Bisik-bisik tetangga terus saja terdengar di sepanjang Rakha berjalan menuju ruangan kerjanya, yaitu bagian Divisi Perencanaan.
Semua pasang mata melirik dengan lirikan aneh yang sama sekali tidak Rakha mengerti. Bukan hanya dari kaum hawa, namun mereka para lelaki pun menatap dengan tatapan yang sama ke arah Rakha. Yakni, tatapan mencemooh dan menyelidik. Seolah Rakha adalah seorang tersangka atas kasus berat yang hendak dihakimi.
Di pintu masuk menuju ruang kerjanya, Rakha berpapasan dengan Pak Rizwan, manager utama di kantor ini.
Dan menjadi sebuah hal yang wajar jika Rakha menyapanya dengan sopan di sertai senyuman super ramah, meski apa yang dia dapat setelahnya justru berbanding terbalik dengan apa yang dia berikan.
Dengan tatapan nyalang, Pak Rizwan membalas senyuman Rakha. Bahkan terlihat gemeletuk ke dua rahangnya yang mengeras seolah sedang menahan amarah dengan sangat susah payah.
Meski setelahnya, Pak Rizwan sama sekali tak mengatakan apapun pada Rakha. Lelaki itu berjalan dengan langkah lebar menuju pintu keluar.
Rakha yang masih kebingungan mendadak di kejutkan oleh sebuah suara dari dalam ruangan kerjanya.
Itu, suara Mirna, kepala Divisinya.
"Sayang sekali ya, Rakha, mulai hari ini, kamu tidak menjadi bagian dari Divisi saya lagi. Selamat, atas kenaikan jabatanmu sebagai seorang Manager baru di perusahaan ini, menggantikan posisi Pak Rizwan, jadi, ruangan kamu hari ini bukan di sini lagi, tapi di sana," Mirna menunjuk sebuah ruangan khusus manager yang sebelumnya menjadi ruangan pribadi Pak Rizwan. Ruangan itu bersebelahan dengan ruangan pribadi milik Direktur utama Perusahaan Dirgantara Grup, yaitu Devano.
"Maksud Mba Mirna apa ya? Saya kurang paham," tanya Rakha masih dalam kebingungannya.
"Loh, memangnya Pak Dev belum bilang sama kamu tentang hal ini?" tanya Mirna balik.
"Be-belum Mbak,"
"Pak Dev memecat Pak Rizwan karena dia mau kamu yang menggantikan posisi Pak Rizwan mulai hari ini,"
Deg!
Rakha sungguh terkejut.
Bahkan sangat-sangat terkejut.
Sebab, Devano maupun Bastian, sang Ayah mertua, tak sama sekali memberi konfirmasi terkait mengenai hal ini kepada Rakha sebelumnya.
"Denger-denger sih, sekarang kamu sudah jadi bagian dari keluarga Dirgantara? Apa benar begitu?" tanya Mirna lagi dengan kekepoan tingkat tinggi. Sebab, dari selentingan kabar yang beredar mengatakan bahwa Rakha baru saja menikahi adik Devano yang cacat akibat kecelakaan. Dan banyak yang berpikir, Rakha melakukan itu karena memang dia gila jabatan.
"Iya, benar Mbak," jawab Rakha apa adanya.
Mirna hanya mengganggukkan kepala beberapa kali seraya berlalu. Lagi-lagi, ekspresi yang nampak dari wajah Mirna saat itu seolah menganggap rendah seorang Rakha. Tak bedanya dengan tatapan karyawan lain terhadap dirinya sejak tadi.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Rakha harus menanyakan hal ini lebih lanjut pada Devano maupun Ayah mertuanya nanti.
Rakha hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di kantor ini tentang dirinya.
Itu saja.
*****
"Loh, malah baguskan? Gue tau kemampuan lo, makanya gue angkat lo jadi manager di sini, terus salahnya dimana?" ungkap Devano ketika Rakha menghampirinya di ruangan kerjanya siang itu.
Rakha yang langsung mengungkapkan keberatannya atas keputusan sepihak yang di ambil Devano.
"Saya cuma merasa hal ini tidak wajar, Pak." jawab Rakha menyampaikan keengganannya atas jabatan yang baru saja dia peroleh. "Kesannya seperti nepotisme," tambahnya lagi.
"Perlu lo tahu ya Kha, gue pilih lo sebagai manager di sini, murni karena kemampuan lo, dan kinerja lo yang baik di perusahaan, nggak ada unsur lain sebagai embel-embelnya, atau karena gue tau sekarang lo adik ipar gue, nggak sama sekali," jelas Dev lagi, berharap Rakha mengerti.
"Tapi, tidak seharusnya juga Bapak memecat Pak Rizwankan? Saya yang jadi tidak enak hati pada Pak Rizwan,"
"Soal kenapa gue memecat Rizwan, itu sama sekali nggak ada sangkut pautnya sama lo! Udah sejak lama gue memang mengincar dia buat gue tendang dari perusahaan ini, cuma gue hanya mencari waktu dan kesempatan yang benar-benar tepat. Selain Rizwan masih punya cicilan koperasi, dia juga masih perlu membenahi apa yang udah dia buat kacau sebelumnya. Dan sekarang semua udah beres, jadi gue nggak mau sampai kecolongan lagi, makanya gue depak dia jauh-jauh dari sini secepatnya. Rizwan itu bukan karyawan jujur, perusahaan udah banyak dibuat rugi sama dia, cuma baru sekarang-sekarang aja dia apes, ketahuan semua busuknya," jelas Devano panjang lebar.
"Tapi, Pak, apa ini tidak terlalu berlebihan? Mengingat saya inikan karyawan baru di sini,"
"Keputusan sudah dibuat dan nggak bisa di ganggu gugat, mengerti, Rakha?"
Rakha mendesah berat.
Sungguh, dia sama sekali tidak pernah menginginkan hal ini. Seandainya saja dia tidak membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Mbak Siti, sudah Rakha pastikan dirinya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini dan mencari pekerjaan yang memang benar-benar menilainya melalui kemampuannya, bukan atas dasar nepotisme alias kekeluargaan.
"Saya mengerti, Pak..." jawab Rakha pelan.
*****
Malam ini kediaman Dirgantara tampak sepi.
Bastian dan Raline ada acara kondangan dengan salah satu sahabat Bastian semasa dirinya kuliah dulu.
Mereka pergi sudah sejak tadi sore.
Dan jadilah, makan malam di kediaman Dirgantara malam ini hanya ada Rania dan Rakha saja.
Rakha yang pada akhirnya berhasil membujuk Rania supaya mau makan setelah seharian tadi Raline mengatakan bahwa Rania belum makan apa-apa. Rania bilang dia mual dan tidak nafsu makan. Mungkin itu efek hormon dari kehamilannya saat ini.
Tapi yang namanya makan itu perlu. Jangankan orang hamil, orang biasa saja jika tidak makan pasti sakit, apalagi orang hamil yang di dalam perutnya terdapat seonggok nyawa lain yang sedang berkembang.
"Setidaknya kalau kamu memang nggak mau makan, tapi kamu harus memikirkan nasib janin di dalam perut kamu? Dia butuh nutrisi. Butuh asupan gizi dari makanan yang di makan oleh ibunya. Kamu tidak kasihan dengan dia?" Rakha mulai mengoceh panjang lebar, ini-itu jika Rania sudah membandel dan tidak mau menuruti perintahnya.
Rania hanya diam sambil memasang tampang judes. Kedua tangannya dia lipat di depan d**a.
Rania tahu dirinya bersalah, makanya dia tidak bisa menimpali perkataan Rakha.
Hatinya mendadak bersalah karena sudah egois dengan membiarkan calon bayinya kelaparan di dalam sana.
"Ini, saya sudah mengambilkan kamu nasi. Lauknya ada ayam balado, sayur lodeh, tempe orek, sambel kentang dan sambel goreng, kamu mau lauk apa?" tanya Rakha saat itu.
"Ayam balado aja sama sambelnya," jawab Rania cepat.
"Saya kuahkan dengan sayurnya ya sedikit,"
"Nggak mau! Gue nggak suka sayur," potong Rania cepat.
Rakha hanya tersenyum tanpa menghiraukan ucapan Rania, dia tetap menyendokkan sayur ke atas nasi dan lauk pauk di piring Rania.
"Mau saya suapi apa suap sendiri?" tanya Rakha kemudian.
"Sini, gue bisa makan sendiri!"
"Yasudah, kita makan sama-sama. Jangan lupa berdoa dulu ya,"
Rakha pun mulai menyantap makanannya begitu pun Rania.
Jika Rakha terlihat makan dengan lahap, berbeda halnya dengan Rania yang langsung menghentikan acara makannya begitu dia merasakan makanan yang ada di piringnya.
Jelas-jelas tadi dia mengatakan kalau dia tidak suka sayur, tapi nyatanya Rakha tetap saja mencampurkan sayur itu di atas nasinya. Rania benar-benar kesal.
Dia mendorong piring nasinya menjauh setelah membanting sendok dengan kasar hingga sendok itu terpental ke sembarang tempat.
Rakha berhenti mengunyah, ditatapnya ke arah Rania.
"Ada apa Rania?" tanya Rakha saat itu.
"Guekan udah bilang, kalau gue nggak suka sayur! Kenapa lo masih taruh kuah sayur di makanan gue?" sentak Rania dengan intonasi suaranya yang meninggi.
"Rania, Tante Raline bilang dari pagi kamu belum makan. Kamu harus makan sayur supaya kamu nggak sakit, lagipula..."
Belum sempat Rakha selesai bicara, segelas jus jeruk sudah mampir diwajahnya.
Saking kesalnya pada Rakha, Rania tak lagi bisa menahan emosinya hingga meluapkannya dengan menyiramkan segelas jus jeruk miliknya tepat ke arah di mana Rakha duduk.
"LO MAKAN AJA SENDIRI TUH SAYUR!" bentak Rania lagi seraya berlalu.
Meninggalkan Rakha dengan wajah kotor dan lengket akibat siraman jus jeruk Rania.
Saat itu, Rakha hanya bisa menghela napas berat.
Dan masih berusaha untuk memaklumi ini semua.
Kamu sudah berjanji dihadapan Allah untuk bersabar menghadapi Rania.
Ucap Rakha membatin.
Berharap, suatu hari nanti, atas izin Allah Rania bisa menerima keberadaannya, dan bisa memperlakukannya layaknya seorang istri memperlakukan suaminya.