Deru mesin motor sporty itu meredup saat sang pengendara memutar kunci kontaknya. Mencabutnya dari lubang kunci, lalu turun.
Dia membuka kaca helm full facenya dan menaruhnya di atas jok motor.
Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihempasnya kasar melalui mulut. Kepalan tangannya yang mengeras perlahan mengendur seiring dengan melunaknya amarah yang terpendam dalam hati. Betapapun dirinya berusaha untuk bersabar, Rakha tahu dia hanya seorang manusia, tempat khilaf dan salah. Dia tidak sesempurna yang orang lain pikir.
Meski hati diselimuti emosi, pada akhirnya Rakha tetaplah Rakha, seseorang yang selalu berusaha untuk meredam egonya dan mengedepankan perdamaian. Rakha sadar betul, emosi tak akan membuat masalah terselesaikan, melainkan hanya akan memperkeruh keadaan.
Pemandangan tak pantas yang sempat di tangkap oleh ke dua netranya beberapa menit lalu terus mengganggu pikirannya. Menguras emosinya. Tapi dia tetap berusaha untuk mengesampingkan itu semua. Dengan pulasan senyuman tipis, Rakha berbalik dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Langkahnya saat itu terasa berat, meski tak menyurutkan dirinya untuk terus maju.
"Sudah malam Rania, kamu tidak masuk ke dalam?" ucap Rakha saat itu. Dia berdiri tak jauh di belakang Rania, sementara Nando terlihat sudah bersiap di atas motornya, hendak pergi.
"Aku pulang Rania," ucap Nando. Dia sempat menoleh ke arah Rakha sekilas, tatapan itu di sambut dengan tatapan dingin oleh Rakha.
Suara deru bising motor Nando sudah menghilang dari indra pendengaran. Rania masih terdiam dalam posisinya. Bingung mencari cara bagaimana dia harus menjelaskan semua pada Rakha. Rania takut Rakha akan marah.
"Rania, mau sampai kapan kamu di situ? Ayo masuk," ucap Rakha mengulang kalimatnya.
"I-iya," Rania berbalik hingga tubuhnya kini berhadapan dengan Rakha. Dia meraba mencari kemana arah jalan yang harus dia tuju. Tanpa tongkat di tangan, Rania jelas tak bisa melangkah lebih jauh. Dia bahkan bingung ke arah mana dia harus melangkah sekarang.
"Mana tongkatmu?" tanya Rakha lagi.
"Oh... Tongkat gue, ta-tadi ketinggalan di kamar, tadi gue keluar di temenin Mbok Surti," jawab Rania sekenanya. Meski dia menyesal, kenapa pula dia harus berbohong? Jelas-jelas tongkatnya tidak ada di kamar melainkan tertinggal di apartemen Cassie. b**o banget sih gue! Rutuk batin Rania, gelisah.
Rakha meraih lengan Rania dan menuntun gadis itu berjalan. Dalam hati, dia terus bertanya-tanya, apa yang telah terjadi menimpa Rania? Kenapa wajah istrinya itu terluka? Meski setelahnya Rakha hanya mampu diam. Bukankah seharusnya Rania yang menjelaskan lebih dulu kepadanya? Untuk itulah, Rakha merasa tak perlu banyak bicara. Dia lebih memilih untuk menunggu.
Menunggu Rania berbicara lebih dulu.
"Lo baru pulang kerja?" tanya Rania saat langkah mereka mulai menaiki tangga.
"Iya," jawab Rakha yang memang sedang tak ingin banyak bicara. "kamu sendiri dari mana?"
Rania tak langsung menjawab. Jika memang kenyataannya saat ini Rakha baru pulang kerja, itu artinya dia tidak tahu menahu tentang kepergian Rania tadi. Bukankah itu hal yang bagus? Pikir Rania sembari menahan senyum. Muncul sebuah ide cemerlang di dalam benaknya.
"Gue nggak dari mana-mana. Tadi cuma ngobrol aja sama Nando di depan. Nando mampir ke sini karena mau pamit, soalnya besok dia mau pulang kampung," jawab Rania meyakinkan. Jawaban bodoh yang sama sekali tak penting untuk dibahas.
Rakha tersenyum kecut mendengar kebohongan Rania. Tapi dia tetap diam.
Sesampainya di kamar, Rakha langsung melepas genggaman tangannya pada Rania dan membiarkan istrinya duduk di tepian ranjang. Sementara itu dia langsung hengkang ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan shalat Isya.
"Lo udah makan Kha?" tanya Rania lagi.
Tapi sayang, tak ada jawaban.
*****
Rania baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, sementara Rakha masih asik dengan bacaan Al-Qurannya.
Padahal, biasanya kalau sudah larut malam begini, Rakha jarang membaca Al-Quran atau berdzikir sehabis shalat Isya. Tapi kali ini ada yang berbeda. Laki-laki itu seolah tenggelam dalam ibadahnya. Seperti ingin menghindari sesuatu. Terlebih, ini pula kali pertama Rakha melaksanakan shalat isya tanpa dia bertanya dulu pada Rania apakah Rania sudah shalat atau belum? Satu hal yang menjadi kebiasaan Rakha sejak mereka menikah.
Entahlah, Rania sendiri pun bingung. Apa mungkin Rakha marah karena memergokinya sedang bersama dengan Nando tadi?
Rania menghembuskan napas kasar, lalu memijit pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak pening. Perasaan bersalah yang bersarang di hatinya kian menggunung. Meski, dia sendiri tak tahu bagaimana caranya untuk bisa berkata jujur tentang apa yang telah dia lakukan dan alami malam ini. Rania sama sekali tak bernyali mengatakannya.
Tapi kembali lagi pada asal muasal yang menjadi alasan utama Rania nekad untuk pergi malam tadi, semuanyakan gara-gara Rakha juga? Dirinya tak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Lagian siapa suruh Rakha ingkar janji! Pikir Rania dalam hati. Egonya masih terus berusaha mencari jalan keluar untuk tidak sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Bagaimana pun, apa yang telah terjadi menimpanya malam ini, tidak mungkin terjadi seandainya Rakha tidak pulang telat dari kantor hari ini?
Bahkan sampai sekarang, laki-laki itu belum juga menjelaskan pada Rania mengenai alasan kenapa dia pulang telat!
Ah, udahlah, daripada pusing mikirin semua itu, mending gue tidur! Pikir Rania membatin. Dia menarik selimut dan hendak menutupi tubuhnya dengan selimut, ketika tiba-tiba Rakha menyudahi bacaan ayat sucinya.
Tapi Rania tidak perduli. Dia tetap menutupi tubuhnya seperti biasa dengan selimut hingga sebatas d**a. Lalu mulai memejamkan mata. Meski belum sepenuhnya mengantuk.
Saat itu, dalam posisi ke dua matanya yang terpejam, Rania terus melebarkan indra pendengarannya, untuk sekedar mengetahui aktifitas apa yang kini sedang dilakukan Rakha. Dan sepertinya, Rania sempat mendengar suara pintu yang di buka, lalu di tutup. Sempat senyap beberapa saat hingga suara pintu itu kembali terdengar. Lalu di tutup kembali. Hal itu menandakan Rakha tadi sempat keluar dari kamar tapi sekarang dia sudah kembali.
Rania merubah posisi tidurnya, berusaha mencari posisi yang lebih nyaman saat tiba-tiba sebelah tangannya di raih oleh seseorang lalu di tarik perlahan.
"Bangun, Rania," ucap Rakha pelan.
Meski cukup kaget, tapi Rania langsung menurut. Dia duduk di ranjang dengan perasaan penuh tanda tanya.
Rakha mengambil posisi duduk di tepi ranjang tepat di sisi Rania. Membuat Rania langsung menggeser posisi duduknya, menjauh.
Lagi-lagi Rakha hanya bisa tersenyum pahit melihat hal itu. Sepertinya Rania memang masih begitu enggan untuk berdekatan dengannya. Dan Rakha paham betul apa alasannya.
"Saya cuma mau mengobati luka di wajah kamu," ucap Rakha lagi. Dia membuka kotak P3K di pangkuannya, mengambil selembar kapas lalu membubuhkannya dengan obat merah.
Dalam hati Rania terus merasa was-was, bagaimana bisa dia melupakan hal yang satu ini? Yaitu lebam di wajahnya akibat ulah Cassie. Pasti habis ini Rakha akan menanyakan alasan kenapa wajahnya bisa terluka! Itu tandanya, Rania harus kembali memutar otak untuk mencari alasan seandainya Rakha sampai benar-benar menanyakannya.
"Kamu sudah shalat isya?" tanya Rakha sembari mengobati luka di kening dan sudut bibir Rania.
Rania tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Rakha. "Udah," jawabnya singkat.
"Saya minta maaf, karena sudah melanggar janji malam ini. Tadi sepulang dari kantor, Papah dan Mas Dev mengajak saya untuk menghadiri acara perkumpulan dengan para kolega perusahaan, saya tidak enak untuk menolak makanya saya ikut, dan akhirnya saya jadi pulang telat malam ini," cerita Rakha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, yakni mengenai alasan kenapa dirinya sampai pulang telat dari kantor, dengan harapan Rania pun akan berbuat demikian. Berkata jujur padanya tentang apa yang telah dilakukan sang istri malam ini di luar sana. Bersama lelaki lain pula.
"Huh, dasar! Udah tahu bakal pulang telat, kenapa nggak hubungin gue dulu, guekan jadi nggak nungguin di rumah! Mana tadi udah sempet dandan rapi, eh tau-taunya nggak jadi jalan, bete tau!" celoteh Rania yang terus mencoba untuk menutupi kesalahannya.
"Jadi, kamu nungguin saya daritadi?" tanya Rakha lagi.
"Iyalah,"
"Tadi Hp saya lowbet, makanya nggak bisa hubungin kamu," Rakha menyudahi kegiatannya mengobati luka di wajah sang istri. Di tatapnya lekat wajah Rania saat itu. Wajah yang tak mampu menutupi kebohongan yang dia ungkapkan. Dia menoleh ke arah jam dinding, sudah jam dua belas lewat. "Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Rakha lagi.
"Tadinya, gue mau ngajak lo ke pantai, gue kangen sama suasana pantai," jawab Rania, kali ini suaranya terdengar manja. Meski dalam hati Rania jadi bingung sendiri, kenapa Rakha tidak bertanya mengenai asal muasal penyebab luka-luka di wajahnya dan malah membahas masalah lain. Kan aneh?
"Kalau kamu mau, kita bisa pergi sekarang?"
Dan ucapan Rakha saat itu jelas membuat Rania melongo tak percaya.
Sebenarnya, Rakha ini kenapa sih?
Pikirnya bingung dalam hati.