Hari-Hari yang Tenang Tak Selamanya Sepi Beberapa pekan berlalu sejak pertemuan Rafael dan Saras. Kegiatan di Rumah Lia semakin teratur. Anak-anak mengikuti kelas dengan semangat, dan Rafael mulai memperkenalkan sesi baru: “Ruang Diam.” Di ruangan kecil dengan tikar sederhana dan lampu temaram, anak-anak duduk tenang setiap sore. Tidak untuk belajar. Tidak untuk bicara. Hanya diam. Merenung. Merasakan. “Kadang yang kita butuh bukan jawaban,” ujar Rafael pada mereka, “tapi keberanian untuk mendengar suara dari dalam diri kita sendiri.” Anak-anak kecil tak sepenuhnya paham, tapi mereka menikmati sesi itu. Rani kadang menggambar saat diam, Gilang duduk di pojok dengan mata setengah tertutup, dan yang lainnya sekadar menatap cahaya lilin di tengah ruangan. Rafael melihat mereka satu per s

