Bab 68

1441 Words

Perjalanan yang Tertunda Pagi itu, Reyhan dan Dino berangkat menuju pusat rehabilitasi mental di daerah Batu, Malang. Perjalanan ditempuh lewat jalur darat—mobil milik Rumah Lia yang telah disiapkan dengan penuh perlengkapan, obat, dan catatan medis. Langit mendung menggantung sejak subuh, dan hujan mulai turun deras ketika mereka melintasi hutan pinus di kawasan Lawang. Dino duduk diam di kursi depan, tangan terlipat di pangkuannya. Matanya menatap kosong ke jalanan basah di luar jendela. > “Gue pikir, gue bakal diborgol pas diantar,” katanya pelan, memecah keheningan. > “Lo gak narik pisau. Gak lari. Gak nyakitin siapa pun. Kenapa harus diborgol?” sahut Reyhan sambil mengemudi. Dino tersenyum miris. > “Karena sejarah gue lebih panjang dari sabuk pengaman.” ** Badai Menu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD