Five - Flash

2218 Words
-driciee♡♡- Ara, aku tidak bisa menemuimu hari ini. Aku sibuk sekali. Aku harus praktek merakit robot bersama Vano dan Arsen. Maaf sekali. Ara mendengus kuat membaca pesan yang dikirim oleh Aldric. Mereka sudah berjanji akan menonton film bersama. Ada film menarik yang menurutnya patut untuk ditonton. Padahal wanita itu juga sudah membeli tiketnya. Hangus sudah tiket nontonnya. Ara memiliki ide. Dia bisa menonton bersama Evan. Pasti lelaki itu mau menemaninya. Kebetulan bioskop yang dipilihnya cukup jauh dari Kampusnya. Jadi, kemungkinan jarang ada yang menonton disana. Ara mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor telpon Evan. Kemudian berharap lelaki itu memiliki waktu luang. Sehingga bisa menemaninya menonton film. "Evan, kamu dimana?" Ara bertanya langsung keberadaa Evan. Setahunya, lelaki itu tidak ada kelas hari ini. Jadi, mungkin dia sedang tidak melakukan apa-apa. "Ayo, menonton bersamaku. Aku sudah membeli tiketnya." Ara tersenyum senang. "Oke. Aku tunggu di parkiran basement kampus." Setelah sambungan terputus. Ara berjalan menuju lift yang akan membawanya ke parkiran basement kampusnya. Kebetulan sekali Evan baru saja bimbingan skripsi. Jadi, lelaki itu masih berada disekitar kampus. Syukurlah Evan bisa menemaninya menonton. Jika tidak, hangus sudah tiket menontonnya yang sudah dibelinya. Mata Ara was-was melihat kiri dan kanan. Kali-kali ada mahasiswa yang tengah berada disini juga. Tapi, Evan kan mahasiswa fakultas sebelah. Semoga saja mahasiswa dari fakultasnya tidak mengenal Evan. Karena kebetulan letaknya fakultas mereka cukup berjarak. Tak berselang lama mobil Jeep Wrangler Unlimited Rubicon 4X4 berwarna hitam milik Evan masuk ke area basement. Ara tersenyum sambil melambaikan tangannya. Mobil itu berhenti tepat didepannya. Dengan segera Ara masuk ke dalam mobilnya. "Tumben mengajakku menonton." Evan mengenakan kacamata hitam. Membuatnya terlihat berkali-kali lebih tampan. "Aku sudah membeli tiket bioskop. Aldric terpaksa harus praktek merakit robot." Evan sudah dapat menebak. Pasti karena Aldric tidak bisa menemaninya. "Sayang jika tiket ini hangus. Aku mengajakmu saja." Evan mengangguk. Fokus pada jalanan didepannya. "Kamu sungguh tidak ada acara, kan?" Evan menggeleng. Evan menatap Ara karena mereka sedang berada di lampu merah. Lelaki itu terdiam sejenak. Memandang Ara dengan tatapan terpesona. Wanita itu sedang mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Menampilkan leher putih yang kerap sekali dijamah oleh Evan. "Sudah Evan, berhenti menatapku. Lihat kedepan, lampunya sudah hijau," Ara sudah selesai mengikat rambutnya. Evan mengerjap beberapa saat kemudian tersenyum. "Apa kamu selalu secantik ini saat mengikat rambut?" Ara memutar bola matanya. "Aku selalu cantik, Evan. Dalam keadaan apapun." "Telanjang saja kamu cantik." Setelahnya Evan dihujani cubitan diperut berotot lelaki itu. "Astaga, sakit, Sayang. Kamu mau kita kecelakaan?" Ara diam sejenak. "Jangan ungkit-ungkit itu." Evan tersenyum lagi. Rasanya ingin menepikan mobilnya kemudian berciuman dengan Ara.  "Ara, nanti sebelum turun kita berciuman dulu, ya. Aku mendadak gemas denganmu." Ara enggan menjawab. "Ara, kumohon. Lima menit saja. Hanya berciuman tidak lebih." Ara mendadak ingat bekas hisapan dilehernya yang dipergoki Aldric beberapa waktu lalu. "Evan, kamu ingat seminggu lalu saat kamu menghisap leherku di Kampus?" Evan mengangguk. "Ada apa?" Ara menjambak rambut Evan. Membuat lelaki itu terkejut bukan main. "Akh, sa-akh-it Ara." Ara mendadak kesal dengan lelaki itu. Sudah berapa kali melanggar peraturan. "Kamu menghisap leherku hingga berbekas, bukan?" Evan terdiam mencoba mengingat. Ah, benar. Dia menghisap leher Ara hingga berbekas. "Aku tidak sengaja. Sungguh." Evan mendadak kembali merasa bersalah. Ara menangis saat itu. Membuatnya ketakutan. "Aldric bertanya kepadaku kenapa leherku merah." Evan langsung menatap Ara. "Kalian berbuat sesuatu?" Ara menatap Evan tajam. "Tidak! Dia hanya menyibakkan rambutku. Aku kepanasan setelah membersihkan apartemennya." Evan merasa lega. Pikirnya Ara dan Aldric berbuat sesuatu. "Lagipula, jika aku dan Aldric melakukannya tidakpapa, kan? Kami berpacaran. Ingat itu." Evan mengeraskan rahangnya. Kesal saat wanita itu mengatakan Aldric adalah kekasihnya. Memang sebuah fakta. Tapi, tidak perlu diungkit juga. Dia merasa gagal tidak bisa memiliki Ara. Merasa sedih mengingat wanita itu bukan miliknya. "Lakukan saja sesuka kalian." Ara langsung menatap Evan heran. "Kamu cemburu?" Evan memalingkan wajahnya ke jendela samping. Melihat sekilas kemudian kembali menatap jalanan depan. "Pikir saja sendiri." Ara mengerutkan dahinya. "Terserahmu sajalah." Ucap Ara kemudian menatap jendela sampingnya. Suasana mobil berubah menjadi hening. Ara tak berbicara begitu juga Evan. Hingga lelaki itu selesai memarkirkan mobilnya mereka masih diam. Evan tidak menyukai suasana seperti ini. "Ara, marah?" Ara menatap Seungyoun, melepas kacamata yang dikenakan lelaki itu. Lalu kemudian mengecup bibirnya. "Sudah tidak. Jangan membuatku kesal." Evan tersenyum kemudian mengangguk. "Tapi, tidak janji," Ara menghela nafasnya. Selalu begitu. Kemudian wajah mereka saling berdekatan. Hingga bibir keduanya saling menyatu. Evan melumat bibir atas Ara. Membuat wanita itu meremas sisi pakaian yang dikenakan Evan. "Sudah. Nanti bibir kita bengkak. Sudah cukup, kan?" Ara mengamati kacamata Evan yang ternyata masih berada ditangannya setelah melepas tadi. "Kacamata ini baru, kan? Aku baru melihatnya." Evan terkekeh. Wanita itu tahu saja barang-barangnya. "Ini Dolce & Gabbana keluaran terbaru, kan?" Ara mencoba kacamata Evan. Bercermin melalui layar ponselnya yang mati. "Kamu mau?" Evan akan memberikannya kepada Ara jika wanita itu menginginkan kacamatanya. Walaupun kacamata itu baru tiga hari dimilikinya. "Tidak. Aku hanya mencobanya saja." Ara meletakan kacamata itu didalam kotak yang ada didalam dashboard mobil Evan. Lelaki itu tersenyum melihat Ara yang begitu teliti dengan barang. Bahkan dirinya saja asal meletakan barang-barangnya tak perduli jika harganya mahal. Berbeda dengan Ara yang akan meletakan barang-barang sesuai tempatnya. Terbukti dengan barang-barangnya yang awet dan berumur cukup lama. "Ayo turun, filmnya mulai sejam lagi." Mereka berdua turun dari mobil. Berjalan tanpa mengaitkan lengan seperti pasangan biasanya. Toh, mereka juga bukan sepasang kekasih. Hanya teman saja. Jadi, tidak perlu berpegangan tangan. "Kenapa kamu memilih menonton disini?" Evan heran, bukankah dekat kampus mereka ada bioskop juga. Ya, tidak dekat juga sih. Tapi, lumayan lah jaraknya. Tidak sejauh menonton di bioskop ini. "Aku dan Aldric memang senang menonton disini. Lagipula, kalau aku membeli tiket bioskop di Mall sekitar Kampus aku tidak akan mengajakmu." Evan mengangguk mengerti. Benar juga, bisa-bisa ada orang yang mengenal mereka tengah berjalan bersama. Bisa gawat mereka nanti. "Tidak menutup kemungkinan juga mereka menonton, berbelanja, atau berjalan-jalan disini, kan?" Ara mengangguk. Memang betul apa kata Evan. Tapi, jika mereka menonton di daerah kampus sudah pasti mereka akan ketahuan. Kalau disini, persentase dilihat orang yang dikenal lebih kecil. "Kamu mau menemaniku menonton atau tidak?" Mendadak Ara kesal dengan Evan yang mengomel saja sejak tadi. Lelaki itu mengusap puncak kepala Ara lembut. "Jika tidak mau, sudah kutolak sejak tadi." Ara masih mengerucutkan bibirnya. Dia kesal sekali. "Sudah jangan seperti itu. Memang kamu mau kucium?" Ara menatap Evan tajam. "Awas, berani menciumku aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Selamanya!" Lelaki itu terkekeh. Kemudian mengikuti langkah Ara yang berusaha lebih cepat. "Ara-ya, mau makan sesuatu dulu?" Ara mengangguk. "Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum film dimulai." Evan menggenggam tangan Ara. Menyembunyikan jemari mungil itu didalam tangannya. "Mau makan kue?" Ara berpikir sejenak. Kemudian mengangguk. "Kamu sudah makan siang?" Evan mengangguk. "Bersama Jasmin dan Kino," Ara tersenyum. "Baiklah. Aku makan kue saja." Evan mengusak rambut Ara gemas. Ara dan Evan berdiri di salah satu toko kue yang ada di dalam Mall. Kemudian Ara memilih satu slice Chocoberry cake beserta lemon. Kemudian Evan memilih black forest dan americano. Setelah memesan Evan mengeluarkan kartu kredit miliknya. Memberikannya kepada kasir. Setelah membayar, mereka memilih tempat duduk yang ada diujung. Kemudian duduk berhadapan. Ara mengeluarkan ponselnya. Tidak ada notif dari Aldric. Apa lelaki itu terlalu sibuk hingga tak sempat mengirim pesan untuknya. "Ada apa, Ara?" Ara mengerjap kemudian menggeleng. Tak ingin merusak suasana dengan mengungkit Aldric dihadapan Evan. Bisa-bisa suasana kembali menjadi tak nyaman. "Tidak papa. Aku tidak sabar menanti cakenya datang," Evan tersenyum gemas. "Sebentar lagi. Sabar, ya." Tak berselang lama setelah mereka berbincang kue beserta minuman mereka datang. Ara mulai menyendok sebagian kecil ke mulutnya. Kemudian tersenyum karena rasa kue yang terasa sangat enak. Memanjakan lidahnya dengan sangat baik. Melihat itu Seungyoun kembali gemas dan ingin mencium pipi wanita itu. Andai mereka sedang tidak berada di dalam mall. "Evan, aaaakk" Ara menyuapi Evan dengan kuenya. Lelaki itu membuka mulutnya. Merasakan kue coklat dengan berry didalam mulutnya. "Enak juga ternyata." Ara tersenyum bangga. Memasukan sendok bekas Evan ke dalam mulutnya. Masih ada sisa coklat disendok itu setelah menyuapi Evan. "Mau lagi?" Ara bertanya kepada Evan. Lelaki itu menggeleng. "Aku sudah punya sendiri." Tunjuknya pada Black Forest yang baru dimakannya sedikit. "Baiklah," Ara melanjutkan makan kuenya. "Evan, aku kesal sekali hari ini," Ara mulai mengadu kepada Evan. "Kenapa kesal?" Ucap Evan sambil membersihkan sisa coklat yang ada disudut bibir Ara. Membuat gemas siapapun yang melihatnya. Pasti orang akan mengira mereka sepasang kekasih. "Tugas yang sudah kukerjakan hilang. Aku harus mengulangnya lagi," Mata wanita itu mendadak sedih. "Kasian, apa banyak tugas itu?" Ara mengangguk. "Banyak sekali. Membuat aku pusing." Evan memperhatikan Ara yang tengah mengomel seperti anak kecil. "Kerjakan saja pelan-pelan. Kapan deadline?" Ara mencoba mengingat. "Sepertinya minggu depan." Evan mengangguk. Setelah selesai makan kue. Mereka keluar dari toko kue itu. Kemudian berjalan menuju bioskop. Evan menggenggam tangan Ara lagi. Bahkan sesekali mengusap jemari wanita itu. Ara selalu memilih tempat duduk yang ada diujung. Tentu saja dia sengaja. Ingin menonton film sambil bermesraan tadinya. Hanya saja, keinginannya harus dipendam baik-baik. Jadi, dia mencoba tak masalah menonton bersama Evan. Toh, mereka sama-sama membuat Ara nyaman. Mereka pergi hingga larut malam. Evan mengantarkan Ara menuju apartemennya. Setelah itu dia sendiri yang pulang ke apartemennya. Lelaki itu tersenyum sepanjang semalam. Ara sungguh menggemaskan. Membuat lelaki itu mencintai Ara lagi dan lagi. *** Aldric duduk disamping Vano. Dihadapannya ada Rayhan yang tengah memainkan game diponselnya. Lelaki itu sangat serius bermain hingga tak menyadari kedatangan Aldric. "Aldric, sana pesan makan. Aku lapar sekali," Aldric mendengus. Bisa-bisanya Vano memerintahnya yang baru saja duduk. "Aku bahkan baru duduk." Vano mengendikan bahunya. "Sana. Pesankan aku nasi goreng." Aldric memang bodoh. Walaupun sambil mengomel tetap saja dirinya memesankan Vano sepiring nasi goreng. Dia juga memesan makan siang untuk dirinya sendiri. Setelah memesan. Dia kembali duduk bersama Vano dan Rayhan. Lelaki itu mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Pesannya belum dibalas Ara, mungkin wanita itu sedang ada kelas. "Sialan, b******k, dasar bodoh," Aldric dan Vano terkejut bersamaan. "t***l, kau mengagetkan kami." Rayhan menyengir. Memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Rayhan meletekan ponselnya diatas meja. Dia baru saja kalah bermain game. Sedikit kesal rasanya. Karena lawan mainnya adalah anak SMP. Malu sekali rasanya. "Apa kalian ada lomba merakit robot lagi?" Aldric mengangguk. "Ya, makanya aku dan Vano sibuk. Beberapa kali absen dari mata kuliah." Vano mengangguk menyetujui. "Tidak masalah. Seru juga. Aku bisa melihat cewek cantik dan pintar saat lomba." Vano tersenyum membayangkan banyak juga perempuan yang mengikuti lomba merakit robot. Awalnya dia kaget kemudian lama kelamaan dia terbiasa. Bahkan senang. "Apa perempuan juga ikut?" Rayhan jadi penasaran. Biasanya yang mengikuti lomba semacam itu adalah laki-laki. Aldric mengangguk, "tentu saja ada." Rayhan mengangguk. Kemudian makanan Vano dan Aldric telah datang. Kedua lelaki itu makan sambil mengobrol. Bahkan bercanda sesekali tertawa. Rayhan tidak makan. Hanya minum kopi s**u saja. "Ah, Aldric, kau tidak pernah cerita Ara memiliki kakak laki-laki?" Rayhan kemarin melihat Ara bersama seorang laki-laki disalah satu toko kue di Mall yang terletak di Jakarta Utara. Rayhan langsung berpikir itu kakak laki-laki Ara. Tidak berpikir macam-macam. Karena lelaki itu tahu Ara sangat mencintai temannya. Mana mungkin berselingkuh. "Hha? Kakak laki-laki?" Aldric tidak mengerti. Kakak laki-laki apa. Ara kan anak tunggal seperti dirinya. "Iya, aku melihat mereka di toko kue. Siblings goals sekali. Bahkan aku melihat Ara menyuapi kakaknya. Kenapa aku tidak bisa seperti itu dengan adikku, ya?" Rayhan malah mengingat adiknya yang selalu saja memukulinya. "Toko kue mana?" Hangyul jadi penasaran. "Salah satu toko kue di Mall Kelapa Gading. Aku menonton bersama Hani anak fakultas kesehatan. Lalu tidak sengaja melihat Ara. Mau kusapa, tapi sedang seru sekali mengobrol. Jadi, aku hanya melewatinya saja." Aldric masih diam. Mencoba berpikir positif. Barangkali Rayhan salah lihat. "Heh, t***l. Untuk apa menonton sejauh itu?" Tanya Vano heran. Biasanya juga menonton di bioskop yang letaknya hanya berjarak sekitar setengah jam. Untuk apa menonton sejauh itu. Mengingat jarak antara Jakarta Utara dan Jakarta Selatan, letak kampus mereka cukup jauh. "Namanya juga lagi usaha mendekati. Kalo dekat mana seru. Harus jauh supaya lebih lama waktu bersamanya." Aldric masih diam saja. "Eh, Aldric, apa itu benar kakak laki-laki Ara? Kenapa tidak pernah cerita pada kami?" Aldric tersenyum saja. "Kalau tidak salah kakaknya berkuliah disini juga, ya? Wajahnya terasa tidak asing," Rayhan mencoba berpikir. Dimana dia pernah melihat wajah laki-laki yang dia yakini sebagai kakak Ara. "Aku pernah melihatnya tapi dimana," Rayhan masih penasaran dimana dia melihat lelaki yang kemarin siang bersama Ara. "Jangan-jangan itu bukan kakaknya. Itu selingkuhannya. Oh, malang sekali teman kita Aldric." Aldric masih berusaha tenang. Wajahnya hanya menampilkan senyum miring. "Benarkah? Itu selingkuhannya?" Vano menatap Rayhan sambil tersenyum. "Benar. Itu selingkuhannya." Ucap Rayhan bercanda. "Lelaki itu tinggi sekali. Lebih tinggi darimu. Dan caranya berpakaian terlihat sekali seperti anak orang kaya." Aldric berpikir lagi. Apakah ada saudara Ara yang seperti itu. Sepertinya saudara sepupu Ara yang laki-laki masih duduk dibangku sekolah menengah. "Kamu tidak tahu dia punya kakak laki-laki? Bukankah kalian berteman sejak kecil? Aku yakin jika tidak tahu orang akan mengira mereka sebagai sepasang kekasih." Aldric mencoba berpikir. Tapi, memang rencananya kemarin dia dan Ara akan menonton bersama pada siang hari setelah kelas usai. Namun, terpaksa harus menggagalkan rencana karena harus berlatih merakit robot. Bahkan dia sangat sibuk hingga tak sempat mengirimi Ara pesan. Selesaipun juga malam sekali. Hingga pukul sebelas malam. "Hmm, mungkin kakak laki-lakinya, ya. Coba nanti akan aku tanyakan." Aldric sudah selesai makan. Kemudian memasukan barangnya yang tergeletak diatas meja ke dalam tasnya. "Aku kelas dulu. Sampai jumpa." Aldric segera meninggalkan Vano dan Rayhan yang menyadari sesuatu. "Kamu lihat ekspresinya? Bukan dia setelah ini tidak ada kelas lagi?" Tanya Rayhan pada Vano. Lelaki yang juga menjadi atlet taekwondo itu mengangguk. "Apa menurutmu kita baru saja salah bicara?" Rayhan mendadak merasa bersalah. "Vano, bagaimana ini?" Vano meringis. "Aku juga tidak tahu. Kau, sih, seharusnya tidak usah memberitahu Aldric." Rayhan mengangguk. "Tapi, kau malah menggoda Aldric mengatakan itu selingkuhannya. Kau lebih parah." Vano menggaruk leher belakangnya yang terasa tak gatal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD