"Mia, kurang ajar kamu ya! Sama mertua nggak ada sopan santunnya sama sekali! Sama kakak ipar juga! Dasar orang udik! kampungan! Dari awal Ibu udah nggak setuju Fahmi nikahin kamu! Ternyata benar! Begini jadinya! Punya mantu kurang ajar! Mulut nggak bisa dijaga sama sekali!"
"Kalau kamu yang ngerjain semua kerjaan di rumah ini, apa salahnya? Kamu toh nggak kerja di luar dan menghasilkan uang seperti Mira dan Sri!"
"Kamu beda sama mereka! Kamu nggak tahu siapa mereka? Mereka yang selama ini banyak menopang keuangan di rumah ini, tahu! Membiayai Fahmi kuliah dulu! Mereka menantu kesayangan Ibu! Sedangkan kamu, datang datang cuma bikin masalah aja di rumah ini! Gara gara kamu, Ibu jadi nggak bisa jodohin Fahmi sama anak teman Ibu yang orang kaya dan terpandang! Beda sama kamu yang miskin dan kampungan! Jadi wajar kalau kamu cocoknya jadi pembantu di rumah ini, tahu!"
"Heran Ibu, kok bisa bisanya sih Fahmi ketemu perempuan seperti kamu! Mau nikahin lagi! Apa kamu pelet ya dia? Iya! Kalau nggak dipelet, nggak mungkin dia mau sama perempuan udik kayak kamu, Mia!"
"Sekarang, minta maaf kamu sama Sri dan Mira! Dan jangan pernah sekali lagi kamu ulangi perbuatan kamu ini! Dengar! Ayo minta maaf! Atau ... Ibu usir kamu dari rumah ini sekarang juga!" cerocos ibu mertua panjang lebar sambil berjalan cepat ke arahku.
Sementara di belakang beliau, sosok Mbak Sri dan Mbak Mira membuntuti. Sedangkan Cindy dan Mila hanya mengawasi dari sofa dengan tatapan melecehkan.
Mendengar perkataan Ibu mertua itu, aku menghembuskan nafas gundah. Hati ini makin sakit saja rasanya dibeda bedakan oleh mertua seperti ini. Hanya karena aku tak bekerja di luar rumah dan tak menghasilkan uang seperti dua kakak iparku itu, ibu mertua tega menghina dan memperlakukan aku bak b***k belian yang tak punya perasaan seperti ini. Sakit sekali rasanya.
Sementara, kedua kakak iparku tampak tersenyum puas karena sudah dibela sebegitu rupa oleh mertua. Sedangkan aku makin sakit hati saja rasanya dengan sikap beliau yang terang benderang membenci dan tak menyukai kehadiran ku di rumah ini.
Baik kalau begitu! Mungkin sudah saatnya aku pergi dari rumah ini! Dua bulan memang bukan waktu yang lama untuk berusaha menjadi istri dan menantu yang baik di rumah ini.
Tapi dua bulan juga bukan waktu yang sebentar untuk sabar menghadapi semua hinaan dan cacian yang mereka lakukan terhadapku seperti yang selama ini terjadi.
"Kamu dengar itu, adik ipar sialan?! Kamu nggak tahu kalau beras dan lauk pauk yang kamu makan dan masuk ke perut kamu itu berasal dari jatah bulanan yang Mbak kasih ke Ibu?"
"Kalau nggak tahu, tanya dong! Biar kamu nggak asal ngucap begini! Dasar cewek udik! Heran, bisa bisanya Fahmi nikahin perempuan kayak kamu! Sudah miskin, sombong lagi!"
"Hmm ... Mbak tahu, pasti waktu Kukerta kemarin, kamu jebak Fahmi biar mau nikah sama kamu! Iya kan? Makanya dia nolak Ibu jodohin sama anak temennya Ibu! Gaya saja alim, ternyata kamu perempuan penggoda anak laki laki orang!" timpal Mbak Sri pula yang tampaknya merasa berada di atas angin karena barusan dibela habis habisan oleh ibu mertua.
Begitu pun Mbak Mira yang juga gantian menatap tajam ke arahku.
"Iya, kamu itu di rumah ini cuma jadi benalu, tahu! Jadi nggak usah sok sok ngelawan kami deh! Kamu pikir kamu itu siapa? Orang miskin aja belagu!" imbuh Mbak Mira pula sambil melotot ke arahku.
Sungguh pedas sekali kata kata dua kakak iparku ini. Kalau tak ingat hukum dan pengadilan, ingin rasanya aku tampar mulut keduanya kuat kuat supaya berhenti bicara menyakitkan seperti ini.
Ya, aku tak boleh lagi mengalah begitu saja atas perlakuan buruk dan jahat mereka padaku.
Sudah cukup dua bulan ini aku diperlakukan bak b***k belian di rumah ini. Bak sampah yang tidak ada gunanya. Mulai sekarang aku tak akan diam dan manut begitu saja.
Aku pun membuka mulutku kembali lalu menyapu wajah mereka dengan tajam.
"Maaf, Bu ... Mbak ... Kalau kehadiranku di rumah ini memang tak ada gunanya! Memang tak diinginkan! Kalau kehadiranku di rumah ini dianggap cuma jadi benalu saja, nggak papa kok! Sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini dengan sukarela! Di sini juga aku cuma bisa makan seadanya kok! Itu pun selalu kekurangan! Sementara aku harus ngurus dapur dan seluruh rumah ini dari pagi sampai sore!"
"Jadi, lebih baik memang aku pergi dari sini! Jadi pembantu di rumah orang, masih bisa dapat bayaran dan makan enak dari pada jadi menantu di rumah ini yang sudah nggak dibayar, eh masih dicaci maki pula setiap hari!"
"Bodoh sekali kalau aku mau selamanya tinggal di sini dan kalian perlakukan seperti ini! Jadi ... sekarang juga aku akan pergi dari sini karena aku juga sudah nggak sudi lagi jadi b***k kalian yang bukan saja tak pernah dihargai tapi juga selalu kalian perlakukan sebagai pembantu gratisan seperti ini!" tandasku lagi dengan suara keras.
Lalu setelah itu aku membalikkan tubuh dengan cepat dan berlalu pergi menuju ke kamar, hendak mengambil pakaian dan barang barang yang aku bawa dari kampung kemarin.
Tekadku sudah bulat. Sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini, meninggalkan Mas Fahmi yang setali tiga uang dengan ibu mertua dan keluarganya dan mencoba mencari pekerjaan di luaran. Aku yakin dengan kemampuan dan tenaga yang aku miliki, aku masih bisa dapat pekerjaan yang baik.
Tak mengapa jika harus kerja di rumah makan atau jadi asisten rumah tangga, asalkan tetap dapat bayaran.
Dengan begitu, aku masih bisa menyambung hidup dan mengirimi uang orang tuaku di kampung. Tak seperti selama ini yang jangankan hendak memberi orang tua, hendak memenuhi kebutuhan diri sendiri saja tak bisa.
Namun, melihatku masuk ke kamar, tak disangka ibu mertua justru berlari dan menghadang langkahku dengan cepat, seolah tak terima dengan perkataanku barusan.
"Apa? Kamu mau keluar dari rumah ini! Nggak bisa! Kamu harus tetap berada di rumah ini, Mia! Kamu harus tetap menjadi menantu Ibu dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di rumah ini karena Ibu nggak mengizinkan kamu pergi! Dengar!" ucap Ibu mertua dengan keras.
Mendengar perkataan ibu mertua itu aku tertawa lebar. Merasa aneh dan tak mengerti. Jelas jelas tadi aku sudah diusir pergi karena beliau mengaku benci setengah mati, tapi saat aku hendak pergi, beliau justru menghalangi. Apa maksudnya coba?
"Lho? Kenapa ibu melarang aku pergi? Karena Ibu jadi nggak punya pembantu gratis lagi kalau aku nggak ada lagi di rumah ini? Gitu? Bu, kalau Ibu sendiri nggak kuat bayar pembantu, nggak usah sombong deh! Pakai bilang saya miskin dan kampungan segala padahal Ibu yang hidup pas pasan!"
"Gak bisa sewa asisten rumah tangga dan hidup ngandalin menantu, tapi sombong Ibu kelewatan! Maaf, Bu! Terlambat! Lebih baik aku jadi pembantu di rumah orang dari pada jadi pembantu di rumah ini yang sudah nggak pernah dibayar, masih dihina dan dicaci setiap hari!" tandasku tak kalah keras.