mas akan pulang menemanimu, atau mas akan menyuruh pembantu di rumah menemanimu jika mas banyak pekerjaan di kantor, toh di rumah ada dua pembantu," sahut Setya. "Kenapa tiba-tiba sih mas?" tanya Aisyah penasaran. "Aku merasakan sejak awal kita duduk diantara para tamu, mata pengantin pria tak lepas dari wajahmu, meski setelah itu ia menunduk, tapi sebelumnya ia sempat menatap lamaaaa wajahmu tanpa berkedip, sepertinya pesonamu belum mampu ia singkirkan, apalagi sejak menikah kau tambah cantik," ujar Setya menghela napas berat. "Alah mas ngerayu, tapi kan pengeluaran mas bertambah kalau aku ngontrak," Aisyah masih berusaha membujuk Setya. "Aku tak peduli toh uangku habis untuk istriku," Setya memeluk Aisyah, menatap wajah bingungnya. "Besok kita ke sekitar pondok pesantrenmu, mencari kontrakan yang sekiranya cocok untuk kita dan seorang pembantu, aku hanya ingin rumah tangga kita baik-baik saja," Setya mencium kening Aisyah dan Aisyah menciumi leher Setya, Setya sempat kaget dan menatap istrinya yang tampak memerah. "Maaf," suara Aisyah terdengar pelan. "Kenapa?" "Mas, kayak kaget tadi, mas nggak suka aku cium?" Terdengar tawa pelan Setya, mengusap rambut panjang Aisyah. "Mas kaget karena tak biasanya kamu menciumiku, biasanya juga selaluuuu saja minta ijin, terserah kamu mau apain mas hmmmm, mas suamimu, kamu mau apakan ya mas mau," Setya melihat Aisyah yang menyembunyikan wajahnya di dadanya. ***** "Keputusanmu sudah bulat sayang?" tanya Aca pada Fariq suaminya. "Ya, beberapa direksi mulai menelponku, aku hanya menunggu moment yang pas, tiga kejadian kemarin sudah cukup untuk dijadikan bukti, pertama saat bertemu Setya dia tertangkap basah dengan Pak Fredy yang jelas sudah berkeluarga dan yang kedua perkelahian antar karyawan yang hanya memperebutkan wanita itu, hah benar-benar mengganggu kinerja Mikala Corp., yang ketiga malah mengerikan cctv di parkiran dengan Pak Fredy bisa membuat kredibilitas Mikala Corp. bisa benar-benar hancur" ujar Fariq. "Lalu dia akan menghadap siapa besok?" tanya Aca. "Manajer HRD dan kalau dia tidak puas biar menemui aku di ruanganku, akan aku tunjukkan beberapa bukti cctv, perkelahian dua karyawan itu dan yang lebih mengerikan yaaaa seperti kita menangkap basah Setya dulu, Tenti terlihat di parkiran dengan Pak Fredy saling mencium dengan wajah mengerikan, sudah cukup kan dua bukti itu?" tanya Fariq. "Yah, aku tak tahu lagi, padahal kinerjanya bagus anak itu, dia pandai, hanya entah apa yang ada dalam pikirannya kok bertualang tanpa henti, apa dia tidak ingin berumah tangga dan hidup dengan tenang?" tanya Aca. Fariq tersenyum menatap wajah istrinya, mendekatinya dan menangkup kedua pipi Aca. "Hidup ini pilihan sayang, dan dia memilih hidup dengan cara seperti itu, sedang kita memilih hidup bahagia seperti ini, apa kabar jagoan papa, kapan kamu segera hadir diantara kami?" Fariq mengelus perut Aca yang semakin besar. "Hampir papa, papa tenang saja yaaaa temenin mama dan jangan bikin mama kesal," keduanya tertawa, dan berjalan ke arah tempat tidur, merebahkan diri di sana. **** Fariq mendongak saat Andra masuk dan dengan wajah kesal dia mendatangi mejanya. "Ada makhluk halus ke sini tuh, perlu banget, wajahnya memerah menahan marah dan tangis," Fariq mengerutkan kening.. "Tentiiii...," ujar Andra kesal. "Lah kamu bilang makhluk halus Ndra," "Lah kan dia nakutin Riq," dan Andra tertawa namun segera berhenti saat Fariq menyuruhnya ke luar karena terlihat Tenti yang berada di depan pintu. "Apa kesalahan saya Pak, hingga saya diberhentikan dari perusahaan besar ini, apa tidak ada prestasi saya hingga saya dikeluarkan dengan cara seperti ini, tidak ada pembelaan dari saya?" Tenti menahan tangis. "Kamu merasa telah memberi apa pada perusahaan ini?" tanya Fariq tenang. "Saya telah melakukan pekerjaan saya dengan benar, tidak pernah terlambat, dan mengerjakan semua pekerjaan saya tepat waktu," sahut Tenti cepat. "Itu kewajiban kamu sebagai karyawan di sini, bukan sebuah prestasi, memang seharusnya kau melakukan itu karena semua hakmu telah kami penuhi, yang terjadi malah kamu merusak, membuat perusahaan ini hina, lihat cctv ini, aku putar silakan kau nikmati, apa ini sebuah prestasi jika melakukan hal seperti ini dengan Pak Fredi yang sudah memiliki istri, di area parkir anak perusahaanku pula, apa tidak ada tempat lain hingga saling cium dengan penuh nafsu dan maaf dadamu hingga terbuka, jika ini tersebar ke dunia maya, maka kredibilitas perusahaanku akan terancam, akan jadi bulan-bulanan perusahaan lain, dan yang jelas akan berimbas pada semua anak perusahaan Mikala, dan yang lebih penting kau melukai perasaan wanita lain, kau juga wanita, ibumu juga wanita, bahkan mungkin nanti kau akan memiliki anak wanita, apa yang akan mereka rasakan jika melihat suaminya melakukan perbuatan hina seperti ini dengan wanita lain, pikirkan itu, ini lagi aku tunjukkan cctv yang lain,"... "Cukup pak, saya rasa tidak ada gunanya saya berlama-lama di sini," Tenti melangkah lebar ke luar dari ruangan Fariq dan menoleh dengan mata berkaca-kaca.. "Sayaaaa, saya hanya tidak tahu harus bekerja di mana setelah ini, karena saya menghidupi ibu saya yang sedang sakit," Lalu Tenti bergegas melangkah menuju lift.. Fariq menghela napas dan meraih ponselnya saat nama Aca terlihat melakukan panggilan video. Apa sayaaaang Jemput aku yaaa nanti Kenapa, kesepian lagiiii? Iyaaaa nggak teman ngobrol, biasanya mas Yu yang cerita dik Ais eh tadi pagi-pagi dengam semangat 45 ijin mau jemput tuan putrinya, mau ke undangan manten sama istrinya Hahahahah biarlah sayang kasihan dia, pengantin baru kok ya tempat tidur pisah, ok deh aku jemput ya He'eh aku tunggu ya **** Saat Fariq akan masuk ruangan Aca dia mendengar tangis Tenti, Fariq menahan kakinya dan melihat Septi yang duduk di kursinya segera bangkit, Fariq memberi kode agar Septi tetap di tempatnya. Fariq berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.. "Tolong ibuuu, tolong saya, bujuk Pak Fariq agal menarik kembali keputusan ini, bagaimana ibu saya yang sakit, bagaimana janin saya, saya tidak bisa mengugurkannya ibu, saya takut, saya ngeri karena janin ini ternyata hampir delapan belas minggu, bagaimana saya harus hidup ibuuu," tangis Tenti semakin menjadi di pangkuan Aca. "Aku tidak punya kekuatan apa-apa Tenti, itu bukan hanya keputusan Fariq, itu sempat jadi pembicaraan beberapa direksi, bahkan Fariq sempat kena tegur karena ulahmu, saranku, datangi ayah bayi itu," Aca mengusap kepala Tenti yang rebah dipangkuannya. "Ibuuuu saya tidak tahu pasti siapa ayah bayi ini," tangis Tenti semakin menyayat. "Ya Allah, cobalah ingat Ten, siapa yang terakhir berhubungan denganmu," Aca semakin bingung. "Bukan begitu ibuuu masalahnya bayi dalam perut saya sudah empat bulan lebih usianya, jadi saya bingung siapa saja yang berhubungan dengan saya empat bulan yang lalu," "Ooooh begitu ya?" Aca mengelus perutnya dan membaca istighfar berulang dalam hati, dan menoleh ke pintu saat melihat kepala Fariq melongok ke dalam. Aca memberi kode agar menunggu di luar. "Pulanglah tenangkan hatimu, kasihan bayimu jika kamu sedih seperti ini, aku juga hamil Tenti, hampir melahirkan malah, jaga kesehatan, jaga asupan makanmu, pulanglah," Aca membujuk dan Tenti bangkit mengusap matanya. "Saya boleh menemui ibu jika ibu sedang tidak sibuk?" tanyanya sendu. Aca mengangguk dan mengusap pipi Tenti saat keduanya sama-sama berdiri. Tenti melangkah ke luar dan Aca menghembuskan napas lega. Tak lama Fariq masuk dan Aca memeluk suaminya. "Ada apa?" "Aku kok kepikiran Tenti, kasihan bayinya?" "Aaaah kita pulang sayaaang kita jalan-jalan yuk, makan berdua, aku iri sama Setya pasti ia sedang bersenang-senang dengan istrinya," Dan Aca tertawa, meraih tasnya lalu menggandeng lengan Fariq menuju pintu. **** "Ada apa kok senyam-senyum mas?" tanya Aisyah saat melihat Setya yang tersenyum menatap ponselnya. "Ah ini ada kiriman foto dari Pak Fariq, sedang berdua dengan istrinya dan saling berpelukan, lalu ada komen di bawahnya, saya juga sedang weekeng dengan istri tercinta...ah aku selalu berterima kasih pada mereka yang telah memberikan segalanya bagiku, memahamiku, dan selalu memaafkan salahku," ujar Setya. Aisyah menatap suaminya tak mengerti. "Lah mas punya salah apa sama mereka, apa yang mas lakukan?" "Masih menyukai Aca saat itu" "Hah maksud mas Bu Aca, bos mas?" "Iya," "Lah kok bisaaaa?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD