BARA terkejut saat pintu rumahnya tiba-tiba dibuka dengan kasar, ia segera meninggalkan sarapannya dan melihat siapa yang datang. Ketika sampai di rumah tamu, ia bisa melihat kedua putranya datang dengan wajah penuh amarah. Ada keraguan dalam hatinya untuk mendekati mereka yang tiba-tiba datang seperti ini, meskipun hatinya juga sangat bahagia. “Nak, ada apa?” tanya Bara khawatir. Revan melempar tas sekolahnya ke lantai dengan amarah, Bara menatap aneh putranya. Setelah beberapa hari lalu ia datang dan berkumpul bersama keluarga mereka, malam itu masih baik-baik saja. Revan tampak sangat marah begitu juga dengan Rain. “Ini semua gara-gara Ayah, kalau aja Ayah seperti anda boleh dibunuh, aku nggak akan pikir dua kali buat melakukan itu!” teriak Revan penuh amarah. “Nak--” “Diam! Selama

