"Yang itu bagus kan?"
Sejak tiga puluh menit yang lalu Oza masih dalam mode diamnya. Tidak menanggapi atau pun merespon semua ucapan Lingga yang meminta pendapat akan dirinya, mengenai gaun yang ada di salah satu butik ternama sebuah mall di daerah Jakarta Selatan.
Oza sungkan. Perlakuan Lingga hari ini benar-benar di luar prediksi. Apalagi Bu Mira. Wanita paruh baya pemilik tempat kerjanya itu dengan kerelaan hati menyuruhnya ikut bersama Lingga. Entah suap dalam bentuk apa yang Lingga berikan sampai Bu Mira membiarkannya pergi tanpa alasan yang jelas.
Kalau pun di suruh memilih juga lebih baik Oza menjaga ruko dari pada pergi bersama Lingga.
"Ga ada yang kamu suka?"
"Kita masih punya produk and-"
Ucapan pramuniaga yang sedari tadi mengikuti mereka tiba-tiba terhenti karena isyarat tangan Lingga yang memintanya untuk diam.
Lingga kembali menatap Oza. Ia tahu gadis itu selalu tak nyaman jika berada di dekatnya. Tapi sayangnya Lingga sudah bertekad untuk membuat Oza betah berlama-lama di dekatnya. Dan ia tak ingin menyia-nyiakan keadaan.
"Za, Please say something"
"Saya mau pulang"
Satu kalimat pendek yang keluar dari mulut Oza membuat Lingga putus asa. Awalnya ia akan menyangka reaksi Oza ketika ia ajak kesini adalah senang dan berakhir memeluknya untuk mengucap terimakasih. Tapi realitanya? Sungguh membuat kepala Lingga berdenyut sakit. Oza berbeda dari gadis lainnya ternyata.
"Ini buat kamu, buat nanti resepsi di acara pernikahannya sekretaris saya"
Oza kembali diam mendengar ucapan Lingga. Benar juga, ia tidak punya baju yang bagus untuk datang ke acara itu. Walaupun acaranya masih dua hari lagi, Oza tak yakin akan ada waktu lagi mencari baju di luar jam kerja. Mumpung Bu Mira memberinya waktu secara cuma-cuma.
Bahkan libur untuk dua hari juga sudah Oza dapat guna menghadiri acara pernikahan Aldo di Bandung.
Kuasa Lingga benar-benar tak bisa di tolerir.
"Keluarkan semua produk terbaru dan terbaik kalian" Lingga berbicara tanpa menatap pramuniaga tadi yang berdiri tak jauh dari mereka, matanya masih fokus pada Oza yang seolah memikirkan sesuatu.
"Ga perlu," sela Oza cepat. Gadis itu mendongak, menatap Lingga.
"Za.."
"Aku mau batik aja"
Satu kalimat tersebut mampu membuat Lingga menghela napas lega. Ia gemas, Oza ini tipe gadis merpati. Susah-susah gampang untuk di jinakan!
***
"Kamu tahu toko sepatu yang bagus?"
"Ada!"
Ingin sekali Oza mengucapkan kata tersebut dengan antusias. Tapi mana mungkin! Oza lebih memilih menggeleng pura-pura tak tahu.
Oza pikir dia siapa sampai berani meminta ini itu dengan Lingga?
Akhirnya Lingga menarik Oza ke salah satu toko sepatu yang ada di mall tersebut. Ia sebagai laki-laki tidak paham akan merk seperti apa yang sedang di gandrungi para kaum wanita. Makanya ia menarik Oza memasuki toko sepatu wanita secara asal.
Mata Oza terbelalak. Ini toko yang saat itu ia lihat keberadaan high heels impinnya sejak dua bulan lalu. Namun sampai sekarang tidak pernah kesampaian karena banyaknya guna keperluan yang lain.
"Mau yang kayak gimana?"
Lingga menatap Oza, mengabaikan sapaan pramuniaga yang menghampiri mereka.
"Terserah," jawab Oza acuh.
Namun sangat kontradiktif dengan gestur gadis itu. Matanya berpendar liar seolah mencari sesuatu.
"Oke, saya carikan" Lingga menghela napas kasar. Berbelanja dengan situasi seperti ini membuat pria itu frustasi. Apa susahnya Oza memilih sendiri apa yang ia mau? Dan Lingga akan duduk manis saja tanpa di repotkan seperti ini.
Ketika Lingga sedang sibuk berbicara mengenai sepatu yang di sukai wanita masa kini dengan pramuniaga toko, mata Oza terus berpendar antusias mencari keberadaan high heels idamannya sejak dua bulan yang lalu tersebut.
Terakhir kali Oza melihat sepatu tersebut di deretan kanan rak kaca paling pinggir. Sepatu tersebut tidak di pajang di deretan rak depan karena tidak terlalu mahal dan bukan keluaran terbaru. Jadi Oza sedikit tidak yakin orang mau memilikinya. Secara selera fashion Oza ini agak berbeda dengan wanita kebanyakan.
Tidak masalah tidak keluaran terbaru. Selama Oza suka dengan wujudnya dan nyaman memakainya, maka itu sebaik-baik pilihan.
Setelah lama sepasang bola mata hitam itu berpendar, akhirnya Oza dapat menangkap objek yang ia cari sedari tadi.
Oza berjalan mendekat begitu saja, bak besi yang di tarik magnet oleh objek yang ia pandang. Mengabaikan Lingga yang kebingungan dengan puluhan pasang sepatu yang ada di hadapannya.
Tersadar, mata Lingga mengikuti pergerakan Oza. Lingga tersenyum kecil, langkah kaki panjang pria itu bergerak ke arah Oza berdiri.
"Kita ambil yang itu,"
Oza tersentak kaget saat mendengar suara berat pria yang ada di belakang panggungnya. Mendadak rasa senang yang membuncah kala mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Lingga, membuat Oza langsung membalikkan badannya.
"Ini-"
"Cepat kemas, kami mau pulang" Ucapan Oza mendapat interupsi dari Lingga yang buru-buru minta mengemas sepatu yang Oza mau. Dari pada Oza berubah pikiran, lebih baik di percepat.
***
"Saya tunggu di depan loby aja, Pak"
Lingga mengangguk lantas turun berjalan ke arah basement, berlawanan arah dengan Oza.
Oza tak kuasa menahan senyumnya. Selepas Lingga pergi, lengkungan bibir Oza terangkat keatas begitu saja. Ia menggenggam erat paperbag nya dengan perasaan senang teramat sangat.
Sampai dengan ia sudah berdiri di pinggir jalan menunggu kedatangan Lingga, Oza tak sadar akan posisinya yang sudah menginjak aspal jalan. Ia pikir posisinya masih dalam zona aman, tapi nyatanya tidak. Fokusnya terpecah begitu saja.
Di balik kemudi sebuah mobil yang akan melintas dari arah kiri Oza berdiri, seorang pria yang terlihat sedang terburu-buru dengan ponsel di telinga kirinya membelalakkan mata setelah spontan menginjak pedal rem.
Semua terjadi begitu cepat.
"Arghh" Rintihan Oza yang berada di pelukan Lingga membuat Lingga buru-buru bangkit guna mengecek keadaan Oza.
Ada sedikit luka goresan di jari tangan Oza yang tak terlindungi sepenuhnya oleh badan besar Lingga. Membuat Lingga mendadak bingung sekaligus khawatir. Hingga tanpa sadar mengeraskan nada suaranya.
"Jari kamu luka kan! Makanya kalau berdiri jangan dekat-dekat jalan!"
"Baju Bapak robek" Oza berucap spontan, berusaha mengabaikan kemarahan Lingga.
Lingga hanya diam dan melirik lengan kemejanya sekilas.
Ia berdiri, mengulurkan tangannya pada Oza tanpa menghiraukan perkataan gadis itu sebelumnya.
Karena merasa menjadi pusat perhatian sekarang, Oza menyambut uluran tangan Lingga tanpa menatap pria itu.
"Pak Lingga,"
Baik Oza maupun Lingga mengalihkan perhatian mereka ke arah pria jangkung yang ada di depan mereka.
"Siapa?" tanya Lingga bingung
"Saya Danu, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja tadi karena buru-buru, Pak"
Lingga diam, menatap pria di depannya dengan tatapan tak dapat terprediksi. Ia lupa pada orang yang mengenalnya, atau memang dirinyalah yang terlalu di kenal banyak orang.
"Tidak masalah,"
"Pak, saya benar-"
"Manusia sering buat kesalahan, tidak apa"
Oza membelalak di tempatnya. Tadi Lingga membentak dirinya begitu saja, sedangkan orang yang hampir menyerempetnya di biarkan pergi begitu saja?
Benar-benar tak terprediksi.
"Ayo" Oza tersadar kala Lingga menggenggam tangannya dan menarik ia pergi dari kerumunan kecil tersebut. Namun hanya sebentar, setelahnya genggaman hangat itu kembali terlepas.
"Kan yang hampir celaka saya, kenapa Bapak yang sok-sokan nyuruh dia pergi? Dia belum minta maaf sama saya" Oza bersungut pelan seraya berjalan di belakang punggung Lingga malas.
"Kamu juga yang salah. Berdiri dekat dengan jalan seolah ga menyadari situasi di sekeliling kamu"
Ada benarnya. Fokus Oza seolah terpecah saking fokusnya pada high heels cantik di dalam paper bag yang ia tenteng. Sampai-sampai tidak menyadari ia berdiri terlampau dekat dengan jalan.
"Sebentar,"
Secara spontan, Oza menarik ujung ikat pinggang Lingga. Membuat Lingga mendadak berhenti berjalan dan menoleh ke belakang.
"Kenapa?"
"Mampir ke apotik dulu beli obat," Lingga diam, mengerutkan dahinya.
"Itu tangan Bapak luka,"
Lingga melirik lengan kanannya yang terbalut kemeja biru lengan panjang. Kemeja tersebut sudah robek dan penuh akan bercak darah dan debu akibat gesekan yang cukup keras dengan aspal.
"Iya,"
***
Oza menggulung lengan kemeja Lingga dengan sangat hati-hati. Mereka duduk di bangku panjang depan apotek, tempat mereka membeli obat dan peralatan untuk luka Lingga.
Dengan telaten, Oza membasahi kapas dengan alkohol dan mengelap debu yang menempel di sekitar luka lecet tersebut.
"Jangan nangis ya Pak, ga akan sakit"
Lingga diam memperhatikan gerak-gerik Oza yang tengah menunduk membersihkan lukanya. Pemandangan wajah Oza secara dekat membuat Lingga tak kuasa untuk tidak mengalihkan perhatian pada apa pun di sekitarnya.
Oza cantik hanya dengan liptint dan compact powder andalannya. Semuanya terlihat alami yang tak di buat-buat. Di tambah harum manis strawberry yang menguar dari rambut Oza, membuat Lingga semakin tertarik akan semua yang ada pada diri Oza.
Desiran napas yang Oza tiup di sekitar lengannya membuat Lingga merinding. Kerucutan bibir yang tengah meniup-niup lukanya yang sudah berlumur Betadine itu membuat Lingga menelan ludahnya kasar.
Lingga memejamkan matanya lantas menggeleng sekilas, menepis pikiran gilanya akan Oza di waktu yang tidak tepat.
"Saya bisa sendiri!"
Lingga menarik tangannya kasar dari genggaman Oza. Membuat gadis itu tersentak karena kaget.
"Kenapa?" tanya Oza bingung
"Saya bisa sendiri."
***