Loving You | 5

3459 Words
Jevan baru saja selesai membersihkan tubuhnya setelah tadi pulang kerja dan mampir sebentar ke rumah kakaknya. Pria tampan itu sudah berbalut pakaian tidur--kaos putih dan celana pendek—ia berjalan ke arah ranjang sambil menggosok-gosokkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia melempar asal handuk tersebut lalu naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah akibat bermain dengan Aello tadi. Satu tangannya dilipat yang kemudian digunakan menjadi bantalan kepalanya. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang kembali mengingat apa yang diucapkan mamanya tadi. Mama setuju kalau kamu sama Clara. Dia cocok buat kamu Je. Anaknya baik banget, mama suka.Kamu sudah sangat pantas untuk berumah tangga. Mama ingin lihat kamu menikah Jevan. Buka hatimu untuk Clara. Sudah saatnya kamu memikirkan ini. Dan mama yakin Clara jodoh kamu. Dekati dia. Tadi, ia memang mengajak gadis itu ke rumah Jasmine. Saat hendak pulang Clara memang tidak memohon atau pun meminta lagi padanya untuk ikut tapi Jevan tahu kalau gadis itu terus meliriknya dan berharap besar ia akan mengajaknya. Bahkan Clara belum juga pulang saat pekerjaannya selesai. Ia seperti menunggu Jevan untuk mengajaknya. Jevan sempat meledeknya sebentar begitu melihat wajah memelas Clara dari ekor matanya. Ia berjalan keluar ruangan hendak pulang, sudut bibirnya tertarik begitu ia mendengar helaan nafas kecewa dari Clara yang masih duduk di kursinya. Ia juga sempat mendengar suara gerutuan dan berdebum yang sepertinya berasal dari tendangan Clara pada kursi milik Jevan. Namun saat diambang pintu ruangan, Jevan langsung berbalik badan dan menghampiri Clara yang menundukkan wajahnya sambil cemberut. Tanpa berkata apapun, ia langsung menarik tangan gadis itu dan mengajaknya ke rumah Jasmine. Dan kebetulan di rumah kakaknya tadi ada Dewi yang memang sedang berkunjung ke sana. Dewi sempat kaget, tak percaya dan tak menduga-duga begitu melihat Jevan membawa seorang gadis bersamanya. Dewi terlihat begitu bahagia melihat Clara terlebih lagi saat menyadari kalau gadis itu mudah sekali berbaur dengannya yang merupakan orang baru. Clara terlihat tak canggung atau pun malu sedikit pun. Bahkan ia banyak mengobrol dengan Dewi tadi. Begitu sampai di rumah, Dewi langsung mengungkapkan kesukaannya pada Clara ke Jevan. Ia sangat-sangat berharap putranya itu mau mendengarkan ucapannya dan membuka hati untuk Clara. Sebagai naluri seorang ibu entah kenapa ia yakin kalau Clara adalah jodoh putranya. Jevan menghela nafas mengingat perkataan mamanya yang cukup mengganggu pikirannya. Membuka hatinya untuk Clara? Mendekati gadis centil itu? Bahkan belum didekati saja Clara sudah sering sekali menempel dilengannya. Hobi Clara yang berdampak tidak baik untuk jantung Jevan. Tangan Jevan yang satunya terulur menyambar ponselnya di nakas. Ia membuka kunci layar lalu memilih gallery photo-nya. Jemarinya mengklik sebuah foto yang dijepretnya saat siang tadi. Foto Clara yang menurutnya berpose absurd. Disaat banyak gadis diluar sana yang terlihat anggun dan feminim ketika difoto. Tapi tidak dengan Clara, dari cara berpose difotonya saja sudah banyak yang bisa menebak bagaimana sikap gadis itu. Tapi satu yang tak bisa dipungkiri Jevan, kalau pose absurd Clara tidak menghilangkan sisi kecantikan dan kemanisan gadis itu. Ia tetap terlihat cantik. Sebuah senyuman melengkung dibibirnya begitu ia men-zoom foto