Janji Suci

1051 Words
Alunan Piano berbunyi merdu selaras dengan tiap tapak langkah kaki Kimberlie yang gandeng oleh Owen Cale menuju ke depan Altar, disana Kimberlie dapat melihat sebuah punggung bidang seorang pria yang begitu tinggi sedang berdiri gagah membelakanginya. Kimberlie merasa kegugupan yang luar biasa, ia menggigit bibir bawahnya sendiri karena kegugupan yang luar biasa. Kini Ia dapat mencium aroma yang begitu harum dan memabukkan panca inderanya, entah parfum apa yang dipakai oleh calon suaminya ini. Saat selangkah lagi Kimberlie akan sejajar dengan calon suaminya, Nicho segera berbalik dan tersenyum begitu ramah kepadanya. “Yah Tuhan, aku mau pingsan melihat senyumannya,” gumam Kimberlie dalam hati. Begitu sulit bagi Kimberlie untuk menguasai detak jantungnya yang sudah ingin melompat dan menari-nari di atas rerumputan hijau itu. Sejenak senyuman di wajah Nicho hilang tak kala melihat wajah Kimberlie yang merona, Nicho juga merasakan efek gamang, baginya kini Ia tidak mendengar suara apapun. Dadanya begitu sesak menatap wajah jelita Kimberlie bagai berada di ruang hampa udara. Dengan cepat Nicho menarik nafas panjang untuk kembali menyadarkan dirinya dari keterpakuannya akan wanita yang begitu jelita dan terlihat tak asing di hadapannya. Melihat reaksi Nicho yang menatapnya dengan tatapan yang tak dimengerti oleh Kimberlie Ia memilih untuk menundukkan kepalanya, takut jika terlalu lama menikmati wajah tampan Nicho akan membuatnya pingsan sebelum mengucapkan janji suci pernikahan. “Nicholas, papa serahkan calon menantuku untukmu. Tolong jaga dia dengan baik dan perlakukan dia seperti aku memperlakukan mamamu,” ucap Owen lalu menyatukan telapak tangan keduanya untuk bertaut satu sama lain. Sengatan listrik terasa hingga menyetrum jantung terdalam Kimberlie saat kulitnya bersentuhan dengan kulit pria idamannya. Begitu juga dengan Nicholas yang merasakan sebuah sengatan tajam menjalar di seluruh nadi tubuhnya. Namun Nicholas lagi-lagi menolak kenyataan intuisi yang di rasakannya dengan menekankan dalam dirinya bahwa barusan yang terjadi hanyalah reaksi ilmiah normal seorang lelaki yang merasa kagum dengan kecantikan lawan jenisnya. “Tidak! dia tidak akan dapat membuatku terlena. Cinta pertama dan terakhirku hanyalah Angel saja,” batinnya dalam hati dan kembali mengembalikan logikanya di titik terpuncak dalam setiap pengambilan keputusan. Kini Pastor yang ada dihadapan mereka sedang membacakan sebuah ayat firman di dari kitab suci, lalu Ia memberikan nasehat singkat kepada Nicho dan Kimberlie. Kim mendengarnya dengan begitu seksama dan menyimpannya didalam hati untuk dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari. “Tunduk dan taat pada suami yang benar akan membawamu menuju pada nikmatnya kehidupan dan surga akan menantimu,” ucap Pastor menasehati Kimberlie secara khusus. “Menjadi suami yang mengasihi istri seperti kamu mengasihi dirimu sendiri akan menjadikanmu pria yang paling terhormat dan yakinlah bahwa segala yang kau usahakan akan berhasil berkat doa istrimu.” Kini giliran Nicholas yang di nasehati oleh sang pastor. Maka tibalah dimana janji suci harus diucapkan oleh keduanya, “Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu, dan terimalah berkat Tuhan yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perwakilan ini akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu, Nicholas Cale apakah kamu bersedia mengambil anakku Kimberlie Frey sebagai istrimu dalam suka dan duka?” tanya sang pastor sambil memberkati kedua mempelai dengan kedua telapak tangan di tumpangkan di atas kepala mempelai pria maupun wanita. “Iyah saya bersedia mengambil engkau Kimberlie Frey sebagai istriku dalam suka dan duka,” ucap Nicholas dengan menahan rasa gugup. “Kimberlie Frey, apakah kau bersedia menerima Nicholas Cale sebagai suamiku, menghormatinya dan menemaninya dalam suka dan duka?” tanya sang Pastor kepada Kimberlie. “Saya Kimberlie Frey menerima engkau sebagai suamiku, menghormatimu dan akan menemanimu dalam suka dan duka sampai maut memisahkan,” ucap Kimberlie dengan tegas. Suara Kimberlie begitu jernih menyegarkan pendengaran Nicholas yang terpaku setiap bibir ranum itu berbicara, detak jantungnya juga kini bertalu lebih cepat dari biasanya. “Oleh rahmat Tuhan maka saya menyatakan kalian sebagai suami dan istri, Nicholas silahkan cium istrimu,” ucap sang pastor. Kedua mata para pengantin saling menatap satu sama lain, jantung keduanya juga sama-sama tidak bisa diajak kompromi. Pipi Kimberlie bahkan sudah merona saat Nicholas membuka cadar pengantinnya. Begitu gemas rasanya Nicholas melihat wajah Kimberlie yang malu-malu dan curi-curi pandang kepadanya. Bahkan aroma rose kesukaan Nicho kini tercium begitu dekat, “Apakah dia yang wangi mawar?” tanyanya dalam hati dengan penasaran. Perlahan Nicholas mendekatkan wajahnya ke wajah Kimberlie dengan menunduk, menatap bibir ranum milik wanita bertubuh mungil ini, Ia tempelkan bibirnya dengan bibir Kimberlie dan merasakan aroma strawberry pada bibir itu. Awalnya sekedar tertempel kini karena terbawa situasi Nicholas mulai melumat lembut bibir Kimberlie dan memejamkan matanya menikmatinya dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan mengabaikan banyaknya orang yang sedang melihat bagaimana Nicho memagut dan menyesap bibir Kimberlie begitu dalam, hingga suara batuk dari Owen terdengar dari kursi dan menyadarkan Nicho. Dengan segera Ia melepaskan bibirnya dan menjauh lalu tersenyum salah tingkah di hadapan para tamu juga kedua orang tuanya. Bahkan Pastor yang menikahkan keduanyapun sampai terbelalak dan menelan salivanya susah payah. Suasana kekeluargaan begitu kental saat acara pernikahan itu berlangsung, “Nanti kita akan pulang ke apartemenku, kau pasti lapar makanlah dulu, jika kau ingin makan bersama para suster pergilah aku akan disini menunggumu,” ucap Nicho dengan lembut kepada wanita yang ada di hadapannya itu. “Benarkah? Aku boleh bergabung dengan suster Theresa dan yang lainnya?” tanya Kimberlie menahan rasa bahagia. “Iyah pergilah...,” ucap Nicho sambil tersenyum dan melihat Kimberlie berlari meninggalkannya dengan wajah penuh keceriaan. “s**t! Luar biasa kau sepupuku, actingmu tadi benar-benar hebat, kau bahkan bisa mencium pengantin yang tidak kau cintai dengan begitu mesra,” ejek Galaxy sambil menahan amarah di dalam dadanya. “Semua harus dilakukan tanpa kesalahan bukan? Tenanglah Lexy, aku tidak menyentuhnya jangan khawatir, dia akan kuberikan untukmu dalam keadaan masih tersegel dengan baik, jika segelnyaa sudah rusak maka kupastikan itu bukan denganku,” kekeh Nicholas. “Kau! f**k! Kau memang b******k Nicho! Setiap kali kau berhubungan dekat dengan jalangmu itu, kau akan bersikap begitu b******k bahkan dengan keluaargamu sendiri!” desis Galaxy. Tak terima dengan ucapan Galaxy, Nicho langsung mencengkeran kuat tangan Galaxy, “Siapa yang kau bilang jalang hah?! Aku akan merobek mulutmu itu dan menarik lidahmu jika kau berani menghina kekasihku sebagai seorang jalang!” Nicho juga mendesis emosi. “Aku sudah mengirimkan foto-fotonya di kantormu, besok kau akan menemukannya. Silahkan kau menilai sendiri, Angel itu jalang aatau wanita suci seperti istrimu!” ucap Galaxy lalu menarik lengannya dari cengkeraman tangan Nicho dan berbalik pergi meninggalkan Nicho yang berdiri sambil menahan amarah dalam dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD