Rendra berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Tak jarang tangannya mengacak rambut dengan kasar, terlihat jelas bahwa hatinya sangat kacau. Bagaimana tidak, lelaki yang baru saja ditemui membeberkan fakta buruk, yang tentu saja tentang dirinya. Di tengah pikiran yang menerawang, Rendra bertanya-tanya tentang takdirnya. Sebatas mana Tuhan mengizinkannya menatap Ciara? Wajah layu dan kusut ia bawa hingga ke ruang rawat, tempat di mana Ciara menunggunya. Pertama kali menginjakkan kaki di ambang pintu, Rendra menatap istrinya dengan nanar. Ibarat kata, manis rumah tangga baru ditata, tetapi keadaan justru menamparnya dengan kejam. Sanggupkah ia menerima kenyataan itu? "Kak Rendra, kenapa?" tanya Ciara ketika melihat Rendra mematung di ambang pintu. Dokter Airin dan perawat pun tur

