30. Mendung

1863 Words

Keduanya sudah terlalu lelah untuk beramah-tamah. Priska memilih duduk di sebuah sofa di sudut halaman. Bermain dengan gawai miliknya. Membalas beberapa komentar pada unggahannya. Ia menatap sekeliling. Di sana mereka masih saja ramai. Masih saja membahas banyak hal. Priska terlalu jengah mendengar segala macam jilatan yang diucapkan oleh mereka. Pada ujungnya meminta ia untuk melakukan promosi produk mereka. Tahu sendiri, seperti apa mental saudara. Mereka meminta digratiskan. No way! Begitu batin Priska. Tapi, ia hanya berani mengucapkannya di dalam hati saja. Karenanya, ia memilih menghindar saja. Daripada ia harus terus tersenyum tanpa henti sebagai tanda penolakan yang halus. Ia terlalu malas menjelaskan pada mereka. Bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah pekerjaan. Bukan hanya seked

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD