“You will get treats like a princess.” — Luke Anderson.
***
“Gisel, Mama sama Papa usul kalau pertemuan natal kita rayakan di villa kita aja. Pokoknya setelah itu setiap tiga bulan sekali kita ke sana. Mama khawatir sama kamu.”
Neni berucap melalui panggilan langsung. Gisel hanya bisa mengiyakan pesan ibunya tersebut. Setiap tiga tahun sekali, keluarga besar Gisel mengadakan pertemuan dan liburan bersama. Jatuhlah kali ini untuk liburan ke Bali.
“Hmm pasti besok kalau udah mendekati natal suruh bersih-bersih nih. Mager,” gumam Gisel.
Senja ini Gisel tahu bahwa Luke sedang menghabiskan waktunya di sebuah gym, biasanya sih seperti itu. Dia keluar dari kamar ke ruang tengah. Semula ia pikir villa seberang adalah benar-benar villa yang berhadapan dengan milik Luke. Namun, dia salah sangka. Yang dimaksud Luke adalah kamar seberang. Haduh!
Dinyalakannya TV LED berukuran 48 inch di ruang tengah tersebut. Gisel memilih menonton serial barat. Setengah jam berjalan, Gisel malan jatuh tertidur di sofa berwarna merah marun itu.
Tap … tap ….
“Hmm. Alis sudah punya hanya kurang rapi saja. Bulu mata? Terlalu pendek. Pasti dia sangat malas berdandan.” Seseorang bergumam sambil memerhatikan wajah Gisel dari dekat. Detil demi detil.
Kelopak mata Gisel terbuka perlahan. Samar-samar dilihatnya wajah seseorang bak dewa tepat di depannya. “Ha!” Gisel tersentak ke belakang. Menarik badannya sedikit.
“Kamu ngapain, sih? Ngagetin aja,” protesnya.
“Nothing. Aku cuma perhatikan kamu saja. Kamu perlu perawatan wajah dan tubuh,” saran Luke.
Tentu Gisel menolak. Mudah saja bagi Luke memberikan teorinya. Prakteknya berbeda. Beauty is pain. Gisel tidak suka itu. Dia sudah cukup puas merawat dirinya sendiri meski hasilnya tidak se-wow di tempat khusus perawatan.
“Pokoknya kamu harus perawatan,” paksa Luke.
“Males binggo! Mending uangnya buat aku jajan makanan!”
Luke berbisik di hatinya. “Aku yakin kamu akan suka. Kamu akan dirawat bak putri raja nantinya. Dasar wanita, sok menolak. Padahal aku yang bayar.”
Setelah mendengar penolakan itu, Luke memasuki kamarnya. Dia masih butuh untuk membasuh dirinya setelah dari gym dan penuh keringat. Gisel mengakui ketampanan Luke tadi saat berada di depan wajahnya. Baginya, laki-laki sehabis olahraga adalah seksi. Apalagi kalau keringatnya tidak bau. Ada sisa wangi parfum yang bersarang di badan Luke tadi. Pasti parfum mahal!
Drrrt!
Luke mengangkat ponselnya di sebelah ranjang. Masih terbalutkan handuk di pinggangnya hingga selutut. Dia bertelanjang d**a serta rambutnya masih basah. Kalau Gisel lihat, pasti dia sudah berliur.
“Yes, Grandma?”
“When will you come back to Australia? Your dad worries so much that your chair is empty,”jelas neneknya mengenai Samuel, ayahnya Luke, yang cemas bahwa posisi CEO di perusahaan tambangnya sedang kosong. Untuk saat ini masih aman karena Samuel masih menjadi owner di sana. Namun, keluarga mereka mengharapkan Luke untuk menjadi penerus kepemilikan perusahaan itu. Sebab Luke adalah anak pertama.
“Kenapa aku? Masih ada Mike yang bisa menggantikan aku.”
“Luke! Mike itu adikmu. Turun temurun penerus perusahaan ini adalah anak pertama. Itulah mengapa kamu harus segera menikah dan mengamankan posisi penerus nantinya.”
“Bukankan kalian mengira aku gay? Bagaimana bisa aku memiliki anak nanti?! Sudahlah. Mike saja yang menggantikan aku. Lagi pula dia akan segera pulang ke rumah juga.”
Nenek Rose kesal dengan cucu pertamanya itu. “Mike tidak jadi pulang. Pokoknya tahun baru kamu harus ke sini membawa calon istri. Kalau tidak … nenek mau bunuh diri,” ancam Rose.
“Nenek sudah berulang kali berkata seperti itu.”
“Kali ini Nenek sungguh-sungguh. Sudah! Pokoknya tahun baru kamu sudah balik ke Australia!” teriak Rose dengan suara paraunya dan langsung menutup sambungan telepon itu. Penolakan Luke membuatnya naik pitam.
“Haduh, Nek. Iya Luke akan pulang dengan calon istri … tapi hanya bohongan sampai Mike kembali,” candanya sendiri sembari memandangi layar ponselnya. Dia menggelengkan kepala.
***
Tap … tap ….
Suara langkah kaki mencuri perhatian Gisel yang sedang mengunyah sereal di dapur. Sereal di malam hari? Ah, tidak masalah!
“Kamu bisa nggak, sih, pakai baju dulu?!” protes Gisel melihat Luke yang masih memakai handuk. Berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
“Ini villaku. Aku bisa semauku,” balas Luke. “Hmm kamu tergoda?”
Gisel hanya memincingkan sudut bibirnya.
“Daripada kamu makan sereal … Lebih baik makan ayam betutu denganku. Ayo,” ajak Luke langsung menggandeng tangan Gisel menuju kamar Luke.
“Hyaa! Kamu mau ganti baju kenapa aku harus ikut ke kamarmu!?” sorak Gisel berdiri di ambang pintu. Melepaskan genggaman Luke.
“Aku ingin tahu apakah kamu tertarik dengan badanku tidak kali ini. Aku sudah membentuk ototku lagi.” Luke berdiri di depan lemari polos abu-abunya.
“Lalu kalau aku tertarik?! K-kamu berencana me-merawaniku?” sahut Gisel terbata-bata. Agak cemas.
Luke terkekeh. “Bukannya itu keinginanmu?! Sudah sudah sana keluar. Aku hanya bercanda. Tunggu di depan.”
***
Kerlipan mata Gisel berfokus pada jalanan yang ramai malam ini. Bali tidak pernah sepi. Dia sangat suka berada di sini. Kecuali harus duduk bersama dengan sopir Luke yang sok gagah itu. Asistennya juga ikut.
“Harus banget ya sama sopir dan asisten tiap hari? Nggak bebas,” resah Gisel. Duduk di samping Luke di kursi belakang mobil ala seleb ini. Alphard.
Luke nih penghasilannya berapa, sih? Kok bisa sewa-sewa orang dan ada mobil mewah ini. Jangan-jangan dia mafia?! Whaaat!?!
“Tidak perlu cerewet,” imbuh Luke datar. “Aku dipaksa nenekku seperti ini. Supaya dia tidak terlalu cemas,” batinnya.
Sampailah mereka di restoran tepi pantai.
Luke dan Gisel duduk bersampingan. Membuat Gisel risih.
“Kenapa harus sampingan, sih?!” protes Gisel.
Jawaban tidak diberikan oleh Luke. Dia sibuk memesan menu makan malam. Ayam betutu dan satu botol vodka.
“Kamu minum apa?” tanya Luke.
“Mhh. Kelapa muda.”
Pegawai itu segera kembali ke dalam setelah mendapati pesanan mereka berdua.
Luke akhirnya berucap sambil merangkul bahu Gisel. “Jangan bergerak. Sepertinya ada mata-mata suruhan nenekku,” pinta Luke lembut.
“Pasti gara-gara berita bahwa ada seorang perempuan keluar masuk di villaku. Nenekku pasti tidak percaya kalau aku tinggal bersama seorang wanita. Padahal aku sudah berkali-kali membawa wanita. Mungkin nenek pikir mereka bukan wanita sungguhan. Hff,” desah Luke. Ada-ada saja pikiran orang tua.
Gisel mengkerutkan dahinya. “Emang ada apa, sih? Kok ada asisten dan mata-mata segala. Emang kamu siapa!?” desaknya.
“Bukan siapa-siapa. Let’s eat,” ajak Luke ketika hidangan dengan aroma ayam rempah khas Bali bertengger di depan mata mereka.
Keduanya dengan lahap mengunyah ayam betutu khas Bali itu.
“Buka mulutmu,” pinta Luke pada Gisel.
“Nggak!” tolak Gisel mentah-mentah. Dia geli. Padahal Luke melakukan ini hanya karena mata-mata dari neneknya sedang mengambil foto mereka berdua dari kejauhan. Luke tahu itu.
Sebenarnya Luke juga khawatir dengan ucapan neneknya saat di telepon. Jadi kini setidaknya dengan foto ini, neneknya bisa merasa damai.
***
Kembalilah mereka di rumah setelah perut mereka terisi. Kini mereka berdua berada di kamar tidur mereka masing-masing.
Namun Luke merasa susah tidur. Sudah satu jam dia memejamkan mata tetapi tak kunjung lelap ke alam mimpinya.
Mungkin aku butuh teman mengobrol.
Beranjaklah dia ke kamar Gisel. “Kok pintunya tidak dikunci? Berarti dia belum tidur nih. Masuk ah.”
Tap … tap ….
Saat sudah membuka sedikit pintu, Luke menelan ludahnya dengan sulit. Dia membenci otaknya kali ini. Bagaimana tidak? Gisel tertidur dengan dress tidurnya yang pendek dan ada tali tipis yang tergantung di bahunya. Tanpa selimut pula.
***
“Gisel?” panggil Luke kali ini. Selama mengetahui namanya, baru kali ini dia menyebut nama wanita itu.
Wajah Luke sudah merekat ke wajah Gisel. Tinggal satu senti saja dia bisa mengecup bibir wanita dengan muka bantal itu. Tidak ingin kehilangan kesempatan, dia langsung menautkan bibirnya ke bibir Gisel yang lembut akibat lipbalm yang ia pakai sebelum tidur tadi.
Gisel menarik kepalanya serta melebarkan kelopak matanya. “Luke?” lirihnya. Tak disangka, Gisel malah merangkulkan telapak tangannya ke belakang tengkuk Luke. Memintanya untuk menciumnya lagi. Tatapan mata sayu Gisel yang berbicara sudah cukup dimengerti oleh Luke.
Tentunya penuh semangat, Luke memposisikan Gisel dibawahnya sekarang. Wanita itu memberi jalan padanya.
“Aku mau kamu,” ungkap Luke. Yang kemudian menelusuri tubuh indah Gisel di atas ranjang itu. Dengan lampu temaram.
Hingga akhirnya tibalah di waktu di mana Luke membenamkan wajahnya di antara paha Gisel. Membuat wanita yang masih perawan itu mengerang kenikmatan. Hal yang sangat ditunggu-tunggu Luke. Ingin membuat wanita itu mencapai puncaknya untuk pertama kali dalam hidupnya.
***
Kotor sekali pikiran bule ini!
“Damn it. I want to touch you so bad,” keluhnya menahan sesuatu yang mulai bergerak di balik celananya. Matanya berfokus pada paha mulus dan mungil milik Gisel. Serta belahan dadanya yang terlihat akibat Gisel tidur menghadap samping.
Luke melangkahkan kakinya ke dekat ranjang seraya meneguk salivanya perlahan. Ingin sekali dia mengecup bibir Gisel yang sedang tidur pulas itu. Berharap dia bisa memuaskan dirinya sendiri di atas ranjang itu tanpa membuatnya bangun.
Namun semuanya sirna, dia tidak ingin mengingkari janjinya sendiri agar tidak menyentuh bagian terlarang milik Gisel. Sesuai apa yang sudah mereka sepakati di kertas minggu lalu. Meski hanya tulisan tangan.
“Aku benci otak ini,” gumamnya sendiri setelah membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi malam ini. Dia segera menepisnya.
Gemas dengan pikirannya sendiri yang liar, Luke berlari ke kamarnya.
Baiklah. Aku akan bermain sendiri saja. Setelah itu aku akan bisa tidur.
Brak! Pintu kamar Gisel menutup saat Luke berlarian dan menarik pintu itu.
Suara yang terlalu lantang itu membangkitkan wanita berambut bob dengan poni depan ini.
“Ahh ternyata cuma mimpi. Aku pikir Luke mengamatiku. Syukurlah,” desisnya.
Kemudian Gisel menyalakan pendingin ruangannya dan kembali tidur. Dengan selimut kali ini.
Sedangkan Luke, masih melampiaskan hasrat seks nya di kamar mandi. Bermain solo.
Ayo ayo komentar jangan dibiarkan kosong biar author semangat updatenya ;)