Pukul 16:30 Dee menggeliat bangun, saat membuka matanya dia melihat Hendrick menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Sudah bangun, honey?" sapa Hendrick sambil mengecup kening Dee.
"Hmmmm.... Sudah bangun dari tadi mas?" tanya Dee dengan suara khas bangun tidurnya yang menggoda.
"Lumayan, yang di bawah juga bangun karena ada tangan cantik yang iseng usap-usap dia," jawab Hendrick sambil menyentuh tangan kanan Dee yang tak sengaja mengusap usap k*********a dari luar celananya, wajah Dee memerah seketika.
"Maaf mas, aku nggak sengaja, kayanya aku mimpi aneh deh," gumam Dee malu-malu.
"Mimpi apa hm?" goda Hendrick.
"Nggak tau ah," sahut Dee yang bersungut-sungut memalingkan wajahnya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Hendrick.
"Hehehe.... Honey bee, jangan ngambek ah," Hendrick memeluk pinggang Dee dari belakang. Tangannya mulai usil merayap naik dan membelai p******a Dee yang bebas tanpa bra, Dee menggigit bibirnya untuk menahan desahannya agar tak keluar dari bibirnya.
Tangan Hendrick tak berhenti sampai situ saja, jari jemarinya mulai usil mempermainkan p****g p******a Dee, dipelitir, ditekan dan disentil beberapa kali hingga kedua p****g Dee mengeras, Dee masih menggigit bibirnya untuk memahan desahan dari mulutnya, tapi saat Hendrick menyelipkan dan menggesekkan k*********a di antara kedua paha Dee, akhirnya desahan itu keluar juga.
"Aaaah.... Mas..." desahnya
"Hmm... Aah.... Honey..." Hendrick memejamkan matanya menikmati pijatan yang dihasilkan dari menggesekkan k*********a di antara kedua paha Dee, rasanya benar-benar membuat Hendrick melayang.
Beruntung Dee hanya memakai kemejanya yang kebesaran, jadi tak ada hot pant yang menghalangi kulit paha Dee dan k*********a.
Tak puas hanya memainkan p******a Dee dengan tangan, akhirnya Hendrick mencabut k*********a dari sela paha Dee, lalu membalikkan tubuh Dee hingga terlentang.
Disatukannya kedua kaki Dee dan memiringkan kedua kaki Dee ke kiri, kembali dia menyelipkan k*********a di antara kedua paha Dee dan mulai menggeseknya lagi, sementara bibirnya sibuk melumat bibir Dee yang mendesah karena getaran aneh yang ditimbulkan karena gesekan kedua pahanya dan kemaluan Hendrick.
Puas bermain bibir Dee, bibir Hendrick bergerak turun dan mengecupi p******a Dee yang sudah terpampang tanpa penghalang di depannya, kemeja yang dipakai Dee sudah raib entah kemana. Dua bongkahan p******a Dee bergoyang mengikuti irama gesekan kemaluan Hendrick di antara paha Dee. Gemas melihat godaan kedua p******a kekasihnya, Hendrick dengan rakus menjilat dan menghisap p****g p******a Dee yang sudah mengeras.
Erangan nikmat keduanya menggema memenuhi kamar 3x4 meter itu, Dee mencengkeram sprei yang sudah terlipat sana sini.
"Aaah... Mas... Aaah.... Aaaah...," desah Dee tak karuan menerima serangan mulut Hendrick di kedua putingnya.
Irama gesekan Hendrick semakin cepat, mulutnya mengerang diantara aktivitasnya menjilati p****g p******a Dee, dan akhirnya terdengar erangan panjang dari mulut keduanya bersamaan dengan semburan cairan putih kental dari kemaluan Hendrick dan juga lelehan cairan bening dari kemaluan Dee.
Mereka mencapai o*****e bersamaan. Hendrick mencabut k*********a dari sela-sela paha Dee kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah kanan tubuh Dee yang hanya berbalut celana dalam.
Hendrick meraih selimut tipis dengan kakinya, lalu menutupi tubuh Dee yang masih berkedut dengan selimut itu.
"Honey, all part of your body indeed amazing," puji Hendrick seraya memeluk dan menciumi wajah Dee dengan harapan bisa menenangkannya dari gelombang kenikmatan yang masih Dee rasakan.
"Aku nggak sabar buat bobol gawang sebulan lagi, pasti rasanya lebih daripada amazing," goda Hendrick.
"Punyamu besar banget mas, aku takut kalau sampai masuk pasti robek punyaku," sahut Dee ngeri.
"Nggak akan sayang," Hendrick membelai rambut Dee.
"Benar kata mas Tony kalau kamu tuh nggak bisa nahan nafsu," gerutu Dee.
"Aku gini juga cuma sama calon istriku, nggak sama cewek lain," Hendrick membela diri.
"Tetap aja mas, mana bohong lagi ke mas Tony, bilang bisa tahan diri, la ini apa coba?" omel Dee sambil menunjuk cairan kental yang menempel di lengannya.
"Tahan diri buat nggak jebol kamu, honey. Sebetulnya aku sudah nggak tahan buat jebol gawangmu, tapi aku masih bisa tahan, demi wedding night kita," sahut Hendrick, tangannya kembali usil meremas p******a Dee dari balik selimut.
"Mas, sudah.... Aku nggak mau lagi, udah jam segini, harus beres-beres sebelum yang lain datang, kamu mau kena amukan mas Tony kalau dia lihat semua ini?" omel Dee sambil bangkit dan mendorong Hendrick.
"Iya iya.... Nggak usah marah-marah, mas cuma godain kamu aja kok," sahut Hendrick sambil mengecup pipi Dee.
"Mandi sana, aku ganti sprei dulu," seru Dee.
"Kamu aja mandi dulu, udah telanjang gitu, biar aku yang ganti sprei nya," Hendrick turun dari ranjang, memasukkan kemabali k*********a ke dalam celana lalu membopong Dee ke kamar mandi dan mendudukkannya di atas kloset duduk, lalu dia keluar dan menutup pintu kamar mandi.
Hendrick melepas sprei dan sarung bantal guling, kemudian menggantinya dengan yang bersih, dilipatnya sprei kotor itu dan dimasukkannya ke dalam laundry bag, kemudian mengantarkannya ke kios laundry yang berada di sebelah kostnya.
Saat Hendrick kembali, Dee baru keluar dari kamar mandi dengan berbalut bathrobe. Hendrick memeluknya dan mengendusi aroma tubuh Dee yang segar sehabis mandi.
"Gantian mandi mas, aku siapkan bajunya," seru Dee sambil mendorong tubuh Hendrick memasuki kamar mandi.
"Honey, nanti pulang ke rumah?" tanya Hendrick sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Iya, kan kosong, mas mau tidur di rumah lagi?" tanya Dee.
"Ehem, lihat nanti ya sayang," jawab Hendrick seolah enggan, membuat mood Dee berubah menjadi buruk.
"Nggak usah aja kalau gitu, aku juga biasa sendiri kok," sahut Dee yang bergegas masuk ke kamar dan menutup pintu agak keras.
Hendrick melongo, maksud hati menggoda Dee malah bikin ngambek.
Hendrick menghela nafas panjang. Ditutupnya pintu kamar mandi dan diapun segera mandi sebelum membujuk Dee.
Setelah selesai mandi, Hendrick langsung masuk kamarnya, tapi dia kaget karena Dee tak ada di dalam kamar, Hendrick mencarinya di dapur dan di jemuran belakang juga tidak ada.
Buru-buru dia memakai pakaian yang sudah Dee siapkan di atas ranjang lalu segera keluar mengecek teras, tapi Dee juga tidak ada di sana.
Panik, Hendrick segera memakai slippernya lalu berlari keluar komplek kostnya untuk mencari Dee.
"Rick, ngapain?" panggil seseorang yang ternyata tetangga kost Hendrick.
"Ah, cari seseorang," jawab Hendrick sekedarnya.
"Cari cewek sexy berambut sepinggang yang keluar dari kamarmu?" tanya cowok itu lagi.
"Iya," jawab Hendrick sambil melotot tak suka karena tetangganya pasti menikmati tubuh dan wajah Dee dengan matanya.
"Oh, tadi dia jalan ke arah sana," seru si tetangga, sambil menunjuk ke arah lapangan tempatnya dan Dee biasa jogging.
"Dia siapa? Cantik dan sexy banget, kalau boleh kenalin ke aku dong, udah jomblo seminggu nih, nggak ada yang diajak enak-enak di kamar," sambung tetangga Hendrick sambil menyeringai m***m, bahkan Hendrick bisa melihat air liurnya yang hampir menetes.
"Calon istriku, thanks infonya bro," jawab Hendrick kesal lalu segera berlari ke arah lapangan.
Tetangga Hendrick hanya melongo mendengar jawaban Hendrick.
'Calon istri? What the f**k, anak SMA udah punya calon istri? Cantik dan sexy pula, bikin cowo auto ngaceng lihatnya,' batin tetangga Hendrick sambil mengelus juniornya yang tegang karena membayangkan Dee.
Hendrick sampai di lapangan dan matanya nanar mencari keberadaan Dee, namun nihil, Dee tak nampak di mana pun.
Hendrick berjalan mengelilingi lapangan sebanyak dua kali tapi Dee sama sekali tak terlihat, putus asa, dia kembali ke kost berniat mengambil ponsel untuk menghubungi Dee, betapa terkejutnya saat tiba di gerbang kost, dia meliahat Dee tengah ditarik paksa oleh tetangga kostnya agar mau masuk ke dalam kamarnya. Dee memberontak dan berteriak ketakutan, matanya memerah dan berkaca-kaca, Hendrick meradang lalu berlari menghampiri mereka berdua.
"Hey, mau kau apakan calon istriku?" bentak Hendrick sambil melepaskan tangan Dee dari cengkeraman tetangga kostnya.
"Yow, jangan salah paham bro, gue cuma mau ajak calon lo masuk ke dalam karena kamar lo dikunci, kasian cewek sesexy ini kalau nunggu lo di luar, kedinginan, mending nunggu di kamar gue kan anget," jawab tetangga Hendrick sambil menyeringai seram. Lidahnya menjulur dan menjilat bibirnya sendiri dengan menjijikkan.
"Kamu pikir dia perempuan yang bisa menghangatkan ranjang setiap lelaki yang menginginkannya? Calon istriku adalah perempuan baik-baik," bentak Hendrick, suaranya keras dan berat sehingga mengundang tetangga kostnya yang lain keluar dari kamar mereka.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria dewasa yang kamarnya berada di sebelah Hendrick.
"Nggak ada apa-apa, aku cuma nawarin cewek Hendrick masuk kamarku karena kamar Hendrick dikunci, kan kasihan di luar dingin, kalau di kamarku kan hangat," jawab si pria c***l.
"Kamu pikir Dee perempuan yang bisa digilir sana sini?" bentak Hendrick kesal, Dee sembunyi di pelukannya dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ajak masuk ke dalam, kasihan dia ketakutan," seru pria dewasa tetangga Hendrick.
"Thanks, bro," sahut Hendrick, lalu dia melempar pandangan menusuk ke arah pria c***l, "We're not done yet!" ancam Hendrick yang hanya dapat cibiran dari si pria c***l.
Hendrick membawa Dee masuk ke dalam, dilihatnya di teras ada plastic bag berisi detergent, pewangi, sabun cuci, cairan pembersih lantai dan beberapa makanan ringan dan juga dua mangkuk styrofoam bakso kesukaannya.
Jadi Dee tadi beli itu semua? batin Hendrick.
Setelah Dee masuk dan duduk di sofa, Hendrick membawa masuk belanjaan Dee lalu menutup pintu. Hendrick melihat Dee berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintunya perlahan.
"Honey...." panggil Hendrick.
"Sebentar mas, aku mandi, jijik dipegang-pegang sama orang itu tadi," sahut Dee dari kamar mandi dengan setengah terisak.
"Honey!!!" Hendrick menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
Hati Hendrick terasa tertikam ribuan belati mendapati Dee yang terduduk di lantai kamar mandi dengan pakaian basah kuyup karena terguyur air shower.
"Honey, apa yang kau lakukan," teriak Hendrick seraya mematikan keran shower.
"Dirty and disgusting," gumam Dee di sela isakannya sambil menggosok kedua pipi dan pergelangan tangannya. Hendrick bertanya-tanya apa yang dilakukan tetangganya pada Dee sampai Dee menjadi seperti ini.
"Honey, apa yang terjadi?" tanya Hendrick hati-hati.
"Mas, dia mencium pipiku, menjijikkan sekali," isak Dee sambil mengusap kasar pipinya sampai memerah.
Rahang Hendrick mengetat, tangannya mengepal erat.
Namun saat ini dia hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, dia harus menenangkan Dee dulu.
"Honey, hentikan ini, jangan lagi menggosoknya, kau bisa terluka, biarkan aku menghilangkan bekasnya," gumam Hendrick, tangannya menahan tangan Dee, lalu Hendrick mulai mengecup pipi Dee dengan lembut beberapa kali, lalu perlahan Hendrick melumat bibir Dee dan mencecapi rasanya sampai mereka kehabisan nafas.
"Berhentilah menangis, honey, akua akan urus dia nanti, sekarang berganti pakaianlah, sebentar lagi maghrib kan, aku panaskan bakso yang tadi kau beli dan kita makan sama-sama ya, sayang?" bujuk Hendrick sambil membantu Dee berdiri. Dengan cepat diraihnya handuk dari gantungan, lalu Hendrick membantu Dee melepas semua bajunya yang basah kuyup karena tersiram air tadi.
Tanpa disadari, Dee sudah tak memakai apapun lagi, Hendrick menatap tubuh Dee tak berkedip, darahnya berdesir kencang, sesuatu di bawah bangkit dan mengeras, nafasnya memburu, sementara Dee yang baru tersadar langsung meraih handuk di lengan Hendrick dan segera membalut tubuhnya.
"Ah, ho-honey... pakai baju dulu ya, aku.... aku.... Hm.... kau tau kan?" Hendrick mendorong Dee perlahan keluar dari kamar mandir dengan gugup.
"Mas, aku bisa...." Dee hendak menawarkan diri untuk membantu Hendrick tapi segera dicegah Hendrick karena keadaan Dee yang baru saja shock ditambah dia sama sekali tak memakai apapun, hanya handuk, siapa yang bisa menjamin kalau Hendrick tak akan menerkamnya dan memerawaninya saat ini juga?
"I can handle it honey, I love you!" ucap Hendrick seraya menutup pintu kamar mandi dan menguncinya setelah mendaratkan ciuman ke bibir Dee. Setelah pintu tertutup dan terkunci, Hendrick segera membebaskan pedangnya dan segera memainkannya. Erangan lirih dan desahan terdengar jelas oleh Dee yang seketika itu juga merasa malu, walau mereka sudah beberapa kali melakukannya.
Dee bergegas masuk ke kamar Hendrick dan memakai pakaiannya, kemudian Dee mengoleskan krim ke wajahnya, saat dia menyentuh pipinya, dia teringat ciuman menjijikkan yang dilakukan tetangga Hendrick tadi.
"Disgusting," gumam Dee dengan mata berkaca-kaca.
Tiba-tiba terdengar erangan panjang dan penuh kepuasan dari dalam kamar mandi dan sukses membuat Dee tersipu malu.
"Ooooh.... God, honey... so tight.... aaaaaaaaah.... aaaaaah.... honey.... honeeeey.... aaaaaah....."
Erangan Hendrick menggema dengan jelas walau tak terlalu keras.
Dee menutupi telinganya menggunakan kedua telapak tangannya, jantungnya berdegup kencang.
Tak lama kemudian Hendrick keluar dari kamar mandi, rambutnya setengah basah karena habis keramas.
"Honey, tunggu ya, aku panasi baksonya," ucap Hendrick sambil mengecup kening Dee.
"Mas.... Lain kali kalau mau gituan di kamar mandi, suaranya jangan keras-keras," gumam Dee malu-malu.
Hendrick hanya tersenyum.
"Nggak apa-apa kan, lagian yang dengar kan kamu, honey.... yang aku sebut juga kamu," sahut Hendrick sambil merengkung pinggang Dee.
"Ya tapi aku malu dengarnya," gumam Dee lirih.
"Hmmmm.... Oke deh, besok lagi kalau keras langsung sama my honey bee aja, sebulan lagi, kubuat honey bee juga sebut namaku berulang kali" kekeh Hendrick.
"A-apaan sih?!" gerutu Dee sambil membenamkan wajahnya di d**a Hendrick.
"Hehehehehe.... Sudah, duduk di sofa, aku panasin dulu baksonya, sayangku ini ternyata tau juga bakso favoritku," ucap Hendrick, dipagutnya bibir Dee dengan lembut sebelum akhirnya dia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju dapur kecilnya.
Dee melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, lalu duduk di sofa. Dee hanya memakai loose t-shirt dan hot pant, sengaja belum memakai baju untuk menjemput Freddy karena mereka masih akan makan.
Dee termenung memikirkan kejadian dengan tetangga Hendrick tadi. Dia merasa tidak memakai pakaian yang terbuka, bahkan dia memakai sweater dan celana palaso yang longgar, tapi kenapa tetangga Hendrick memandangnya dengan sorot mata penuh nafsu, bahkan tingkahnya pun sangan menjijikkan.
Dee bergidik saat mengingat bagaimana lelaki itu menempelkan bibirnya di pipi Dee dan juga tangan kanannya yang menarik kasar tangan Dee saat tangan kiri lelaki itu mengusap-usap k*********a dari luar celana, sungguh membuat Dee mual.
Perlahan Dee menggosok pipinya dengan kasar, benar-benar merasa jijik, dia harus cuci muka dengan sabun dan antiseptik.
"Honey, what're you doing?" tanya Hendrick yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi dua mangkuk bakso yang mengepul panas lengkap dengan sambal dan cuka, serta dua gelas air putih, lali meletakkannya di atas coffee table.
"Mas, rasanya masih jijik dan bikin mual," gumam Dee.
"Sudah, jangan digosok lagi, kalau masih berasa jejaknya nanti aku bantu hilangkan, jangan cemas, sekarang makan dulu ya, honey," bujuk Hendrick sambil mengulurkan satu mangkuk bakso pada Dee.
"Makasih, mas," ucap Dee sambil melemparkan senyum pada Hendrick.
Hendrick duduk di sebelah Dee dengan mangkuk bakso di tangan kirinya.
Setelah menambahkan sambal dan cuka secukupnya, mereka mulai makan dengan lahap.
"Honey, nanti aku temani di rumah seperti kemarin ya," ucap Hendrick setelah mengunyah sebongkah bakso urat.
"Hmmm... Nggak pakai macam-macam ya mas," pinta Dee.
"Iya sayang, janji," sahut Hendrick berjanji.
"Love you mas," ucap Dee sambil mengedipkan sebelah matanya pada Hendrick.
"Jangan menggoda, hampir maghrib ini, honey," gerutu Hendrick. Dia benar-benar heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia sama sekali tak bisa mengontrol hasratnya setiap kali berdekatan, bersentuhan, bahkan hanya sekedar menatap Dee dari jauh, lower part nya akan bereaksi ekstrim, benar-benar bikin pusing. Apakah ini yang Tony sebut 'ngacengan' ? Padahal dia tidak bereaksi apa-apa walau melihat cewek berpakaian sexy atau berbikini, bahkan Hendrick merasa jijik saat melihat mereka, tapi dengan Dee, walau pakaiannya tertutup, Hendrick selalu bereaksi berlebih dan membuatnya tak nyaman bahkan nyeri bila berjalan.
"Sayang, Sabtu sore aku akan pindah, lingkungan sini sudah nggak aman buat kamu," ucap Hendrick tiba-tiba.
Dee tertegun menatap Hendrick.
"Kan tenggang sewanya masih 6 bulan, mas?" tanya Dee bingung.
"Nggak apa-apa, daripada ada kejadian seperti tadi, aku nggak mau," jawab Hendrick tegas dan tak bisa dibantah.
"Memangnya mas sudah dapat kost baru?" tanya Dee lagi.
"Bukan kost, aku sudah dapat rumah kontrakan, walau kecil, lumayan lah buat kita tinggal pasca menikah," jawab Hendrick membuat wajah Dee bersemu merah.
"Kenapa kontrak, kan mahal?" protes Dee.
"Terpaksa kontrak, karena mas belum mampu buat beli, hehehehehe," jawab Hendrick setengah bergurau. Sebenarnya kalau Hendrick mau, Hendrick bisa minta pada papanya untuk dibelikan sebuah rumah atau apartment, tapi Hendrick lebih memilih mengontrak bulanan dulu, toh jatah untuk membayar kost hanya kurang sedikit jika dipakai untuk membayar sewa rumah, dan Hendrick punya penghasilan dari design yang bisa dipakai untuk menambah uang sewa dan kebutuhan sehari-hari.
"Bercandanya garing," gerutu Dee.
"Hehehe," kekeh Hendrick, diseruputnya kuah bakso yang tinggal sedikit, lalu diletakkannya mangkuk kosong di atas meja sebelum mengambi tissue untuk melap mulutnya.
Dee masih mengunyah baksonya dengan cepat.
"Pelan-pelan saja, nggak usah buri-buru nanti tersedak," Hendrick menepuk-nepuk bahu Dee.
"Hampir maghrib mas," sahut Dee di antara kunyahannya.
"Iya, tapi pelan saja, keselek nanti, honey," balas Hendrick.
Akhirnya Dee memperlambat kunyahannya, sementara Hendrick duduk menunggu di samping Dee dan memandangi Dee dari kepala sampai kaki.
'Calon istriku memang kelewat cantik dan sexy, gimana caranya biar nggak banyak cowok kurang ajar yang menginginkan Dee ya?' pikir Hendrick dalam hati.
"Mas, aku cuci mangkuk dulu ya, mas siap-siap sholat maghrib," Dee yang sudah selesai makan membawa mangkuk bekas makan mereka ke dapur dan mencucinya, sementara Hendrick mengambil air wudlu dan segera memakai sarung dan menunggu masuk waktu maghrib.
Dee langsung mengambil air wudlu dan segera mengganti pakaiannya untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah bersama Hendrick.
Selesai sholat, Hendrick segera berganti pakaian, dia memakai celana washed jeans dan t-shirt biru tua, lalu dia duduk menunggu Dee yang menunggu giliran berganti pakaian.
Lima belas menit kemudian, Dee keluar kamar Hendrick. Dia memakai celana harem motif shibori, t-shirt ketat putih polos lengan 7/8 dan outer shibori yang sama dengan celananya. Tak lupa sapuan lip tint warna peach.
Hendrick terpana melihat Dee yang tampak manis dalam balutan pakaian yang dipakainya. Tapi wajahnya menggelap seketika saat melihat bulatan p******a Dee yang terlihat begitu sempurna tercetak jelas di t-shirt putihnya.
"Ehem, honey.... Dadamu terlalu menggiurkan buat lelaki yang melihatnya," tegur Hendrick seraya bangkit dan berjalan menuju ke arah Dee, lalu dirapikannya outer Dee sampai menutupi setengah dari d**a Dee.
"Aku sebel sama dadaku, mas, kenapa segini ukurannya, nyusahin," gerutu Dee, wajahnya terlihat kesal .
"Kenapa? Bagus kok, proporsional sama tubuhmu, lagian bentuknya sempurna kok, bulat penuh, banyak kan yang iri?" sahut Hendrick yang susah payah menelan ludahnya.
"Iri apa coba? Aku heran sih sama cewek-cewek yang pada operasi implant biar dadanya besar, apa enaknya d**a besar? Sudah berat, beli dalaman susah, belum lagi baju yang harus ngepasin lingkar d**a," gerutu Dee lagi. Bukan tidak mau bersyukur tapi berdada besar memang sedikit menyusahkan.
"Tapi aku suka kok, lembut, kenyal, nyaman disentuh, diremas dan dikulum," terocos Hendrick yang mulai m***m.
"Oh, mas suka cewek berdada besar?" tanya Diandra semakin kesal.
"Mau sebesar apapun kalau ceweknya bukan kamu juga mas nggak akan suka, honey," jawab Hendrick, "Mas suka ini karena ini milikmu, kalau milik perempuan lain nggak akan mas suka, misal dadamu kecil atau sedang mas juga akan tetap suka karena itu milikmu," sambung Hendrick sambil menyentuh p******a Dee.
"Sudah, jangan pegang lagi, sebentar lagi mereka sampai, kita tunggu di teras aja," ajak Dee sambil melangkah ke teras.
Chapter 23 ~end~