ONE SHOT-WHEN I LOOK AT YOU

4402 Words
Note: Kalau ada kesempatan, aku bakalan posting one shot setiap jam 10 pagi, setelah cerita inti aku publish :) Semoga terhibur :) Ini mungkin sama saja dengan kisah cinta klise lainnya... pertemuan pertama yang memberikan kesan berarti didalam hati... lalu, kesan tersebut perlahan berubah menjadi cinta...   Memasuki semester lima, jadwal kuliahku semakin padat saja. Aku tidak mempunyai banyak waktu luang untuk mengetik cerita-ceritaku yang selama ini selalu aku publikasikan di sebuah grup pecinta dunia tulis-menulis di f*******:. Kalaupun waktu luang tersebut ada, aku hanya bisa mengetik ala kadarnya saja. Biasanya, aku akan menyisihkan waktu dua jam lamanya untuk mengetik, namun karena padatnya jadwal kuliah, aku hanya bisa mengetik dengan waktu setengah jam. Seringkali, aku merasa kesal akan hal itu. Kenapa? Karena aku memang sangat mencintai hobiku ini. Menulis, menuangkan semua ide dan imajinasiku dalam bentuk tulisan yang kemudian akan kupublikasikan di jejaring sosial agar orang lain bisa membacanya. Aku akan merasa sangat senang dan bahagia apabila karyaku yang belum ada apa-apanya itu bisa dinikmati dan disukai oleh orang banyak. Rasanya seperti memberikan kebahagiaan tersendiri pada orang lain.             “Ngetik lagi, Vhan?”             Pertanyaan itu membuatku tersenyum samar tanpa mengalihkan pandanganku dari layar netbook. Aku sudah teramat hafal dengan suara tersebut sehingga tidak perlu bagiku untuk menoleh. Kemudian, sebuah kursi diseret tepat ke arahku dan Lily, sahabatku semenjak semester satu, sudah duduk manis disana. Gadis berkerudung itu bertopang dagu sambil mendesah panjang dan memainkan rubiks yang sengaja kubawa dari rumah. “Harusnya, lo masuk jurusan sastra, Vhan, bukan jurusan manajemen.”             “Berapa kali gue harus dengar ocehan lo soal itu, Ly?” tanyaku dengan nada geli. Ini adalah kesempatanku untuk menyelesaikan salah satu cerita bersambungku karena sudah ditagih oleh para pembaca setiaku di grup jejaring sosial.             “Ya, habis elo doyan banget ngetik cerita.” Lily menjulurkan kepalanya ke arah layar netbook dan berdecak pelan. “Cerita apa yang lagi lo ketik?”             “Mau tau aja,” balasku sambil tertawa renyah ketika Lily menggerutu tidak jelas karena jawabanku barusan. Lily adalah sahabatku yang gampang penasaran. Dan membuatnya penasaran adalah hal yang paling menyenangkan untukku. “Jangan cemberut gitu, Ly... lo jelek kalau cemberut.”             “Berisik, lo!” seru Lily langsung, yang dibalas dengan gelak tawaku. Terkadang, aku memang suka tidak tahu diri. Orang lagi marah, aku malah menertawakannya. “Ngomong-ngomong, tadi gue ketemu Kak Vean di lantai satu.”             Permainan tanganku pada keyboard netbook seketika terhenti. Aku mendongak dan menatap Lily tepat di manik mata. