Perlahan

2311 Words
Pada ego yang terus tersisisir, tidak menyangka ini akan berakhir. Sampai aku paham bahwa hadirmu rupanya menjadi penenangku. Bertolak belakang dengan hadirku. Rupanya merusak keseharianmu. Mungkin benar, ada yang menerima namun enggan mengakui. ***      Diarea parkir kelas dua belas, Raka duduk diatas ninja miliknya. Dia masih memperhitungkan omongannya sejak tadi. Beberapa orang sibuk menyapa, namun tidak terlalu dihiraukan-nya. Ke-empat sohib-nya yang lain sudah berlalu lebih dulu. Tidak ada masalah, bagi Raka yang terpenting saat ini, dia harus bertemu gadis yang tengah berusaha ia pahami. Ketika didapatinya Karin tengah berjalan menuju parkiran, langsung dia hampiri gadis yang sejak tadi sudah di tunggu-nya. "Kenapa lagi?" seru Karin langsung. "Pulang sama gue." "Gue bisa pulang sendiri." "Jadi, itu mau lo?" Karin terdiam sejenak . Memperhitungkan seberapa fatal akibatnya jika ia benar-benar berani menolak permintaan Raka. Akhirnya dengan setengah memaksa ia meralat kembali omongannya. Menolak tinggi egonya. Dan pasrah seperti biasanya. "Yaudah gue ikut. Suka bener sih ngancem orang." Sontak gerutu Karin membuat Raka sedikit tertawa. Hanya sedikit, sebab bisa dipastikan selalu ada ketenangan dalam raut wajah sang pentolan tersebut. "Tapi ajakin gue makan. Laper nih" kata Karin mengeluh. Tak ada jawaban disana, Raka hanya menderu laju ninjanya, namun dari balik helm yang menutupi hampir semua wajahnya, Raka terkekeh. Gadis dijok belakang, mampu membuat harinya sedikit berwarna. Satu hal yang Raka simpulkan, dibawah jalanan Jakarta dengan pekatnya langit berwarna jingga. Dengan seseorang yang tak pernah dia bayangkan. Seseorang yang tiba-tiba saja hadir entah sebagai pelengkap ataukah hanya sekedar persinggahan sementara. Mereka mengarungi sebagian Jakarta, dalam sebuah rasa yang masih saling menata. *** Karin menolak untuk pulang kerumah, jadi berkunjung kerumah sahabat-nya adalah pilihan terakhir Karin. "Rak, antar gue kerumah temen aja ya." "Rak. Rak. Rak pala lo. Emangnya gue rak sepatu." "Apa emangnya. Alarix?" "Nggak! Cuma orang tertentu yang manggil gue begitu. Dan lo bukan salah satunya!" "Siapa?" "Gak ada untungnya buat lo tau." "Orang nanya doang." desis Karin. Kemudian melanjutkan "Yaudah ayo anterin gue." "Lo gak dicariin orang rumah? udah malam." Raka bertanya khawatir. "Engg-- gak kok. Gue udah izin." kata Karin berbohong. Raka kemudian menderu pelan motornya. Menunggu Karin yang sepertinya tengah mengetik sesuatu. "Siapa emang teman lo?" "Chelle. Anak kelas sebelas Ipa 4." Kemudian tanpa menjawab lagi, Raka sibuk membagi pandangannya pada jalanan dan pada gadis dibelakangnya. Sesekali Raka mendengar keluh kesah gadis itu, sesekali juga menatap raut ceria, namun ada kesedihan dalam balutan wajah gadis yang tengah diperhatikannya melalui spion motornya tersebut. Tiba-tiba saja, Raka terlihat peduli. Karena semua celotehan gadis itu, terus dipantaunya dari spion. ***       Raka sudah menghentikan ninjanya diperumahan Latulip. Pagar berwarna putih itu tempatnya menyinggahkan Karin. "Ini rumahnya. Makasih ya. Lo bisa pulang sekarang." ujar Karin. Karin pikir Raka akan berlalu seperti kemarin, namun lelaki itu terlihat menunggu-nya. Jadi, menatap heran Raka, Karin berujar lagi. "Kenapa? Tumben lo gak langsung pergi kayak kemarin," kata Karin menyinggung. Mendengar itu membuat Raka langsung melajukan ninjanya kembali. Dengan Karin yang menatap heran lelaki itu. 