"Mas, Maghrib duluan, gantian.... Habis itu kita makan!" seru Dee dari dapur, dia tengah menggoreng ayam.
"Okay, honey!" sahut Hendrick yang bergegas ambil air wudlu, sementara Dee masih sibuk menyiapkan makan malam, walau hanya tinggal menggoreng ayam saja.
Saat Hendrick sholat, Dee merapikan ruang tamu mungil milik Hendrick lalu menata satu persatu masakannya di meja pendek yang ada disana. Setelah semuanya siap, Dee menutupnya dengan tudung saji lipat, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk mandi singkat sebelum sholat maghrib.
Dee mengambil rok seragamnya dan memakainya, setidaknya dia harus berpakaian sopan saat beribadah.
Selesai mandi, Hendrick juga baru saja selesai sholat, lalu dia menyuruh Dee segera sholat karena waktu maghrib hanya sebentar.
Selama menunggu Dee sholat, Hendrick duduk lesehan di lantai ruang tamunya sambil memainkan ponsel, sedari tadi dia penasaran dengan ponsel Dee yang bebunyi dan menampakkan notifikasi w******p dari Freddy. Sebetulnya apa isi pesannya, tapi melihat banyaknya pesan, itu berarti Dee belum menyentuh ponselnya dari tadi.
"Makan dulu yuk mas, baru kita belajar," ajak Dee, dia melangkah ke dapur mengambil piring.
"Hmmm.... Sayang, ada w******p dari Freddy, nggak kamu buka dulu?" tanya Hendrick.
"Nanti, habis makan. Kata orang, harus mengutamakan kebutuhan suami dulu," jawab Dee serius.
"Su-suami?" tanya Hendrick gugup.
"Iya, kan bulan depan kita menikah, bukannya setelah kita menikah status kita jadi suami istri?" jawab Dee malu-malu.
Handrick mengetatkan rahangnya menahan sesuatu yang mendesak keluar sambil menatap mesra penuh kasih sayang ke arah Dee.
"Gemasnya.... Calon istriku memang the best," Hendrick merengkuh tubuh Dee ke dalam pelukannya, lalu mendaratkan kecupan ringan di kening, kedua pipi, hidung dam terakhir di bibir Dee.
"I love you, honey," bisik Hendrick di telinga Dee.
"I love you too my future hubby," balas Dee malu-malu, wajah Hendrick langsung memerah mendengar panggilan Dee padanya. Dieratkannya pelukannya pada tubuh Dee dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Dee.
"Honey.... Honey....," gumam Hendrick berkali-kali untuk menahan dirinya untuk tidak berbuat yang tidak-tidak pada Dee karena gemas.
Dee membelai punggung Hendrick dengan lembut.
"Makan dulu yuk mas, keburu dingin, kemalaman juga nanti nggak jadi belajar, ada PR juga kan buat besok," ajak Dee.
"Aku nggak ingin kamu pulang, sayang..." keluh Hendrick, "Sebulan kok lama amat ya... Haaaaah...." Hendrick menghela nafas panjang, kesal dan gelisah bercampur aduk.
"Sebulan itu sebentar mas, sabar aja lah, habis itu kan kita bisa tinggal sama-sama sampai kamu bosen," gurau Dee.
"Aku nggak akan pernah bosan sama kamu, sayang," gombal Hendrick sambil menggosokkan hidungnya di leher Dee, sehingga Dee memekik lirih.
"Ah... Mas, jangan gitu, nanti berdiri lagi pusing," pekik Dee, kesal dengan kemesuman Hendrick.
"Haaaaaaah..... Kalau belum resmi memang merepotkan, ini nggak boleh, itu nggak boleh, cuma bisa main sendiri pakai tangan," gerutu Hendrick yang bukannya melepaskan pelukannya tapi malah mempererat pelukannya, dan mulai menciumi leher jenjang Dee, membuat Dee berusaha keras menahan desahan agar tak keluar dari bibirnya.
"Sayaaaang.... Aku nggak mau lepas pelukan ini, tapi aku lapar," rengek Hendrick manja, sambil mulai menjilat leher jenjang Dee dan terus turun sampai tulang klavikula ( tulang selangka ), membuat Dee tak kuasa lagi menahan desahannya.
"Maaaaaash.... Hantikan," rengek Dee di antara desahannya, membuat kemaluan Hendrick berkedut dan menegang.
"Honey, your moan turned me on," bisik Hendrick nakal. Kecupan dan jilatannya bergerak turun sampai belahan d**a Dee yang menyembul dari sebalik kemeja yang tak dikancingkan semua.
