Bab.6 Jeana Yang Cantik

1126 Words
  Jeana menghembuskan nafas panjang, dia mengurungkan niatnya untuk balik ke rumah dengan cepat. Jeana tidak punya tenaga untuk berdebat dengan lelaki itu. Leo selalu berkata kasar dihadapan Jeana, membuat Jeana selalu di rundung duka. Jeana benci sebuah pertikaian. Ayahnya selalu bertikai dengan ibunya dan membuat dirinya memilih pergi dari rumah dan bekerja di luar sampai larut malam. Bagi Jeana, dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan orang asing.   Jeana menghela nafas panjang dan menatap botol plastik dan sekotak bekal yang dipersiapkanya dari rumah Leo.   “Tidak pulang sayang?” Alfin mengusap lembut kepala Jeana. Jeana melirik sekilas dan menghembuskan nafasnya lagi. Bagi Jeana, Alfin adalah malaikat yang selalu hadir saat dia ada masalah.   “Ada masalah yah?” Alfin kemudian mengengam tangan Jeana. Jeana melirik sekilas dan menarik tanganya secepatnya. Alfin sontak bingung dan memandang wajah Jeana lekat-lekat.   “Kenapa, bukannya biasa aku memegang tanganmu?” tanya Alfin bingung. Jeana menunduk ke bawah. Memandangi sepatu baletnya yang sudah terlihat kusam, Jeana tidak menjawab pertanyaan Alfin.   “Kamu sudah memasuki umur pernikahan, bagaimana kalo aku tanya ayah buat melamarmu segera?” ucap Alfin tiba-tiba. Alfin memandang Jeana lekat-lekat dan mengelus kepala Jeana dengan lembut.   Jeana mengeleng sekilas, dan membentangkan jarak beberapa sentimeter dengan Alfin segera.   “Kenapa, kamu berbeda hari ini?” sambung Alfin. Perempuan yang dicintainya itu tampak murung, ini sama sekali bukan Jeana yang dia kenal. Jeana selalu tersenyum ramah dan manja kepadanya.   “Jeana?” sahut Alfin lembut.   Dari kejauhan, seorang pria berjas hitam dan berkacamata hitam menghampiri mereka. Jeana mengerutkan kening dan memperhatikan dengan cermat lelaki yang menghampirinya.   “Nona Jeana, silahkan masuk ke mobil, saya menjemput anda!” seru lelaki itu. Jeana mengangguk dan melangkahkan kakinya dengan lemas. Jeana sekilas memandang Alfin yang terlihat bingung menatapnya lalu memandang ke depan mengikuti lelaki berjas itu.   “Jeana, siapa dia?” Alfin mempercepat langkahnya mengikuti Jeana dari belakang.   “Aku sudah di jemput, nanti kita bicara lagi!” sahut Jeana melambaikan tangan. Jeana masuk ke mobil dan meninggalkan Alfin dengan sorot mata curiga.   “Apakah tuan Leo yang menyuruh anda?” Jeana memandang lelaki yang mengantarnya pulang. Mr. Robert mengangguk sekilas tanpa bersuara.   “Owh!” seru Jeana.   “Nona Jeana, jika perlu sesuatu bisa menghubungi saya!” seru Robert. Dia tetap fokus menyetir tanpa memandang Jeana yang duduk di belakang.   “Tuan Leo ada acara makan malam dengan nona Sela, nona Jeana bisa menghubungi saya jika ada keperluan!” sambung Robert. Jeana hanya mengangguk dari belakang dan membuka buku bacaanya.   “Untuk seminggu ke depan, tuan Andra mengurus bisnis barunya di luar negeri, jadi saya harap nona Jeana tidak merepotkan tuan Leo!” Robert masih saja berbicara. Jeana hanya mengangguk tanda dia mengerti.   “Eh, tuan Andra ke luar?” sontak Jeana kaget saat mencerna ucapan Robert.   “Ia nona!”   “Tuhan, mampus aku nanti!” aduh Jeana sambil memukul kepalanya.   “Maksud nona?” Robert menatapnya sekilas.   “Eh, tidak ada apa-apa!” sahut Jeana di sertai senyum kecil.   Mobil silver hitam bernilai ratusan juta terparkir indah di kediaman tuan Leo. Leo membuka sekilas jendela kamarnya dan memperhatikan Jeana yang turun dari mobilnya. Dia tersenyum beberapa saat dan menutup jendela itu lagi.   “Apakah dia di rumah?” bisik Jeana sambil jinjit ke arah Robert.   “Maksud nona tuan Leo?” tanya Robert kembali. Kacamata hitam di lepaskan dan memandangi perempuan mungil di depannya.   “Ia!” Jeana mengangguk agak ragu.   “Dia ada di dalam sedang mengurus dokument!” sahut Robert. Robert kemudian berjalan menuju garasi mobil dan meninggalkan Jeana di pintu dengan ekspresi murung.   “Astaga!” aduh Jeana dalam hati. Jeana lalu menuju kamarnya. Di lepaskanya baju dan celana, Jeana lalu mengambil handuk yang tergantung. Mandi sore membuatnya tenang dan pikiran segar.   Matanya kaget bukan main, Jeana sontak berlari dari kamar mandi sesaat Leo dengan santainya keluar hanya dengan handuk yang terlilit di badannya.   “Jangan lihatkan aku itu!” teriak Jeana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuh Jeana bergetar. .   “Jangan macam-macam!” sahut Jeana lagi, Jeana mundur beberapa langkah.   “Maksud kamu apa?” tanya Leo bingung. Leo sedang asik mandi tetapi perempuan itu menerobos kamar mandi seenaknya.   “Kamu yang tiba-tiba masuk!” sahut Leo tidak mau kalah. Leo dengan santainya membuka lemari dan mengambil baju kaos dari dalam. Jeana masih berdiri kaku di depan kamar mandi dengan kedua tangan menutupi wajahnya.   “Santai aja, aku ini suamimu kan!” sahut Leo enteng. Dia kemudian keluar dari kamar sambil tertawa melihat Jeana yang masih menutup wajahnya, Jeana ketakutan, Jeana tidak pernah melihat hal seperti itu apalagi satu kamar mandi dengan laki-laki.   “Segera mandi dan pakai gaun yang aku sediakan!” seru Leo. Jeana mengatur ritme jantungnya, matanya dibuka dan segera berlari ke kamar mandi.   “Jangan lama, aku malas menunggu lama!” seru Leo lagi.   “Makan malam ini, kamu harus hadir!” sambung Leo. Meski pun samar-samar, tetapi Jeana bisa mendengar suara lelaki itu dari dalam kamar mandi.   Jeana tersenyum ceria saat keluar dan menyelesaikan aktifitasnya. Jeana melirik sekilas baju yang tergantung di sudut lemari pakaian. Dengan wajah bingung, Jeana mengambil baju itu dan memperlihatkan tubuhnya di cermin.   “Di mana dia tahu aku cocok baju ini?” batin Jeana. Jeana membuka berapa resleting gaun itu dan mencobanya. Gaun silver dengan warna lembut sangat cocok di tubuhnya.   “Tapi, aku ragu!” batinnya.   “Ini makan malam dengan Sela, apakah aku harus ikut?” batin Jeana. Jeana melihat pantulan dirinya di cermin, wajahnya ragu dan bingung.   “Nona Jeana, tuan sudah menunggu di luar!” bibi Oliv datang dan mengagetkan dirinya.   “Maaf karena saya masuk tiba-tiba!” ujar perempuan paruh baya itu.   “Tidak masalah bi!” sahut Jeana enteng sambil memperhatikan lekat-lekat riasan di wajahnya.   “Tuan Leo tidak suka perempuan menor nona!” sahut bibi Oliv lagi.   “Owh, ia kah?” Jeana melihat sekilas wajah bibi Oliv yang ragu melihat hasil riasanya.   “Aku akan menipiskan lipstiknya!” ujar Jeana. Dia mengambil kain dan mengusap lipstrik maroon yang sudah berada di bibirnya.   Jeana melihat pantulan wajahnya dengan riasan tipis namun masih membuatnya cantik. Dia tidak tahu bahwa dalam kondisi mendadak, keahlianya dalam merias terasah juga.   Bibi Oliv keluar bersama Jeana dari dalam kamar. Leo masih mengerutkan kening menatap wajah Jeana. Jeana menunduk ke bawah. Dia tidak suka lelaki itu menatapnya seperti itu.   “Akan ada beberapa wartawan, kamu jangan berbicara jika tidak aku suruh!” jelas Leo. Dia mendekatkan wajahnya ke Jeana. Dia menghirup aroma wangi lavender yang berasal dari parfum Jeana.   “Kenapa kamu suka wangi ini?”   “Eh?” seru Jeana.   “Karena aku suka saja tuan!” ucap Jeana enteng lalu mengambil sepatunya dan menuju ke mobil. Leo mengikutinya dari belakang dengan pandangan terpesona.   “Anak tuan Brokas, cantik juga!” batinnya.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD