Kamu bisa membohongi semua orang, kecuali? your inner circle.
Forget the right spell. Because Rineya is not Rineya kalau masih bisa ngetik dengan benar setelah undangan pernikahanku sampai ke rumahnya.
Sengaja nggak memberikan langsung undangan ke sahabat-sahabatku, karena sahabatku akan tahu pada detik itu juga tentang apa yang terjadi dengan hidupku hanya dengan melihat wajahku. Apalagi melangsungkan Bridal Shower seperti orang-orang sekarang ini.
Tidak dalam list-to-do ku. Dua bulan lalu, aku adalah Elea Kirana Dharmawan, dan sekarang namaku bertambah panjang. Elea Kirana Dharmawan-Widjaya. Sama seperti aku yang nggak punya power buat menolak pernikahan ini, nama Dharmawan yang aku sandang selama dua puluh lima tahunpun nggak bisa aku singkirkan meski aku sudah menjadi istri seorang Widjaya. Kata Ayahku, Almarhum Kakek Buyutku akan marah parahnya mendatangi setiap mimpi di tidurku kalau aku sampai menghilangkan nama Dharmawan sebagai bagian namaku. Sungguhlah aku hidup di tengah tradisi keluarga yang aneh.
Kembali ke cerita di balik hubunganku dengan Bryan, yang baru aku kenal tiga minggu sebelum pernikahan.
"So? Do you agree?" tanyaku penuh hati-hati saat itu. Saat di malam pertama kali aku dan Bryan bertemu. Aku ingat saat itu hujan deras, keluarga Bryan datang untuk galla dinner di rumahku.
Aku pikir hanya makan malam untuk urusan bisnis seperti biasa. Tapi ternyata, urusan bisnis kali ini lebih dari yang biasanya.
Bryan masih diam dengan satu gelas martini yang diapit dengan kedua jarinya. Raut wajahnya datar, meski terkesan sinis menurut pandangan mataku.
Sementara kami sedang beradu tatapan dingin di ruang baca, keluargaku dan keluarga Bryan sedang merayakan rencana persatuan kedua keluarga yang sebentar lagi menjadi kenyataan. "Never see it coming. But I don't mind." jawab Bryan.
Dahiku mengkerut, membuat kedua pangkal alisku nyaris bertemu. "Are you single? or in relationship?" tanyaku lagi, seperti wartawan majalah online.
Bryan diam, tidak bergeming.
"Do you love me?" aku bertanya serius. Maksudku, apa jangan-jangan dia memang udah menyukaiku dari dulu dan sekarang membuat kejutan dengan datang melamarku bersama keluarganya.
You know, a girl can hope.
Bryan merubah posisi duduknya, menaruh kedua siku di masing-masing lutut. Pandangannya lurus kepadaku yang kebetulan berhadapan, lalu entah mengapa membuat jantungku berdetak lebih kencang. Bola matanya coklat gelap, tatapannya tajam dan dalam.
Membuatku merasa terintimidasi hanya ditatap olehnya. Tanpa sadar aku mulai mengamati rahangnya yang tegas terdefinisi sempurna berhias jambang tipis menggelitik.
"I don't even know who you are." Kalimat Bryan membuyarkan lamunanku, dimana yang terdengar di telingaku adalah 'You bloody stupid girl. I don't even know you. Don't you dare bring that kind of word in front of me.
Wajahku terasa panas seketika, berulang kali aku mengatur pernapasanku agar d**a ini tidak sesak rasanya. Dia pikir aku juga tahu tentang dia?!
Aku kembali menghembuskan nafas sebelum melanjutkan perbincangan kami."Terus, kalau nggak cinta. Kenapa lo mau nikah sama gue?"
"Since when, we need love for marriage?" katanya sarkas. Aku menggigit bibir bawahku, berusaha untuk tidak menyiramnya dengan martini yang dia minum.
Okey, aku memang anak tunggal dari keluarga berada yang punya sterotip hidup mewah dan gaya hidup bebas. Tapi kenyataannya aku sangat dijaga ketat oleh ayahku, Hari Dharmawan. Jadi jangankan merasakan pulang pagi dengan kondisi mabuk karena semalam minum di club, pacaran aja aku belum pernah. Semua laki-laki yang dekat denganku nggak ada yang setangguh itu melewati benteng sosial ghaib yang dibangun ayahku. Pernah salah satu gebetanku bilang aku nggak asik karena nggak bisa diajak liburan bareng, setiap menjelmputku malam minggu ayahku selalu menyuruh kami untuk pulang nggak lebih dari jam sepuluh malam. Pernah waktu itu aku nekad belum pulang padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh, yang terjadi adalah aku diseret pulang oleh guard assistant ayah yang ternyata diam-diam mengikuti mobilku. Berkat kedua orang tuaku, aku menjadi gadis yang tidak punya pengalaman sama sekali tentang percintaan. Berkat kedua orang tuaku juga, aku sepertinya nggak akan pernah kenal apa itu cinta seumur hidup.
"Atau kita mau saling mengenal dulu? I mean, pendekatan?" saranku padanya, ya siapa tahu kami bisa menumbuhkan perasaan saling tertarik satu sama lain sebelum menikah, ya kan. Bryan sekarang menyandarkan punggungnya ke kursi.
"I have someone." katanya, yang pada saat itu aku tidak langsung menangkap maksudnya. Tapi setelah aku cerna lagi, itu bermakna Bryan memiliki seseorang yang dia cintai. Aku yang sudah berhasil tenang, kembali tersulut emosi.
"Yaudah kamu nikah aja sama orang itu." ujarku nggak mau kalah sinis. Ngapain sih orang ini, punya pacar tapi malah mau nikah sama orang lain.
"I would love to but-" kalimatnya berhenti, aku menunggu Bryan melanjutkan. Apa kisah cintanya salah satu kisah yang tidak direstui seperti Romeo dan Juliet?
"I am not in. Aku menolak pernikahan ini." kataku tegas, setelah aku rasa Bryan nggak mau melanjutkan ceritanya. "Unfortunately, You can't refuse. Yang gue tahu pernikahan ini diatur karena lo nggak mau in charge meneruskan perusahaan bokap lo." kata Bryan yang langsung membuatku teringat kenapa aku bisa di posisi sekarang ini.
Aku lulusan fashion design, menggeluti dunia fashion sejak tiga tahun yang lalu. Ayahku, Hari Dharmawan jelas menginginkan aku sekolah bisnis dan melanjutkan usaha keluarga yang sudah dibangun oleh tiga generasi. Karena aku bersikeukeuh nggak mau mengikuti jejak leluhur, ayahku datang dengan ide konyol menjodohkanku dengan anak kolega bisnisnya which is extremely handsome but sarcastic and heartless.
"Lo boleh melanjutkan usaha fashion lo dan gue bantu bokap lo mengurus perusahaan Dharmawan. Lo lanjutkan hidup seperti biasa, gue juga. Bedanya hanya kita akan tinggal serumah. Gue nggak akan menyentuh lo. Just live our life like before we met. Gue nggak akan mencampuri kehidupan pribadi lo dan lo juga jangan mencampuri kehidupan pribadi gue. Win-win solution, right?" ini kalimat terpanjang yang aku dengar selama tiga puluh menit kami duduk di sini.
Efek stupefy ala Harry Potter membuatku nggak bergerak selama Bryan bicara. Runtuh semua harapan dan skenario yang aku pikir diam-diam Bryan menyukaiku dari dulu tanpa aku tahu. Ini lebih tepat memang hanya pernikahan kerjasama. Aku selalu menarik nafas dan menghembuskannya berat-berat kalau mengingat pertemuan pertamaku dengan Bryan. Laki-laki yang sekarang menjadi suamiku, yang hanya aku dengar suaranya setiap pagi.