68. Tidak Penting

1819 Words

Robi menyenggol lengan Priska. Kemudian menunjuk dengan lirikan mata ke arah orang tuanya. “Kenapa?” tanya Priska tidak mengerti. Ia baru saja kembali dari kamar mandi. Tapi sudah mendapatkan teka-teki. “Bantuin ngomong sama Mama dan Papa ya?” bisiknya. Ia mencondongkan tubuh saat berbisik pada Priska. “Oh oke,” jawabnya. “Ma, Pa, tadi kata orang tua Kak Anin, kapan Mama sama Papa akan datang ke rumah mereka?” lanjut Priska tanpa gugup sama sekali. Kalimat itu meluncur dengan sangat lancar. Tentu saja dia tidak gugup. Hal yang sedang dibicarakan bukan dirinya. Robi menelan ludah. Adiknya langsung saja mengatakan hal itu tanpa aba-aba. Membuat jantungnya berdetak makin kencang. Beruntung tidak copot dari tempatnya. Keringat dingin mulai menyelimuti tubuh Robi. Ia mengelap keningny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD