Evan membenarkan letak rambut yang menutupi sebagian wajah wanita itu. Kemudian mengecup pelipis wanita itu. Ibu jarinya bergerak mengusap pipi Ara dengan lembut. Sesekali tersenyum karena gemas melihat wanita itu yang tidur seperti bayi.
"Astaga, kenapa kamu cantik sekali, sih. Aku kan jadi ingin mengecup terus." Terkekeh dengan monolognya. Evan memeluk wanita itu erat. Semakin gemas karena kaos yang dikenakan Ara tampak begitu kebesaran ditubuhnya.
Lagipula, salah Ara sendiri. Sudah tahu mau menginap malah tidak membawa pakaian ganti. Jadilah pakaian Evan yang kini tengah dipakainya. Kaos berwarna putih yang menutupi hingga setengah pahanya.
Namun, karena dia tengah tertidur, kaos itu terangkat hingga menampilkan celana dalam berwarna hitam. Beruntung selimut masih menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Jadi, Evan tidak tahu jika celana dalam Ara mengintip dibalik selimut.
Evan sengaja tak membangunkan Ara. Membiarkannya bangun sendiri. Sebenarnya dia harus datang ke kampus setelah ini. Tapi, melihat Ara terlelap merupakan hal yang lebih menarik. Lagipula jarang sekali dia bisa melihat Ara dalam keadaan begini.
Jika kalian bertanya dimana kekasih Ara. Evan akan menjawab. Ntah, mungkin dirinya pernah berbuat kebaikan dikehidupan sebelumnya. Hingga Tuhan cukup baik kepadanya. Baru saja pulang dari China beberapa waktu lalu. Aldrico Mikail harus pergi lagi ke Kanada. Kalo tidak salah ada pelatihan perakitan robot disana.
Sebagai mahasiswa dengan otak encer. Aldric kerap sekali dikirim untuk hal-hal tersebut. Walau, sejujurnya malas. Tapi, dia tetap menjalaninya. Hitung-hitung untuk membuat orang tuanya dan Ara bangga.
Pada intinya, mereka memanfaatkan kesibukan Aldric untuk saling berbagi ranjang. Karena, Ara selalu datang ke Apartemen Evan ketika Aldric pergi atau sibuk. Bahkan wanita itu juga selalu menginap. Dibalik kesadarannya yang hanya dianggap sebagai pelarian, Evan tetap saja bahagia.
Lalu, dimana ponsel Ara? Tumben sekali Aldric tidak menghubunginya. Evan menyembunyikan ponsel Ara. Membuat mode off pada ponsel wanita itu. Tak perduli jika lelaki bernama Aldrico Mikail itu akan menelpon Ara berkali-kali karena khawatir.
Lagipula, Ara disini bersamanya. Evan tidak akan menyakiti Ara, bukan? Selama Ara ada disisinya, dapat Evan pastikan tidak ada seorangpun yang berani menyakiti wanitanya. Termasuk dirinya sendiri.
Persetan, jika Aldrico Mikail berpikir macam-macam tentang keberadaan dan keamanan Ara. Wanita itu ada disisi Evan Adinata. Betapa damainya wanita itu dipelukannya. Nafasnya masih terdengar teratur. Sudah sekitar satu jam Evan hanya diam mengamati Ara yang terlelap sangat nyenyak.
Tubuh Ara menggeliat kecil. Matanya terbuka sedikit demi sedikit. Kemudian yang pertama didapatinya adalah Evan yang tengah mengamatinya. Bibir lelaki itu tersenyum ketika mata mereka saling bersitatap.
"Kamu nyaman sekali berada dipelukanku, ya?" Ara mengangguk saja. Evan benar. Terlelap didalam pelukan lelaki itu terasa sangat nyaman. "Apa semalaman kamu mengamatiku tertidur?" Evan terkekeh. Mencubit hidung wanita itu dengan gemas.
"Tidak. Aku baru saja bangun." Ara mengangguk saja. Tidak perduli juga kapan tepatnya lelaki itu membuka mata. Penting bagi Ara yang merasa nyaman karena semalaman tubuhnya dan Evan saling berhimpit.
"Aku ada kelas. Kamu mau ikut denganku lalu kita pergi makan atau mau menungguku di Apartemen?" Bukannya menjawab wanita itu malah memeluk Evan. Mengusap punggung lelaki itu lembut. "Aku mau pulang setelah ini." Ucap Ara membuat Evan kecewa.
"Aku pikir pulang tidak ada diopsi." Ara diam saja. "Ayolah, jangan pulang, Ara. Aku mohon." Evan masih saja berusaha memohon agar Ara tidak pergi meninggalkannya. "Aku pikir, kamu akan pulang saat Aldric pulang juga." Ara menggeleng. "Aku hanya ingin pulang saja."
"Sungguh? Kalau aku tidak jadi ke Kampus, kamu tetap disini tidak?" Ara menggeleng. Mencium sudut bibir Evan. "Aku tetap akan pulang, Evan. Rumahku bukan disini." Evan mengangguk. "Kalau aku yang ke Apartemenmu?" Ara menggeleng. "Kamu bosan hidup, huh?" Evan tertawa kecil.
"Baiklah. Kapan Aldric kembali?" Ara berpikir sejenak. Mengingat kapan lelaki itu memberitahu hari kepulangannya. "Mungkin lusa." Evan tersenyum. Ara segera mematahkan harapan Evan. "Aku sibuk, Evan. Aku harus mengerjakan tugasku yang banyak sekali." Evan mengangguk memahami.
"Pergilah mandi." Ucap Ara melepas pelukannya. "Harus sekali aku mandi?" Ara mengangguk. "Jangan manja, Evan." Evan mengerucutkan bibirnya. Menggemaskan sekali membuat Ara ingin mengecup bibir itu. Tapi, sengaja ditahannya.
"Kamu bisa terlambat." Evan menurut. Turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandinya. Ara menatap tubuh naked Evan sambil tersenyum. "Kenapa bersamamu terasa semenyenangkan ini?" Batin Ara dalam hati.
Setelahnya Ara bangkit dari kasur. Mengenakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Membuka tirai jendela dengan menggunakan remote control. Pemandangan Apartemen Evan sangat keren. Menampilkan pemandangan kota. Dipagi hari seperti ini orang-orang mulai sibuk dengan aktivitas mereka. Terbukti dengan jalanan dibawah sana yang sedikit macet.
Ara membiarkan wajahnya disiram cahaya mentari. Sedikit menyipitkan mata karena dirasa cahaya yang masuk sedikit berlebihan. Tak perduli juga sebenarnya. Penting untuknya memenuhi keinginanya melihat pemandangan dipagi hari ini.
Evan sudah menyelesaikan mandinya. Keluar hanya dengan mengenakan handuk yang menggantung dipinggangnya. Matanya menangkap pemandangan yang menurutnya menjadi yang terindah. Membuatnya menyunggingkan senyum tipis.
Evan berjalan memeluk Ara. Membuat wanita itu sedikit terkejut. Lalu dengan cepat dapat menetralisir rasa terkejutnya. Ara melamun tadi sebelum Evan datang. Memikirkan beberapa hal yang dirinya sendiri tak tahu untuk apa dipikirkan.
"Sedang apa, heum?" Evan meletakan dagunya dibahu Ara. Mengikuti arah pandang wanita itu. "Tidak ada. Aku hanya senang saja melihat pemandangan dibawah sana." Evan mengangguk. Memeluk Ara semakin erat membuat wanita itu sedikit meringis.
"Aku sudah selesai. Kamu bisa mandi." Ara mengangguk. Melepas rengkuhan Evan kemudian meninggalkan lelaki itu. Ara memang harus segera membersihkan diri lalu kembali ke Apartemennya sendiri. Dia ingin pulang. Rasanya sudah cukup bersama Evan untuk kemarin dan hari ini.
***
Evan memarkirkan mobilnya sesuai dengan garis parkir yang tersedia. Ada kelas yang harus dipenuhi hari ini. Jadi, mau tidak mau dirinya harus berangkat. Jujur saja Evan malas sekali. Hanya saja, sisa absen untuknya hanya tinggal tersisa satu. Disetiap mata kuliah diizinkan untuk membolos selama 3 kali tanpa keterangan.
Evan sudah menggunakan dua. Lalu, menyisakan satu untuk berjaga-jaga saat ada sesuatu hal yang sangat mendesak. Tidak mau kembali mengulang kuliah lagi. Rasanya muak ingin segera lulus dari Universitas ini. Tapi sayang sekali, tak semudah itu.
Dirinya lebih kerap bermain diranjang bersama Ara. Daripada belajar. Belajar merupakan salah satu hal yang dibencinya. Maka dari itu, dirinya gagal. Dan ini merupakan kesempatan terakhir untuknya.
"Evan," Evan memutar tubuhnya mencari sumber suara. Menemukan teman-temannya tengah berkumpul di Smooking Area. Mereka tengah berbincang sambil merokok. Sudah rutinitas mereka saat menunggu kelas dimulai.
Evan memiliki empat teman, Nathan, Kino, Vernon, dan satu-satunya perempuan yang ada diantara mereka, Jasmine. Mereka semua sedang berkumpul disana.
Kaki Evan melangkah berniat menghampiri mereka. Kemudian duduk disalah satu bangku yang tersedia disana. Mengambil sebungkus rokok dari dalam saku celananya. Menyalakan rokok itu kemudian menghisapnya.
"Si Tua itu belum datang?" Tanya Evan kepada siapa saja yang mau menjawab. "Belum. Seperti biasa dia akan datang terlambat." Jawab Nathan setelah membuang rokoknya yang sudah hampir habis. Evan mengangguk.
Si Tua merupakan panggilan mereka kepada salah satu dosennya. Sama halnya dengan mahasiswa pada umumnya. Mereka memiliki panggilan sendiri untuk dosen yang mereka anggap menyebalkan. Hampir seluruh teman sekelas mereka kurang menyukai dosen itu. Dosen yang menurut mereka kerap mengajar semaunya sendiri. Mata kuliahnya cukup sulit. Tapi, si tua itu semakin membuat sulit.
"Evan, nanti malam datang ke Octagon Club." Vernon meminta Evan datang ke Octagon Club. Merupakan salah satu Club yang berdiri di daerah Jakarta Pusat. Club elite yang kerap sekali mereka datangi. Bahkan dulu hampir setiap malam.
"Baiklah. Ada sesuatu?" Maksud Evan sesuatu adalah acara. Kino mengangguk. "Hei! Evan Adinata Kau lupa hari ulang tahunku." Ucap Kino keras. "Astaga! Maaf, aku lupa. Baiklah aku akan datang nanti malam. Siapkan saja minuman yang banyak." Ucap Evan.
"Kau mau kado apa dariku?" Tanya Jasmine yang akhirnya melepas pandangannya dari ponsel ditangannya. Wanita itu menatap Kino. Menanti lelaki itu menjawab kado apa yang sedang diinginkannya itu.
"Tidak perlu. Santai saja. Kalian datang saja. Aku yang akan membayar semuanya. Kalian hanya tinggal datang saja." Ucap Kino. Sama halnya dengan Evan. Keempat temannya yang lain juga merupakan anak-anak orang kaya. Bahkan orang tua dari Vernon merupakan anggota konggres.
"Keren! Baiklah, aku akan datang paling cepat. Aku mau bergoyang bersama striptis. Tubuhku kaku sekali rasanya." Nathan salah satu dari mereka yang senang sekali menggoyangkan tubuh diatas lantai dansa. Nathan itu yang paling b******k dari mereka semua.
"Aku mohon, Kau jangan menari sampai setengah telanjang dengan striptis di Club lagi. Malas sekali aku menarikmu." Kino kesal sekali. Sudah dua kali Nathan yang tengah mabuk melepas pakaiannya untuk menari bersama para striptis. Jika tidak ditahan, lelaki itu akan melepaskan seluruh pakaiannya.
"Aku saat itu sedang mabuk. Mana sadar aku melepas pakaianku sendiri." Evan tertawa mengingat malam itu. Hari dimana mereka sedang pesta di Club malam. Nathan yang mabuk berat menari dengan para striptis dengan begitu lihainya.
"Ya! Nathan, alih-alih menari dan hampir telanjang lebih baik kau bawa saja salah satu wanita disana lalu menyewa kamar dan melakukan hal baik. Daripada menari dengan telanjang memalukan kami semua." Ucap Evan memberi saran. "Hei, santai kawan. Namanya Club Malam memang begitu. Penuh dengan kenikmatan. Perihal menari bersama striptis atau menyewa kamar dengan jalang merupakan pilihan. Dan pilihanku jatuh pada menari dengan striptis. Coba saja." Jasmine menggelengkan kepalanya.
"Teman kalian sudah tidak waras. Ayo masuk. Si Tua sudah datang." Ucap Jasmine mengajak keempat temannya untuk masuk kelas. Si Tua Bangka itu sudah datang. Malas sekali mereka sudah jauh-jauh datang ke Kampus lalu dilarang absen karena terlambat.
Satu persatu mereka mematikan rokoknya. Kemudian bangkit dari duduk. Berjalan bersama menuju kelas mereka. Tempat duduk yang mereka pilih adalah tempat duduk paling belakang. Kebetulan kursi disana masih kosong.
***
Ara melirik ponselnya yang sepi dari notifikasi. Tak ada pesan masuk dari Aldric dan Evan. Aldric sepertinya sedang sibuk mengurus pelatihannya. Membuat Ara sedikit kesal sekaligus sedih. Merindukan sekali lelaki itu.
Evan juga tak menghubunginya. Lelaki itu bilang mau merayakan ulang tahun salah satu temannya, Kino. Di Salah satu club malam di Jakarta Pusat. Jadi, mungkin itu alasan lelaki itu juga tak menghubunginya.
Ara jarang merasa kesepian karena selalu ada Aldric dan Evan disisinya. Katakan dia murahan sekali. Tapi, selama ini nama baiknya masih baik-baik saja. Tak ada orang yang mencium aroma hubungan kotornya dengan Evan. Lelaki itu sama seperti dirinya yang menyimpan rapat-rapat hubungan ini. Dia suka sekali. Rasanya Evan dapat diandalkan.
Ara menyukai saat dirinya bisa sendirian seperti ini. Rasanya tenang dan nyaman. Dia bisa bernafas dengan lega. Melakukan banyak hal yang dia ingingkan.
Sebotol jus jeruk menemani malamnya hari ini. Rambutnya digelung asal hingga anak rambutnya menjuntai disekitar wajahnya. Matanya fokus menatap laptop yang menampilkan film produksi Disney, The Lion King.
Ara sudah menonton sebelumnya dengan Aldric. Jadi, dia sudah tahu jalan ceritanya. Hanya saja, dia ingin menonton lagi. Rasanya sangat gemas melihat simba kecil. Ara jadi ingin memelihara anak singa. Tapi, mana boleh, dan juga tidak bisa merawat.
Satu pesan masuk ke ponselnya. Ara mengambil ponselnya yang tergeletak diatas ranjangnya. Kemudian membacanya. Ara tersenyum melihat Aldric yang begitu menggemaskan. Membuatnya semakin merindukan lelaki itu.
-driciee♡♡-
Merindukanku tidak?
Dengan segera Ara membalas pesan tersebut. Jemarinya segera menari diatas layar. Ingin menangis melihat Aldric. Lelaki itu kapan pulang. Dia memang senang sendirian. Tapi, dia tidak bisa mengelak jika merindukan Aldric kekasihnya.
-Amara Violeta-
Kapan kamu pulang? Aku merindukanmu :(
Tak berselang lama Aldric segera membalas pesannya. Membuat Ara tersenyum sendiri. Membiarkan film The Lion King yang masih berputar di laptopnya.
-driciee♡♡-
Secepatnya. Tunggu saja.
-Amara Violeta-
Jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Mengerti?
Aldric tidak segera membalas. Mungkin sudah kembali sibuk. Jadi, Ara kembali fokus dengan film The Lion King yang masih berlanjut sejak tadi. Ara kehilangan beberapa scene, tapi tak masalah.
Tiba-tiba dia juga merindukan Evan. Mengapa lelaki itu tidak mengirim pesan untuknya. Padahal dia merindukan lelaki itu. Ingin mengirim pesan dulu, tapi rasanya malu. Dia gengsi sekali memperlihatkan rasa ketergantungannya kepada Seungyoun. Malas sekali membuat lelaki itu berharap padanya.
Ponselnya kembali menerima pesan masuk. Segera dilihatnya. Barang kali Hangyul. Tapi, bukan. Pesan yang masuk berasal dari Evan. Lelaki itu mengiriminya pesan.
Sepertinya lelaki itu baru saja menyelesaikan pestanya. Karena lelaki itu masih berada didalam mobilnya. Wajahnya masih tampan. Terlebih dengan kacamata yang bertengger dihidungnya.
-EA-
I miss you so much, baby
Ara segera membalas pesan itu. Tak mau mengakui dirinya merindukan Evan. Lelaki itu tidak boleh tahu bahwa dirinya merindukannya. Walaupun sebenarnya dia ingin kembali ke Apartemen Evan.
Tidur bersama Evan rasanya nikmat sekali. Suka menghirup aroma tubuh mint Event Ara jadi ingin mengecupi leher Evan. Bermain diatas tato lelaki itu. Argh. Ara tidak bisa menahan keinginanya. Tapi, dia harus.
-Amara Voleta-
Aku tidak merindukanmu.
Evan langsung membalas pesan Ara dengan cepat.
-EA-
Sungguh tidak mau tidur denganku?
Ara sengaja tidak membalas pesan itu. Sulit jika dia semakin menginginkan itu. Jadi, salah satu caranya adalah dengan membiarkan saja pesan itu. Tak memperdulikan Evan yang mungkin sedang menanti balasannya.
Ara sedang butuh waktu sendiri. Walaupun merindukan keduanya. Dirinya juga harus memberi waktu untuk dirinya sendiri. Melakukan apapun yang dia inginkan.
***