Detik-Detik Terakhir Seorang Pendosa Pagi itu, tubuh Arman melemah nyaris tak bisa digerakkan. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan. Perawat relawan hanya bisa memberinya morfin ringan untuk mengurangi nyeri. Reyhan duduk di sampingnya, menatap wajah pria itu yang kini tak lagi mengerikan… hanya lelah. Dan rapuh. Arman berbisik nyaris tak terdengar: > “Rey… gue punya satu permintaan. Terakhir.” > “Apa aja, Man,” jawab Reyhan cepat. > “Tolong tulisin surat dari gue… buat anak gue.” Reyhan menegang. > “Lo punya anak?” Arman mengangguk pelan. > “Gue ninggalin dia pas dia masih bayi. Ibunya… bunuh diri tiga bulan setelah gue kabur. Dia tumbuh di panti… katanya. Tapi gue tahu dia masih hidup. Namanya—Raka. Raka Aryaputra.” Reyhan menulis cepat. > “Gue gak tahu dia ti

