Surat dari Nusakambangan Tiga hari setelah gelaran Ruang Ampun Nasional, Reyhan menerima sebuah surat yang datang lewat jalur khusus dari Lapas Kelas I Nusakambangan. Amplopnya kusam, bercap merah, dan ditandai sebagai “pribadi.” Reyhan membukanya perlahan. Tulisan tangannya goyah, tetapi tegas: --- Untuk Reyhan Lia Al-Hakim, Aku melihatmu di televisi. Bukan sebagai putra Rafael, tapi sebagai lelaki yang memilih jalan berbeda. Namaku Bima Guntoro. Aku bukan siapa-siapa dalam ceritamu. Tapi aku… adalah musuh ayahmu. Aku pernah satu sel dengan Rafael. Dan aku tahu hal yang bahkan ibumu sendiri tak pernah diberi tahu: Rafael bukan nama asli ayahmu. Dan kau... bukan Reyhan. Jika kau ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya, datanglah padaku. Aku tak punya waktu lama. Tapi aku tak mau

