“Tuan Leo sedang mengerjakan proyek barunya jadi saya disuruh menjemput anda!” ujar Robert. Jeana mengangguk dari belakang. Sebenarnya dirinya tidak begitu peduli siapa pun yang menjemputnya sekarang.
“Nona Jeana, tuan Leo tidak begitu suka anda bersama lelaki lain!” sambung Robert sambil menatap Jeana dari balik kaca spion. Jeana mengangguk.
“Saya mengerti Robert!” ujar Jeana lagi. Robert lalu menancap gas dan mempercepat laju mobilnya. Jeana menatap dedaunan yang kering yang tersapu angin. Dedaunan berwarna jingga yang bertebaran di sekitar jalan menuju kampus. Musim gugur di kota ini selalu membuatnya merasakan kedamaian.
Mungkin karena tahun lalu dia masih bersama ibunya untuk berlibur musim gugur di salah satu negara di benua Eropa.
“Maaf kalo saya selalu membuat nona Jeana bingung!” sahut Robert lagi.
“Tidak masalah Robert, sebagai asisten pribadi Leo, anda berhak mengawasi saya!” sahut Jeana tanpa memandang wajah Robert. Jeana asik melihat pemandangan di sekitar kota.
“Tuan Brokas menelefon saya dan menanyakan kabar anda nona!” Jeana bergeming.
“Ayah saya?”
“Ia!”
“Dia akan meresmikan kantor barunya besok bersama nona Fentika dan nona Asila!”
Jeana menghembuskan nafas panjang mendengarkan nama kedua saudaranya itu. Seharusnya Fentika yang menempati posisinya sekarang tetapi karena Fentika kabur dari rumah dan Asila yang keras kepala sehingga Jeana yang melakukan ini semua.
“Saya tahu tuan Leo keras, tapi saya berharap nona Jeana sabar untuk sementara waktu!” ujar Robert, dia tersenyum kecut melihat pantulan wajah Jeana dari kaca spion.
“Aku tahu itu Robert, bahkan dia lelaki yang kaku dan kasar!” Jeana menghembuskan nafasnya lagi, bayangan wajah Leo seketika melintas di pikirannya.
Perjalanan dari kampus dan rumah Leo sangatlah cepat, hanya memakan waktu 15 menit saja. Seperti biasa, Robert akan berpamitan dan menuju garasi mobil untuk mengecek segala keperluan Leo.
“Jika tidak ada pekerjaan lagi, saya pamit nona Jeana, saya harap anda sehat selalu!”
“Hmm,” ucap Jeana.
“Kenapa dia tidak bilang, semoga anda waras selalu!” batin Jeana.
Robert melangkah dan meninggalkan Jeana di depan pintu. Jeana harus bersedia diantar dan jemput dengan menggunakan mobil Leo selama masa perjanjian. Tidak ada media atau pun sorot kamera yang akan melihat Jeana dan Leo. Leo sangat menghindari publik jika bersama Jeana.
“Nona Jeana, kemarin ada paket berisi pakaian ini buat nona!” bibi Oliv segera menghampiri Jeana sesaaat perempuan itu masuk di ruang tamu.
“Isinya apa bi!” sahutnya, dia mengamati kotak persegi dengan kemasan berwarna pink.
“Satu stel lingerai untuk nona Jeana!” suara bibi Olive bergetar mengucapkan itu. Dia menahan tawa agar nona muda di depannya tidak marah.
“Apa?”
“Siapa yang mengirimkan pakaian semacam itu!” tanpa aba-aba, Jeana menarik kemasan itu dan memperhatikan lekat-lekat kartu nama pengirim.
“Siapa orang bodoh yang mempermainkanya, kalo bukan Rebeca, siapa lagi?” batinnya.
“LEO VERNADO!” bacanya.
“Wah, lelaki ini benar-benar gila!” ocehnya sambil cemberut, dibuangnya kartu nama itu dan segera berlari.
“Barangnya mau di taruh di mana nona?”
“Buang saja bi, aku tidak pakai begitu!” sahut Jeana dari dalam kamar.
***
Leo tersenyum penuh misteri melihat beberapa barang yang telah dia pesan sudah di terima Jeana.
“Perempuan itu pasti menyukai bunga!”
“Setidaknya sebagai tanda minta maaf karena aku telah merebut paksa ciuman pertama gadis itu!” serunya sambil meneguk secangkir anggur di ruang kerjanya.
“Setelah selesai proyek ini, aku akan mencoba melihatnya, apakah dia suka pakaian itu!” batinnya. Sebuah senyum penuh misteri terukir di wajah tampannya yang penuh kharisma. Jika sekilas melihat Leo, perempuan mana pun akan tertarik dengan aurah maskulinnya yang sangat kuat.
“Sayang!”
“Kamu ada kegiatan malam ini!” Sela dengan pakaian seksinya menerobos masuk ke ruang kerja dan mengoda lelaki itu.
Leo sama sekali tidak menyadari keberadaan Sela. Sentuhan lembut pada d**a bidang Leo membuat Leo sedikit terganggu. Tangan perempuan itu nyaris membuka seluruh pakaian Leo dan menampilkan d**a berkotak yang bagaikan roti sobek.
“Tidak di sini!” bisik Leo. Sela tersenyum nakal memahami maksud kekasihnya. Tangan Leo menghentikan aktifitas perempuan yang sudah bergeluyut manja di depannya.
“Maksud aku, aku tidak ingin melakukan ini lagi!” sambung Leo lagi. Matanya tetap fokus pada layar laptop dan jemarinya yang aktif mengetik sesuatu.
“Bukankah dari kemarin kita sudah melakukanya?” tanya Sela bingung. Perempuan itu kini duduk di atas meja Leo dengan memperlihatkan d**a seksinya.
“Kamu dengan lelaki simpanan mu saja!” tegas Leo lagi. Matanya tetap berfokus pada layar laptop tidak mengubris Sela. Leo tahu bahwa lelaki yang di lihatnya tanpa busana ini adalah lelaki simpanan Sela tetapi bagaimana pun. Leo sudah sangat jatuh cinta dan menjadi bodoh karena sosok Sela Askara.
“Honey, maafkan!” bibir Sela segera melumat bibir Leo tetapi secepat mungkin Leo menghindari sehingga perempuan itu kaget bukan main.
“Kamu bahkan tidak ingin menciumku lagi Leo Vernado?” sahutnya. Matanya menatap tegas Leo. Ada butiran air mata di sudut kelopaknya. Ada semburat kekecewaan yang dia rasakan saat ini.
“Karena istrimu itu?” tanya Sela lirih.
“Kamu tidak pernah menolak sentuhanku, kenapa bisa jadi begini Leo!” teriak Sela. Dia merasa terkalahkan hari ini.
“Dia sudah memberikanmu lebih, ah!” bentaknya. Leo tetap diam dan fokus pada layar laptopnya.
“b*****h!” Sela melangkah pergi dan menutup pintu ruangan Leo dengan sangat kasar. Leo hanya terdiam memperhatikan kekasihnya itu pergi dengan amarah yang memuncak.
“Huft!” desahnya sambil memijit pelipisnya.
Siapa pun akan tertarik dengan Leo karena ketampanan dan kekayaan dan juga siapa pun akan tertarik dengan Sela karena kekayaan dan kecantikan. Leo dan Sela bagaikan pasangan yang sempurna yang di takdirkan Tuhan. Tapi hari ini dan untuk pertama kalinya, seorang Leo Vernado menolak sentuhan wanita seksi itu.
Setelah pekerjaan di kantor Brawijaya selesai, Leo melangkahkan kakinya dengan sangat pelan menuju rumah. Dari arah ruang tamu, dia melihat gadis itu tertutup dengan selimut dan asik menonton seri drama dari layar Tv.
“Sudah baikan!” sahut Leo. Dia mengedipkan mata dan menatap perempuan itu. Jeana masih sama dengan posisi awalnya, dia tidak begitu peduli dengan kedatangan Leo dihadapanya.
“Aku mau teh hangat buatanmu!” sambung Leo dengan intonasi nada manja.
Jeana masih saja tidak berkedip dari seri drama yang di nontonya.
“Baiklah, biar bibi Oliv yang membuatkan!” sahut Leo lagi sambil melangkah lemas. Baru kali ini seorang perempuan menolak permintaanya.
Jeana menghembuskan nafas tidak b*******h. Dia kemudian melangkah ke dapur dan menarik teh dan menuangkan air hangat. Secangkir teh hangat terhidangkan di meja kerja Leo. Jeana lalu menuju posisi awalnya untuk melanjutkan seri drama kesukaanya. Tidak lupa dia merapatkan selimut tebal yang membalut tubuhnya karena udara saat ini sangat dingin.
Tubuh Leo lalu bersandar di samping Jeana dan menyenderkan kepalanya di bahu Jeana. Sontak perempuan itu melihatnya dengan sinis. Dia menarik tangan lelaki itu segera.
“Kenapa sih, sok manja sekali!” cetusnya. Leo masih tetap sama. Dia pura-pura tidur di bahu Jeana dan berpura-pura tidak mendengarkan perkataan perempuan itu.
“Sakit tahu!” sambung Jeana menarik kepala lelaki itu.
“Kamu tarik kepalaku lagi, aku akan cium!” ancam Leo. Jeana bergeming. Jelas saja dia akan menolak berciuman dengan lelaki itu. Jeana tidak mencintainya, dia akan menjaga tubuhnya untuk kekasih yang di cintainya, Alfin.
“Okelah!” ujarnya akhirnya.
Bersambung...