Besoknya di kantor, Viola terkejut karena ada pria asing menyapa dirinya. “Selamat pagi, cantik,” sapa seorang laki-laki tampan bermata biru dengan senyuman indahnya.
"Selamat pagi.” Vio terkejut. Ia menatap bingung sosok di depannya. ‘Ganteng banget. Mata biru itu sungguh indah sekali,' puji Vio dalam hati.
"Maaf, Anda siapa, ya?” tanya Vio penasaran.
"Kamu Viola, kan? Calon sekretaris baru Richard. Saya William, wakil CEO sekaligus sahabat Richard,” jawab William tersenyum lebar sambil memegang tangan Vio.
Vio menepis lembut tangan William, tak ingin kena marah sang atasan. Lagi pula, kenapa laki-laki tampan itu begitu luwes menyentuhnya, padahal baru berjumpa pertama kali. Sedikit banyak, Vio tahu kalau laki-laki yang bernama William itu bukanlah laki-laki baik-baik.
"Saya Viola Rosalia, Pak. Mohon bimbingannya selama bertugas di sini,” kata Vio formal.
"Tak usah sungkan, Nona cantik. Kalau tidak ada bos, bicara santai saja. Aku ingin kenal lebih dekat denganmu,” kedip William menggoda.
‘Ganteng banget dia, tapi genitnya minta ampun ...' batin Vio tak habis pikir.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa. Saya permisi dulu, mau ke ruangan presdir.” Vio bergegas menghindari William. Laki-laki tampan, tapi nakal seperti William bukanlah tipenya.
Vio paling kesal melihat lelaki genit dan player seperti William. Daripada tangannya melayang ke pipi pria itu, lebih baik ia menghindar.
Niatnya hanya ingin bekerja secara profesional di sini, bukan mencari pacar. Vio merinding mengingat sikap William tadi. Bisa-bisanya baru berkenalan, sudah berani mengelus tangannya. Gila!
William tercengang. Lelaki tampan sepertinya diabaikan begitu saja. Muncul rasa penasaran di dalam hatinya. "Mmm, dia cukup menarik!”
William merasa tertantang ketika menggoda Vio tadi. Biasanya tak ada satu pun wanita yang bisa tahan akan tatapannya. Biasanya wanita akan bertekuk lutut padanya dan mengejarnya.
Wajahnya tampan dan ia kaya, juga punya tubuh six pack, yaitu tubuh yang diidam-idamkan wanita. Siapa yang tahan akan pesonanya? Namun, Vio berbeda. Bukannya terpana, malah dia tampak jijik dan illfeel melihat dirinya. Egonya tersentil hingga William bertekad akan mengejar Vio sampai dapat.
"Lihat saja gadis kecil! Sampai di mana kau bertahan melawan pesonaku,” gumam William tersenyum menatap kepergian Vio yang menghilang masuk ke ruangan Richard.
Selamat dari buaya masuk kandang harimau adalah istilah yang tepat untuk Vio sekarang. Bagaimana tidak, baru saja selamat dari buaya darat, tiba-tiba harus ketemu macan. Ya, siapa lagi, kalau bukan si bos galak.
"Kenapa lari-lari di ruanganku? Mau nge-gym bukan di sini tempatnya?" semprot Richard ketus.
"Eh, itu, anu ..." Vio terbata-bata, saking kagetnya mendengar bentakan bosnya.
"Anu, itu, apa? Kamu mau main-main, ya? Di sini fokusnya kerja, mengerti kamu? Mana jadwalku? Cepat bacakan!" perintah Richard tegas, membuat Vio semakin gugup.
"Eh, iya, Pak. Hari ini jadwal Anda ...." Vio pun membacakan jadwal Richard sampai selesai.
"Sekarang ikut aku meeting!" perintah Richard lagi.
"Baik, Pak," jawab Vio cepat. ‘Ya, ampun! Bisa copot lama-lama jantungku dibentak terus,' keluhnya dalam hati.
Mereka pun menuju ruangan meeting. Bukan tanpa sebab Richard marah-marah seperti tadi. Sebenarnya Richard kesal melihat William memegang tangan Viola di lobi tadi.
Richard melihatnya, tapi egonya tak membiarkannya menghampiri Vio. Richard hanya berlalu menuju ruangannya. Karena kesal, Richard melampiaskannya dengan memarahi Vio.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" batin Richard heran pada dirinya sendiri saat memperhatikan Viola yang sibuk mencatat hasil rapat.
Meeting pun berjalan lancar seperti biasa walaupun Vio selalu jadi bulan-bulanan Richard selama meeting berlangsung.
"Kamu buat salah apa, Vio? Kok, bos, kayaknya dendam banget sama kamu selama meeting tadi?" tanya Ricky heran begitu keluar dari ruang meeting.
"Tidak salah apa pun, kok, Pak Ricky. Mungkin bos lagi bad mood kali," jawab Vio sekenanya.
"Yang sabar, ya. Ada kesulitan bisa tanya aku. Kapan pun aku siap bantu kamu,” jawab Ricky sambil menatap mesra Vio.
"Modus teruuuus!" ledek Dimas gemas.
Ricky tergelak melihat kesewotan Dimas. Pria tampan itu mencibir pada sahabatnya. "Namanya juga usaha, Dim,” ujarnya lalu menatap Vio kembali sambil melempar senyuman indahnya.
Vio jadi salah tingkah sendiri melihat perdebatan dua teman pria yang baru beberapa hari dikenalnya. Untunglah Renny memecah kecanggungan dengan buru-buru mengajaknya ke kantin.
"Udahan modusnya, Pak! Kita ke kantin, yuk! Udah jam makan siang nih.”
***
Tak terasa seminggu telah berlalu. Vio benar-benar menunjukkan kepintaran dan ketekunannya dalam bekerja. Vio semakin akrab dengan keempat rekan barunya yang selalu membantunya menyelesaikan tugas dari Presdir Richard.
‘Akhirnya hari ini datang, mudah-mudahan aku diterima bekerja di sini,' batin Vio berharap. Hatinya sedikit cemas. Ia mondar-mandir di dekat mejanya, menunggu bos galaknya itu memanggilnya ke ruangannya.
Akhirnya, penantiannya tiba saat Vio melihat asisten Tio melangkah ke arahnya langsung dari ruangan Richard.
"Viola, presdir Richard memanggilmu ke ruangannya," ucap Tio pelan.
"Baik, Pak," jawab Vio sedikit menunduk hormat lalu segera menuju ke ruangan Presdir.
Jantungnya berdetak kencang saat melihat wajah datar dan dingin sang atasan yang langsung mendekat ke arahnya, setibanya ia di dalam ruangan.
“Hari ini adalah hari terakhir kamu training di sini, Viola. Apa kesan kamu selama bekerja bersamaku seminggu ini?” tanya Richard menatap tajam mata Vio.
Vio membuang rasa gugupnya, berusaha menetralkan suaranya lalu menjawab pertanyaan Richard dengan tegas. "Kesan yang saya dapat selama bekerja di sini selama satu minggu, saya merasa tertantang untuk terus melakukan yang terbaik dalam memajukan perusahaan dan apabila saya diterima di sini, saya akan terus mengembangkan diri lebih baik lagi demi kesuksesan perusahaan." Vio menjawab dengan percaya diri, sedikit pun tidak gugup dan terintimidasi akan tatapan Richard.
‘Bagus, mentalmu sangat kuat ternyata, ya,’ batin Richard senang.
"Silakan keluar, Viola!" perintah Richard ambigu sambil menunjuk ke arah pintu.
Viola tercengang. "Saya dipecat, Pak? Apakah saya tidak memenuhi kriteria sebagai sekretaris Anda? Kalau iya, tolong beritahu apa salah saya agar di kemudian hari tidak saya ulangi lagi ketika melamar di perusahaan lain." Vio bertanya dengan wajah kecewa dan sedih sambil menatap mata hijau milik Richard.
Wajah Richard berubah masam. Tak lama suara bentakan pun menggema di ruangan itu. "Beraninya kamu mau melamar di perusahaan lain. Kamu terikat kontrak, tahu kamu?"
‘Enak saja mau berhenti dan melamar di tempat lain, setelah aku training capek-capek seminggu ini dan sudah membuatku nyaman di dekatmu, huh,' batin Richard kesal.
"J-jadi saya diterima jadi sekretaris ya, Pak?” Viola tak percaya mendengar penuturan sang atasan. Bagaimana tidak? Reaksi bosnya tadi, membuatnya takut berharap banyak.
"Ya, kamu diterima,” tandas Richard lantang.
"Yeayyy! Yess, yess, yess," jerit Vio berlonjak bahagia. Ia melupakan sedang berada di hadapan bos galaknya.
Richard geleng kepala. Ada sisi baru yang ia lihat dari sekretaris barunya. Tak ragu, ia kembali membentak Vio. "Berisik! Jangan norak, kamu! Keluar sana! Minta asisten Tio mengurus kontrak kerja kamu!” perintah Richard kesal.
Vio tersipu malu saat sadar apa yang ia lakukan barusan. Sambil mengatupkan kedua tangannya dengan wajah cengengesan, Viola berujar. "Maaf, Pak. Saya hanya terlalu senang. Terima kasih telah menerima saya menjadi bagian dari perusahaan ini. Saya akan berusaha jadi sekretaris terbaik. Permisi, Pak," jawab Vio sopan, lalu beranjak meninggalkan ruangan presdir untuk menemui asisten Tio.
Richard tersenyum lebar saat Vio pergi dari ruangannya. Hatinya senang mendapatkan sekretaris unik seperti Vio. Tak hanya cantik, tapi juga pintar dan bermental kuat. Terlebih, Richard merasa nyaman berada dekat dengan Vio. Meskipun kelihatan galak, sebenarnya Richard senang ditemani Vio selama bekerja.
"Perasaan apa ini sebenarnya?"
Bersambung...