Alara kini sudah bersiap pulang ke rumah. Liburannya yang hanya beberapa hari sejak hari pernikahannya membuatnya mau tidak mau harus puas karena dia pun tidak izin kepada dosennya yang lain ketika mengambil liburan. Lagi pula, Alara tidak mau temannya curiga karena dia tidak datang-datang ke kampus. Salah sendiri mereka yang tidak percaya jika dia menikah dengan Pak Adam, bukankah dia sudah jujur? Seandainya mereka percaya, dia pasti akan mengundang temannya itu ke pernikahannya. Ah, lebih baik seperti ini daripada menimbulkan gosip tak sedap karena Alara masih ingin kuliah dengan tenang, damai, dan tenteram. Setidaknya sampai dia tamat kuliah. “Nanti langsung ke rumah kita.” Alara menatap suaminya bingung. “Semua baju aku masih di rumah Mama.” “Ya sudah, kita ke rumah Mama dulu l

