Pagi seakan mengejek kala Saka mengenakan seragam putih abu-abunya. Lelaki itu memandangi pantulan diri di cermin, dirapikannya rambut yang sedikit gondrong itu, mengibas poninya ke belakang agar tak menghalangi mata. Sekarang ini, tidak ada lagi guru yang menggunting asal rambut siswa yang terhitung gondrong, sebab manusia di zaman ini terlalu tak punya waktu untuk mempermasalahkan hal sepele yang sebetulnya tak berpengaruh pada kegiatan pembelajaran.
Saka meraih ranselnya, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kamar. Kedua orang tuanya terlihat cukup tenang di situasi yang semrawut ini. Apa mereka benar-benar tenang? Atau mereka hanya berpura-pura terlihat tenang? Entahlah, yang jelas, Saka yakin sekali kalau sebetulnya ada kekhawatiran dalam jiwa orang tuanya. Dan saat ini Saka sedang tidak ingin membangun rasa khawatir itu. Maka Saka segera berpamitan kepada keduanya dan membawa kakinya melangkah ke tempat pemberhentian skydrive bus.
Selama setengah jam perjalanan, Saka benar-benar hanya terdiam dengan pikiran kosong, bahkan sekolahnya sampai terlewat sejauh 100 m.
Sekolah Saka bukanlah sekolah favorit. Hanya Sekolah Menengah Atas swasta biasa di Bandung Utara. Model bangunannya terkesan kuno, setidaknya itulah yang Saka pikir. Tidak terlalu luas, hanya gedung berbentuk L dengan lapangan upacara di tengahnya.
Saka melihat sahabatnya, Akasa, yang baru saja memasuki gerbang sembari menenteng sekeranjang makanan.
"Untuk keluarga kepala sekolah." Ujarnya, sembari sedikit mengangkat keranjang yang ia bawa, guna menjawab tatapan Saka yang menyiratkan sebaris rasa penasaran.
Ah, benar. Saka baru ingat kalau kepala sekolahnya baru saja meninggal dunia. Tagihan oksigen benar-benar membuat Saka nyaris lupa segalanya.
***
Waktu bergulir terasa lebih cepat. Entah karena Saka yang selama jam pelajaran tidak fokus, atau karena hari ini hari senin. (Aku tidak tahu kalian merasakannya juga atau tidak, tapi kalau bagiku, entah kenapa di hari senin itu, waktu terasa lebih cepat dari hari-hari yang lain).
Saka memilih duduk di bawah pohon yang sudah tak lagi berdaun di sudut halaman sekolah. Bersama Akasa, Alinea, dan satu orang temannya dari kelas dua belas, seorang lelaki berpostur kecil dan berkacamata. Senandika namanya, acap kali disebut Dika.
"Ibuku pingsan saat mendengar kabar tagihan oksigen." Ujar Dika dengan senyum hambar. Kekhawatiran jelas tersirat dari pancaran matanya. Padahal, Dika ini terhitung orang berada, tapi tetap saja ia mengkhawatirkan pasal tagihan oksigen. Lantas bagaimana kabar mereka, yang untuk hidup sehari-hari saja harus bertaruh nyawa?
"Pemerintah memang semakin gila." Timpal Akasa, sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Orang yang tidak membayar harus keluar dari kubah," tambah Saka pahit. "Kita tidak akan bertahan lebih dari tiga hari di luar sana. Untuk mencapai kota terdekat saja membutuhkan waktu tiga hari kalau pakai jasa kereta. Lalu bagaimana dengan berjalan kaki?"
Akasa menghela napas, lelaki itu menengadah memandangi langit yang memerah. "Kuharap aku bisa pindah ke kota atau negara lain." Ujarnya.
"Itu hanya akan jadi angan semata. Kau tidak akan diterima di kota manapun. Mereka juga butuh oksigen. Prosesnya akan teramat sulit kalau kau ingin menetap di kota lain. Apalagi, di negara lain. Kudengar, di Singapaura, Amerika, Korea, dan Jepang, penyusup akan langsung ditembak kala terdeteksi sensor yang mereka pasang di perbatasan." Ujar Dika, ia menghela napasnya sejenak. "Sepertinya hanya negara maju yang mampu bertahan di situasi seperti ini. Itupun, bertahan bukan berarti bertahan selamanya. Mungkin, tak lebih dari setengah abad lagi, bumi akan benar-benar hancur." Tambahnya.
"Benar. Bahkan sekarang, semua negara akan menembak siapa pun yang hendak masuk ke negaranya." Cetus Alinea.
Hening. Mereka terdiam cukup lama. Lagi-lagi, Saka benci suasana seperti ini. Suasana saat segalanya terlihat begitu suram, hanya keputusasaan yang menyelimuti mereka.
"Hei, Saka! Bagaimana kabar kakakmu?" Tanya Dika memecah hening. Benar juga. Saka hampir saja melupakan kakaknya, Sekala, karena lelaki itu memang hanya pulang setahun sekali dari Sumatera. Dia bekerja di sana. Kedatangannya sangat dinanti oleh keluarga sebab sering membawa uang dan air.
"Dia baik," jawab Saka. "Mungkin, besok pulang."
Dika dan Sekala memang berteman baik. Sejak kecil, keduanya sama-sama tertarik dengan pelestarian lingkungan, dari situlah awal mula keakraban mereka. Sekarang, Sekala sudah menggeluti bidang itu sebagai pekerjaannya. Dia berusaha untuk membuat tanah-tanah kembali subur guna dapat kembali ditanami pepohonan, pun mencari cara sedemikian rupa untuk menetralisir air, serta mengadakan penelitian untuk membuat ulang atmosfer.
"Benarkah? Kalau begitu, bolehkah aku ke rumahmu besok? Aku ingin bertanya tentang pekerjaannya sejauh ini."
"Tentu!" Balas Saka antusias.
***
"Kabari aku untuk kelanjutannya." Cetus salah seorang lelaki sembari menepuk pundak lelaki lainnya yang tengah memasukkan beberapa potong baju ke dalam koper.
"Pasti." Balas lelaki itu mantap.
"Tapi apa kau yakin, kedua orangtuamu akan memberi izin, Sekala?"
Kali ini lelaki yang disebut Sekala pun terdiam. Bahkan aktifitasnya memasukkan baju ke koper pun sempat terhenti. Bola matanya bergerak perlahan menandakan kalau ia tengah memikirkan sesuatu pada detik ini. Namun di detik selanjutnya, Sekala mengulas senyum, yang lebih cenderung menyiratkan getir.
"Ini bukan lagi tentang diizinkan atau tidak. Tapi, sedang dunia butuh kita." Ujar Sekala.
***
"Saka!"
Mendengar namanya diserukan, lantas Saka menoleh, didapatinya Dika yang tengah memacu laju lari ke arahnya.
"Kau tidak lupa bukan kalau hari ini aku ingin berkunjung ke rumahmu?" Ujar Dika diselingi napas terengah.
"Kalau saja kau tidak bilang mungkin aku akan benar-benar lupa." Sahut Saka terkekeh. Kasihan sekali, masih muda, tapi sudah mudah lupa.
"Ayo, cepat! Nanti kita tertinggal!" Seru Dika yang langsung menarik tangan Saka untuk menuju ke tempat pemberhentian skydrive bus terdekat.
Tak butuh waktu lama, skydrive bus yang akan mereka tumpangi pun tiba. Lantas kedua anak sekolah berbeda tingkat itu pun segera mengambil langkah masuk. Setelah menempelkan kartu di dekat pintu masuk, keduanya pun bergegas mencari bangku yang kosong. Namun, sayang, jam-jam pulang sekolah begini agaknya sedikit mustahil untuk kebagian tempat duduk. Dan benar saja, Saka dan Dika terpaksa berdiri selama kurang lebih 30 menit sampai mereka tiba di tempat tujuan.
Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika Saka dan Dika menginjakkan kaki di beranda rumah.
"Senandika: 36.4°C (Aman)"
"Saka Amalta: 36.2°C (Aman)"
Tak lupa keduanya bergegas mencuci tangan di tempat yang telah keluarga Saka sediakan. Ritual tersebut merupakan ritual wajib bagi siapa pun yang telah berpergian dari luar.
Samar terdengar suara percakapan dari ruang keluarga. Benar saja, orang tua Saka termasuk Sekala tengah berbincang di sana.
"Aku pulang!" Seru Saka, disusul oleh Dika yang mengekor di belakang.
"Eh, ada nak Dika, silakan duduk, biar Ibu siapkan camilan." Ujar ibu Saka seraya beranjak menuju dapur. Pun Dika tanpa buang waktu lagi segera mendaratkan bokongnya pada sofa yang kosong. Begitu juga dengan Saka, tanpa menunggu dipersilakan duduk bocah itu sudah menempatkan diri di sebelah sang kakak. Ya untuk apa juga dipersilakan duduk, toh ini kediamannya sendiri.
"Di Palembang, semuanya sangat kacau." Kata Sekala, melanjutkan perbincangannya yang sempat terpotong akibat kedatangan adiknya yang baru pulang dari sekolah. "Bahkan penduduknya pun hanya tinggal setengah dari di sini, di Bandung. Aku dan teman-temanku terus berusaha menetralisir air yang tercemar logam berat. Namun, tetap saja, hasilnya nihil."
"Bukankah beberapa negara sudah bisa melakukannya?" Tanya ibu yang baru saja muncul dari dapur, sepiring kue cokelat di bawanya untuk diletakkan di atas meja.
"Memang. Namun mereka enggan berbagi ilmu. Mereka bilang, air adalah komoditas berharga dan mereka tak mau membagi ilmunya dengan cuma-cuma. Kalau mau, kita harus membeli air pada mereka. Meski begitu, dari yang kudengar, air yang mereka peroleh juga tidak terlalu banyak, karena kebanyakan sudah terlalu parah tercemar," Sekala menghela napas sejenak. "Rasanya membicarakan hal ini tidak akan ada habisnya. Simpan saja obrolan ini untuk lain hari, yang terpenting, hari ini keluarga kita masih tetap utuh. Kuharap, Dika bisa segera turun tangan untuk membantuku. Iya 'kan, Dik?"
Dika lantas tersenyum, mengangguk, dan mengatakan, "tentu!"
Sementara Saka, bocah itu menghela napas, dan entah kenapa terbesit dalam pikirannya,
'kapan aku bisa berguna?'