Chapter 17

4067 Words
Tok tok tok... Hendrick mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang, ini handuknya. Sudah kuat belum kakinya buat jalan ambil handuk ke depan pintu?" tanya Hendrick. "Lu-lumayan, Hend... Sebentar... Aduh!" Dee mengaduh, bersamaan dengan suara debuman di lantai. Hendrick yang panik, buru-buru masuk kamar mandi, dilihatnya Dee jatuh tersungkur dan sedang berusaha bangun. GLEK Hendrick susah payah menelan ludahnya, lalu dengan memalingkan wajahnya, dia membalut tubuh Dee menggunakan handuk, lalu menggendongnya keluar kamar mandi dan membawanya ke kamar. Didudukkannya Dee di atas ranjang, lalu Hendrick mengambilkan baju Dee yang ada di kamar mandi dan juga celana panjangnya di sofa ruang tamu. "Sayang, aku ke ****mart sebentar ya, celana dalammu basah, aku belikan dulu ya!" Hendrick buru-buru menyambar dompetnya, lalu melesat keluar menuju ****mart yang hanya berjarak 50meter dari kostnya. Wajah Dee memerah panas, mengingat Hendrick sudah melihat seluruh tubuhnya dan juga saat kondisinya memalukan setelah orgasm tadi. Tanpa sadar air matanya mengalir. Lagi, mereka melanggar norma agama, walau tidak sampai berhubungan badan, tapi mereka sudah saling menyentuh bagian tubuh terlarang. Mungkin memang benar, mereka harus segera menikah, atau harus menjaga jarak dan tidak bertemu berdua saja. Entah apa yang ada dipikiran Hendrick, mengapa setiap bersamanya, junior Hendrick selalu menegang, walau hanya bergandengan tangan atau saling tatap, benda itu akan mengeras. Dee menghela nafas panjang... Ini adalah yang terakhir, besok tidak boleh terjadi lagi. "Sayang, maaf nunggu lama, ini... Semoga pas ukurannya!" suara Hendrick membuyarkan lamunan Dee. Hendrick menyerahkan celana dalam ukuran M kepada Dee, lalu setelah mengecup bibir Dee sekilas, Hendrick keluar kamar dan menutup pintunya. Lalu Hendrick bergegas ke kamar mandi, dan segera mandi junub. Setelah memakai pakaiannya Dee melangkah keluar kamar. Kakinya sudah tidak lemas lagi. Dee duduk di sofa ruang tamu Hendrick sambil menunggu Hendrick selesai mandi, Dee membuka kipas angin untuk membantu mengeringkan rambut panjangnya. Tak lama Hendrick keluar dengan bertelanjang d**a dan rambut yang sedikit basah. Badannya yang apik terbentuk membuat Dee tersipu malu dan buru-buru menunduk, takut pikirannya berkelana. "Mau langsung pulang sayang? Ada yang mau aku bicarain sama ibu dan bapak!" Hendrick menuju belakang pavilion untuk menjemur handuk dan celana dalam Dee yang sudah dia cuci. "Ah, bicara apa?" tanya Dee masih berusaha mengeringkan rambutnya dengan kipas angin, walau lehernya mulai sakit. "Mau minta ijin pacaran sama kamu!" jawab Hendrick sambil memakai t-shirt hitam, lalu masuk kamarnya mencari sesuatu. "Malam-malam gini?" tanya Dee, lehernya mulai ngilu karena membungkuk di depan kipas angin kelamaan. "Iya, belum kemalaman kok. Sini, sayang.... aku keringin rambutnya!" Hendrick melambaikan tangannya, meminta Dee masuk ke dalam kamarnya. Kamar Hendrick sangat kecil hanya muat ranjang ukuran queen, 1 nakas kecil dan lemari kayu dengan 3 pintu sorong, AC yang menempel di dinding dan sebuah LCD TV yang menempel manis di dinding. Hendrick memangku Dee di atas ranjangnya dan mulai memblow dry rambut Dee yang masih setengah basah. "Maaf ya, terpaksa pakai shampoo dan sabunku, besok aku siapin sabun dan shampoomu di kamar mandi." ucap Hendrick yang dengan telaten mengeringkan rambut Dee dari akar sampai ujungnya. "Bu-buat apa? Kita bukannya nggak akan begitu lagi?" tanya Dee gugup dan malu. "Kamu mandi di sini kan nggak harus itu dulu, Dee. Kali aja besok kita belajar bareng seharian, kan sore bisa mandi di sini. Nanti aku siapkan baju dan lainnya juga." jawab Hendrick antusias. "Tapi kan Hend....hmmmp" protes Dee terpotong oleh ciuman Hendrick, walau hanya sekejap. "No protes-protes, ok?!" ucap Hendrick, "Nah sudah kering, kita balik sekarang? Mumpung masih 20:20, lumayan 30 menit ngobrol sama bapak ibu." Hendrick selesai menyisir rambut Dee dan mengucirnya model loose ponytail. "Iya deh, makasih ya Hend." Dee bangkit dari pangkuan Hendrick, mengancingkan jaketnya lalu melangkah keluar kamar. "Aku sudah bilang papa, selepas ujian kenaikan kelas, kami akan ke rumah buat melamarmu!" Bisik Hendrick sambil merangkul bahu Dee. "Hah?" tanya Dee kaget. Hendrick tersenyum ke arah Dee. "Kau tau kan sayang, apa yang kita perbuat siang tadi dan barusan itu apa? Aku nggak mau nambahin dosa kita berdua lagi, ada 2 jalan, yaitu kita segera menikah atau kita nggak ketemuan berdua lagi. Aku nggak sanggup kalau opsi kedua, jadi lebih baik kita menikah. Kalau mau dirahasiakan juga nggak apa-apa, cukup keluarga sama kawan dekat kita aja yang tau. Gimana?" ungkap Hendrick. "Ya bilang ke ibu sama bapak aja. Aku sih yang mana aja oke, soalnya kamu m***m, dikit-dikit keras, serba salah jadinya!" jawab Dee. "Aku begitu juga kalau lagi sama kamu, Dee." sahut Hendrick sambil mengunci pintu. "Sayang, sebelum balik, cium dulu dikit ya, nanti di rumah kan nggak bisa." rayu Hendrick. "Di sini?" tanya Dee, matanya membelalak lebar. Ciuman di teras??? "Sedikiiiiiit aja, soalnya kalu di dalam nanti takut bablas lagi!" bujuk Hendrick sambil memeluk Dee. Malu-malu, Dee mengecup sekilas bibir Hendrick, membuat Hendrick merengut kesal. "Pelit ah, sini sayang!" Hendrick meraih tengkuk Dee, lalu menciumnya dengan mesra. "Nah, gitu lho kalau cium.... Yuk pulang!" ucap Hendrick setelah melepas ciumannya. Lalu, Hendrick pun segera mengantar Dee pulang. Sesampainya di rumah Dee, telihat Bu Tuti dan Pak Edi yang masih mengobrol di ruang tamu. "Assalamu'alaikum!" Dee dan Hendrick memberi salam bersamaan saat masuk rumah. "Wa'alaikumsalam, baru pulang?" balas Pak Edi. "Iya pak... Anu... Bu, pak, Hendrick mau bicara sama bapak dan ibu!" ucap Dee takut-takut. "Oh ya? Mau bicara apa? Sana cuci tangan dan kaki dulu, baru kita bicara, Dee juga buatin Hendrick minum!" sahut Pak Edi santai sambil tersenyum. "I-iya pak!" Hendrick membungkuk lalu berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Dee mencuci tangan dan kaki di tempat wudlu, lalu melangkah ke dapur untuk membuatkan teh dan menyiapkan camilan, dan membawanya ke ruang tamu. Hendrick sudah duduk di sofa, setelah Dee meletakkan cangkir teh dan camilan, Dee duduk di sebelah Hendrick. "Begini, ibu.... bapak.... Hendrick mau minta ijin..." ucap Hendrick gugup. "Ijin untuk apa?" tanya Pak Edi. "Ah... Ijin untuk meminang Diane selepas ujian kenaikan kelas bulan depan." ungkap Hendrick. tegas walau gugup. "Kalian mau menikah muda?" tanya Pak Edi tenang, begitu juga Bu Tuti yang terlihat tenang mendengar ucapan Hendrick. "Iya pak, kami sudah beberapa hari berpacaran, saya pikir, dari pada berpacaran, lebih baik kami segera menikah, jadi saya bisa selalu menjaga Dee, saya nggak ingin kejadian di sekolah tadi terulang lagi pada Dee." jawab Hendrick. "Bagaimana denganmu Diane?" tanya Bu Tuti. "Dee setuju dengan Hendrick, tapi Dee tetap akan menuruti keputusan bapak sama ibu." jawab Dee. "Kapan mulai ujian?" tanya Pak Edi. "Senin, dua minggu lagi pak!" jawab Bu Tuti. "Berapa hari?" tanya Pak Edi lagi. "Lima hari ujian teori. Lalu minggu berikutnya ujian praktik 3 hari." jawab Dee. "Hmmmm... Kapan orang tua Hendrick mau datang ke rumah?" tanya Pak Edi. "Hari Sabtu setelah ujian teori pak!" jawab Hendrick. "Dee hanya ingin ijab qabul saja pak, resepsinya besok kalau kami sudah lulus, kami nggak mau banyak yang tau kalau kami menikah!" sambung Dee. "Kenapa?" tanya Pak Edi tidak suka. "Dee nggak mau dikatai dan dibenci sama teman-teman di sekolah, bapak dan ibu kan tau kalau Hendrick banyak yang suka, kalau mereka tau kami menikah pasti Dee jadi sasaran bully an mereka." jelas Dee. "Tapi aku bisa lindungi kamu kan Dee!" protes Hendrick, dia ingin setelah menikah, seluruh dunia tau kalau Dee itu istrinya. "Bapak setuju dengan Hendrick, dan lagi apa gunanya menikah kalau disembunyikan? Kalian kan menikah karena niat baik." sahut Pak Edi. "Tapi kan pak...." Dee mau melanjutkan argumennya tapi tak jadi melihat ibu memberi isyarat untuk diam. "Ya sudah, ijab qabul dulu, untuk resepsi sekalian merayakan kelulusan kalian, kita undang kerabat dan tetangga sini saja. Setelah menikah, mau nggak mau kalian akan tinggal bersama kan? Tinggal di sini kan?" tanya Pak Edi. "Itu belum kami pikirkan pak, mungkin kami tinggal di kost saya buat mandiri, saya juga ada pekerjaan yang hasilnya cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari." jawab Hendrick. "Kerja apa? Kok aku nggak tau?" tanya Dee. "Bikin design Dee, lumayan kok hasilnya, bisa buat kebutuhan sehari-hari, tapi kalau untuk biaya sekolahmu, aku usahakan cari pekerjaan lain setelah ujian nanti!" Hendrick menepuk pelan punggung Dee. "Untuk biaya sekolah Diane, Hendrick nggak usah khawatir, sampai lulus perguruan tinggi, Diane masih tanggung jawab ibu dan bapak, kalian fokus sekolah saja. Dan satu lagi ya ibu sama bapak minta, selama belum lulus SMA, Diane jangan hamil dulu ya!" ucap Bu Tuti. "Ibu apa-apaan sih, Diane masih 18 tahun gini." gerutu Dee malu. "Kami mengerti bu!" jawab Hendrick. "Ya sudah, besok kalau papa mama Hendrick mau kesini, kami di kabari dulu. Dan ingat, walau sekarang kalian pacaran, tetap harus diingat ya, sekolah yang nomor satu kalau sampai prestasi kalian anjlok, bapak nggak jadi merestui kalian menikah muda!" ancam Pak Edi. "Baik pak, akan Hendrick ingat. Kalau begitu saya pamit dulu, pak... bu, sudah malam, selamat istrirahat, assalamu'alaikum!" pamit Hendrick. "Wa'alaikumsalam... antar Hendrick ke depan, sekalian kunci pintu pagarnya!" seru pak Edi seraya bangkit dari duduknya, "Bapak sama ibu tidur dulu." Pak Edi membantu Bu Tuti berdiri lalu berjalan masuk ke kamar mereka meninggalkan Hendrick dan Dee. Hendrick menghela nafas lega. "Alhamdulillah bapak sama ibu kasih ijin." Hendrick memeluk pinggang Dee dari samping lalu mengecup keningnya. "Hend, apaan sih, ada bapak sama ibu tau!" bisik Dee. "Hehehehe.... iya sayang, maaf!" balas Hendrick. "Jadi, kapan kita kasih tau yang lain?" tanya Hendrick saat mereka sudah di teras. "A-aku nggak tau!" gumam Dee. "Kamu nggak enak sama Freddy?" tanya Hendrick. "Hah? Anu, bukan itu.... Aku takut Freddy sakit hati dan malah menjauhi kita." gumam Dee sedih. "Freddy nggak akan seperti itu. Tanpa kita bilang pun dia pasti sudah tau, insting Freddy itu paling kuat di antara kita." hibur Hendrick. "Oh, biar aku sendiri yang bilang ke Freddy." sahut Dee. "What?" tanya Hendrick. "No... nggak boleh! Nanti malah baper sedih-sedih, peluk-peluk, no... absolutely no!" sambung Hendrick. "You sure never going to trust me even just a drop of water!" Dee menatap Hendrick dengan tatapan kecewa. "Hati-hati di jalan, selamat malam!" Dee menutup pintu pagar dan menguncinya, bahkan saat Hendrick belum naik ke atas motornya. "Sayang, maksudku bukan begitu..." Hendrick menahan pergelangan tangan Dee. "Sudahlah, aku capek sama ketidakpercayaanmu Hend, buat apa kamu bilang cinta tapi kalau tidak percaya sedikitpun padaku?" gumam Dee. "Sayang, aku percaya sama kamu tapi tidak dengan Freddy!" jelas Hendrick. "Kenapa merasa insecure di saat sudah jelas aku bakal jadi milikmu? Aku sudah menyerahkan hatiku bahkan juga tubuhku ke kamu Hend, kita sudah berbuat sejauh itu, apa mungkin aku berpaling?" tanya Dee kesal. "Sorry, honey.... Karena aku lihat kamu dan Freddy lebih dekat ketimbang kamu dan aku." jawab Hendrick. "But we did such intimacy activities, you and me, I don't have any desire towards Freddy!" Dee menaikkan nadanya 1 oktaf lebih tinggi saking kesalnya pada Hendrick yang selalu merasa insecure dengan keberadaan Freddy. "I know, I know.... I'm sorry sweetheart, I'm sorry...!" Hendrick menundukkan kepalanya. "Dee, maafkan aku sayang, aku merasa posisiku di hatimu tak aman, kau terlalu bersinar, kau selalu dikelilingi lelaki yang menyayangimu sepenuh hati, aku cemburu, aku tak suka kamu tersenyum pada lelaki lain. Kau adalah milikku, senyummu, tubuhmu, hatimu adalah milikku!" gumam Hendrick seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Dee. "Hend, my dear... I'm yours, nggak diragukan lagi, aku milikmu. Jadi jangan merasa insecure lagi, aku nggak akan berpaling, hatiku ragaku hanya milikmu!" Dee menangkupkan tangannya di pipi Hendrick dan mengecup kedua pipinya perlahan. "Gimana kalau besok pulang sekolah kita ke kost? Habis itu kita belanja, trus masak buat makan malam, lepas itu kita belajar. Aku mau latihan jadi istri yang baik buat kamu, latihan melayani suami, tapi bukan yang 'itu' ya!" ajak Dee malu-malu. "Sungguh? Kalau gitu, aku siapkan kebutuhanmu dulu, aku balik dulu, mumpung masih jam segini." Mata Hendrick berbinar, seulas senyum merekah di bibirnya. "Nggak usah, aku bisa bawa dari rumah!" jawab Dee. "Ah, aku juga mau latihan jadi suami yang baik, kalau cuma kebutuhan sehari-hari aku masih mampu, penghasilanku dari design cukup buat hidup kita berdua selama sebulan!"sahut Hendrick. "Aku balik dulu ya sayang, kamu langsung tidur aja, besok aku jemput ya, jam 06:15, jangan berangkat sendiri, ok?!" sambung Hendrick, buru-buru mengancingkan jaketnya. Tak lupa dia mendaratkan kecupan manis di bibir Dee. "I love you sayang, assalamu'alaikum!" pamit Hendrick. "Wa'alaikumsalam, I love you too!" Dee melambaikan tangannya, dia terkekeh geli melihat betapa antusiasnya Hendrick dengan rencana besok. "Hati-hati, Hend.... !" seru Dee mengingatkan. "Iya sayang!" Hendrick menjalankan motornya perlahan meninggalkan rumah Dee. Setelah Hendrick menghilang dari pandangannya, Dee melangkah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Lalu dia bergegas mencuci muka dan menggosok gigi dan berganti baju. Dipakainya daster midi lengan setali dari bahan satin lembut berwarna putih s**u, setelah mengoles tipis skincare pemebrian Yetnu, Dee segera merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Sementara itu di perjalanan pulang, Hendrick menyempatkan diri untuk mampir ke ****mart, dia membeli beberapa kebutuhan Dee seperti sabun, shampoo, sikat gigi, tissue basah, make up dan lainnya, tak lupa dia juga membeli kebutuhan dapur yang sering dipakai Dee sesuai dengan ingatannya, tak lupa dia membeli beras, minyak, sosis, buah dan beberapa minuman kesukaan Dee. Setelah membayar, Hendrick segera pulang ke kostnya. Sesampainya di kost, Hendrick langsung ganti baju lalu membongkar belanjaannya, tepat saat itu ponselnya berbunyi. Seulas senyum mengembang di bibirnya. "Ya sayang, ada apa?" tanya Hendrick lirih, saat tau si pemanggil adalah pujaan hatinya. "Enggak, aku WA kok nggak dibaca dari tadi!" jawab Dee "Ah, aku baru sampai rumah!" balas Hendrick. "Mampir ke mana dulu?" tanya Dee curiga. "Sebentar aku ganti panggilan video ya, aku lagi beres-beres belanjaan." jawab Hendrick sambil mengubah panggilan Dee menjadi panggilan video. "Belanja apa sih?" tanya Dee penasaran. "Ngisi kulkas sama dapur, masa iya besok calon istri kesini dapur sama kulkas kosong?" gurau Hendrick. "Ya Allah, Hend.... Kan bisa besok? Beli beras segala rupa, ya ampun kamu itu, boros!" omel Dee. "Enggak lah, kan bisa buat beberapa hari. Jangan ngomel aja ah, gemes lihatnya!" canda Hrndrick, wajahnya sumringah sementara tangannya dengan cekatan menata barang-barang di tempat yang sesuai. Setelah selesai, Hendrick masuk ke dalam kamar. Hendrick yang sedari tadi tak terlalu fokus dengan penampilan Dee, mendadak sesak nafas. "Sa-sayang, sambil duduk bisa nggak? I-itu... kelihatan!" Hendrick berusaha mengalihkan pandangannya tapi tak berhasil, matanya terpaku pada gundukan p******a milik Dee yang menyembul karena tertekan tubuhnya yang tengkurap. "Oh... Ini? kenapa? Bukannya tadi sudah lihat? Sudah ngerasain juga?" goda Dee sambil terkekeh. "Dee.... Aku nggak kuat lihatnya!" rengek Hendrick yang mulai tak nyaman, karena juniornya mulai menggeliat bangun. "Iya deh, iya...!" Dee pun bangkit. Namun celakanya belahan d**a daster Dee terlalu longgar, sedangkan dia tak memakai bra, jadi saat dia bangkit, Hendrick bisa melihat jelas bulatan p******a Dee dengan p****g pinknya yang menegang serta celana dalam brokat putih yang dipakai Dee. "Oh... Damn... Sayang... Kamu sengaja ya?" erang Hendrick. "Sengaja apa?" tanya Dee bingung. "Kamu nunduk buat bangun tadi kelihatan semua!" gerutu Hendrick seraya mengeluarkan k*********a yang sudah berkedut tak nyaman. "A-aku nggak tau... Maaf!" Dee terlihat panik, dia berpikir kalau Hendrick sekarang sedang kesakitan. "Sudah terlanjur... Sebentar ya sayang, kameraku aku tutup dulu." Hendrick menutup kameranya. "Nggak usah, kenapa harus ditutup?" tanya Dee. "Kamu mau lihat aku lagi 'itu'?" goda Hendrick. "Nggak boleh ya?" tanya Dee polos. "Boleh sih, tapi jangan malu ya?!" goda Hendrick lagi. "Kenapa malu?" Dee menatap ke arah Hendrick dengan tatapan bingung. "Ah, aku tutup dulu deh, nanti aku telepon lagi. Sudah sakit ini sayang..." Hendrick bersiap memutuskan sambungan video callnya, tapi dicegah Dee. "A-aku penasaran!" seru Dee malu-malu. "Ya Allah sayang, kan tadi malah kamu sudah lihat live nya." Tanya Hendrick, nafasnya mulai terengah, sementara tangan kirinya terus bermain dengan juniornya. "Kan tadi pakai tanganku!" ucap Dee malu-malu. "Nggggh.... iya deh.... haaaaaah... Pakai headset.... haaaah....!" Hendrick membalik kameranya, sehingga Dee melihat tangan Hendrick meremas dan mengocok kejantanannya dengan gerakan teratur. "Sssssss.... sudah lihat? Aaaah.... sayang.... ngggggh.... " desah Hendrick. Dee menelan ludahnya, walau sudah dua kali menyentuh, tapi baru kali ini Dee melihat jelas betapa besar dan berototnya kemaluan Hendrick. "He-Hendrick.... kenapa besar banget? Itu besok masuk ke vaginaku? Memangnya muat?" tanya Dee sedikit ngeri tapi juga takjub. Mendengar Dee mengucap vaginaku, Hendrick menggila, tangannya semakin cepat mengocok k*********a. "Aaaah.... sayang... oooh.... ngh... haaaaah... honey... oh sayaaang... cumming honey... aaah... aaah.... aaah.... Deee.... aaaaaaaaaaaaaah....." Hendrick mengerang panjang bersamaan dengan menyemburnya s****a dari juniornya. "Aaah.... Honey.... Aku nggak sabar nunggu malam pertama kita!" Hendrick terkulai lemas. Wajah Dee memerah panas, dadanya berdebar, seluruh tubuhnya merinding, k*********a berkedut hebat. "Heeend....!" panggil Dee serak. "Ya sayang?" Hendrick menatap layar ponselnya sembari membersihkan k*********a memakai tissue. Namun saat melihat wajah Dee yang b*******h dan terlihat menggoda, Hendrick buru-buru mengalihkan panggilan video menjadi panggilan suara. "Ya sayang?" balas Hendrick. "Hend, bawah sini rasanya gatal lihat kamu gitu tadi, tapi pas aku gosok rasanya aneh, merinding semua, tapi enak." desah Dee. "Sayang, jangan bilang kamu sekarang lagi gosok-gosok bagian bawah?: nafas Hendrick kembali memburu. "A-aku nggak bisa berhenti.. aaaah... aaaah.. ke-kenapa rasanya.... aaaah... Heend... ngggh... haaaah... aaaaaaaaaaah." Dee mengerang panjang, bersamaan dengan suara seperti semburan air dari selang. Tubuh Dee kejang beberapa kali, nafasnya terengah-engah dan tak beraturan. Di sisi lain, kepala Hendrick berdenyut-denyut, juniornya terasa panas. Hendrick terus-terusan mengumpat. Video call membawa petaka!!! Hendrick memberanikan diri membuka suara. "Sayang... Dee... " panggil Hendrick. "Haaaah... ya Hend....aaaaah... haaah!" desah Dee yang masih berusaha mengatur nafas dan menenangkan tubuhnya yang masih mengejang beberapa kali. "Sayang... kamu ok?" kepala Hendrick semakin berdenyut karena mendengar desahan Dee. "Hmmm.... aku mau mandi, ta-tapi kakiku ga berhenti gemetar!" gumam Dee. "Dibuat tidur aja sayang, mandi besok subuh aja!" bujuk Hendrick, sambil memijat kepalanya yang berdenyut kencang. "Ka-kasurku basah, harus ganti sprei." Dee mencoba merangkak turun tapi malah terjatuh. "Sayang.... kamu kenapa?" Hendrick panik ketika mendengar suara debuman dari seberang. "Hahaha.... aku jatuh!" Dee tertawa sumbang. Dee berusaha berdiri lagi, dan kali ini kakinya sudah tidak gemetar lagi. "Langsung tidur saja sayang, besok beres-beresnya!" Hendrick bangkit dari ranjangnya, juniornya sudah kembali tidur karena panik saat tau Dee terjatuh tadi. "Sudah kuat berdiri kok, Hend, ini baru beresin kasur." sahut Dee, sembari melepas sprei lalu menggantinya dengan yang bersih. "Bener sudah kuat berdiri?" Hendrick juga melepas spreinya yang terkena tumpahan spermanya dan menggantinya dengan sprei bersih. "Hend, aku mandi dulu ya, selesai mandi aku WA." Dee meraih handuknya, mengambil set piyama keropi dan celana dalam. "Iya sayang, aku juga mau mandi!" Hendrick melangkah menuju kamar mandi setelah meraih handuknya dari gantungan handuk. "Bye Hend." "Bye sayang." mereka bersamaan memutus sambungan telepon mereka. Di tempat yang berbeda mereka berdua mandi besar, masing-masing merutuki diri karena sangat tidak bisa menahan nafsu mereka. Hendrick merasa frustasi, karena dia berpikir dialah yang membuat Dee m***m, Dee yang polos sudah terkontaminasi otaknya karena Hendrick. Hendrick bertekad, kalau besok Dee jadi ke kost, mereka tidak boleh saling bersentuhan. ( Kaya dia tahan aja kan ya? ) Selesai mandi, Hendrick mengirim pesan pada Dee. "Sayang, langsung tidur aja ya! Sudah lewat jam 11 malam, besok pelajaran kita full!" "Iya Hend, aku juga sudah ngantuk dan lemas banget ini!" "Goodnight sayang, I love you!" "Goodnight Hend, I love you too!" Setelah saling mengucap selamat malam, merekapun tertidur pulas. Keesokan harinya, seperti biasa Dee terbangun sebelum adzan subuh, buru-buru mengambil wudlu untuk sholat tahajud dan mengaji sampai tiba waktu subuh. Setelah sholat subuh, Dee berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan membuatkan bubur untuk Freddy, mengingat sahabatnya itu tidak nafsu makan. Dee membuat nasi goreng jawa menggunakan sisa nasi dan ayam semalam. Dan untuk Freddy dia membuatkan bubur sayur dan sup ayam. Setelah memasukkan bahan bubur dan sup ke dalam slow cooker, Dee seperti biasa mulai membersihkan rumah, menyapu dan mengepel, sementara ibu dan bapak bertugas mencuci dan membersihkan halaman. "Nduk, kamu nyuci sprei?" tanya Bu Tuti saat melihat jemuran di halaman belakang tergantung sprei dan selimut Dee yang telah dicuci semalam. "Iya bu, semalam ndak sengaja ketumpahan air!" jawab Dee tanpa menoleh, takut ketahuan berbohong. "Woooo, ya wes!" sahut bu Tuti. Setelah selesai menyapu dan mengepel rumah, Dee melanjutkan membuat sarapan. "Bubur buat siapa?" tanya ibunya saat membuka tutup slow cooker. "Freddy bu, kasian ndak nafsu makan, semalam aku buatin bubur, alhamdulillah mau makan lumayan banyak." jawab Dee. "Kamu kalau sudah sama Hendrick, harus jaga jarak lho dari yang lainnya, nanti bikin ndak sehat hubungannya!" nasihat sang ibu. "Iya bu, tau kok, jangan khawatir!" sahut Dee. "Kalau ibu lihat, dia sayang banget ke anak gadis ibu ini, tapi Freddy juga kelihatannya ada rasa ke kamu lho nduk." ucap Bu Tuti. "Uhuk... ibu sok tau ah!" kilah Dee, dia mengambil 2 thermal soup flask lalu mengisinya penuh dengan sup ayam, dan bubur sayur yang dibuatnya. Lalu memesan ojek online untuk mengantar ke rumah sakit. Setelah bubur berangkat ke rumah sakit, Dee melanjutkan membuat sarapan, tak memakan waktu lama, nasi goreng ala Dee sudah siap di meja. Dee sarapan terlebih dahulu karena kamar mandi masih dipakai sang ayah. Tiba gilirannya, Dee segera mandi, memakai seragam, menata rambutnya dan mengoles tipis skincare di wajahnya. "Assalamu'alaikum!" terdengar suara Hendrick dari luar. "Wa'alaikumsalam, masuk nak. Diane masih siap-siap, sini sarapan dulu!' Bu Tuti menarik lengan Hendrick dan menyuruhnya duduk di kursi makan untuk ikut sarapan bersama suaminya dan kedua adik Dee. Hendrick mencium tangan Pak Edi dan Bu Tuti secara bergantian, lalu memeluk Tama dan Destri. Dee keluar dari kamar, dan melihat Hendrick sudah duduk bersama keluarganya untuk sarapan. "Hend, mau minum apa?" tanya Dee sembari mengambilkan nasi goreng untuk Hendrick. "Air putih aja Dee, aku sudah minum kopi tadi." jawab Hendrick canggung. "Besok datang lebih awal, biar bisa sarapan sama-sama!" ujar Pak Edi. "Ah, nggak enak pak, ngerepotin nanti." sahut Hendrick salah tingkah. "Cuma nambah 1 kepala, repot apanya? Lagian kan bagus to, ngakrabin diri sama calon mertua?" goda pak Edi. "Uhuk... Uhuk... Uhuk....!" Hendrick tersedak karena gugup. "Bapak ini, mbok ndak usah nggangguin anak lagi makan, lak keselek to jadinya!" omel bu Tuti. "Hend, minum dulu!" Dee memberikan gelas berisi air untuk Hendrick sambil menepuk-nepuk punggungnya. Hendrick meminum sedikit lalu mengatur nafasnya. "Sudah nggak apa-apa?" tanya Dee cemas. "Sudah... Makasih!" Hendrick melanjutkan sarapannya. Pak Edi tersenyum melihat interaksi antara putrinya dan Hendrick. Diane sudah dewasa, batinnya. "Ibu, bapak, Hendrick minta ijin nanti pulang sekolah bawa Dee ke kost, mau belajar buat persiapan ujian." ucap Hendrick takut-takut. "Yakin belajar?" goda Pak Edi. "Iya lah pak, memangnya mau apa? katanya kalau nilai turun bapak ga akan kasih restu, ya kita usahalah gimana biar ga turun." omel Dee. "Hehehehe.... Iya iya, tapi pulang maximal jam 21:00 ya, nggak boleh nginep!" larang pak Edi. "Iya pak, nggak bakal nginep lah!" gerutu Dee. Hendrick makan dalam diam. Setelah selesai mereka berdua segera pamit untuk berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan, tak satupun dari mereka membahas kejadian semalam. Sampai di parkiran mereka bertemu dengan Tony. "Duh ilah... Yang baru aja jadian, nempel terus, aku dilupain wes, ndak kepake!" goda Tony. "Apaan sih mas. Siapa yang nggak kepake? Emang e mas Tony barang bekas?" sahut Dee. "Hahahaha... Aku tetep mas mu sek pwaling ngganteng se Indonesia Raya, yo ra Dee?" gurau Tony seraya memeluk Dee dengan gemas. Hendrick kesal bukan kepalang, sementara Dee hanya tertawa geli. "Ton, kusut seragam Dee!" seru Hendrick. Tony melonggarkan pelukannya, menatap geli ke arah Hendrick. "Yang kusut itu seragam Dee apa hatimu?" Tony mengangkat sebelah alisnya. "Terserah lah Ton! Sayang, ayo!" ajak Hendrick sembari menarik perlahan tangan Dee, namun Tony melepaskannya, Hendrick melotot jengkel. "Wuidih... Sayang... Udah ijin sama kita-kita memangnya?" tanya Tony kesal. "Sudah ijin sama bapak ibu!" jawab Hendrick senang. "Kampret ni bocah, biarpun ijin sama om dan bulik, kalau kami bertiga bilang NO, lihat aja, apa masih dikasih ijin???!!!" ancam Tony. Hendrick mendengus kesal. "Apaan kalian ini, pagi-pagi ribut, buruan masuk kelas!" omel Dee sambil menarik tangan Hendrick dan Tony. "Kalian kapan mau memberi tahu yang lain? Terutama Freddy. Hubungan kalian berdua bisa berakibat fatal pada hubungan persahabatan kita!" kata Tony tiba-tiba, membuat d**a Dee terasa sesak. "Aku nggak ingin menyakiti Freddy, Mas Tony tau kan?" sahut Dee. "Yah... hidup memang harus memilih, hatimu memilih si muka datar ini, ya mau gimana lagi? Mas sudah bilang, bersaing secara sehat, eh la dia nyolong start!" dengus Tony kesal. "Waktu itu nggak sengaja, soalnya Dee ngambek, ya aku jujura aja sekalian. Ternyata Dee juga punya perasaan sama.... Ya kita jadi begini!' sahut Hendrick. "Trus kalian udah ngapain aja?" tanya Tony serius. "KEPO!!" bentak Dee sambil berlari meninggalkan mereka berdua dengan wajah yang memerah. "So, you really did it with her?" Tony mencengkeram baju Hendrick. "Apa maksudmu?" tanya Hendrick kesal. "s*x!" jawab Tony. "Are you mad? We're not even married yet!" bentak Hendrick. "Trus kenapa Dee lari? Mukanya kaya kepiting rebus gitu?" Tony balik membentak. "Cewek mana sih yang nggak malu ditanyain udah ngapain aja sama pacarnya?" geram Hendrick. "Ehem.... Ok!" Tony melepas cengkeramannya dari seragam Hendrick, lalu ngeloyor pergi. "WONG EDAN!!!" umpat Hendrick keras, sampai beberapa anak menoleh padanya, sedangkan Tony tetap melangkah meninggalkannya. Chapter 17 ~end~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD