Bab 19

1136 Words

Bayangan dari Masa Lalu Malam itu hujan turun deras. Di sebuah gudang kosong di pinggiran kota, Hugo berdiri di depan layar proyektor yang menampilkan denah lengkap Rumah Lia. Di sampingnya, dua pria bertubuh kekar dengan tato naga di leher dan pinggang berdiri tegak seperti boneka pembunuh tanpa emosi. “Rafael sudah terlalu lembek,” kata Hugo sambil menyalakan rokoknya. “Dia bukan lagi singa. Sekarang, dia cuma kucing tua yang ditiduri kenangan.” Salah satu pria bertanya dengan logat asing, “Apa kita serang langsung?” “Belum,” Hugo menjawab, menyeringai. “Kita tekan dulu dari dalam. Kita rusak fondasinya pelan-pelan. Anak-anak, relawan, keuangan... semuanya. Sampai Rafael sendiri yang menyerah.” “Kalau tidak?” Hugo membuang abu rokok ke lantai dan menginjaknya. “Kalau tidak, kita ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD