EVELYN saat ini sedang mempersiapkan diri untuk bekerja. Ia memakai blazzernya dan mengernyit ketika melihat kiss mark pada lehernya yang tampak sangat mencolok.
Semalam, ia sama sekali tak bisa tidur karena memikirkan ciuman itu. Evelyn tak pernah berciuman. Itu ciuman pertamanya seumur hidup. Ia bahkan tak pernah memiliki pacar karena terlalu sibuk menggagumi Claudio.
Louis ...
Evelyn tak kenal lekaki itu. Yang ia tahu adalah lelaki itu pengusaha karena Evelyn sempat melihatnya rapat kemarin. Dan lagi lelaki itu adalah lelaki yang ditabraknnya. Ia sama sekali tak tahu mengapa Louis tiba-tiba menciumnya seperti itu. Apa yang sebenarnya lelaki itu pikirkan?
Evelyn menghela napas dan mengambil turtlenecknya. Setidaknya ia harus menutupi bekas ciuman ini. Bisa-bisa mamanya berpikir yang tidak-tidak kalau bekas ini tak kelihatan.
Evelyn berjalan keluar kamar dan mencari mamanya yang tampaknya masih tidur. Evelyn menghela napas lagi saat melihat banyak obat yang di letakan di meja. Obat yang ia tak tahu pasti fungsinya.
Evelyn kemudian memijat pelipisnya karena pening. Ia tidak tahu lagi harus bekerja dimana. Apa uangnya akan cukup jika ia hanya bekerja di perusaahan K dan club? Ia tak bisa lagi mencari pekerjaan lain karena waktu tidurnya akan benar-benar habis jika itu terjadi.
Evelyn keluar dari kamar mamanya dan menutup pintu itu dengan pelan. Ia sama sekali tak berniat untuk membangunkan mamanya. Ia akan menemani mamanya untuk kemotrapi besok, jadi ia tak akan menggangu istirahat mamanya untuk hari ini.
*****
Rani menghampiri Evelyn yang tampak murung di meja kerjanya. Ia menghela napas pelan dan duduk di samping Evelyn.
"Ev, lo kemarin pulang terakhir ya?" tanya Rani.
Evelyn mengangguk, "Iya, sudah biasakan kalau anak baru itu pulangnya paling terakhir?" ucap Evelyn sambil mendengus.
Rani mengangguk, lalu ia mendekati Evelyn karena tiba-tiba teringat akan sesuatu, "Ev, gue denger ni ya, presidir perusahaan ini bakal turun dari jabatannya sebentar lagi, dan di gantiin sama anaknya. Katanya sih anaknya itu ganteng abis dan friendly."
Evelyn mengangkat sebelah alisnya, "Terus kenapa?"
Rani mendengus melihat Evelyn yang sama sekali tak tertarik pada ceritanya, "Gue kan udah punya Ferdy. Nah, jadi gue berbaik hati mengalah pada lo. Lo deketin gih si presdir baru nanti. Siapa tahu dia kegebet dan bisa bantu lo buat lunasin biaya rumah sakit."
Evelyn melonggo mendengar cerita Rani itu, "Mana mau dia sama cewek kayak gue," ucap Evelyn sambil menepuk tangan Rani.
Rani mendekati wajah Evelyn dan membolak baliknya, "Di lihat dari sisi manapun lo itu cantik, Ev. Kenapa harus minder?" ucap Rani yang membuat Evelyn merona.
"Cantikkan lo, Rani," ucap Evelyn sambil tersenyum.
Rani terkekeh mendengarnya, "Btw, lo udah pernah ketemu sama Boss yang di club?"
Evelyn menggeleng, "Emang dia sering ya mampir ke club?"
"Iya, banget malah. Orangnya ganteng abis. Tapi auranya dingin, dan lagi udah punya istri. Tapi gapapa sih sebenernya."
Evelyn terkekeh, "Emang lo mau jadi pacarnya gitu kalo dia meskipun dia sudau punya istri?"
Rani mengangguk mantap, "Meskipun dia dingin galak dan jutek, asalkan tampannya tak berkurang adek tak masalah di duakan," ucap Rani sambil cekikikan.
Evelyn menatap Rani aneh, "Gue sih ogah ya di duain. Gue maunya satu untuk selamanya."
Bimo yang sedaritadi mengamati Evelyn dan Rani mengernyit melihat mereka berdua yang saling berbisik-bisik sambil cekikikan tanpa dirinya.
Ia mendekati mereka berdua dengan perlahan dan berbisik pelan didekat mereka, "Lagi bicarain apa?"
Evelyn dan Rani yang terkejut pun langsung refleks memukul Bimo keras. Lelaki itu meringis karena kedua sisi badannya jadi korban penganiayaan oleh kedua wanita di depannya ini.
"Sakit woy monyet!" umpat Bimo tak sadar sambil mengusapi kedua bahunya.
Rani terkikik ketika menyadari ia memukul Bimo dengan keras, "Lagian lo ngagetin gue sama Ev sih."
Bimo mendengus, "Abis ... kalian ngegosip gak ngajak gue," gumam Bimo sambil cemberut.
Evelyn tertawa melihat Bimo yang tampak sedih. Ia sama sekali tak pernah cerita dengan Bimo mengenai mamanya lagi. Dan ia juga belum sempat mengobrol dengan Bimo sejak kejadian di rumah sakit. Entah kenapa, Evelyn merasa ia akan membebani Bimo kalau ia memberitahu masalahnya. Jadi lebih baik Evelyn menyimpannya sendiri.
"Yee, gue sama Ev lagi ngomongin anak presdir yang misterius itu lho. Yang katanya ganteng dan friendly," ucap Rani yang membuat Bimo terdiam.
"O-oh. Kalian sudah dengar kabar itu ya," ucap Bimo pelan.
Rani mengangguk antusias, "Tentu saja! Gue mau ketemu dia! Siapa tahu dia mau gue gebet," ucap Rani yang langsung dibalas toelan oleh Evelyn.
"Tadi lo bilang lo punya Ferdy?" tanya Evelyn bingung.
Rani mendengus, "Habis lo gak mau gebet anak presidir Ev. Mending sama gue aja dianya."
Bimo mengernyit, "Ev mau ngegebet anak presdir?"
Rani mengangguk, "Gue suruh dia ngegebet anak presdir supaya biaya pe---"
Evelyn dengan cepat membekap mulut Rani yang hampir membocorkan semua rahasianya pada Bimo. Bimo mengernyit lagi, "Biaya apa?"
Evelyn menggeleng cepat, "Enggak kok. Udah ya gue mau lanjutin pekerjaan gue," ucap Evelyn setelah melepaskan bekapannya pada mulut Rani.
Ia langsung berbalik dan mengerjakan pekerjaannya, meninggalkan Bimo yang masih bingung di belakangnya.
*****
Louis tersenyum senang dengan akal bulus yang tengah menari-nari di otaknya. Ia sudah menyelidiki latar belakang Evelyn, baik masa lalu ataupun hal-hal yang sedang di alaminya sekarang. Dan ia menemukan sesuatu yang bisa membuat Evelyn menjadi miliknya.
Ia akan membuat Evelyn jadi miliknya. Meskipun itu akan memakan banyak uang.
*****