Ancaman Tak Terduga Pagi itu, Pak Hardi datang ke Rumah Lia dengan raut wajah gelisah. Lelaki paruh baya itu, yang selama ini meminjamkan lahannya tanpa pamrih, duduk di beranda bersama Rafael dan Davin. Tangannya gemetar. Kopi di cangkirnya bahkan tak disentuh. “Aku minta maaf, Le... tapi aku gak bisa lagi pinjamin tanah ini.” Rafael menatapnya dengan lembut. “Kenapa, Pak?” Pak Hardi menunduk. “Ada utang lama yang sekarang ditagih. Aku... gak punya cara lain. Kalau lahan ini gak kujual dalam sebulan, anakku di Jakarta bisa dipenjara.” Hening sejenak. Davin bergeser, duduk lebih dekat. “Berapakah total utangnya, Pak?” “Lima ratus juta. Lahan ini nilainya segitu. Bahkan bisa lebih.” ** Batas Waktu Setelah Pak Hardi pulang, Rafael dan Davin langsung berdiskusi. “Pilihan kita cu

