Pagi itu, Kimberlie terbangun dengan tubuh polosnya dan kepalanya yang semakin pusing setiap harinya. Selama ini Kimberlie tidak pernah ingin memberitahu kepada Nicho karena takut akan membuat Nicholas tidak fokus dengan pekerjaannya. Tapi, pagi ini rasa pusingnya sudah tidak bisa dikompromikan lagi. Kimberlie segera menuju ke kamar mandi dengan mandi dengan guyuran air hangat lewat shower. Rasanya cukup menyejukkan tubuhnya. Ia segera bergegas dan berpakaian rapi, tujuannya adalah klinik terdekat. Sejenak dilihatnya Nicho yang masih terlelap, Kimberlie juga tidak lupa mengirimkan pesan singkat kepada suaminya, memberitahu kalau akan turun mencari sarapan di toko kue terdekat. “Will,” panggil Kimberlie saat tidak sengaja bertemu dengan Will di dalam lift. “Nyonya? Tuan di mana? Anda, j

