Arika melihat ke arah tiga orang yang sedang mengerumuninya, dia berkata, "Bapak Barrak Christian Gunawan yang akan menjadi investor kita."
Beberapa detik sunyi.
Masing-masing mata melirik ke arah wajah Arika yang sedang memperlihatkan deretan putih giginya. Senyum senang menghiasi bibir Arika.
"A-apa?" wanita a tidak percaya.
"Kamu bilang Barrak Christian Gunawan?" tanya wanita b.
"Jangan mimpi … mana mungkin orang sekelas seperti dia mau menanamkan modal pada perusahaan kita …," ujar wanita c dengan dana tidak percaya.
Arika tersenyum sambil memperlihatkan beberapa kumpulan kertas. "Bahkan beliau juga mau membantu kesulitan manajemen perusahan kita. Selain menanamkan modal beliau ingin mengajari aku cara memanajemen perusahaan."
"What?!" ketiga wanita itu terbelalak tak percaya.
"Mbak Lusi, Mbak Rani, Kak Maria, akhirnya ada investor yang bersedia menanamkan modalnya ke perusahaan kita yang sedang sekarat ini, dan investor itu bernama Barrak Christian Gunawan," ujar Arika.
"Oh Tuhan, puji Tuhan!" Maria menarik napas lega penuh syukur, dia adalah wanita c tadi.
Sementara dua temannya yang lain terlihat sangat senang namun mereka belum mempercayai kabar baik ini.
"Lusi, Rani, kita ada investor baru! kalian tahu, investor itu adalah pengusaha muda yang sukses, itu keluarga Gunawan yang adalah salah satu keluarga terkaya di Jawa Timur hei!" teriak Maria kesenangan.
Lusi adalah wanita a sementara itu Rani adalah wanita b yang bertanya pada Arika.
"Aakkh! Rika! aku cinta kamu!" Maria langsung memeluk Arika.
"Hahaha!" Arika tertawa senang.
"Besok Mbak Lusi bisa ikut aku dan kita mulai membahas kerjasama dan kontrak," ujar Arika.
"Serius?" mata Lusi terbelalak.
"Cepat sekali!" seru Rani tak percaya.
Mereka berempat saling melirik lalu sedetik kemudian tawa senang terdengar.
°°°
"Rika, coba kamu lihat, bagaimana penampilan Mbak?" tanya Lusi setelah menoel lengan kanan Arika.
Arika melirik ke arah cara berpakaian Lusi. Perempuan berusia pertengahan tiga puluhan itu terlihat sangat modis sekali dengan gaya fesyen.
Arika mengangguk puas. "Perfect."
"Yang benar?" tanya Lusi sekali lagi.
"Um. Benar, Mbak," sahut Arika.
"Nanti Pak Barrak tertarik nggak, yah?" tanya Lusi berkhayal.
Arika melebarkan matanya. "Mbak Lusi, ingat Mas Gio, udah punya dua anak juga."
"Hahahaha! jadi lupa kalau aku udah nikah dan punya dua anak," balas Lusi setelah tertawa malu.
Arika menggelengkan kepalanya lalu tertawa geli.
"Ayo keluar mobil, jangan sampai investor menunggu, kata Kak Maria itu tidak bagus," ujar Arika.
"Ok." Lusi mengangguk.
Dua perempuan bergaya kantoran itu keluar dari mobil milik Arika. Mereka berjalan ke tempat pertemuan antara mereka dan investor mereka di sebuah restoran elit.
Lusi melirik ke arah sekeliling restoran. "Elegan banget restoran ini, memang selera keluarga Gunawan itu tidak ada banding," celetuk Lusi.
Arika ikut melirik ke arah sekeliling, dia mengangguk.
Seorang pria berpakaian rapi dan modis berjalan menghampiri Arika dan Lusi.
"Selamat siang, Nona-nona, perkenalkan saya Sandi asisten manager restoran ini, ada yang bisa saya bantu?"
Arika dan Lusi melirik ke arah Sandi, mereka mengangguk.
"Selamat siang, Mas Sandi. Kami sudah membuat janji temu dengan Pak Barrak," balas Arika.
Sandi mengangguk mengerti. Dia berkata, "Mari ikut saya, saya akan membawa dua Nona ini ke tempat yang telah dimaksud. Kebetulan saya sudah diberitahu oleh manajer untuk menunggu kedatangan Nona Arika Tesalonika kan?"
Arika mengangguk. "Ya, Saya Arika Tesalonika Kaligis."
Sandi mengangguk mengerti.
Mereka menaiki lift dan lift berhenti di lantai tiga.
Tiga orang itu keluar dari lift dan menuju ke arah ruang privat restoran itu. Ruang itu berada paling ujung.
Sandi membuka pintu dan mempersilakan Arika dan Lusi untuk masuk.
"Silakan masuk Nona. Beberapa saat lagi Tuan Barrak akan sampai ke sini."
"Ah, baik. Terima kasih, Mas Sandi," balas Arika sopan.
"Sama-sama, Nona Arika." Sandi mengangguk sopan.
Dia menutup kembali pintu.
Lusi melirik ke arah ruang privat restoran. Matanya jelalatan takjub dengan desain mewah restoran itu.
"Woaaah … ruang privat restoran aja sebesar apartemenku, Rik," ujar Lusi.
Arika tak mampu berkata-kata setelah melihat elegannya restoran.
Pintu terbuka, dan seseorang masuk.
"Maaf membuat Nona Arika menunggu."
Arika dan Lusi spontan menoleh ke arah Barrak.
°°°
Wajah Lusi terpanah saat melihat betapa tampaknya Barrak yang sedang melihat ke arah Arika dengan wajah cool dan suara bas magnetik yang memukau.
"Pak Barrak, tidak menunggu, kami baru saja sampai," balas Arika tidak enak hati ke arah Barrak.
Barrak tersenyum tipis ke arah Arika dan berkata, "Ah, saya pikir Anda dan rekan Anda telah menunggu. Mari duduk."
"Baik, Pak Barrak," sahut Arika.
Barrak berjalan duduk di kursi empuk. Sementara itu Arika bedak juga duduk di sofa yang berseberangan dengan Barrak, namun dia melirik ke arah Lusi yang masih memandang penuh minat dan takjub ke arah Barrak.
Barrak mengerutkan keningnya ketika melirik ke arah Lusi, namun Arika dengan segera menarik pelan Lusi agar duduk di kursi.
"Mbak Lusi, jangan lihat-lihat Pak Barrak begitu," bisik Arika di telinga kanan Lusi.
Lusi tersadar, dia tersenyum malu. Dia seharusnya tidak bertingkah seperti ini di depan calon investor mereka, sebab calon investor ini adalah kunci masa depan perusahaan mereka. Namun, ketampanan Barrak membuat Lusi seketika lupa dunia.
"Jadi, tanpa membuang waktu, saya ingin mendengar penjelasan dari Nona Arika mengenai kerja sama kami nantinya," ujar Barrak memulai percakapan serius.
"Baik, Pak." Arika mengangguk mengerti, dia melirik ke arah Lusi dan berkata, "Teman saya yang akan menjelaskan itu … hm, Anda telah tahu sebelumnya bahwa saya belum terlalu mengerti …."
Arika terlihat agak canggung dan gugup ketika mengatakan kalimatnya.
Barrak tersenyum miring, dia mengangguk pelan. "Ah, benar. Nona Arika telah memberitahu saya sebelumnya."
Barrak melirik ke arah Lusi dan berkata, "Baik, jadi silakan untuk Nona … um, saya belum mengenal Anda, maaf."
Lusi tersenyum standar lalu mulai memperkenalkan diri. "Terima kasih atas kesediaan Anda datang ke sini, Pak Barrak, saya Lusyani Melania, saya sebagai direktur keuangan baru di Kriswanherbal."
Barrak mengangguk mengerti.
"Salam kenal, saya Barrak Christian Gunawan."
"Salam kenal, Pak Barrak," balas Lusi.
Barrak berkata, "Saya tidak menyangka bahwa perusahaan ini banyak menyembunyikan berlian yang cantik."
Setelah mendengar perkataan ini, Lusi melirik ke arah Arika lalu dia tersenyum malu-malu. Hal ini dilihat oleh Barrak, sekilas detik kemudian sudut bibir Barrak membentuk senyum tipis tanpa diketahui oleh orang.
"Kami merasa terhormat Bapak berkunjung ke sini," ujar Lusi.
Barrak membalas, "Suatu kehormatan bagi saya."
Mendengar ucapan Barrak, Lusi diam-diam menggenggam tangan Arika lalu tersenyum.