Chapter 7

4151 Words
"DEE...." panggil Freddy ketika melihat Dee dan Hendrick berjalan berdua menuju taman belakang. Dee berhenti dan menoleh, lalu melambaikan tangannya ke Freddy. "Ga usah lari, kita tunggu!" seru Dee ketika melihat Freddy berlari ke arahnya. "Hehehehe... Pengen buru-buru ketemu kamu, kengen" sahut Freddy sambil meletakkan tangannya di bahu Dee. "Lebay amat, baru juga tadi pagi ketemu" jawab Dee. "Suruh siapa kamunya ngangenin gini" gurau Freddy sambil mengusap kepala Dee. "Hiiiiy.... " ucap Dee bergidik lalu berlari kecil meninggalkan Freddy dan Hendrick. Freddy terkekeh geli, " Gemesin banget tuh anak makin hari," gumamnya. "Jaga tanganmu!" ucap Hendrick dingin. "Hooooo.... Do you want to talk?" sindir Freddy, "Jangan kau kira aku ga tau kejadian tadi pagi di kelas kalian, mau curi start bro?" sambung Freddy sambil menatap tajam ke arah Hendrick. "So?" tanya Hendrick. "Let's fight in the fair ways!" jawab Freddy yang segera berlari mengejar Dee. Hendrick menghela nafas panjang. Sejak dia dan Freddy menyukai Dee, hubungan keduanya tidak sedekat dulu, entah bagaimana mulanya jika mereka hanya berdua akan terjadi adu mulut, tapi mereka selalu berusaha bersikap biasa jika bersama dengan yang lainnya. Sampai kapan seperti ini, Hendrick yakin jika tidak hanya dirinya yang merasa lelah, Freddy juga pasti merasa lelah. Tapi bagaimanapun mereka berdua berusaha keras agar tidak merusak hubungan persahabatan mereka berlima. Hendrick mempercepat langkahnya menuju taman belakang. Dee dan Freddy baru saja tiba dan segera duduk lesehan di rumput, sementara Lucky dan Tony asyik tidur-tiduran sambil bermain ponsel di bangku semen yang ada di sana. Tak lama Hendrick muncul dan segera duduk lesehan bersama Dee dan Freddy. "Nunu mana Fred? Lama amat dipanggil guru?" tanya Dee. "Sebentar lagi dia sampai sini, katanya mau ada lomba Matematika tingkat propinsi, Yetnu kepilih mewakili sekolah kita" jelas Freddy, dia letakkan paper bag pemberian Dee di depannya. "Urgh... Lomba Matematika? Niat banget sih Yetnu" sahut Lucky seraya menghampiri mereka dan duduk di hadapan Dee. "Nunu kan memang pintar kalau Matematika, emangnya kak Kiki, hitungan satu kali nol aja ga bisa, ahahahahaha..." ejek Dee yang segera mendapan jitakan dari Lucky. "Ngga sopan kamu ya ngatain kakak sendiri!" omel Lucky. "Sopan-sopan aja kali Ky, wong ya memang kenyataan." timpal Tony seraya menangkul Lucky dan duduk di sebelahnya. "Sialan kau Ton, cari mati?" sungut Lucky yang disambut gelak tawa Tony, Dee, Hendrick dan Freddy. "Rame amat sih kalian" suara Yetnu menyela mereka. "Sudah kelar Nu?" tanya Dee. "Sudah... Support ya besok pas lomba" jawab Yetnu. "Siaaaap!" sahut mereka bersamaan. "Yuk buruan makan, aku dah ga tahan nih pengen makan burrito bikinan Dee, sudah kangen, berapa tahun aku ga dibikin-bikinin makanan sama Dee" sela Lucky. "Syukurin, siapa suruh kau pindah dari Jogja?" ejek Tony, "Aku dong hari-hari dimasakin Dee, ya ga Nu?" Tony mulai mengompori. "Hmmm... tiap kali main ke rumah tante Tuti, selalu dimasakin sama Dee, eh... Dee sekarang pinter bikin dessert lho Ky. Kau tau, brownies bikinan Dee bikin ketagihan!" timpal Yetnu. "Tau aku, Dee selalu kirim brownies sama kue kering kalau Lebaran, kalian kira cuma kalian doang yang sudah makan kue bikinan Dee?" sahut Lucky sombong. Spontan mereka bertiga melirik ke arah Hendrick dan Freddy, mereka pun tersenyum geli melihat ekspresi keduanya. "Berisik, buruan makan aja kenapa!" omel Dee. "Ka-kamu beneran bisa masak Dee?" tanya Freddy takjub. "Lumayan lah Fred, masakanku masih edible, hehehehe" jawab Dee. "Waaaaah... Calon istri idaman!" seru Freddy sambil merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Dee, tapi dengan sigap ditahan Lucky, Yetnu Tony dan Hendrick. "Jangan m***m!" seru mereka berempat bersamaan. "Apaan sih kalian, barbar amat!" gerutu Freddy. "Ga usah lebay deh Fred, makan aja" ucap Dee sambil nyengir kuda. "Ya deh iya" sahut Freddy. Mereka pun segera membuka paper bag masing masing. Hendrick mengeluarkan minuman yang dibelinya dan membagikannya ke teman-temannya. "Kok punyaku lain?" tanya Dee saat menerima Yogurt aloevera dari Hendrick. "Kesukaanmu." jawab Hendrick singkat. "Oh, makasih" sahut Dee sambil tersenyum. Tony, Lucky dan Yetnu berpandangan lalu tersenyum usil. "Nah aku kenapa dapat ocha? Aku kan suka plain soy milk?" tanya Tony. "Aku suka kopi s**u" sambung Lucky. "Aku suka jus apel" tambah Yetnu. "Nah aku suka air kelapa" Freddy pun ikut-ikutan. Hendrick menatap kesal teman-temannya, "Ga gelem, yo tuku dewe kono!" ( Ngga mau, beli sendiri sana ) jawab Hendrick kesal lalu tangannya meraih ocha milik Yetnu, tapi Yetnu buru-buru menyingkirkannya. "Katanya ga suka?" gerutu Hendrick. "Mereka bercanda doang Hend, jangan masukin hati" ucap Dee. "Makan deh makan, istirahat tinggal 15 menit." sambung Dee. Mereka pun segera membuka bungkus burrito dan mulai memakannya. "Uuugh... Nanti di rumah bikinin lagi ya Dee!" pinta Lucky. "Hmmm." sahut Dee sambil sibuk mengunyah. "Sering-sering bikin bekal Dee, aku kasih uang belanja deh, biar kaya suami dibawain bekal istri gitu" pinta Freddy tak tau malu. "Istri jidat lu Fred!" seru Yetnu dan Tony bersamaan. "Kalau sempat ya" sahut Dee santai. "Asyiiik!!" sorak Freddy, "memang benar-benar calon istri idaman" sambung Freddy. Sementara itu Hendrick hanya diam, dia terlihat sangat jengkel. Dia tahu kalau Dee bukan miliknya, tapi dia sudah serakah ingin segala sesuatu yang berkaitan dengan Dee hanya dia yang boleh menikmatinya. Hendrick kesal pada dirinya sendiri dan kesal karena cemburu akan privilege Lucky, Yetnu dan Tony, mereka selalu jadi yang pertama tahu tentang segala sesuatu tetang Dee. "Rick, kok diam aja dari tadi? Burritonya ga enak?" tanya Yetnu membuyarkan lamunan Hendrick. Raut wajah Dee berubah masam, Dee pikir Hendrick merasa makanan buatannya tidak enak. "Enak kok, cuma keingat sama rumah" jawab Hendrick, "Kalau tinggal di rumah kan mesti makan masakan rumahan terus, kalau kost sering jajan dan makan mie doang" sambung Hendrick sambil menatap burrito di tangannya. "Oh..." gumam Dee lega, bukan karena ga enak ternyata. "Ya deh, besok-besok aku seringin bawa bekal buat kita makan rame-rame. Tapi kalau ga kesiangan bangun ya, hehehehe..." sahut Dee. Mata Hendrick dan Freddy berbinar, "Makasih Dee" ucap mereka bersamaan. "Sama-sama" jawab Dee. "Dee, ntar balik barengan ya, tapi ke rumah kakak dulu, ambil oleh-oleh sekalian jemput kak Dika" ucap Lucky. "Whuidih, ogah amat, mending kakak balik sendiri jemput kak Dika, wira wiri tau kak" sahut Dee mencebikkan bibirnya. "Ya kan kakak cuma pengen nunjukin rumah kakak yg sekarang, jadi besok Sabtu kamu bisa ke rumah sama adik-adik" jawab Lucky. "Besok ga bisa, ada janji sama mereka, ya ga Fred?" sahut Dee. "Janji apaan?" tanya Lucky. "Nonton Avenger The End Game, Freddy traktir tiketnya, heheheh" jawab Dee sambil merangkul bahu Freddy. "He.eh Ky, maaf ya... Pinjam Dee dulu" sambung Freddy sambil membalas rangkulan Dee. Melihat itu Hendrick mengeratkan rahangnya. "Oi... Tangan... Tangan!" seru Yetnu. Dee buru-buru menurunkan tangannya dari bahu Freddy, begitupun Freddy. "Ehem... Mau ikut sekalian Ky?" Tawar Freddy. "Boleh, seru juga nonton rame-rame" jawab Lucky. "Oke, aku beliin ticket dulu, kelihatannya bangku deretan kita masih kosong" Freddy mengambil ponsel dari sakunya dan membuka aplikasi ticket bioskop, lalu memesan dan membayarnya. "Done, besok ketemuan di rumah Dee lepas maghrib ya" seru Freddy. "Oke!" sahut teman-temannya. Tony melihat arlojinya, "Sudah hampir bel nih, balik kelas yuk!" ajaknya. "Iya yuk, habis ini kelasku pelajaran Akutansi, alamat nguantuk nih apalagi kenyang gini" ucap Freddy. "Halah, kamu kenyang ga kenyang pan juga ngantukan Fred!" goda Yetnu. "Embeeeeer!!!" sahut Dee dan Tony kompak. "Mana ada, aku tuh terlalu memperhatikan dan mendalami pelajaran yang disampaikan jadi kesannya kaya ngantuk gitu" Freddy mulai ngeles. "Wong edan!" ejek Tony "Emang gemblung dia!" sahut Yetnu. "Kurang sak ons" timpal Dee dan Hendrick bersamaan dan mereka semua tertawa, menertawakan Freddy yang cemberut. "Jahat kalian!" Freddy mulai drama dengan pura-pura sedih. "Dah tuuu, ku tinggal nih?" goda Yetnu. "Eh jangaaan...." jawab Freddy buru-buru bangkit, sambil memunguti sampah bekas makanannya lalu membuangnya di tempat sampah terdekat sementara teman-temannya sudah berjalan perlahan meninggalkan taman belakang. Di persimpangan lapangan tenis mereka berpisah, karena kelas mereka berbeda arah. "Kalian duluan, barusa aku dapat WA dari pak Danang buat ambil jadwal baru buat persiapan pertandingan." ucap Tony sambil menatap ponselnya. "Ya deh mas, jangan sampai telat masuk, ntar kena hukum sama pak Sabar" Dee mengingatkan. "Iya, sebentar tok kok" sahut Tony, buru-buru melangkahkan kakinya menuju ruang guru. "Yuk masuk kelas" ajak Hendrick seraya meraih tangan Dee dan menggandengnya. DEG.... DEG.... DEG.... Jantung Dee berdetak kencang, dipegangnya d**a kirinya, takut kalau-kalau jantungnya melompat keluar. Hal yang sama pun terjadi pada Hendrick, untuk menekan gejolak di dadanya, Hendrick meremas lembut tangan Dee yang jelas saja membuat Dee semakin merasa tak karuan. Sesampainya di pintu kelas Dee melepas pegangan tangan Hendrick, "A-aku ke toilet dulu mau cuci muka" ucap Dee gugup. " Ehem.... Aku juga mau ke toilet" ucap Hendrick. "O-Ok..." balas Dee buru-buru balik badan dan bergegas ke toilet. "Imutnya.... Kenapa Dee sering malu-malu gitu sih akhir-akhir ini, jadi bikin tambah imut dan bikin gemes" batin Hendrick. Dia mendesah kasar... "Sialan, jadi mikir aneh-aneh lagi" runtuknya lalu buru-buru menuju toilet pria. Dee membasuh mukanya, dilihat pantulan wajahnya di cermin. "Ya Allah.... kenapa merah gini" gumamnya, "Hendrick kenapa sih akhir-akhir ini gini banget ke aku" gumamnya lirih. "Hufh.... Hufh.... Atur nafas Diane.... Jangan sampai ada yangtahu perasaanku ke dia, cukup Yetnu, mas Tony dan kak Lucky saja yang tahu" Dee mengatur nafasnya perlahan. Setelah tenang, Dee melangkah keluar dari toilet. "Sudah?" Dee dikejutkan oleh Hendrick yang ternyata menunggunya di dekat toilet wanita. "Astaga Hend.... Mbok ya jangan ngagetin!" seru Dee sambil memengang dadanya. "Maaf Dee, ga sengaja... Yuk balik kelas" jawab Hendrick "Ah iya.... kirain kamu tadi duluan" ucap Dee sambil berjalan mendahului Hendrick. "Engga, tadi tanya Lusi, katanya kamu masih di dalam jadi ya kutunggu sekalian aja" jawab Hendrick sambil mensejajarkan langkahnya dengan Dee. Tapi Hendrick tidak menggandeng Dee, takut jantungnya kacau lagi dan ga bisa mengendalikan diri. "Makasih buat hari ini Dee." gumam Hendrick. "Makasih untuk apa?" tanya Dee bingung. "Makasih buat siapin aku sarapan tadi pagi, bikinin brownies dan siapin makan siang" ucap Hendrick tulus. "Oh, sama-sama, kamu juga kan sudah temani aku tadi malam" balas Dee. Merekapun tersenyum. "Besok pagi ada acara ga Hend?" tanya Dee. "Engga, paling nyuci sama beres-beres kamar aja habis subuh" jawab Hendrick, "Kenapa?" "Hmmm.... Jogging yuk, di lapangan sebelah kostmu" ajak Dee takut-takut. Nekad banget ih aku ngajakin Hendrick jalan berdua... Aaaargh.... pekik Dee dalam hati. "Boleh, aku jemput?" tanya Hendrick setelah mengiyakan ajakan Dee. "Eh, aku yang ajak ngapain dijemput, ya aku yang jemput kamu lah" sahut Dee geli. "Ga apa aku jemput, lagian kamu mau naik apa? Motor? Mana dibolehin sama bapak? Masa mau minta antar bapak?" goda Hendrick, karena dia tahu kalau Dee tidak pernah dibolehin naik motor sendiri oleh pak Edi, selalu diantar kemana-mana, saking protektifnya pak Edi ke putri satu-satunya ini. "Ehehehehe... Mau ojek online aja sih" jawab Dee sambil nyengir kuda. "Ngga... Ngga... Aku jemput aja besok, mau jogging jam berapa?" "Jam 6 an deh" "Oke... Jam setengah 6 aku dari rumah jemput kamu" jawab Hendrick dibalas senyuman manis oleh Dee. Mereka tiba di kelas tepat saat bel berbunyi. Tony sudah duduk di bangkunya. Melihat mereka berdua berjalan ke arahnya, Tony mengangkat sebelah alisnya. "Dari mana kalian? Kencan dulu?" goda Tony. "Mana ada!" jawab Dee malu-malu mendengar kata kencan, karena barusan dia mengajak Hendrick jogging berdua, bisa dibilang kencan juga kan? "Trus?" tanya Tony penuh selidik. "Dari toilet" jawab Hendrick singkat. "BERDUA???" pekik Tony. "Ya lain tempat lah mas, ga usah lebay napa?" omel Dee. "Oh, kirain berdua ke toilet" gumam Tony. "Ngeres!" omel Dee. "Ya kali aja Dee..." cengir Tony. "Kita ini masih kelas 2 SMU mas, jangan aneh-aneh deh pikirannya" gerutu Dee kesal. "Kamu kenapa, bro?" tanya Tony yang melihat Hendrick senyum-senyum. "Ga papa, geli aja lihat kalian ribut" jawabnya sambil memasang muka datarnya. Apaan sih ni orang, apa habis kesambet jin toilet ya, pikir Tony terheran-heran. Pelajaran Ekonomi berakhir setelah 90 menit dan bel tanda sekolah berakhir pun berbunyi, setelah pak Sabar keluar dari ruangan kelas, para siswa berhamburan keluar untuk segera pulang ke rumah. Saat hendak mengambil tasnya tiba-tiba ponsel Dee berbunyi, Dee melihat ID pemanggil yang ternyata ibunya. "Assalamu'alaikum bu, ada apa?" "Wa'alaikumsalam, sudah jalan pulang?" tanya bu Tuti. "Belum bu, lagi mau jalan ini, ada apa bu?" "Nanti kakakmu mau ke rumah to, pulang mampir ke toko sayuran dulua ya, beli apa gitu buat masak makan malam, ibu pulang agak sore soalnya ada tambahan kelas buat kelas 3" jawab bu Tuti. "Njih kanjeng ratu, hehehehe..." seloroh Dee. "Woooo... Gitu sama ibu awas yo kamu" balas bu Tuti sambil ketawa. "Hehehehe... Ibu kan ratunya kanjeng sultan Edi, wkwkwkwkwk" gelak Dee. Tony dan Hendrick yang mendengar ikut terkekeh. "Ya wes bu, tak pulang dulu keburu ga dapat apa-apa nanti, Assalamu'alaikum" "Wa'alaikumsalam, ati-ati nduk, oh iya, nanti Yetnu disuruh ke rumah juga ya." "Siaaaaap" Dee pun menutup teleponnya. "Kenapa Dee?" tanya Tony. "Ibu minta aku belanja buat makan malam karena kak Lucky dan kak Dika mau datang, dan minta Yetnu datang ke rumah juga." jawab Dee. "Wah, aku ga bisa antar Dee, ada pertemuan pengurus OSIS ini" ujar Tony. "Ya ga papa kali, ga ada yang minta antar juga, wkwkwkwk" gelak Dee. "Ya udah ku antar aja" sahut Hendrick. "HAH?" kaget Dee dan Tony bersamaan. "Iya aku antar, lagian aku sampai kos juga ga ngapa-ngapain." ucap Hendrick. "Ya udah diantar Hendrick aja Dee" ujar Tony. "Sekalian pedekate" bisik Tony lirih dan sukses membuat wajah Dee semerah tomat. "Ngawur mulutnya!" omel Dee "Hehehehe.... Ngawur tapi bener, wakakakaka....!" gelak Tony sambil ngeloyor pergi ke ruang OSIS. "Tunggu aku di gerbang ya, aku ambil motor dulu." pinta Hendrick sambil bergegas keluar kelas menuju parkiran tanpa menunggu jawaban Dee. Dee melangkahkan kaki keluar kelas sambil mengirim pesan w******p kepada Yetnu, memintanya datang malam ini dan dibalas OK oleh Yetnu. Sesampainya di gerbang, Hendrick sudah menunggunya di atas motor. "Pakai helm, aku pinjam punya Tony nanti habis antar kamu pulang aku balikin" Hendrick menyerahkan helm merah milik Tony. "Hend, sebetulnya aku sendiri...." "Naik!" potong Hendrick. "Ih, tukang paksa" omel Dee. "Maksa kamu kan ga rugi" goda Hendrick. "Ngaco!" omel Dee sambil tersenyum dan naik ke atas motor Hendrick. "Pegangan ya, ke toko sayur pojok jalan mba?" tanya Hendrick ala ala kang ojek. "Iya bang, tolong ya" jawab Dee sambil tertawa. Hendrick melajukan motornya perlahan menuju toko sayur pojok jalan langganan Dee dan ibunya. Sampainya di sana Dee dengan cekatan mengambil daging sapi, taoge pendek, kluwak, tempe, bumbu dapur, cabe rawit, daun bawang, dan daun jeruk. Dipilihnya telur yang berukuran besar dan menimbangnya sebanyak 2kg, lalu dia bergegas ke bagian ayam, diambilnya ayam giling sebanyak 250gram. Setelah itu Dee bergegas menuju kasir dan membayar semua belanjaannya. Hendrick menunggunya di atas motor. Melihat Dee keluar dari toko membawa barang belanjaan lumayan banyak dia turun dan membantu membawa dan menatanya di atas motor. "Masak besar Dee?" tanya Hendrick melihat banyaknya belanjaan Dee. "Engga, masak rawon aja sama bikin martabak telur" jawab Dee. "Nanti ga usah jajan Hend, aku kirim ke kost buat makan malam" ucap Dee. "Ga usah Dee, repot nanti" sahut Hendrick. "Kalau nolak, besok ga jadi aja deh ya" ancam Dee. "Eh, jangan dong... Ya deh ga nolak, kirim yang banyak sepanci pancinya ya" sahut Hendrick. "Hehehehe... beres bos, pulang yuk." ajak Dee. "Njih ndoro ayu" gurau Hendrick. "Hahahahaha...." gelak Dee. Hendrick pun melajukan motornya ke arah rumah Dee. Setelah membantu Dee memasukkan belanjaannya diapun berpamitan. Setelah berganti baju, Dee mulai sibuk berkutat di dapur, mulai dari mencuci dan merebus daging sapi, membuat kulit martabak, membuat isan martabak, membuat bumbu rawon, membuat adonan mendol, membuat sambal dan lainnya. Akhirnya tepat pukul 5:30 semua semua siap. Diambilnya termos untuk tempat sup dan box makan dari dalam lemari. Dee menuangkan rawon panas kedalam termos sup, menaruh taoge pendek, telur asin dan mendol juga sambal dan jeruk nipis di wadah kecil bersekat, tak lupa kerupuk udang pun dia pack dalam plastik. Lalu box karton dilipat dan dibentuknya untuk wadah martabak telur yang sebelumnya sudah dipotong-potong dan cup acar juga kuah kari untuk cocolan martabaknya. Setelah siap, Dee memfoto semuanya dan mengirimnya ke Hendrick sebelum dia memesan kurir makanan. "OTW ya Hend, dimakan walau rasanya ndak enak ,hehehehe" pesan Dee melalui w******p menyertai foto yang dia kirim. "Makasih Dee, kamu memang calon istri idaman" jawab Hendrick yang sukses bikin Dee melompat girang "Lebay!" jawab Dee singkat menutupi kegembiraannya. "Hehehehe... " kekeh Hendrick membaca balasan Dee. Hendrick menunggu kurir datang, tepat sebelum adzan Maghrib, sang kurir sudah tiba dan menyerahkan kiriman Dee. Hendrick segera membuka semua kiriman Dee, mengambil gambar dan mengirimkan foto itu untuk melalui w******p. "Sampai... Makasih banyak Dee..." pesan Hendrick sambil menyematkan emoji hati. "Sama-sama" balas Dee sambil senyum-senyum saat mengirim pesan itu. TRING.... Ponsel Dee berbunyi lagi, memperlihatkan adanya notifikasi i********:. Dibukanya notifikasi itu dan terlihat kalau Hendrick baru saja memposting sesuatu di sana. Dee membukanya dan di sana terlihat sebuah foto yang memperlihatkan semua makanan yang dia kirim ke Hendrick plus tangan Hendrick yang telunjuk dan ibu jarinya membentuk simbol hati. Captionnya menuliskan "Terima kasih kiriman makanannya sahabat kesayanganku" dengan ditambahkan dua emoji hati di sana. Dee tersipu malu, lalu Dee mengirim pesan untuk Hendrick melalui w******p. Dee : "Hend, kok diupload sih, malu tau" Hendrick : "Kenapa malu, enak kok masakanmu". Dee : "Nanti pasti ribut tuh Instagrammu" Hendrick : "Ga apa, aku senang kok." Dee : "Nanti malah ada gossip lho" Hendrick : "Biar saja, aku happy kok, hehehehe" Hendrick : "Tapi bakal banyak yang cemburu nih, terutama Freddy, hehehehe...." Dee : "Kok Freddy?" Hendrick : "Iya Freddy... hehehehe.... Lucky sudah datang?" Baru saja Dee mau membalas pesan Hendrick, tiba-tiba ponselnya sudah berpindah tangan. "Kak Lucky, balikin!" pekik Dee kaget. Lucky berlari sambil menekan tombol voice note, "Baru nyampe Rick, lu mau curi start ya?" gumamnya lirih. Ditunggunya sampai Hendrick membuka voice note nya lalu dia segera menghapus voice note itu. "Kok kamu Ky?" balas Hendrick. "Kak Kikiiiiii!!!" Dee mengejar Lucky sampai BRUK.... Tak sengaja dia menabrak Yetnu dan Dika yang baru masuk rumah. "Apaan sih kalian ini?" tanya Dika sambil memelototi Lucky. "Kak Dika, tuh kak Lucky ambil ponselku!" adu Dee pada Dika, kakak Lucky. "Balikin!" seru Dika dengan nada datar. "Ck... kakak ga seru, adik sepupu kesayangan kakak ini lagi kasmaran tau!" gerutu Lucky sambil menyerahkan ponsel Dee. "Mana ada, ga usah bikin gara-gara deh kak!" bentak Dee. Yetnu memberi isyarat pada Lucky untuk berhenti menggoda Dee, karena ada tanda-tanda Dee bakal ngamuk besar. Lucky yang melihatnya buru-buru minta maaf. "Bercanda Dee, maaf maaf" ucapnya. Didekatinya Dee dan merangkul bahunya. Dee diam saja tanpa bereaksi. "Kalian ni ada apa to, lama ndak ketemu, sekalinya ketemu mesti ribut karep e dewe*?" tanya pak Edi yang keluar dari kamar sambil menggendong Destri. "Mbok ya yang rukun kalau ketemu itu wong ya lama ndak ketemu" sambung bu Tuti. "Ndak ngapa-ngapain kok bu, mau makan sekarang?" Dee bangkit dari duduknya lalu melangkah ke meja makan. Diambilnya piring berisi martabak, acar dan kuah kari diletakkannya di nampan lalu dibawanya ke ruang tamu. "Whow... Martabak Aceh!" seru Yetnu seraya melirik Dee. Jadi Hendrick dapat martabak ini dari Dee, hmmmm.... pantes bikin martabak Aceh, tau juga dia makanan favorit Hendrick. Gumam Yetnu dalam hati. "Rawonnga tak panasi dulu bu" ucap Dee sambil berjalan balik ke dapur. DING!! Ponsel Dee berbunyi lagi, dilihatnya ada pesan masuk, lalu dibukanya, ternyata pesan w******p dari Freddy. "Deeeee, kok aku ga dikirimi rawon sama martabak sih??" tanya Freddy, ada emoji menangis di belakang pesannya. "Apaan sih Fred, itu tanda terima kasih doang karena tadi antar aku belanja. Kamu mau?" balas Dee Freddy : "Hehehehe... bercanda Dee, kapan-kapan aja bikinin aku bakwan jagung ya" Dee : "Itu aja? Yakin?" Freddy : "Yakinlah, kamu kan tahu kalau hidupku ga akan lengkap tanpa bakwan jagung" Dee terkekeh membaca balasan Freddy. Dee : "Siap bos, besok jangan telat jemput ya" Freddy : "Pasti dong teman tersayangku" Freddy menyematkan emoji smooch di belakang pesannya, membuat Dee geli sendiri. "Dee" suara Yetnu mengagetkan Dee. "Hmmm?" sahut Dee sambil menyalakan kompor. "Kamu ga ada rencana buat terus terang gitu ke Hendrick?" tanya Yetnu sembari membanti Dee menyiapkan piring dan sendok makan. "Enggak, gini aja sudah senang kok Nu. Jodoh juga kita ga tahu kan, ngikut arus aja deh, yang penting kita masih dekat dan jadi sahabat itu sudah cukup" jawab Dee. "Hhmmm... Kalau misalnya Hendrick dan Freddy sama-sama suka kamu, piye Dee?" tanya Yetnu penasaran. "Ya ndak piye-piye to Nu." jawab Dee sambil mengaduk rawon di panci. "Ya maksudku itu, kamu bakal pilih siapa?" desak Yetnu. "Idih kepo, hahahahaha" gelak Dee, "Ga akan pilih siapa-siapa, karena bakal bikin pecah hubungan kita to, aku ga mau gitu. Mending kaya gini aja." sambung Dee sendu. Yetnu menghela nafas panjang. "Yang terbaik buat kamu saja Dee" Yetnu mengusap kepala Dee, lalu berjalan menuju meja makan dan meletakkan peralatan makan dan menatanya rapi, kemudian dia kembali lagi ke dapur. 'Dibantuin apa lagi nih?" tanya Yetnu. "Bantuin makan saja nanti, hahahahah" jawab Dee sambil tergelak yang dibalas Yetnu dengan tabokan lembut di bahunya. Yetnu menemani Dee di dapur sambil bermain dengan ponselnya, lalu tiba-tiba... "Wuidih... pamer nih anak!" seru Yetnu. "Apaan sih Nu?" tanya Dee sambil mendekati Yetnu. "Nih si Hendrick, tumben dia post selain basket." Yetnu menyodorkan ponselnya ke arah Dee. Dee melihat kalau baru saja Hendrick mengupload foto lagi. Dalam foto itu tampak piring bekas makan, termos sup yang kosong dan piring martabak yang hanya tersisa 4 potong, mangkuk acar dan kuah kari. Dalam caption ditulis "Alhamdulillah, makan malam hari ini adalah makan malam ternikmat, walau hanya makan seorang-seorang saja, terima kasih kirimannya" ditambah emoji hati. "UHUK... UHUK..." Dee terbatuk-batuk "Lebay amat sih" gerutu Dee, tapi Yetnu bisa melihat binar kebahagiaan di mata Dee, dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dengan cepat dia menulis komentar di kolom komentar. "Pamer.... Pamer..." tulisnya, lalu ditekannya tombol kirim. Sesaat setelah komentarnya terkirim, muncul beberapa komentar yang kata-katanya sama persis, siapa lagi kalau bukan Freddy dan Tony, bahkan Lucky pun ikutan berkomentar dengan kata-kata yang sama. Yetnu tertawa kecil, lalu muncul lagi komentar dari Tony, "Wanjaaaay.... Komentar samaan, wkwkwkwkwk..." Yetnu semakin terkekeh geli. Ada-ada saja, tapi kemudian mata Yetnu menatap komentar Freddy, entah mengapa dia merasa kalau ada rasa sedih dan iri dalam komentar itu. "Hah.... semoga apa yang akan terjadi kedepannya itu memang yang terbaik buat mereka bertiga". Batin Yetnu. Malam itu, setelah sholat Isya, keluarga pak Edi makan malam bersama keponakan-keponakannya. Malam itu lebih ramai dari biasanya karena candaan Lucky dan juga Yetnu. Selesai makan malam dan mencuci piring, Dee duduk di teras sambil bermain game di ponselnya. Yetnu, Lucky dan Dika mengobrol bersama pak Edi, sedangkan bu Tuti tengah menidurkan Tama dan Destri. "Om, sudah jam 10 ini, kita mau balik dulu" pamit Dika. "Iya om, ini Uti sama Akung juga nanyain Yetnu balik jam berapa." sambung Yetnu. "Ya wes sana hati-hati, ntar tak bilangin ke tantemu" sahut pak Edi. "Pamit dulu om, Assalamu'alaikum" pamit mereka bertiga bersamaan sambil bergantian mencium tangan pak Edi. "Wa'alaikumsalam, hati-hati ya, om ndak nganter ke depan ya, ini kok tiba-tiba mules" balas pak Edi sambil meringis memegang perutnya. "Hehehe, iya ndak papa om, Dee juga di teras itu." sahut Lucky. Mereka pun beriringan keluar sementara pak Edi bergegas menuju kamar mandi. "Dee, balik dulu ya" ucap Dika menepuk lembut bahu Dee. "Lho, ngga nginep kak?" tanya Dee. "Engga, besok kakak harus keluar kota pagi-pagi, Lucky juga mau ke rumah Oma, lain kali aja nginepnya" jawab Dika. "Oh... " sahut Dee lalu melirik Yetnu. "Ga usah tanya deh, Uti sama Akung sudah ribut nyuruh balik" sahut Yetnu yang paham arti lirikan Dee. "Hehehehehe.... lupa aku kalau kau cucu kesayangan Uti sama Akung" ucap Dee cengengesan. "Besok kita jemput rame-rame habis maghrib, pake baju agak cewek dikit, jangan melulu pake jeans belel sama oblong kegedean!" seru Yetnu. "Besok mau pergi?" tanya Dika. "Nonton doang kok kak." jawab Dee, "Ribet amat sih, nonton doang gitu, lagian mana punya aku baju ciwi-ciwi" sungut Dee. "Besok kubeliin!" sahut ketiganya kompak. "Ogah!!!" jawab Dee. "Nih, besok buat beliin Dee baju sama apa kek buat dia dandan dikit, masa sepupu kesayangan kita mukanya *ngecumut gini?" Ucap Dika sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratusan ribu. Dee paling malas kalau disuruh pakai baju yang terlalu girly, apalagi berdandan. Dia ke sekolah pakai rok seragam saja terpaksa kalau bukan karena peraturan sekolah mana mau dia pakai rok. Tambah lagi dandan, pakai bedak saja ga pernah, hahahahaha.... "Mana ada ngecumut kak?"runtuk Dee. "Dah, nurut aja, besok habis dari rumah Oma aku belikan kau baju, biar Yetnu nanti yang bantu pilih, kamu tinggal pakai" sahut Lucky. "Kita pamit dulu Dee, buruan tidur! Assalamu'alaikum" pamit mereka. "Wa'alaikumsalam" sahut Dee "Tukang maksa!!!" gerutu Dee yang langsung masuk rumah dan mengunci pintunya. Setelah mematikan lampu ruang tamu, ruang makan dan dapur, Dee bergegas cuci muka dan menggosok gigi. Kemudian Dee bergegas ke kamarnya untuk tidur. Baru saja Dee merebahkan tubuhnya ke kasur, ponselnya berbunyi. Tampak notifikasi pesan w******p dari Hendrick. Hendrick : "Selamat tidur sahabat kesayanganku!" DEG.... Dee : "Kesayangan apaan sih?" Hendrick : "Ya kesayanganku lah, kesayangan kami semua!" Dee : "...." Hendrick : "Selamat tidur, Dee... Sampai ketemu besok pagi" Pesan Hendrick ditutup dengan emoji hati dan smooch yang sukses bikin jantung Dee melompat keluar dan wajahnya tersipu malu. Ahhh.... kenapa Hendrick seperti ini ya, apa dia ga takut kalau aku nanti salah paham.... Gumam Dee bingung. Perlahan dia memejamkan matanya, besok dia harus bangun pagi dan mempersiapkan sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD