Sebuah surat telah diantarkan ke kediaman Atayya, gadis yang baru saja menginjak usia 19 tahun itu baru saja mendapat surat penerimaan kerja setelah beberapa hari yang lalu ia bertanggang ke sebuah hotel ternama. Hanya dengan berbekal ijazah sekolah menengah atas, syukurnya Atayya memiliki beberapa pengetahun yang memumpuni.
“Mamaaaa,” panggil Atayya seraya berjalan menuju sang Mama yang sedang berada di dapur.
“Kenapa sih? Ribut loh,” ucap sang Mama dengan heran.
“Mama coba lihat ini,” sahut Atayya seraya memperlihatkan sebuah surat yang baru beberapa menit lalu ia terima.
Sang Mama pun menghentikan kegiatannya di dapur dan melihat surat yang diperlihatkan Atayya kepadanya.
“Kamu diterima kerja, Nak?” tanya Mamanya Atayya yang sudah terharu dan hampir menangis.
Atayya menganggukkan kepalanya, kemudian ia memeluk mamanya itu. “Ini semua berkat doa baik dari Mama. Mulai besok, aku sudah masuk kerja, Ma.”
...
Keesokan harinya, Atayya sudah siap dengan seragam kerjanya. Gadis itu sangat bersemangat untuk hari kerja pertamanya.
“Ma, aku pergi, ya?” pamit Atayya setelah ia selesai sarapan dan mencuci piring.
“Hati-hati, sayang,” sahut sang Mama.
“Papa kapan pulang, Ma?” tanya Atayya seraya membenarkan bajunya di depan jendela kaca depan rumahnya.
“Lusa,” jawab sang Mama yang masih sibuk menyirami tanaman di depan rumah mereka.
“Pokoknya, kalau Papa sudah pulang, baru kita kasih tahu Papa kalau aku diterima kerja,” ucap Atayya lagi.
“Iya, sayang. Kamu sama Mama kan selalu satu frekuensi,” sahut sang Mama.
Atayya pun menghampiri sang Mama dan menyalami tangan mamanya itu sebelum ia pergi dari pekarangan rumah.
Atayya berangkat kerja hanya dengan menaiki bus.Sama seperti saat ia masuk sekolah dulu. Hanya angkutan umum yang mengantar dan menjemputnya.
Namun, jika sang ayah sedang tidak dinas di luar kota, maka Atayya bisa diantar jemput oleh ayahnya itu.
...
Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit menaiki bus, Atayya pun sampai di depan gedung berlantai 20 itu. Sesampainya di sana, Atayya langsung melenggang masuk untuk menghadap manager guna mengabsenkan diri.
“Pagi sekali, Atayya. Padahal setengah jam lagi loh jam kamu kerja,” ucap Gian, manager hotel.
“Enggak apa-apa, Pak. Supaya aku terlatih untuk enggak terlambat masuk bekerja,” sahut Atayya.
Gian menyerahkan sebuah kartu nama nama untuk Atayya. “Kartu nama ini kamu pakai, Ya. Supaya jika ada yang hendak mendaftarkan diri untuk menginap di sini, mereka tidak perlu menanyakan nama kamu. Dan, jika ada karyawan lain yang enggak tahu kamu, mereka bisa tahu kamu dengan ini,” jelasnya panjang lebar.
Atayya menerima kartu nama pemberian Gian yang sudah memiliki sebuah penjepit itu. Atayya menjepitnya di bajunya.
“Sekarang, kamu boleh mulai ke tempat di mana seharusnya kamu bekerja,” ucap Gian lagi.
“Baik, Pak. Terima kasih,” sahut Atayya sebelum ia pergi dari hadapan Atayya.
“Semangat sekali, Ya,” tegur Kanya, gadis yang terlihat sedikit lebih tua dari Atayya.
“Iya, Kak. Karena hari ini adalah hari pertama aku kerja,” sahut Atayya. “Kak Kanya sudah berapa lama kerja di sini?” tanyanya.
“Sudah hampir setahun,” jawab Kanya apa adanya.
“Lama juga,” gumam Atayya.
Sedikit demi sedikit, Atayya mulai mengerti bagaimana cara kerja seorang resepsionis. Ia begitu bersemangat sampai hari sudah menjelang malam dan Atayya baru menyadari bahwa jam kerjanya sudah selesai untuk hari ini. Itu pun karena Kanya yang menegurnya untuk segera melapor ke atasan sebelum pulang.
Enggak terasa banget,” gumam Atayya ketika ia berjalan meninggalkan gedung hotel.
...
Keesokan harinya. Saat Atayya juga baru sampai di gedung hotel untuk memulai hari keduanya bekerja.
Saat gadis itu hendak memasuki gedung hotel, ia melihat ada seorang pria yang nampak kebingungan sendirian di depan gedung. Atayya segera menghampirinya dan menanyakan apa yang terjadi pada lelaki itu.
“Kancing jasku hilang. Sedangkan aku harus memakainya.”
Atayya nampak mencari cara untuk membantu lelaki itu. Kemudian, ia memiliki sebuah ide.
Atayya mengeluarkan beberapa jarum peniti dari dalam tasnya. Kemudian, Atayya membantu memasangkan jarum peniti itu ke jas lelaki yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui.
“Selesai,” ucap Atayya saat ia sudah menyelesaikan memasang jarum peniti di jas lelaki itu.
“Terima kasih banyak,” ucap lelaki itu seraya tersenyum menatap Atayya.
Atayya hanya menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyumannya juga. “Aku masuk dulu, ya. Sudah mau terlambat,” ucap Atayya kemudian ia langsung berjalan dengan cepat memasuki area hotel.
“Eh! Nama kamu siapa?!”
Namun, Atayya tidak mendengar pertanyaan lelaki itu karena ia sudah memasuki area hotel.
“Bod*h! Dia pakai seragam karyawan. Pasti dia salah satu karyawan baru di sini,” gumam lelaki itu. Kemudian, ia tersenyum miring.
...
“Saya minta tolong sama kamu. Tolong berikan kepada saya semua data karyawan di hotel Alstars yang ada di bagian barat,” ucap seorang lelaki yang sedang duduk di kursi putarnya. Ia memerintahkan hal itu kepada Sabhira, sekretarisnya.
“Baik, Pak. Secepatnya akan saya serahkan kepada Pak Regan,” jawab Sabhira.
“Laksanakan sekarang!” tegas Regan.
Sabhira mengangguk paham, ia permisi sebelum ia keluar dari ruangan boss-nya itu.
Karena, saat perekrutan karyawan baru tempo hari mendapatkan banyaknya karyawan. Bukan hanya di 1 hotel, melainkan di beberapa hotel milik Regan. Itu sebabnya ia tidak bisa mengingat, siapa saja yang ia konfirmasi persetujuan masuknya karyawan baru.
2 jam kemudian. Sabhira kembali dengan membawa beberapa dokumen di tangannya. Perempuan itu meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja kerja Regan.
“Ini semua biodata karyawan yang baru direkrut 2 hari yang lalu di hotel bagian barat, Pak,” ucap Sabhira.
“Terima kasih. Kembalilah bekerja,” sahut Regan.
Sabhira menganggukkan kepalanya dan ia kembali dengan pekerjaannyaa.
Setelah Sabhira pergi, Regan pun mulai membuka dokumen-dokumen yang baru saja diserahkan oleh Sabhira padanya.
Satu-persatu ia buka dan teliti foto yang terdapat di masing-masing dokumen. Sampai saat ia mendapatkan apa yang ia cari. Seyuman pua terukir di wajah tampan milik Regan.
“Aku mendapatkanmu, Nona. Dan kita akan berjumpa lagi,” gumam Regan tanpa memudarkan senyumannya.
...
“Kemarin pemilik hotel datang. Dia semakin nampak tampan.”
“Beruntung banget kita yang bisa kerja sama CEO muda dan poin plusnya adalah, dia tampan.”
“Kerja sambil cuci mata begitu?”
“Benar sekali.”
“Tapi sayangnya, kita enggak bisa setiap hari melihat Boss. Dia hanya sesekali bertanggang.”
Obrolan 2 karyawan lain yang berada dekat dengan Atayya itu membuat Atayya menyimak dalam diamnya. Gadis itu nampak sedikit terkejut ketika ia mengetahui bahwa pemilik hotel tempatnya bekerja adalah seorang pria muda. Bukan seorang pria tua seperti yang ada dalam benaknya.
Sebab, sebelumnya Atayya berpikir bahwa setiap boss besar pasti sudah berumur.