'Aneh-' batin-nya dalam hati. Namun Karin terus melihat lelaki itu, hingga kendaraan yang tengah dinaiki Raka tersebut berbelok dan hilang dari pandangan. Karin langsung membuka pagar itu cepat. Ia segera berlari masuk kedalam rumah sahabatnya itu. Rumah tersebut sudah seperti rumah miliknya sendiri. Pasalnya Ia dan Chelle sudah berteman sejak keduanya masih kecil. Walaupun saat ini mereka jarang bersama, tetapi keduanya selalu menyempatkan diri untuk bertemu. Tak memungkiri beberapa orang menyapa mereka kembar, walaupun bisa dipastikan perbedaannya lebih banyak. Karin tak menemukan siapapun dirumah itu, namun televisi diruang tamu menyala. Jadi menghirukan itu, Karin segera berlari kekamar Chelle dilantai dua. "Eh ada Adel juga." tegur Karin ketika membuka pintu kamar itu, ada teman sahabatnya disana. "Iyanih Kak. Lagi ada urusan sama Chelle." jawab sang adik kelas sopan. "Ngapain Rin? Tumben. Gak lagi sama Raka?" tanya Chelle spontan. Seperti biasa Chelle tidak pernah memanggil Karin dengan embel-embel Kakak. Walaupun dirinya lebih tua satu tahun, adik kelas itu selalu memanggil-nya dengan banyak nama yang disukainya. Mungkin karena sejak kecil keduanya sudah sering bersama. Jadi tak perlu dipermasalahkan, hanya Chelle yang berhak memanggil-nya dengan sebutan apapun. "Raka siapa? Rakalarix? Kakak deket sama Kak Raka??" jerit Adel bersemangat. Mendengar nama sang pentolan sekolahnya itu, membuat Adel gregetan sendiri. "Dih apaan sih lo Del. Lebay." singgung Chelle menengahi. "Astaga, kok gue ketinggalan berita banget sih?" rutuk Adel sebal. "Tau lo, kemaren orang-orang gempar, dan lo sama sekali gak sadar?" Chelle menyinggung temannya itu. Dengan Karin yang hanya tertawa dibuatnya. Kemudian berujar "Adik kelas gak boleh kepo." ejeknya. "Eh tapi gempar gimana maksud lo, Le?" tanya Karin kepada sahabatnya itu.     "Hellow, satu sekolah potek waktu tau lo pulang sama Kak Raka. Secara, Kak Raka itu cakep dan idola semua orang, jadi berita dia pulang sama cewek langsung nyebar kesatu Alaska!" Chelle berujar antusias. Karin malah tertawa mendengarnya. Tidak percaya atas apa yang baru saja diceritakan sahabatnya itu.      "Aneh, gue serius tau!" Kata Chelle kesal. Karin hanya tidak menghiraukan itu seraya meneparkan tubuh-nya diranjang milik sahabatnya itu. Ia terlanjur lelah hari ini. "Lo mau sampai kapan disini? Yaudah gak usah diladen lagi. Psyko tu cowok lo." ujar Chelle kepada Adel. "Gue takut kalau dia sampai kerumah gue." Seru Adel bergidik ngeri. "Kunci pintu. Bilang sama Mbok Tata kalau ada yang nyariin, kasi tau lo dirumah gue. Percaya deh dia gak akan berani kesini." tegas Chelle percaya diri. Membuat Karin mengernyitkan dahi, bingung mendengar pembahasan kedua adik kelasnya tersebut, tanpa mengetahui kemana arah pembicaraan kedua adik kelasnya itu. "Bahas apaan sih kalian?" tanya Karin ketika rasa penasarannya sudah diujung. "Kakak kelas gak boleh kepo, urusan adik kelas." singgung Adel dan Chelle bersamaan. Mereka membalas ucapan Karin tadi. Membuat ketiganya tertawa disana. Dengan Karin yang kini sudah larut dalam ponselnya, tergeletak malas diranjang milik Chelle. *** Sepeninggalan Adel dari rumah Chelle. Karin langsung menyemprotnya, "Apaan sih lo, ngomongin Raka depan Adel." "Sorry ndut, lagian gue keceplosan tadi." kata Adel bersalah. "Hampir aja gue tabokin." "Dih yang ada lo kalah lawan gue." Kemudian Karin layangkan sebuah pukulan dengan bantal, kewajah Chelle. Membuat Chelle membalas perlakuan sahabatnya itu. Dengan keduanya yang sudah larut dalam pertengkaran kecil itu. Untuk kemudian saling pukul memukul dengan bantal milik Chelle. Karin memanggil Chelle dengan sebutan Lele, sebab Chelle lebih tinggi walaupun cuma dua inci dari tubuhnya. Juga karena nama Chelle yang lebih enak jika dipanggil Lele. Kemudian Chelle memanggil Karin dengan sebutan ndut, karena itu panggilan Karin sejak kecil. Pasalnya Karin waktu kecil sangat gendut, hampir menyerupai Tasya Kamila. Dan baru kelas sembilan gadis itu berhasil menurunkan berat badannya. Saat ini tubuh Karin malah lebih kurus daripada Chelle. Tidak terlalu kurus, maksudnya berisi. Maka sebab itu keduanya masih saling memanggil dengan nama panggilan masing-masing. Benar saja kata Chelle. Akibat pertarungan bantal tadi Karin yang lebih dulu merebahkan tubuhnya. Di-ikuti Chelle disebelahnya. "Btw tadi siapa yang anterin lo kesini? Cowok gue?" tanya Chelle antusias. Yang dimaksud Chelle cowoknya adalah Richard. Pasalnya gadis itu sangat mengagumi Richard. Katanya Richard sudah seperti pangeran berkuda dalam mimpinya. "Raka." Jawaban Karin membuat Chelle yang tadinya terbaring disebelahnya, kini sudah terduduk tegap sekali. "Raka? Dari mana lo sama dia?" "Makan aja. Tadi dia abis berantem lagi sama Richard. Katanya dia liat Richard nganterin gue tadi pagi." "Serius lo?! Gimana muka kesayangan gue? Hancur gak?" "Hancur pala lo. Lo pikir muka Raka mulus? Pipinya keliatan lebam parah." "Gue yakin Richard jauh lebih lebam." "Nyumpah ya lo!" gerutu Karin gusar. "Ya lo tau sendiri gimana Raka kalau emosi. Kan lo yang udah pernah liat dia langsung." "Semoga aja Richard gapapa" "Kalau kenapa-kenapa gue cium sembuh kali ya." "Dih najis." "Iri aja sih lo, yaudah sana ganti baju, nginap kan?" "Iya, gue jadi takut kalau dekat Richard terus. Raka kan belum tau dia sepupu gue." "Kenapa gak lo kasi tau?" "Entar aja. Gue belum siap mau ngomong." "Btw, tadi gue abis berantem online sama pacarnya Adel." "Kenapa emang?" Akhirnya Chelle mulai menceritakan masalah Adel. Setelahnya Karin juga bercerita mengenai Raka. Tanpa tersadar kalau keduanya sudah larut dalam cerita masing-masing. Lebih mengherankan karena Karin begitu antusias menceritakan sang pentolan sekolah-nya itu. ***       Tidak banyak yang dapat Karin lakukan sejak pertemuan-nya dengan Raka. Setiap hari Karin harus sabar menghadapi semua permintaan lelaki itu, dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Harus tetap semangat setiap kali lelaki itu menjadikan-nya seorang suruhan, dan tetap mengelus d**a setiap kali Raka memarahi-nya hanya karena masalah sepele. Namun tidak semua hal buruk Raka lakukan, kadang kala dia membelikan Karin makanan, karena Karin sering kali mengeluhkan masalah itu. Selebihnya, Raka hanya terus mengusik hidup-nya.     Sampai akhirnya dua hari kemudian Karin dibuat emosi oleh chat dari Andre yang ditunjukkan oleh Chelle. Karin kembali berkunjung kerumah sahabatnya itu, sudah suatu keharusan karena dalam seminggu mereka harus bertemu. Jadi, kembali setelah dua hari adalah hal yang biasa, karena sehari sebelumnya Karin dibuat gusar oleh semua permintaan Raka. Menepiskan semua kekesalan-nya, Karin menceritakan semua masalah yang harus ia hadapi setiap hari. Namun kekesalan Karin berlipat ganda karena pesan yang diberitahukan Chelle benar-benar ditujukan kepadanya. Jadi Andre yang merupakan mantan Adel dan juga adik kelas-nya, tiba-tiba saja mengumpat Karin tanpa alasan yang jelas. Tidak hanya itu, lelaki tersebut bahkan memaki keluarganya. Karin tersayat melihat u*****n tersebut. Andre boleh memaki dirinya, jujur walaupun sakit hati Karin tidak ambil pusing, tapi kalau sampai keluarganya ikut-ikutan Karin tidak terima. Tidak akan pernah. Apalagi karena masalah yang tidak Karin ketahui sama sekali.     Jadi semuanya bermula ketika Adel yang merupakan sahabat Chelle mengajak Andre putus dua hari yang lalu. Adel mengatakan bahwa dia sedang bersama Chelle dan juga Karin. Karena itu masalah ini kemudian muncul. Andre ngotot dan tidak mau putus. Adel sudah tidak sanggup, lantaran Andre adalah orang yang kasar, suka memukul dan mengancam. Kemarin ketika Karin datang kerumah Chelle dan mendapati Adel disana, ternyata karena adik kelasnya itu tengah menghindari pacarnya yang psyco. Bayangkan saja Andre mengancam akan membunuhnya apabila Adel berani memutuskan sepihak hubungan mereka. Dan dia mengancam akan membakar rumah Adel apabila gadis itu benar-benar ingin pisah dengannya. Segala macam ancaman itu dibalas oleh Chelle, karena dia kesal sahabat-nya diperlakukan seperti itu.       Chelle benar-benar membalas agar Andre murka, seperti Adel akan menunggu dirumah dengan pemadam kebakaran yang sudah siap, dan apabila Andre membunuhnya, Adel sudah siap untuk menghantuinya. Serta jawaban-jawaban lain dalam wujud lelucon yang dilontarkan Chelle kepada pacar sahabatnya itu. Hal tersebut mungkin membuat emosi Andre memuncak untuk kemudian segera mengumpat Karin karena pasalnya Karin selalu ada disaat Adel tengah bersama Chelle. Itulah yang menjadi pedoman Andre bisa mengira kalau yang berani membalas seperti itu adalah Karin. Yang notaben kakak kelasnya. "Gue mau datangin dia besok. Gak mau tau." gusar Karin sambil menangis. Hatinya terluka melihat sumpah serapah dari Andre tersebut. Ia dibuat bingung setengah mati. Disaat Andre melontarkannya dengan kata-k********r Karin bahkan tidak tau apa kesalahan yang dibuatnya.      "Karin, udah dong jangan nangis lagi. Gak enak nih jadi-nya gue," kata Chelle merasa bersalah. "Mungkin dia ngira selama ini lo yang balas chat Adel. Kan Adel selalu sama gue. Sementara dia ngeliatnya gue sama lo terus. Dan satu sekolah juga udah tau lo dekat sama Raka. Ya dikiranya lo pasti berani ladenin chat dia yang ngancem-ngancem Adel karena lo punya Raka. Udah jangan nangis, cengeng banget sih. Besok kita samperin dia dikelasnya." ujar Chelle lagi, sedikit menenangkan. "Eh tapi besok gue ulangan. Jadi lo ae sendiri. Or minta temanin Raka aja, percaya deh sama gue siAndre langsung pontang-panting kabur." "Kesel banget gue lele!! Yaampun. Pengen gue bunuh sekarang juga!" gerutu Karin seraya menyeka air matanya. "Yaudah sana chat Raka minta temenin nyamperin Andre besok, lo harus kasi dia pelajaran." "Nanti aja. Gue balik dulu ya le." balas Karin kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya yang masih menatapnya bingung. Karin mulai mencari kontak Raka yang belum disimpannya dulu. Menggeser ketika menemukan foto profil dengan mata tajam disana, langsung Karin tambahkan kontak itu dan beri nama. Tanpa basa-basi, Karin langsung mengirim-nya pesan. Karina Ruth Besok temanin gue nyamperin Andre anak sebelas Ips 6. Satu jam sejak Karin mengirim pesan tersebut. Belum ada balasan yang didapatinya. Bahkan ketika Karin sampai dirumah-nya, pesan itu tak kunjung terjawab. Berulang kali ia membuka pesan itu, berharap jawaban Raka bisa meredam emosinya. Meyakini agar sang pentolan itu memang ada disaat Karin tersesat dan butuh bantuan. Sesekali Karin berkhayal jika saat ini ia adalah siswa SMA Galaksi tak perlu dipikirkan lagi, tentu saja langsung dimintanya Richard untuk segera memusnahkan Andre dari muka bumi ini. Masalah-nya jika Karin meminta Richard untuk menangani Andre, Karin takut akan ada perselisihan lagi nantinya. Tentu saja ada, karena Andre siswa Alaska sementara Richard siswa Galaksi.      Entah apa yang ada diotak Karin ketika tiba-tiba Raka terlintas dikepalanya, bahkan sebelum Lele memintanya untuk menghubungi lelaki tersebut. Sebut saja karena Karin sudah bertekad untuk melewati duri yang terpampang nyata dan jelas berdiri dipintu menegangkan Raka. Saat khayalan-nya sudah melambung kemana-mana, ponselnya berbunyi panggilan dari Rakalarix terpampang dilayarnya. Sebelum-nya Karin pikir Raka hanya akan mengabaikan pesan darinya, ketika panggilan dari lelaki itu malah membuat hatinya semakin kacau. Namun kemudian panggilan itu diterima-nya.      "Ada apa?" katanya dari sebrang sana. Karin menghapus kembali air matanya sebelum menjawab Raka. Karin memang mudah menangis karena masalah kecil. "Dia ngatain keluarga gue. Bilang kalau gue cewek murahan dan cuma mainan lo. Gue gak marah dia mau ngehina gue gimanapun. Tapi dia udah bawa keluarga gue Ka. Gue gak terima." jelas Karin dengan sesenggukan.      "Ada masalah apa dia sama lo?" tanya Raka bingung. Tapi suara tangis dari sebrang sana, membuat kacau pikiran-nya.      "Lo gak perlu tau intinya. Kalau lo gak mau, gue bisa minta Aska buat temanin gue besok. Lagian gak lucu kalau gue sendirian. Ya walaupun gue berani. Tapi kalau gue dipukul gimana? Ya mati kali. Dia itu cowok gila! Stress! Aneh, benci gue pokoknya!!" kata Karin mengomel.       "Hapus dulu air mata lo. Baru ngomel lagi. Gue tutup kalau gitu." kata Raka. Karin belum sempat mengoceh lagi namun Raka sudah memutuskan sambungan-nya. Karin masih memperhatikan ponselnya kembali dengan bodoh. Seakan setiap kali ia membutuhkan bantuan, Raka akan sigap membantunya. Ketika harapan Karin nyatanya jauh terhempas kedasarnya. Raka malah memberikan ketidakjelasan. Kemudian, setelah lelah berkutat dengan pikiran-nya hari ini, Karin memutuskan untuk tidur. Walaupun nyata-nya itu tetap sia-sia. Karena Karin harus berkutat dengan semua kenangan buruk yang telah menghantui-nya selama ini. Padahal Karin hanya ingin dalam alam bawah sadarnya, sunyi Karin menghilang selamanya. Diganti dengan tenang yang berulang kali diharapkannya. Ketika akhirnya sang pencipta menghadirkan seorang Rakalarix. Entah sebagai penenang atau bisa jadi penambah sunyi dalam hidupnya. Sebab itu Karin berupaya melewati seluruh duri dalam diri Raka. Memaksa ia untuk menerima bahwa Raka begitu sulit ia raih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD