Ciara menunduk dan berusaha mencari alasan. Namun, belum sempat ia menemukannya, Rendra sudah berdiri di samping sembari meraih dagunya. Ciara mendongak dan lagi-lagi beradu pandang dengan Rendra. Lelaki itu menatap dalam-dalam dan seolah menuntut penjelasan. "Kak Rendra." Ciara melingkarkan lengannya di pinggang Rendra. "Jadi jalan-jalan, kan?" sambungnya. Karena tak menemukan alasan, Ciara bersikap manis untuk mengalihkan kecurigan. Hal itu disambut baik oleh suaminya. Kini, Rendra duduk di tepi meja sambil mengusap sisa air mata Ciara. "Jadi kamu nangis gara-gara itu? Maafkan aku ya, Sayang. Kurang pengertian, jarang ajak kamu jalan-jalan. Pasti ... bosan banget ya di rumah," kata Rendra dengan lembut. "Aku___" "Nggak akan gagal, Sayang. Ayo berangkat sekarang!" ajak Rendra dengan

