Saka geming di tempatnya. Benar, dirinya tidak mungkin keliru. Rumah bercat merah yang ada di depannya ini betul-betul kediaman sahabatnya, Akasa. Bukankah perawat di rumah sakit tadi bilang kalau ada pasien yang keracunan dan kondisinya sudah parah? Apa pasien yang dimaksud adalah Akasa? Atau orang tua Akasa?
“Aku yakin temanmu baik-baik saja.” Ucap Sekala, sembari menepuk Pundak sang adik, berusaha meyakinkannya kalau apa yang ia khawatirkan tidak mungkin terjadi. Sekala tahu betul, adiknya ini adalah termasuk tipe orang yang mudah terdistraksi pikirannya. Bocah itu sering kali memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan secara berlebihan, pun ia juga mudah sekali khawatir.
“Sekala, apa yang kau tunggu?” Darius yang sudah berada di depan pintu pun memanggil.
Saka mendengar itu. Pun ia menghela napasnya, memaksakan tubuhnya untuk beranjak turun dari skydrive dan memasuki kediaman Akasa.
“Siapa yang sakit, Bu?” Darius bertanya, ketika mereka baru saja memasuki salah satu kamar di kediaman itu. Sejak awal menginjakkan kaki di sini, Saka hanya bersembunyi di balik tubuh sang kakak, mengekor dari belakang.
“Akasa, anak saya. Dia….” Belum sempat kalimatnya terselesaikan, tangis ibu Akasa lebih dulu pecah. Pun di saat yang bersamaan, jantung Saka terasa mau meledak begitu ia tahu kalau ternyata firasatnya benar, Akasa-lah yang sedang berjuang melawan maut.
“Akasa…” lirih Saka. Perlahan ia memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya. Di sana, di atas ranjang sahabatnya terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya pucat pasi. Di sebelah tempat tidurnya, ada sebuah ember yang dipenuhi muntah dan darah. Saka meringis melihatnya.
“Saka,” panggil Akasa. Dalam kesakitannya ia berusaha tersenyum. Namun tidak dengan Saka, air matanya sudah mengalir begitu saja. Tak ada lagi senyum yang mampu ia paksakan saat ini.
“Dasar cengeng!” ledek Akasa lemah. “kau tahu tidak, kenapa kau tidak pernah bisa tersenyum?”
“Karena aku terlalu banyak berpikir.” Jawab Saka, di sela isaknya.
“Ya. Kan sudah kubilang, jangan terlalu banyak berpikir. Kau mau jadi botak?” Akasa tertawa. Namun tawanya terdengar begitu mengiris hati. Tangis yang berusaha mati-matian Saka hentikan, yang ada malah semakin menjadi.
Sementara Darius mulai mengeluarkan peralatan medis yang dibawanya dan memeriksa kondisi Akasa, Saka memilih untuk menunggu di luar rumah. Terduduk di depan jendela yang berbatasan langsung dengan kamar Akasa, sehingga ia masih dapat mendengar apa yang dibicarakan di dalam sana dari sini. Rumah Akasa, tepat berada di sebelah ujung kubah. Maka dari sini dapat terlihat jelas terusan Sungai Citarum yang mengerikan. Dari rumah Akasa pula, Saka dapat melihat dunia luar yang gersang dan penuh ancaman kematian. Tempat oksigen sangat tipis dan air sudah tidak ada. Saka tak dapat membayangkan, bagaimana dirinya kalau berada di luar sana. Mungkin, baru saja dirinya melintasi pintu kubah, dirinya akan disambut langsung oleh maut.
***
“Ini sample air yang diminum Akasa?” Tanya Sekala, ketika ibu Akasa memberikannya botol mineral yang sudah berisi setengah.
“Bisa tolong tunjukkan kepadaku di mana warung yang menjual ini, Bu?”
Pun ibu Akasa mengantar Sekala untuk menuju warung yang dimaksud. Ketika baru saja Sekala menginjakkan kaki, melintasi pintu rumah Akasa, matanya menangkap sang adik yang terduduk di depan rumah. Pandangannya tertuju ke luar kubah, entah apa yang sedang bocah itu pikirkan, yang Sekala tahu, sudah pasti adiknya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Saka, aku akan ke warung yang menjual air yang Akasa minum. Kau mau ikut?” ajak Sekala. Adiknya menggeleng menanggapi.
Lantas Sekala kembali melanjutkan langkahnya, Bersama ibu Akasa yang mengantarnya menuju warung yang dimaksud. Ternyata tidak terlalu jauh, hanya berjarak dua rumah dari kediaman Akasa.
“Dokter, apa aku akan selamat?” tanya Akasa. Suaranya sampai pada telinga Saka, yang lantas segera beranjak dari duduknya dan kembali ke dalam kamar Akasa.
“Kenapa tidak?” jawab Darius, sembari merapikan alat medisnya.
“Karena aku merasa sedang ditarik kematian ke rumahnya, Dok,” Akasa menjeda kalimatnya, napasnya terhela. “Tolong katakan kepadaku yang sebenarnya. Apa aku bisa selamat?”
Darius terdiam seketika. Ia menelan ludahnya susah payah. Rasanya, lidahnya begitu tercekat untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada bocah yang kini tengah terbaring itu. Sebelum mengeluarkan sebaris kalimat, Darius berdehem, “menurutku tidak.” Ucapnya.
“Ah, begitu rupanya.” Akasa kembali tersenyum, terdengar napasnya kembali terhela. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya.
“Tapi, ramalanku selalu salah.” Kata Darius, dengan memberikan sebaris senyumnya. Kemudian ia menoleh ke arah Sekala, yang baru saja kembali dari warung tempat menjual air beracun itu.
“Kau sudah dapat sample-nya?” tanya Darius. Sekala menunjukkan botol mineral yang ia genggam sebagai jawabannya.
“Aku pamit dulu. Nanti akan ada perawat yang kemari untuk memberikan obat yang harus kau minum. Kau harus semangat untuk bisa sembuh.” Ucap Darius, sembari mengacak rambut Akasa. Membuat sang empunya tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih natural.
Sebelum meninggalkan tempat ini, Saka menghampiri Akasa untuk berpamitan. Sebab tidak mungkin kalau Akasa yang bangun dari rebahnya apa lagi sampai mengantar sehabatnya itu sampai ke depan pintu rumah.
“Akasa, aku akan datang setiap pulang sekolah.” Ucap Saka.
“Silakan. Tapi jangan terlalu dipikirkan, ya. Aku baik-baik saja.” Balas Akasa.
“Rupanya kau betul-betul tidak ingin melihatku jadi botak, ya? Tenang, aku tidak akan botak saat datang besok.” Begitulah kalimat terakhir yang Saka ucapkan, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Akasa, dan kembali Bersama sang kakak.
***
“Dia tidak akan bertahan lebih dari tiga hari, bukan?” tanya Sekala kepada Darius yang duduk di kursi penumpang bagian belakang, membuka pembicaraan. Tidak seperti saat berangkat, Darius kini kembali ke rumah sakit dengan menumpang skydrive Akasa. Setelah sebelumnya ia sudah memberitahu pada petugas medis yang bertugas mengantarnya tadi, kalau ia tidak akan menumpang ambulance kali ini.
“Yah, seperti yang kau tahu.” Balas Darius.
Tidak akan bertahan lebih dari tiga hari? Apa itu artinya kalau… usia Akasa hanya tinggal tiga hari lagi?
“Anak itu tadi, temanmu?” Darius melempar tanyanya pada Saka.
“Ah, iya.” Saka menjawab lemah. Sedari tadi ia lebih banyak diam. Apa lagi ketika ia tahu kenyataan bahwa Akasa tidak akan bertahan lebih dari tiga hari.
Keheningan pun menyelinap. Sekala focus pada kemudinya, Darius memandangi jendela, sedang Saka tentu bergelut dengan rasa khawatirnya di kepalanya sendiri.
“Sekala, kau sudah dengar?” tiba-tiba saja Darius beringsut, membenarkan posisi duduknya yang semula bersandar pada sandaran kursi, jadi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan dirinya pada Sekala yang duduk di balik kemudi.
“Dengar apa?” Balas Sekala, tanpa mengalihkan tatapannya dan tetap focus mengemudi.
“Tentang pil, yang katanya bisa menghilangkan rasa haus.”
CIIIITTTT
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja Sekala menghentikan laju skydrivenya tanpa aba-aba. Di tengah jalan. Beruntung tidak ada kendaraan lain di belakangnya. Kalau tidak, tentu hal itu betul-betul membahayakan bagi mereka.
“KAU GILA?!” Maki Darius, sambil menjitak kepala Sekala.
Alih-alih meminta maaf atau kembali melanjutkan perjalanannya, Sekala malah menoleh ke arah Darius dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Apa kau tahu sesuatu tentang itu?”