tersebut. Clara? Benarkah kamu jodohku? *** Keesokan paginya, Clara sengaja bangun lebih awal. Ia berniat untuk lari pagi karena berhubung hari ini weekend dan kantor libur. Ia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu menggosok gigi. Tak perlu mandi karena setelah lari pagi nanti juga akan keringetan kembali jadi percuma. Clara hanya memoleskan lipstick dibibirnya agar tidak pucat. Walaupun belum mandi tapi lipstick harus tetap mode on. Clara sudah cantik dan berganti baju dengan legging panjang hitam yang ditimpali dengan kaos putih yang pernah ia beli saat di Bali dulu. Ia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Kedua telinganya ia sumpal dengan headset mendengarkan lagu dari ponselnya. Sebuah sepatu sport berwarna putih sudah membungkus kaki cantiknya. Ia sudah keluar apartemen, berjalan mengarah ke taman kota yang berada tak jauh dan memang biasa banyak orang yang sengaja lari pagi di sana. Clara berlari santai mengelilingi lapangan taman sambil mendengarkan lagu membuat rambutnya ikut bergerak cantik mengikuti langkahnya. Clara mencibir sekaligus memutar bola matanya jengah saat melihat dua orang pria yang menatapnya sambil bersiul lalu tersenyum semanis mungkin. Clara yang sedang istirahat sejenak di kursi taman menatapnya sinis dengan alis terangkat, "Dikira gue burung disiulin begitu" Ia mengipas-ngipaskan lehernya dengan tangan sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Semakin siang semakin ramai tetapi dari banyaknya orang di sini tak ada satu pun yang Clara kenal. Clara menyeka keringatnya, melepas headset lalu memainkan ponsel membuka akun instagramnya. Bosan karena tidak ada yang menarik, ia menutup kembali aplikasi instagramnya dan berniat melanjutkan lari paginya kembali begitu matanya tanpa sengaja menemukan sosok tampan yang tak pernah ia duga-duga sebelumnya. Sosok tampan dengan celana pendek putih, kaos putih dan sepatu sport berwarna hitam. Jangan lupakan kacamata keren itu yang membuat si empunya semakin terlihat seksi. Senyum Clara terbentuk sempurna, ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Jevan. Ya, itu Jevan yang juga sedang lari pagi ditempat yang sama dengannya. Pria itu terlihat sedang beristirahat sebentar sambil memeriksa ponselnya. Headset putih pun terlihat juga menyumpal kedua telinganya. "Abang Jeje!" Seru Clara riang sambil memeluk sebelah lengan Jevan—kebiasaan Clara. Jevan tersentak kaget. Walaupun ia memakai headset tetapi suara Clara tetap terdengar di telinganya. Ia menolehkan kepala seraya melepaskan kedua headsetnya. Dahinya mengernyit melihat Clara yang sudah bergelayutan dilengannya sambil mengumbar senyuman manis nan lebar. Ia meneliti pakaian Clara dari atas sampai bawah. Tanpa bertanya pun ia tahu apa yang sedang dilakukan gadis centil ini di taman begitu melihat sepatu yang dikenakannya. "Kok kita ketemu terus sih Je. Pertanda bagus apa pertanda jelek" ia terkekeh "Pertanda buruk" jawab Jevan lalu menarik lengannya sendiri dan pergi meninggalkan Clara Gadis itu mendengus kesal sambil menatap ke arah punggung Jevan yang ingin sekali ia timpuk dengan batu yang kebetulan ada diujung sepatunya. Tapi Clara masih punya rasa kasihan dan tak tega hingga ia mengurungkan niatnya. Ia menghela nafas lalu kembali menyusul Jevan sambil menyerukan nama pria itu riang. Biar saja orang-orang sudah menatap aneh ke arahnya. Clara tak peduli. "Lo sering lari pagi di sini juga Je?" Ia mendongakkan kepala menatap ke pria disampingnya yang memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi darinya. Clara hanya sebatas bahunya saja. Jevan membenarkan letak kacamata yang membuatnya semakin tampan walaupun itu hanya gerakan mendorong kacamata. "Hampir setiap weekend" Hening. Baik Jevan dan Clara tidak melanjutkan pembicaraan walaupun mereka masih terus melangkah mengelilingi taman. Sebenarnya Clara sengaja tidak mengajukan pertanyaan lagi karena ia ingin Jevan yang bertanya. Setiap kali bersama Jevan pasti ia yang mencari topik pembicaraan, pasti Clara yang memulai obrolan sementara Jevan hanya menjawab saja tidak bertanya balik atau pun berniat untuk memperpanjang obrolan mereka. Tetapi walaupun begitu entah kenapa Clara selalu ingin bersama Jevan. Ia selalu ingin mengobrol dengan pria itu walaupun sebelum mengobrol ia harus memutar otak mencari topik pembicaraan atau mencari pertanyaan apa saja yang akan ia ajukan pada Jevan nanti. Seperti saat ini, Clara sedang memutar otak membiarkan otaknya jungkir balik mencari topik pembicaraan baru diantara mereka. Ia menoleh ke arah Jevan, pria itu terlihat santai-santai saja dengan memandang lurus ke depan dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana seperti betah dengan situasi seperti ini. "Je" panggil Clara Jevan menoleh sekilas ke arahnya, "hmm?" Hmm lagi, batin Clara "Pernah denger gak, istilah orang yang bilang kalo gak sengaja ketemu itu jodoh" Pria tampan itu menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menjadi menghadap Clara, "terus?" Kedua alisnya terangkat "Kayaknya kita jodoh. Karena terlalu sering gak sengaja ketemu kayak gini" ia tersenyum manis menatap Jevan Deg. Jantung Jevan berdegup kencang. Ah tidak sejak melihat Clara tadi dan berjalan beriringan seperti ini jantung Jevan memang sudah berdetak tak normal. Tetapi mendengar ucapan gadis centil ini barusan seakan menjawab pertanyaan yang semalam ia suarakan sendiri saat dirinya memandangi foto Clara. Jantung Jevan semakin berdetak liar saat melihat senyuman lebar Clara yang entah kenapa itu terlihat sangat manis di mata Jevan. Matanya terus menatap ke wajah cantik Clara. Wajah memerah karena sinar sang mentari, bulir-bulir keringat didahi dan pelipisnya, beberapa juntaian rambut yang keluar dari ikatannya yang sudah mengendur. Bolehkah jika Jevan menyebut Clara gadis yang sangat cantik? "Jangan senyum kayak gitu" Jevan merangkulkan tangannya di bahu Clara dan sedikit menjepit leher gadis itu. Setelahnya ia mengajak Clara melanjutkan langkahnya. Mata Clara membulat mendapat perlakuan seperti ini lagi. Jantungnya semakin tak bisa diajak kompromi. Tubuhnya sudah menempel erat ke sisi tubuh Jevan. Lengan kokoh itu menjepit lehernya. Ia menundukkan kepala, melihat lengan kokoh dengan bulu-bulu halus dan jam tangan hitam dipergelangan tangannya yang berada didepan lehernya. Ragu, Clara menyentuh lengan kokoh itu lalu mendongakkan kepala menatap Jevan, "kenapa lo selalu ngelarang gue senyum? Jelek ya?" Jevan tersenyum sambil melirik sekilas ke arahnya, "nanti juga tahu" ia semakin merapatkan tubuh Clara ke tubuhnya Tuhan, Jevan senyum lagi. Kenapa Jevan selalu seperti ini? Jevan selalu berubah-ubah. Kadang cuek, kadang manis. Jevan benar-benar pria yang sulit sekali ditebak. *** Selesai sarapan bubur ayam bersama di dekat taman. Jevan dan Clara berjalan beriringan keluar taman. Mereka saling diam tak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Je" panggil Clara yang tak betah dengan keheningan diantara mereka Jevan menoleh sekilas, "hmm?" Oh Tuhan, hmm lagi. Clara menundukkan kepalanya lesu dengan kakinya yang menendang kesal kerikil yang ada di jalan. Apa kata pertama yang keluar dari mulut Jevan selalu hmm? "Lo biasanya weekend ngapain?" Jevan membenarkan letak kacamatanya lalu kembali memasukkan tangan ke saku celana, "tidur" "Gak asik banget. Gak jalan-jalan?" "Males. Weekend kan harinya istirahat" Clara mendengus kesal, ia menghentikan langkahnya sambil menghentakkan kakinya. Hidup Jevan datar sekali, terlalu biasa. Senyuman Clara tercipta sempurna begitu sebuah ide cemerlang muncul dikepalanya. Hidup Jevan terlalu biasa jadi sudah saatnya ia merubah hidup Jevan menjadi lebih berwarna. Diawali dengan mengubah jadwal membosankan pria itu dihari weekend. Ia pun langsung kembali menyusul Jevan yang sepertinya tak menyadari kalau gadis disampingnya tertinggal di belakang sejak tadi. "Je, gimana kalo nanti kita nonton?" Ia tersenyum menghadap Jevan yang terpaksa membuatnya harus berjalan mundur Jevan mengernyitkan dahinya. Tak ada tanggapan darinya, hanya tangan kanannya yang terulur kemudian menggeser kepala Clara ke samping dengan lengannya membuat gadis itu harus bergeser sedikit dan menghentikan langkahnya. Gadis itu mendengus kesal. Kemudian menolehkan kepalanya menatap tajam ke arah punggung pria itu. Sementara Jevan, diam-diam ia tersenyum melihat tingkah gadis centil itu sambil melanjutkan langkahnya dengan kedua tangan di dalam saku celana. "Ayo dong Je kita nonton. Ada film bagus kan. Ya ya ya?" Clara sudah kembali berada di hadapan Jevan masih terus memohon dan berjalan mundur. Melihat Clara ada di depannya, buru-buru Jevan memudarkan senyumnya menormalkan kembali wajahnya. "Ya Je kita nonton ya? Gue yang beli tiket deh tapi nanti lo yang bayar makan malemnya" ia menyengir Jevan menautkan kedua alisnya. Lagi-lagi tangannya terulur menutup wajah Clara dengan telapak tangannya lalu mendorongnya sedikit ke belakang. Clara memegang tangan Jevan lalu menjauhkan dari wajahnya, "Jevan ih!" Ucapnya sambil menghentakkan kaki sebal. Mereka menghentikan langkah mereka. Pria tampan itu berusaha menahan tawanya agar tidak meledak begitu melihat wajah cemberut dan kesal gadis di depannya. "Kita nonton ya. Ada film bagus. Je, ya Je ya?" Mohon Clara yang masih terus berlanjut "Males ah" "Ayolah Je. Bosen kalo di rum—“ Ucapan Clara terpotong begitu Jevan menarik lengannya hingga membuatnya jatuh ke pelukan Jevan. Pria itu tanpa sengaja melihat seorang pengendara motor yang melaju kencang dan terlihat sangat ugal-ugalan. Untung saja ia menarik Clara kalau tidak mungkin saja gadis itu akan tersenggol motor tersebut. "Woy! Gila lo!" Teriak Jevan pada si pengendara Clara yang berada di dalam pelukan Jevan membulatkan matanya tak percaya begitu mendengar teriakan kencang Jevan. Ia mendongakkan kepala memberanikan diri menatap Jevan. Ternyata Jevan bisa teriak dan marah juga. "Gak pa-pa?" Tanya Jevan pada Clara Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jevan melepaskan tangannya yang sejak tadi berada di punggung Clara dan melangkah mundur lalu membenarkan kacamatanya dan berdeham pelan. "Kalo pecicilan liat tempat" ucap Jevan pada Clara Mulut Clara terbuka dramatis mendengar ucapan Jevan. Matanya membulat menatap Jevan, "oh my God! Pec—“ Lagi-lagi ucapan Clara terpotong karena Jevan sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Entah Jevan mau membawanya kemana ia pun tidak tahu. Clara pasrah dibawa kemana pun asalkan dengan Jevan. Wajah Clara masih cemberut, tangannya masih dipegang dan sedikit ditarik oleh Jevan. Demi apapun jangan membayangkan hal romantis yang sedang terjadi diantara Jevan dan Clara saat ini. Jevan memang memegang tangan Clara tetapi memegang pergelangan tangan gadis itu bukan menggenggam tangannya. Menarik tangan Clara kemudian sedikit ditarik persis seperti seorang ayah yang sedang menggeret anaknya yang tidak mau masuk sekolah. Tepat di persimpangan jalan langkah mereka terhenti begitu bertemu dengan Dewi yang baru pulang dari pasar. Awalnya raut wajah Dewi terkejut melihat putranya dengan Clara namun begitu melihat tangan Jevan yang memegang tangan Clara ia langsung tersenyum senang tapi Jevan buru-buru melepaskan tangannya. "Ta-tante" seketika Clara menjadi gugup Dewi tersenyum hangat padanya, "pantes Jeje semangat banget lari pagi hari ini. Sama kamu ternyata" Jevan melongo mendengar ucapan mamanya. Gampang sekali mamanya berucap seperti itu? Apa katanya tadi, bersemangat karena lari pagi dengan Clara? Bahkan ia saja tidak tahu kalau gadis centil itu akan lari pagi juga dan pertemuan mereka benar-benar diluar dugaan. "Ayo sayang, mampir dulu ke rumah" tanpa mendengar tanggapan dari Clara, Dewi sudah langsung menarik tangan Clara untuk ikut bersamanya. Clara menolehkan kepala menatap Jevan yang masih berada disana dan memandang mamanya sambil menggelengkan kepala dan tangan dipinggang. Ia mengacak-ngacak rambutnya sebelum akhirnya berjalan menyusul mamanya. Di rumah Jevan, Clara sudah berada di ruang tengah rumah sederhana tersebut. Rumah sederhana yang baru saja selesai direnovasi menjadi lebih bagus lagi. Ia duduk di sofa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sementara Dewi berada di dapur meletakkan belanjaannya dan Jevan sudah melesat ke kamar. Matanya meneliti satu per satu foto yang ada di sana. Ada foto Dewi, Jasmine dan juga Jevan. Ada juga foto keluarga kecil Jasmine dan Dirga. Foto Aello dan Lesha yang terlihat lucu dan menggemaskan membuat Clara tersenyum melihatnya. Ada juga sebuah foto tua pria berkemeja putih sedang tersenyum ke kamera dan tampak mirip dengan Jevan. Clara mengerutkan dahinya. Apa ini ayahnya Jevan? "Clara, ikut tante masak yuk" ajak Dewi yang baru datang dari arah dapur Clara menolehkan kepalanya, "tapi aku gak bisa masak tan. Nanti aku malah berantakin dan bikin rusuh di dapur tante" Dewi tersenyum lalu menghampiri Clara, "gak pa-pa nanti tante ajarin" ia menggiring gadis itu ke dapur Tanpa mereka sadari Jevan mendengar semua percakapan mereka ketika ia hendak keluar kamar. Senyuman tersungging dibibirnya begitu mendengar jawaban polos nan jujur Clara. Di dapur Clara membantu Dewi memasak, ya walaupun hanya sekedar mencuci sayuran, memotong dan mengaduk-ngaduk masakan. Setidaknya ia sudah membantu dan mendapatkan sedikit ilmu mengenai memasak walaupun ia sendiri tidak yakin apa ilmu barusan menempel atau tidak diotaknya. Sejak tadi mereka juga banyak mengobrol membuat mereka makin terlihat akrab. Bahkan sesekali mereka terlihat tertawa bersama. "Tan, Jevan mana ya?" Tanyanya pada Dewi yang sedang mengaduk masakannya "Paling lagi cuci mobil. Kegiatan rutin sebelum tidur" ia menoleh sekilas ke arah Clara Gadis itu mengangguk-nganggukkan kepalanya. Lari pagi-cuci mobil-makan-tidur. Jadwal kegiatan Jevan dihari weekend. Benar-benar membosankan. "Kamu ke depan aja liat Jevan. Bentar lagi masakannya selesai kok" Clara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kemudian melangkah keluar dapur menuju halaman depan melihat kegiatan membosankan yang sedang dilakukan pria tampan itu. Sambil melipat kedua tangannya di d**a ia memperhatikan Jevan yang sedang mencuci mobil miliknya. Pria itu belum mengganti pakaiannya hanya mengganti sepatunya saja dengan sandal jepit. "Kenapa gak cuci ditempat pencucian mobil?" Tanyanya yang sudah berdiri tak jauh dari Jevan Jevan menolehkan kepalanya. Sejak kapan Clara ada di sana? Ia bahkan tak tahu. "Kalau bisa cuci sendiri kenapa mesti dibawa ke sana" jawabnya sambil terus menggosok body mobilnya dengan spons yang sudah bercampur dengan shampo khusus mobil Clara memutar bola matanya jengah. Kalau semua orang mempunyai pemikiran seperti Jevan pasti tempat pencucian mobil akan sepi. Ia yakin itu. Untungnya hanya Jevan yang memiliki pemikiran seperti ini. Gadis itu membungkukkan tubuhnya mengambil selang air yang tergeletak. Lalu memutar tubuhnya menghadap taman—menyirami tanaman yang ada di sana sambil sesekali memainkan air dari selang. Selesai menyiram tanaman, ia kembali memutar tubuhnya menghadap ke semula. Dahinya mengernyit begitu tidak melihat keberadaan Jevan, "Je, lo dimana?" Ia mengarahkan selang air ke mobil di depannya membuat busa-busa shampo tersebut mengalir ke bawah. Kepalanya masih terus celingak-celinguk mencari Jevan "Je" panggilnya lagi "I'm here" Jevan muncul dari balik mobil. Seketika tawa Clara langsung meledak begitu melihat Jevan, "Je, lo kenapa? Kok kayak bebek abis kecebur gitu sih" ucapnya di sela-sela tawanya begitu melihat Jevan yang sudah basah kuyup karena selang air Clara tadi dan ternyata dirinya berada dibalik mobil. Ember biru masih berada di tangan kirinya dan spons yang penuh busa di tangan kanannya. Clara benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya. Bahkan perutnya sampai terasa sakit. Jevan muncul dari balik mobil dengan basah kuyup seperti itu ditambah lagi dengan dirinya yang berucap I'm here dengan lesu membuatnya makin terlihat lucu. "Terima pembalasan gue" Jevan melepaskan ember dan spons nya lalu mengambil selang air yang dibuang Clara sementara gadis itu sudah berlari menjauh sambil masih terus tertawa. Clara terus berlari mengitari mobil dengan Jevan di belakangnya yang terus mengejarnya dengan selang air yang diarahkan ke arah Clara. Sebagian tubuh Clara sudah basah karena ulah Jevan. Sesekali terdengar suara renyah tawa mereka yang saling bersahutan. Gadis itu terpekik kaget saat tanpa sengaja kakinya menginjak shampo mobil yang licin hingga membuatnya nyaris terjatuh namun Jevan dengan sigap melepas selang airnya dan berlari ke arah Clara. Ia menahan punggung Clara hingga membuatnya tidak terjatuh. Clara kesulitan menelan ludahnya sendiri begitu dihadapkan dengan wajah Jevan yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Rambut Jevan yang basah dengan tetesan air disetiap ujungnya membuat kesan seksi, kacamata yang sudah ia lepas entah sejak kapan dan Clara baru menyadari kalau Jevan memiliki bola mata yang sangat indah yang selama ini selalu terhalang oleh kacamatanya. Kaos putih yang basah menempel pada dadanya yang bidang membuat tangan Clara gatal ingin menyentuhnya. Jevan pun masih terus menatap Clara, meneliti kecantikan gadis itu yang tak ada habisnya diiringi dengan debaran jantung mereka yang saling bersahutan. Pria tampan itu mendekatkan wajahnya membuat jantung Clara semakin loncat-loncatan tak menentu. Otaknya terus berpikir haruskah ia menutup mata seperti difilm-film saat sang pria mulai mendekatkan wajahnya? Baru saja ia akan menutup matanya ketika indra pendengarannya mendengar suara Jevan yang membuat matanya kembali terbuka lebar, "Black is sexy" ucap Jevan lalu membenarkan posisi Clara menjadi berdiri setelahnya ia melangkah masuk ke dalam sambil senyam senyum Clara menautkan kedua alisnya belum mengerti dengan ucapan Jevan. Tetapi kemudian ia menundukkan kepalanya begitu teringat sesuatu. Matanya langsung membulat dan mulutnya terbuka dramatis, tangannya langsung disilangkan didepan d**a begitu menyadari kalau bajunya basah dan sudah pasti pakaian dalamnya tercetak jelas karena kaosnya berwarna putih. "Jevan m***m!" teriaknya yang dibalas kekehan Jevan kemudian wajahnya ditutupi handuk yang baru saja dilempar Jevan ke arahnya. *** Dua puluh menit berselang, saat ini Jevan dan Clara sudah berada di dalam mobil. Tadi Jevan diminta mamanya untuk mengantarkan Clara pulang. Sejak tadi Jevan terus menahan tawanya, melipat bibir agar tawanya tak meledak begitu melihat penampilan Clara saat ini. Bahkan saat keluar kamar setelah mandi tadi ia tak mampu menahan tawanya begitu melihat Clara namun saat gadis itu terus memukulnya yang membuat Jevan langsung membungkam mulutnya. Bukan tanpa sebab ia tertawa seperti ini, ia benar-benar lucu melihat Clara yang sudah berganti pakaian menjadi ala ala kakaknya. Dasteran. Baju gadis itu basah sehingga membuatnya harus memakai baju Jasmine. Tentu ini ide dari Dewi yang akhirnya membuat Clara yang awalnya terlihat seperti wanita muda kekinian harus berubah menjadi ibu-ibu yang akan ke pasar dengan daster dan sandal jepit. "sekali lagi ketawa. Mulut lo gue sumpel pake sendal jepit" ucap Clara galak menoleh ke arah Jevan Jevan tertawa sambil menoleh sekilas ke arahnya. Namun tawanya langsung mereda begitu Clara mencubit gemas pinggangnya. Mobil Jevan sudah berhenti tepat di depan apartemen Clara. Gadis itu melepaskan seatbelt, mengambil dua paper bag dikursi belakang, satu berisi pakaian basahnya dan satunya lagi berisi makanan yang tadi dibuat Dewi. "Cuci gosok yang bener ya" Jevan meledeknya sambil mengelus rambutnya. Jangan lupakan senyuman menyebalkan itu yang terukir di wajahnya. Senyum menyebalkan yang tetap terlihat manis. "Lo kira gue pembantu" Clara menepis tangan Jevan dikepalanya "makasih udah nganterin" ia membuka pintu mobil Jevan masih terus memandangi Clara yang sudah melangkah masuk ke dalam apartemen sampai akhirnya bayangan gadis itu hilang terhalang tembok. Senyuman terukir di wajahnya sembari dirinya mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia membuka salah satu aplikasi chatnya, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengetikkan sesuatu pada kolom chat. To: Clara Smith Filmnya dimulai jam 6. Gue jemput jam 5 Send. Ia kembali menyalakan mesin mobilnya. Lagi-lagi ia tersenyum mengingat gadis itu. Sepertinya hari ini Jevan senang sekali tersenyum. Ah tidak sepertinya ketika ia mulai mengenal Clara, ia memang lebih banyak tersenyum. Dan sepertinya Jevan mulai menuruti apa kata mamanya. Membuka hatinya untuk Clara. Ya sepertinya itu bukan suatu hal yang salah. Apakah ini menandakan kalau Clara sudah merubah sedikit hidupnya menjadi lebih berwarna?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD