"Kak Rendra, kamu___" Ciara menggantungkan kalimatnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, kala mendengar pengakuan Rendra.
"Aku serius. Aku sudah lama menyimpan rasa ini, tapi ... aku pesimis karena hatimu sudah ada yang memiliki," ucap Rendra.
"Rendra, kamus serius, Nak?" tanya Ratna.
"Atau ini hanya alasan kamu untuk menolong kami?" Dion ikut bertanya.
Rendra mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia perlu menata hati, sebelum merangkai kata yang tepat untuk menjawab mereka.
"Saya serius, Om, Tante. Semua ini benar adanya, bukan sekedar alasan untuk menolong. Sejak pertama kali bertemu, saya sudah menyimpan rasa untuk Ciara. Tapi, selama itu pula saya merasa tidak pantas. Saya terlalu tua untuknya," ungkap Rendra.
"Jangan merendah karena umur, Rendra. Tante justru merasa ... Ciara yang tidak pantas untukmu. Karena Tante yakin banyak gadis lain yang mencintaimu, yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari Ciara. Benar, 'kan?" Ratna menilik wajah Rendra.
"Mungkin memang ada, tapi yang saya pilih Ciara, Tante. Di malam pertama saya pulang ke Surabaya, Tante mengajaknya ke rumah. Sejak saat itu, saya sudah jatuh hati padanya, dan rasa itu bertahan sampai saat ini," terang Rendra.
Keringat dinginnya mulai mengucur. Membahas tentang rasa, ternyata jauh lebih menegangkan daripada membahas kontrak kerjasama.
"Lalu, lalu bagaimana ini?" Dion bertanya sambil menatap Ciara dan Rendra secara bergantian.
"Mama dan Papa sudah tahu bagaimana perasaan saya, Om. Jadi ... jika Ciara mau menerima, saya pastikan tidak akan ada kendala," jawab Rendra.
"Ciara, mmmm bagaimana menurutmu, Nak?" tanya Ratna.
"Aku masih kalut dengan hasil tes tadi, aku belum bisa berpikir jernih." Ciara semakin menunduk. Niat Rendra memang baik, tetapi cukup sulit untuk ia terima.
"Aku mengerti, aku tidak terburu-buru, Ara." Rendra tersenyum.
"Maafkan aku, Ara. Aku tidak bermaksud memanfaatkan lukamu demi egoku. Aku memang mencintaimu, aku ingin menghapus lara dan menggantinya dengan tawa. Aku ingin bahagia bersamamu, Ara. Beri aku kesempatan, dan aku akan membuatmu nyaman dengan kehadiranku," batin Rendra.
___________
Semilir angin malam, menghadirkan hawa dingin yang menusuk tulang. Tak ada kerlip bintang, bulan pula hanya menyembul malu di balik awan kelabu. Sayup samar, suara debur ombak bak nyanyian alam yang mencekam.
Orang lain pasti lebih memilih berbaring di bawah selimut tebal, mencari kehangatan sebelum turun hujan. Akan tetapi, tidak demikian bagi Ciara. Ia malah berdiri tegak di balkon kamar. Wajahnya mendongak, seakan menantang kilatan petir yang mulai menyambar. Semakin lama, genggaman jemari di terali kian mengerat. Bersamaan dengan bibir yang mengatup rapat dan mata yang mengerjap cepat. Semua tingkahnya, melukiskan suasana hati yang tidak baik.
Sejak selumbari, ia belum memutuskan pilihan. Terlalu sulit baginya untuk menentukan mana yang terbaik. Menghilangkan secara paksa, itu cukup mengerikan. Selain berdosa, dampaknya juga buruk bagi dirinya. Menikah dengan Rendra, itu pula bukan pilihan yang baik. Kendati Rendra punya cinta, namun dirinya tidak sama sekali. Hatinya masih terpaut pada lelaki lain.
Membiarkannya lahir tanpa pernikahan, itu juga tidak mungkin. Aibnya akan tersebar ke mana-mana, dan ia tak mau hal itu terjadi.
"Andai saja aku bisa menghubungimu, Kak, aku pasti tidak terjebak dalam dilema. Ke mana kamu, Kak Rifky? Apakah terjadi sesuatu denganmu?" bisik Ciara pada embusan angin malam.
Ia menatap ke segala arah, seolah mencari petunjuk di sudut mana Rifky berada.
Perlahan, Ciara menunduk. Menatap perutnya yang masih rata. Di dalam sana ada kehidupan yang mulai bersemayam. Kehadirannya menancapkan luka yang terdalam, namun tak lantas membuat Ciara tega untuk menghabisi.
"Bagiamanapun juga dia adalah titipan Tuhan, dan juga darah dagingku. Tak peduli seperti apa asal-usulnya, dia sama sekali tidak berdosa. Andai saja disuruh memilih, dia pasti menolak hadir dengan cara seperti ini. Aku tidak mungkin membunuhnya." Ciara mengusap perutnya dengan pelan.
"Aku akan menghubungi Kak Rendra. Aku harus bicara dengannya, sebelum mengambil keputusan," ujar Ciara. Kemudian ia melangkah masuk ke kamar.
Ciara meraih ponselnya yang tergeletak di bawah ranjang. Beberapa waktu lalu dia frustrasi, karena masih gagal menghubungi Rifky, dan akhirnya ponsel itu menjadi pelampiasan amarah.
Tak lama kemudian, sambungan telepon mulai terhubung. Suara bariton menyapanya dengan ramah.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Ara," sapa Rendra dari seberang sana.
"Waalaikumsalam, Kak," jawab Ciara dengan gugup.
"Ada apa?" Rendra kembali bersuara.
"Aku mau bicara sama Kak Rendra." Ciara duduk di tepi ranjang sambil memeluk guling. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak cepat.
"Bicara saja, jangan ragu," sahut Rendra.
"Aku ... aku tidak mencintai Kak Rendra." Ciara memejamkan mata. Ia tahu kalimatnya ini menyakitkan, tapi ia harus jujur sebelum melangkah lebih jauh.
"Aku tahu. Kamu masih mencintai Rifky, 'kan?" tanya Rendra.
Ciara terdiam. Mengapa Rendra sesantai itu?
"Cinta nggak melulu hadir lewat pandangan pertama, Ara. Terkadang, cinta juga bisa hadir lewat kebiasaan," ucap Rendra karena Ciara tak kunjung bicara.
"Tapi ... apa ini adil untuk kamu, Kak? Kamu masih suci, sedangkan aku sudah ternoda. Kamu punya cinta, sedangkan aku masih tak ada rasa. Apa kamu akan bahagia, Kak?" tanya Ciara.
"Jangan bicara tentang noda, aku tidak mempermasalahkan hal itu, Ara. Apapun dirimu, aku tetap mencintaimu. Aku juga berjanji akan selalu menyayangi anakmu. Sedangkan untuk cinta, aku akan berjuang untuk menanamnya di hatimu. Melihatmu sekilas saja aku bahagia, Ara, apalagi hidup bersamamu dalam satu atap." Rendra tertawa kecil seusai mengucapkan kalimat yang terakhir.
"Bagaimana jika sampai nanti aku tidak bisa mencintaimu?" tanya Ciara.
Sebuah pertanyaan yang ambigu, namun Ciara tak ragu untuk melontarkannya, karena hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil.
"Jika kamu memang tidak bahagia menikah denganku, dan kamu tidak bisa sedikit pun mencintaiku. Tentunya aku akan melepaskan kamu, Ara. Cinta sejati bukan memaksa untuk memiliki, namun memrioritaskan kebahagiaan yang hakiki," terang Rendra.
Lagi-lagi Ciara terdiam, Rendra memiliki pemikiran yang bijak. Kini perasaannya kembali bergejolak, antara menerima dan tidak.
Dilihat dari sifat dan rupa, Rendra memang tidak ada cela, ia adalah sosok yang sangat layak untuk dicintai. Namun, hatinya sudah diisi oleh Rifky. Begitu indah cinta kasih mereka, begitu manis kenangan yang terukir bersama. Sanggupkah ia menghapus semua itu?
"Jika kamu memang berat untuk menerimaku, jangan dipaksa. Aku tidak apa-apa, meskipun kamu menolak. Tapi ... berjanjilah satu hal, Ara. Jangan menangis dan jangan terpuruk dalam keputus asaan, aku sakit melihatnya," kata Rendra, setelah jeda hampir satu menit.
Ciara menggigit bibir, semua kata yang keluar dari mulut Rendra, seolah mendorongnya untuk menerima pernikahan itu.
"Maafkan aku, Kak Rifky. Aku tidak punya pilihan lain," batin Ciara.
"Aku menerima kamu, Kak. Aku mau menikah denganmu," ucap Ciara dengan gemetaran.
"Kamu serius?"
"Iya." Ciara menurunkan ponselnya dan memutus sambungan secara sepihak.
Ciara menutup wajahnya dan menyembunyikan air mata yang kembali berderai. Hatinya terkoyak memikirkan takdir hidupnya yang teramat pahit.