Akhirnya sadar sudah Kimberlie, dirinya memang hanya akan membuang-buang tenaganya jika terus memperjuangkan cinta suami yang begitu membencinya. Sia-sia belaka, Kimberlie lalu menganggukan kepalanya dan berusaha terlihat tegar di hadapan Nicholas walau sebenarnya ia sedang hancur berkeping-keping saat ini. “Baiklah, aku juga sudah paham, jika kini kita telah memiliki batasan yang sangat tinggi satu sama lain, Nicho.” Kimberlie berkata dengan suara yang begitu bergetar, sedangkan Nicholas sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya terlihat sangat datar dan tidak berperasaan sama sekali. Nicho lalu melepaskan cincin pernikahannya dan menaruhnya diatas meja makan, tepat di hadapan Kimberlie, “Kau boleh melepas cincin itu jika kau mau, tidak perlu merasa sungkan. Dan satu hal,