"Maaaas, jangan... aaah.... maaas....," desah Dee menolak serangan Hendrick tapi tak sanggup melawan.
"Honey.... Darling....," gumam Hendrick sambil terus menjelajahi belahan d**a Dee, sementara tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemejanya yang dipakai Dee, setelah terbuka sampai perut, Hendrick melepaskan pelukannya, lalu kedua tangannya menyusup ke dalam kemeja dan mengangkat keluar p******a Dee yang lembut dan kenyal.
"Mas.... Jangan....," gumam Dee lirih, pandangannya berkabut, tertutup gairah yang tak tertahan.
"Hmmm.... Sedikit saja, sebentar saja sayang..." gumam Hendrick di tengah kegiatannya menciumi dan menjilati p******a Dee, membuat Dee semakin gusar dan tak sabar, tanpa sadar, tangannya terulur dan menyentuh putingnya sendiri yang sudah tegang sedari tadi. Erangan lirih berhasil lolos dari bibirnya.
"Aaaa....aaaah....." Hendrick kaget melihat Dee yang tiba-tiba proactive, dia menyeringai nakal.
"Nggak sabar ya sayang, sampai nekad sentuh sendiri, hm?" goda Hendrick sambil menyingkirkan tangan Dee dari putingnya sendiri.
"Maaas... Please..." desah Dee memohon.
"Please apa sayang?" tanya Hendrick sambil menggoda Dee, menghembuskan nafas hangatnya di dekat p****g Dee yang semakin menegang.
"Aaaah..... Please mas...... aaaah.... haaaaah...." erang Dee memohon pada Hendrick.
"Yang jelas dong sayang, please apa?" gumam Hendrick mendekatkan bibirnya ke p****g Dee, lalu dengan sengaja menjulurkan lidahnya lalu menjilati daerah di sekeliling p****g Dee tanpa ngenai p****g pink yang sudah menanti untuk dilahap.
"Nggggggghh..... Maaaaas.... ssssh....." erang Dee frustasi, matanya menatap sayu, mulutnya setengah terbuka dengan lidah yang nyaris keluar, nafas terengah-engah dan tak beraturan.
Melihat ekspresi kekasihnya yang menggoda, Hendrick sudah tak tahan lagi, dilahapnya p****g Dee dengan rakus, dan dimainkan menggunakan lidahnya.
"Hhhhhhhhggggggggggghhhhaaaaaahhhhh....." lenguh Dee panjang sesaar setelah lidah Hendrick menyentuh putingnya, dan cairan bening mengalir deras dari k*********a, Dee terkulai lemas di tangan Hendrick, tubuhnya berkedut beberapa kali sebelum akhirnya tenang.
Hendrick membaringkan tubuh Dee di sofa, ingin rasanya dia menyentuh kemaluan Dee dan memainkannya, tapi Hendrick menyadari, sekali dia menyentuh kemaluan Dee, maka bisa dipastikan dia tak sanggup menahan diri untuk tidak menerobosnya, jadi Hendrick berusaha keras untuk tidak memandangnya.
Setelah membaringkan tubuh Dee yang lemas dan pasrah, Hendrick melepas semua kancing kemeja yang dipakai Dee, kemudian dikeluarkannya pedang tumpul miliknya yang sedari tadi berteriak minta dibebaskan dari sarungnya.
Kemaluannya tegak berdiri dan berkedut kencang.
Hendrick menindih tubuh Dee, perlahan dia menggesekkan k*********a di perut Dee, Hendrick mendesah merasakan kelembutan kulita perut Dee, tangan kanannya memainkan p****g kiri Dee, membuat Dee menggelijang nikmat.
Hendrick tak mau egois, dia ingin Dee juga merasakan kenikmatan yang dia rasakan, dengan sedikit menunduk, Hendrick menjilati p****g Dee secara bergantian, mengulum dan menghisapnya perlahan, lidahnya menari lincah menggoda kedua p****g Dee membuat si empunya mendesah dan mengerang tak karuan, ditambah gesekan antara kemaluan Hendrick dan kulit perutnya, menambah sensasi yang aneh tapi nikmat. Erangan lirih dan desahan nikmat memenuhi seluruh ruang pavilion Hendrick.
Tiba-tiba Hendrick semakin buas menjilati dan menghisap p****g kekasihnya, membuat erangan Dee semakin keras, Hendrick juga semakin mempercepat gesekan k*********a di perut Dee. Tak lama, merekapu mengerang hebat bersamaan saat sama sama mencapai klimaks, Hendrick menyemprotkan cairan putih kental, sedangkan cairan bening mengalir deras dari kemaluan Dee seiring getaran hebat di seluruh tubuh Dee.
Hendrick melumat bibir Dee yang setengah terebuka karena nafasnya terengah-engah.
"Thanks honey, you are indeed my ecstasy," gumam Hendrick masih mengecupi bibir Dee.
"Mas.... Maaf, aku ngompol lagi, kenapa setiap kali kamu gituin aku selalu ngompol? Aku malu," gumam Dee lirih sambil memalingkan wajahnya, takut menatap Hendrick.
Kening Hendrick berkerut.
"Sayang, itu bukan air seni, itu cairan o*****e wanita, jadi nggak usah malu, jarang ada perempuan yang bisa seperti itu satu dari seribu, aku senang kamu bisa seperti itu, lagian kamu sensitif banget, cuma dimainin ini bisa langsung o*****e," jelas Hendrick sambil mengecupi p******a Dee.
"Ah, jadi itu yang namanya o*****e, ternyata enak ya?" gumam Dee malu-malu.
"Memang, apalagi kalau sudah masuk, lebih enak lagi, sayang," goda Hendrick sambil terus mengecupi p******a Dee.
"Masa? Katanya sakit?" tanya Dee tak percaya.
"Besok kita coba saat wedding night ya," bisik Hendrick di telinga Dee, membuat Dee tersipu malu dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Hendrick bangkit dan menggendong Dee ke kamar mandi,
"Mandilah, aku bersihkan ruang tamu dulu, sudah masuk isya, habis sholat kita makan, ya," ucap Hendrick sambil mendudukkan Dee di atas closet duduk.
"Hmmm.... " sahut Dee lirih.
Setelah mengecup kening Dee, Hendrick beranjak keluar kamar mandi, lalu mengambil kain lap dan juga air untuk membersihkan sofa dan lantai.
Beruntung sofanya terbuat dari bahan kulit jadi tak sampai basah lapaisan dalamnya. Sambil membersihkan, dia membayangkan besok jika sudah menikah dan benar-benar melakukan s*x, Dee akan selalu membanjiri kamar mereka. Seulas senyum m***m terlukis di bibir Hendrick, setelah selesai membersihkan sofa, Hendrick mengambil ponselnya dan segera memesan sprei waterproof banyak-banyak lengkap dengan selimut dan bed covernya.
Kemudian dia mencari informasi kontrakan sederhana yang sedikit lebih besar demi kenyamanan mereka nanti setelah menikah.
Saat sedang asyik melihat-lihat info kontrakan, Dee keluar daru kamar mandi dengan hanya berbalut handuk, lalu segera melangkah ke jemuran belakang untuk menjemur celana dalamnya yang basah, namun belum lagi sampai ke pintu belakang, Hendrick menahannya.
"Jemur celana dalam?" tanya Hendrick.
"Iya, harus kering, aku nggak ada ganti, masa ya nggak pakai?" jawab Dee tertunduk malu.
Hendrick menelan ludah susah payah.
"Aku yang jemur, belakang nggak ada sekat, orang sebelah sering duduk-duduk di belakang, nanti lihat kamu cuma begini, bisa gawat," sahut Hendrick sambil mengambil celana dalam Dee dari tangannya, lalu bergegas menjemurnya. Swlwsai menjemur, Hendrick masuk ke kamar dan melihat Dee tengah mencari baju untuk dipakainya.
"Habis mandi aku belikan celana dalam dulu, tunggu ya sayang," seru Hendrick yang segera bergegas mandi, setelah mandi dan sholat isya, Hendrick langsung menuju sebuah butik kecil di dekat kosnya. Malu-malu dia memilih celana dalam dan bra untuk Dee, dia juga membelikan midi dress berwarna coklat s**u berlengan setali dan juga bermotif bunga-bunga kecil.
Saat akan membayarnya, sang kasir menggoda Hendrick.
"Buat pacarnya mas?" tanya sang kasir.
"Istri," jawab Hendrick singkat.
"Mainnya ganas ya, sampai baju dan dalamannya disobek?" gurau sang kasir.
"Ehem, pe-pengantin baru mba," jawab Hendrick sambil buru-buru menyerahkan uang 250.000 rupiah untuk membayar.
"Main yang halus kalau sama perawan, kasihan kalau main kasar, mas," kekekh sang kasir sambil menyerahkan baju yang dibeli Hendrick berikut kembaliannya.
"Makasih mba," Hendrick buru-buru pergi meninggalkan butik itu dan kembali ke kosnya.
Dee menunggu di kamar, memakai kemeja Hendrick yang kebesaran, dia ketiduran.
Hendrick masuk kamar dan kaget melihat Dee yang tertidur pulas, kemejanya yang hanya sebatas p****t tak mampu menutupi tubuh Dee bagian bawah yang tak tertutup sehelai benangpun.
Pantat k*********a terlihat jelas, Hendrick memejamkan mata mendekati ranjang lalu meraba-raba meraih selimut dan menutup tubuh Dee bagian bawah, setelah itau, barulah Hendrick duduk di tepi ranjang dan membangunkan Dee.
"Sayang, bangun.... ganti baju dan kita makan malam dulu," bisik Hendrick di telinga Dee.
Dee menggeliat, lalu tangannya terangkat dan memeluk Hendrick.
"Mas," gumam Dee manja.
"Hm? Ganti baju, aku belikan dress, biar murah, tapi lebih baik ketimbang pakai kemejaku," bisik Hendrick.
"Kemeja mas nyaman kok," sahut Dee sambil mengeratkan pelukannya.
"Tapi terlalu sexy, terlalu menggoda. Cewek kalau pakai kemeja cowoknya itu kesannya ingin menggoda si cowok biar mau gituan sama dia," gurau Hendrick.
"Iya kah? Aku nggak tau, tapi kan goda kamu nggak apa-apa," sahut Dee masih malas melepas pelukannya.
"Takutnya aku khilaf malah kamu jebol sebelum nikah, gimana?" tanya Hendrick menakut-nakuti.
"Iyaaaaa.... Mana bajunya, aku ganti dulu, trus sholat, makan dan pulang," ucap Dee setengah ngedumel.
"Kok pulang?" protes Hendrick.
"Udah jam segini, mas. PR pun belum kita kerjain, gara-gara mas ngajakin m***m," omel Dee.
"Kamu juga suka kan?" sahut Hendrick gemas, lalu dia melumat bibir Dee dengan lembut.
Setelah beberapa saat dia melepasnya.
"Buruan ganti baju, trus makan, sebelum aku makan kamu, sayang," ancam Hendrick.
"Iya.... iya," Dee bangkit dan beranjak turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk memakai baju yang Hendrick beli dan mengambil air wudlu.
"Sayang, aku beli air mineral dulu ya di depan, habis soalnya," seru Hendrick sambil bergegas keluar hendak beli air mineral.
"Iya mas, hati-hati," sahut Dee dari dalam kamar mandi.
"Okey, honey..." Hendrick segera keluar dan mengendarai motornya menuju mini market dekat kosnya.
Sesampainya di rumah, Dee baru saja selesai sholat isya dan keluar menuju ruang tamu, Hendrick terpana melihat Dee dalam balutan dress yang dia beli tadi.
Lekuk tubuh Dee yang sangat indah pas sekali dengan design dress itu, dan belahan d**a Dee nampak menyembul sexy, entah karena designnya seperti itu atau karena d**a Dee terlalu berisi dan lingkar d**a dress itu tak sesuai.
Hendrick menghampiri Dee dan memeluknya.
"Cantik," bisik Hendrick.
"Iya kah? Designnya aneh, dadaku kaya mau tumpah keluar," keluh Dee dengan polosnya.
"Sexy kok, tapi ini cuma boleh buat di sini lho ya, nggak boleh buat main keluar," perintah Hendrick galak.
"Haish, siapa juga yang mau pergi-pergi pakai baju nggak sopan gini, mas?" omel Dee.
"Hehehehe.... iya," sahut Hendrick, dikecupnya kening Dee dan mengajaknya duduk di sofa.
"Makan yuk, mas sudah lapar banget," ajak Hendrick.
"Hm, siapa suruh m***m pas tadi mau makan?" omel Dee, tangannya dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk Hendrick.
"Makasih sayang, kembulan aja ya, sini aku suapi," ucap Hendrick mulai memulung nasi dan lauk lalu disuapkannya ke mulut Dee.
Dee menurut saja, karena merasa nyaman dimanjakan oleh Hendrick.
"Enak, sayang.... Besok kalau sudah lulus kita buka resto atau katering kecil-kecilan ya, sambil kuliah," usul Hendrick.
"Iya mas, rencananya mau buka bakery, udah rencana sejak kelas 1 dulu sih, tadinya aku rencana pagi sekolah sorenya bikin pesanan kue, tapi dimarahin sama bapak, soalnya ngganggu belajar," sahut Dee.
"Iya, bapak bener, besok aja kalau kita sudah lulus, aku sudah cari kontrakan yang agak besar biar kita bisa nyaman setelah nikah," ucap Hendrick kembali menyuapkan makanan ke mulut Dee.
"Tinggal di rumah aja kenapa mas? Daripada ngontrak, kan kita belum kerja, belum cukup uang, nggak enak kan minta uang ke orang tua," usul Dee.
"Enggak enak sayang, sama bapak ibu, kalau cuma buat bayar kontrakan aku ada tabungan, tenang aja." tolak Hendrick halus.
"Hmm.... Nurut gimana baiknya deh," sahut Dee.
Mereka melanjutkan makan dan membicarakan rencana masa depan mereka.
Selesai makan dan membereskan sisa makanan dan menyimpannya di kulkas, Dee mengeluarkan buku Fisika lalu mulai mengerjakan PR yang diberikan, karena masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum tiba waktu Hendrick mengantarnya pulang. Hendrick ikut duduk dan mengerjakannya bersama Dee.
"Besok kesini lagi ya," pinta Hendrick.
"Tapi nggak pakai m***m ya," rajuk Dee manja.
"Hehehe, iya deh," jawab Hendrick sambil tersenyum nakal.
"Mau makan apa besok?" tanya Dee.
"Kan masih ada lauk yang belum di goreng sama sambal, bikin sayur asem enak kayanya, sayang," usul Hendrick.
"Hm, boleh," jawab Dee sambil sibuk menuliskan jawaban soal-soal di bukunya.
Masih tersisa 15 menit waktu sebelum Hendrick mengantar Dee pulang, Dee mengambil ponselnya dan melihat ada pesan dari ibunya, Lucky, Dika dan juga Freddy.
Pertama dibukanya pesan dari sang ibu.
'Nduk, pulang nanti jangan kemalaman, adik-adikmu ada di rumah uti, ibu sama bapak melayat ke rumah teman sekolah bapak di Sidoarjo, mungkin ibu sama bapak pulangnya besok habis subuh. Tapi kamu ndak boleh nginep di kos Hendrick lho ya, harus pulang!'
pesan ibunya.
'Iya bu, ini udah mau balik kok, ibu sama bapak ati-ati ya,' balas Dee.
Kemudian dia membuka pesan Lucky dan Dika yang isinya sama, menyuruhnya ke rumah mereka karena ibu bapaknya pergi, tapi segera ditolak oleh Dee, karena jauh.
Kemudian dia membuka pesan dari Freddy yang ternyata sudah mengiriminya pesan sejak sore tadi.Terbesit rasa bersalah karena mengabaikan pesan Freddy.
'Dee, mungkin besok aku sudah boleh pulang,'
'Sudah nggak sabar pengen ketemu kamu,'
'Pengen ngobrol sama kamu,'
'Tapi aku punya feeling nggak enak, saat masuk sekolah besok ada kabar yang mengejutkan,'
'Aku jadi takut masuk sekolah,'
pesan Freddy, seolah bisa merasakan kalau Dee dan Hendrick sudah jadian.
Entah kenapa Dee merasa cemas, takut dengan apa yang dikatakan Tony dan Yetnu jadi kenyataan.
'Besok ku jemput ya saat discharge, sama teman-teman yang lain,'
balas Dee.
"Mas, nanti rumah kosong, ibu sama bapak melayat ke Sidoarjo," ucap Dee.
"Sendiri di rumah?" tanya Hendrick.
"Iya, tapi tetep disuruh pulang sama ibu, nggak boleh tidur sini," jawab Dee malu-malu.
"Iya, aku tau kok," sahut Hendrick sambil mengacak rambut Dee.
"Mas mau tidur di rumah?" tanya Dee tiba-tiba.
"Mau aja, tapi takut digoda sama setan trus khilaf," jawab Hendrick sambil memeluk Dee.
"Ya jangan khilaf to," sahut Dee sambil merapikan bukunya dan memasukkan seragamnya ke dalam tas setelah melipatnya rapi.
"Kamu ingin aku temani di rumah?" tanya Hendrick.
"Kalau mas nggak keberatan, kalau keberatan ya nggak usah, antar aja langsung balik," jawab Dee malu-malu.
"Mulai manja ya sekarang," goda Hendrick.
"Nggak boleh ya?" gerutu Dee.
"Boleh pakai banget," jawab Hendrick, "Sebentar, aku ambil seragam sama buku buat besok," sambung Hendrick yang bangkit masuk ke kamarnya untuk mengambil seragam sekolahnya untuk besok pagi.
Setelah mengemas buku pelajaran untuk besok pagi, Hendrick mematikan lampu kamar, dapur dan ruang tamu.
"Yuk, pulang sekarang," ajak Hendrick sambil meraih tangan Dee dan memggandengnya keluar, setelah memakai sepatu, Hendrick memakaikan jaket dan helm untuk Dee dan membantunya naik ke atas motor, setelah itu barulah Hendrick naik dan menyalakan motornya, lalu melajukannya perlahan menuju rumah Dee.
Tak sampai 15 menit mereka sudah tiba di depan rumah Dee, setelah membuka gerbang, Dee membukakan garasi dan meminta Hendrick memasukkan motornya ke dalam garasi yang bersama dua motor lainnya, milik ibunya dan juga miliknya yang sangat jarang dipakai.
Lalu Dee membuka pintu tembus yang ada di dalam garasi yang langsung mengarah ke dapur. Setelah melepas separu dan menyimpannya di rak sepatu, Dee melangkah ke kamarnya diikuti Hendrick.
Dee meletakkan tasnya di lantai kamarnya lalu mengeluarkan seragamnya dan meletakkannya ke dalam keranjang pakaian kotor untuk dicucinya besok pagi.
Hendrick melangkah keluar dari kamar Dee menuju ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Dee mengernyitkan keningnya, lalu menyusul Hendrick ke ruang tamu.
"Mas ngapain di sini?" tanya Dee.
"Mas tidur di sini, sayang," jawab Hendrick.
"Tidur di kamar, nggak boleh di sini," larang Dee.
"Bahaya, sayang. Nggak apa-apa aku tidur di sini," sahut Hendrick sambil meremas tangan Dee.
"Kalau gitu aku juga tidur di sini saja sama mas," balas Dee kesal.
"Hah.... Ya udah, aku tidur di kamar sama kamu, sana ganti baju dulu, biar enak tidurnya, pakai piyama ya, jangan daster kaya waktu itu," ucap Hendrick akhirnya mengalah, dalam hati dia berdoa agar dikuatkan imannya.
"Hmmm, aku ganti baju dulu mas," sahut Dee sambil melangkah masuk kamarnya lagi.
Setelah 10 menit, Hendrick menyusul Dee masuk ke kamar, dilihatnya Dee yang sedang duduk di depan meja rias mungil, tangannya sibuk mengoleskan krim di wajahnya. Hendrick menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang.
"Kamu cantik walau tanpa harus pakai make up atau skin care, sayang," pujinya sambil mengecup leher Dee.
"Mulai belajar ngerawat diri, biar aku nggak buluk dan kamu ngga cari cewek yang lebih segar," sahut Dee.
"Mana ada buluk, bening gini, sexy pula, hatinya juga baik, kurang apa coba, kurang bersyukur banget kalau sampai aku cari cewek lain," balas Hendrick tulus, "Lagian mana ada sih yang lebih baik dari kamu, sayang? Dan satu lagi, yang bisa buat juniorku tegang cuma kamu," sambung Hendrick, diraihnya dagu Dee lalu menariknya perlahan agar menghadap ke arahnya, kemudian dikecupnya bibir Dee dengan lembut.
"I love you so much honey," gumam Hendrick.
"I love you too dear," balas Dee.
Hendrick mengangkat tubuh Dee dan menggendongnya ke arah ranjang, lalu meletakkan tubuh Dee perlahan di atas ranjang.
"Tidurlah," Hendrick menyelimuti Dee, kemudian di berbaring di sebelah Dee dan mereka saling berhadapan.
Tangan Hendrick membelai lembut kepala Dee, sebenarnya dia ingin sekali memeluk dan mencumbui Dee sebelum tidur, tapi dia sadar, sekalinya dia melakukan itu, bisa dipastikan apa yang terjadi selanjutnya.
"Goodnight, honey," ucap Hendrick sambil mengecup kening Dee.
"Goodnight, hubby," balas Dee, perlahan memejamkan matanya, tangan Dee meraih lengan Hendrick dan memeluknya, Hendrick tersenyum dan segera ikut memejamkan matanya. Mereka berduapun segera terlelap dan terhanyut dalam dunia mimpi.
Chapter 20 ~end~