Leo mendobrak pintu kamar Jeana. Dia melihat gadis itu menutupi seluruh tubuhnya. Matanya memandang tajam Jeana. Dengan langkah pelan, Leo menghampiri gadis itu. Ada amarah yang tersimpan di hati Leo hari ini. Leo kemudian berjalan pelan dan menarik paksa selimut Jeana sehingga membuat perempuan itu histeris. Leo tanpa aba-aba kemudian mengimpit perempuan itu.
“Tolong!” sahut Jeana histeris. Jeana ketakutan setengah mati.
Jeana membuka matanya, dia sulit bernafas. Dilihatnya Leo yang penuh amarah menarik selimut dan berada di sampingnya. Setiap kali melihat lelaki itu, ada sesak yang menjalar di seluruh tubuhnya. Jeana spontan menghindar tetapi tangan lelaki itu sudah mengunci tubuhnya.
“Mau kemana ah!” bentaknya. Matanya menyala memandangi Jeana. Ada semburat amarah yang terpancar. Jeana sesak nafas, tangan Leo terlalu mengunci tubuhnya dengan kuat dan membuatnya harus menahan rasa sakit.
“Lepaskan aku, sakit Leo!” betaknya sambil memukul tangan berotot Leo tetapi lelaki itu hanya tersenyum kaku.
“Kamu buat apa saja dengan dia, ah?” Suara Leo terdengar sarkas. Leo lebih mendekatkan wajahnya lagi dan mengamati Jeana lebih dekat.
“Kamu mau bermain dengan lelaki itu?” sambungnya. Matanya menusuk tajam menatap mata lentik Jeana. Leo mendekatkan wajahnya lebih dekat sehingga jarak mereka hanya beberapa sentimenter.
Leo secara gusar tiba-tiba melumat bibir istrinya, dia dipenuhi amarah dan rasa cemburu. Jeana mendorong tubuh Leo segera bahkan dia memukul lelaki itu.
“Lepaskan, Leo!” teriaknya. Dengan satu kali pukulan dan tendangan, Leo menjauh, bibirnya berdarah. Dia membiarkan perempuan itu menghirup oksigen sejenak, keringat Leo berjatuhan membasahi keningnya.
“Kamu lagi apa?”
“Begini caramu memperlakukanku!” teriaknya. Dia mengambil selimut dan melilitkannya pada tubuhnya untuk bertahan diri. Jeana mundur menjauhi Leo. Keringatnya berjatuhan dan tanganya bergetar. Ciuman panas itu membuatnya sesak nafas.
“Ya, karena kamu istriku!” protes Leo. Dia menatap tajam wajah Jeana. Dia cemburu, dia murka hari ini.
“Kamu bisa meminta hakmu, tapi jangan seperti ini!” Suara Jeana lirih. Air matanya mengalir membasah pipi merahnya. Leo sangat kasar kepadanya. Lelaki itu tidak pernah memperlakukanya dengan baik.
“Kenapa, kamu tidak suka aku menciummu?” tanya Leo lagi. Dia tidak melihat mata Jeana yang berembun karena Leo benci jika perempuan itu menangis di depanya. Suara isak tangisan dari bibir mungil Jeana mengema di kamar berornamen klasik itu.
“Kamu jahat Leo Vernado!” bentak Jeana. Jeana menutup kedua wajahnya, dia terisak dan mencoba menenangkan diri. Suara deru tangisan bersautan dengan sesak nafasnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Jeana tidak memandangi lelaki itu. Jeana terus-terusan menangis di sudut kamar.
Leo melihat sekilas wajah istrinya, dia mengacak rambutnya dan mencoba menenangkan diri. Rasa iba tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Ada rasa kasihan yang menyerangnya tiba-tiba. Leo tidak suka jika perasaan iba muncul untuk Jeana. Jeana hanya perempuan asing yang menyelinap di rumahnya dan menghancurkan semuanya.
“M-maaf!” ucap Leo. Leo segera menutup pintu dan meninggalkan Jeana di kamar.
“Apa yang sudah ku lakukan?” batin Leo frustasi megacak-acak rambutnya.
Jeana duduk di samping lemari. Dia menutup semua tubuhnya, tanganya masih bergetar. Dia mengintip dari cela selimut. Dia takut jika lelaki kasar dan kaku itu masuk lagi.
Jeana mencoba menenangkan dirinya, ini ciuman pertama Jeana dan berhasil direbut paksa oleh Leo. Air mata Jeana jatuh meratapi semuanya dengan perasaan sesal.
“Sayang ada apa?” suara Alfin terdengar dari ponsel Jeana. Jeana menekan tombol telefon untuk menelepon Alfin. Lelaki itu adalah malaikat penolongnya dan penenangnya.
“Sayang?” ulang Alfin. Deru nafas Jeana sangat terdengar dari ponsel itu. Jeana gugup, dia ragu untuk berbicara.
“Alfin, aku takut!” suara Jeana lirih.
“Kamu di mana sekarang!”
“Aku akan menemuimu!” sahut Alfin.
“Aku takut Alfin!” ucap Jeana lagi.
“Jangan begini, ini membuatku semakin ingin berlari segera menemuimu!” sahut Alfin tegas. Suara Jeana yang lirih membuat dirinya panik. Alfin tidak pernah mendengarkan Jeana ketakutan seperti ini.
“Jeana di mana kamu sekarang!” teriak Alfin lagi. Jeana termenung, hanya isak tangisan yang menjadi jawaban.
Mendengarkan suara itu membuat Alfin frustasi. Jeana adalah bidadarinya. Dia akan melindunginya walaupun itu nyawanya sendiri.
“Sayang, di mana kamu?” tegasnya lagi.
“Owh Tuhan, kamu dimana jeana Brokas!” sambung Alfin. Jeana hanya terdiam. Dia menangis dan menutupi dirinya dari balik selimut.
“Aku sungguh mau mati jika kamu begini, Jeana!” bentak Alfin lagi. Perempuan itu sama sekali tidak menjawab. Jeana bingung harus berkata apa. Apakah dia sebaiknya jujur saja?
***
Leo membasahi seluruh tubuhnya di kamar mandi. Hari ini dia benar-benar di luar kendali. Dia sudah membuat perempuan itu ketakutan dengan aksinya. Seharusnya dia bisa menahan diri.
“b******k!” makinya dalam hati.
Perempuan itu memenuhi isi kepalanya. Sejak dari pesta, Leo selalu membayangkan lelaki yang bersama Jeana. Hatinya mendidih, walaupun dia bersama kekasihnya, Sela.
“b******k!” batinnya lagi.
Air shower yang memancar membasahi seluruh tubuhnya. Leo sengaja berdiam diri di kamar mandi untuk menenangkan dirinya. Lumatan kasar pada bibir Jeana membuatnya merasa bersalah.
Mr. Robert memberitahukan Leo bahwa Jeana bersama lelaki lain dan berpelukan. Leo tidak akan pernah cemburu karena dia tidak mencintai perempuan itu. Tetapi, dia juga tidak bisa membiarkan Jeana bersama lelaki lain.
Sela mengajaknya untuk tinggal di apartemennya malam ini. Tetapi Leo harus menolak karena malam ini dia akan bertemu Jeana dan bertanya semua ini.
Setiap membayangkan wajah Jeana yang menangis, itu membuat Leo merasa sangat bersalah. Seharusnya dia tidak kasar memperlakukan Jeana. Tetapi dia juga membenci perempuan itu.
Bibi Oliv segera menyediakan teh hangat dan makanan ringat untuk Jeana. Jeana keluar dari kamar dengan pandangan kosong. Dia hanya menatap ke depan tanpa bersuara sama sekali.
Matanya menerawang tajam dengan wajah pucatnya. Bibi Oliv mengerutkan kening menatap wajah Jeana.
“Baik-baik saja kan nona?” serunya. Dia memberanikan bertanya kepada Jeana karena perempuan itu sama sekali tidak berkedib.
Jeana menganguk dan menyeruput teh hangat di depannya. Buliran air matanya mengalir di pipi, Jeana membiarkan saja hal itu. Alfin kekasihnya selalu mengecup kening Jeana dengan lembut. Kekasihnya itu tidak pernah meminta hal apapun darinya. Tetapi Leo dengan beringas datang dan membuatnya ketakutan.
“Nona?” sahut bibi Oliv lagi.
“Beberapa pakaian dan bunga datang malam ini buat nona Jeana. Aku sudah menyuruh Robert untuk membawahnya ke kamar nona!” jelas bibi Oliv.
“Dari mana?” mata Jeana sekilas menatap wajah bibi Oliv.
“Tuan Leo yang memesannya malam ini!” ucap bibi Oliv. Perempuan paruh baya itu kemudian berjalan ke dapur untuk menyelesaikan tugas malamnya.
“Tuan Leo keluar, dia membawah semua ini!”
“Katanya untuk nona Jeana!” Sahut bibi Oliv lagi. Suaranya agak bergetar ketakutan. Jeana bergeming, dia tidak bisa menebak lelaki itu.
“Aku rasa dia memang benar-benar tidak waras!” batin Jeana lalu menyeruput teh hangatnya lagi.
Bersambung…