Apa yang Sebenarnya Terjadi?

1069 Words
Sesaat kemudian, Saka mendengar sang ayah menghela napasnya dan berkata, “Mungkin bulan depan, kita memang terpaksa memberhentikan Saka sekolah.”   “Tidak!” Sekala langsung menyela sembari menggeleng. “Aku akan pergi ke Amerika empat atau lima hari lagi untuk belajar di sana. Aku akan mempelajari cara menetralisi air dan membersihkan udara.”   “Tapi, bukankah Amerika merahasiakan hal itu supaya negara lain bisa membeli air dan oksigen dari mereka dan mendapatkan devisa yang lebih besar?”   “Aku tahu, Ayah.” Sekala menundukkan kepalanya selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya kembali melanjutkan perkataannya. “Aku dan dua temanku akan menyusup.”   “APA?!” Sang ibu begitu terkejut sampai tersentak. “Itu gila, Nak! Kau bisa mati. Jika mereka menangkapmu, mereka akan membunuhmu.”   Setelahnya, Saka mendengar kakaknya itu tertawa. Namun jelas betul kalau tawanya hambar. “Aku tidak akan tertangkap, Bu.”   Kini giliran sepi yang ambil peran. Saka masih geming di tempatnya, tak beranjak sedikit pun, dirinya masih mencerna apa yang ia dengar barusan, tentang perbincangan antara orangtuanya dan sang kakak. Detik itu pun ia tersadar, memang dari luar, keluarganya tampak baik-baik saja. Namun, ketika secara tidak sengaja masuk ke dalamnya, semua jelas tak seperti apa yang terlihat dari luar.   “Saka?” Sang ibu yang telah menyadari keberadaannya pun memanggil. Lantas ia segera membawa kakinya melangkah keluar dari balik kegelapan. “Apa yang kau lakukan tengah malam begini?”   “Tidak ada. Aku hanya sedikit merasa haus.” Jawabnya. Seraya mengambil gelas bening dan bergegas menekan sandi miliknya pada dispenser.   “Saka Amalta: 50 ml.” Seperti biasa, disepenser menampilkan jatah air milik Saka hari ini. Setelahnya, ia memilih untuk mengambilnya sebanyak 3 ml untuk sedikit membasahi kerongkongannya yang tandus. Pun, angka 50 ml yang sebelumnya tertera kini berganti menjadi 47 ml, sebab Saka telah mengambil jatah miliknya sebanyak 3 ml.   “Aku akan kembali tidur.” Ucapnya, setelah menenggak habis isi gelasnya hingga tetes terakhir.   “Aku juga akan tidur.” Kata Sekala sembari bangkit, dan memilih masuk ke kamarnya. Sedang Saka, alih-alih kembali ke kamar, ia malah mendaratkan tubuhnya di sofa. Menenggelamkan diri di tengah kegelapan.   “Aku punya ide yang lebih bagus soal Saka,” ujar sang ibu yang masih berada di ruang makan bersama suaminya. Dan tentu, pembicaraan mereka sampai pada telinga Saka yang berada di ruang tamu. “Aku tidak mungkin membiarkan Sekala pergi ke Amerika. Kupikir, ada baiknya kalau….”   Sialnya. Saka tak pernah mendengar kalimat selanjutnya. Ia jatuh tertidur di sofa.   Lantas, apa yang sebenarnya sang ibu katakan?   **   Pagi menggantikan sang malam. Tidak ada yang istimewa di hari ini. Sementara sang ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur, mengolah persediaan makanan sintetis yang masih mereka miliki, suami dan kedua anaknya pun bersiap untuk melakukan aktifitasnya masing-masing. Saka tentu sudah rapi dengan seragam putih abunya, sedang putra sulungnya juga sudah berbalut celana jeans dan kaus hitam polos, siap untuk pergi sebentar untuk mengunjungi kerabatnya, ada urusan katanya. Sedang suaminya tentu bersiap untuk pergi bekerja seperti biasanya.   Tak ada satu pun yang mengeluarkan sepatah kata selama menyantap hidangan sarapan pagi ini. Mungkin mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sekala berhasil mengosongkan piringnya lebih dulu. Setelah meneguk air dari gelas miliknya. Pun lelaki itu bangkit.   “Aku akan pulang sebelum makan siang.” Ucapnya.   “Oh, baiklah. Apa kekasihmu jadi mampir kemari?” Tanya sang ibu.   “Ya. Nanti aku akan menjemputnya setelah urusanku selesai. Aku berangkat dulu.” Pamit Sekala.   “Aku juga akan berangkat sekarang.” Saka menyusulnya.   Setelah berpamitan pada kedua orantuanya, mereka lantas berjalan beriringan menuju beranda rumah. Tak lupa Sekala meraih kunci skydrive miliknya. Ya, dia memang punya skydrive pribadi yang dibelinya setahun lalu untuk mempermudah dirinya yang selalu kesana kemari karena urusan pekerjaan. Itu pun ia hanya mampu membelinya sebagai pemakai tangan kedua. Dari pada beli yang baru, lebih baik uangnnya digunakan untuk beli air. Begitu pikirnya.   “Kau mau ku antar?” Katanya, memberikan tawaran pada sang adik yang menenteng sebuah tempat minum kecil sebagai bekal airnya untuk dibawa ke sekolah.   “Tidak perlu, Kak. Sebentar lagi skydrive bus juga akan lewat. Aku naik itu saja.”   “Kau yakin? Kalau ku antar mungkin kau akan sampai lebih cepat.”   Pun Saka memberikan gelengan kepala. “Ku bilang tidak perlu, Kak. Aku berangkat dulu, ya!”   “Baiklah. Hati-hati!”   Saka membawa kakinya melangkah menyusuri jalan, menuju sebuah halte yang tak begitu jauh dari rumahnya. Bahkan halte tersebut sudah dapat terlihat dari beranda rumahnya. Benar saja, kali ini ia tak perlu menunggu lama sebab tepat ketika dirinya baru saja tiba di halte, skydrive bus yang akan membawanya ke sekolah pun terhenti di sana.   Seperti biasa, tepian jendela menjadi tempat favorit baginya. Saka menelan ludahnya sendiri, kerongkongannya mulai terasa kering. Dirinya melirik tempat minum yang dibawanya, harinya masih panjang, pasti ia masih akan membutuhkan air nanti, terlebih semalam ia sudah meminum jatah airnya sebanyak 3 ml.   Pun ia merogoh sakunya. Diraihnya sebuah pemutar musik berbentuk kotak kecil, dan headphone yang sudah dikoneksikan tentunya. Saka menyumbat kedua telinganya, dan menekan tombol ‘play’ dari pemutar musik tersebut. Sebuah nada mengalun, mendampingi perjalanannya. Dirinya ingat pesan yang sang kakak sampaikan ketika memberinya hadiah pemutar musik itu semalam.   “Kalau kehausan, kau bisa memakainya untuk melupakan sejenak rasa hausmu!”   Ternyata, ini sedikit berguna. Memang tidak dapat menghilangkan dahaganya, tapi, setidaknya ini bisa sedikit meredamnya.   Selama dalam perjalanan, pikiran Saka melambung jauh entah kemana. Karenanya, sekolahnya terlewat sejauh 100 m sebelum ia pada akhirnya tersadar, dan membuatnya harus berjalan kaki lebih jauh dari tempat permberhentian yang seharusnya.   “Kalian menungguku?” Saka melempar tanyanya pada 2 sahabatnya yang menyambut di gerbang.   “Menurutmu?” Balas Akasa.   “Cepat, sebentar lagi bel berbunyi.” Ucap Alinea dan berjalan mendahului mereka agar segera tiba di kelas.   Benar saja, tepat ketika mereka baru saja menapakkan kaki di anak tangga, bel pertanda masuk pun berbunyi dengan nyaring, dan dibuat semakin nyaring oleh teriakkan beberapa siswa dari arah lapangan. Hal itu tentu membuat langkah Saka dan 2 sahabatnya terhenti. Mata mereka serentak tertuju ke arah sumber suara. Dan di sana lah, seorang siswa terlihat sudah terkapar sisi lapangan. Beberapa siswa lain langsung mengerubungi, dan menciptakan kegaduhan seketika.   Entah, tak ada satu pun dari Saka dan 2 sahabatnya yang tahu pasti apa yang terjadi pada siswa tersebut. Dan entah, entah siswa itu hanya jatuh pingsan, atau… sudah tak bernyawa.   Ketiganya kini saling melempar tatap, yang menyiratkan beragam tanya bercampur ketakutan.   Apa… yang sebenarnya terjadi?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD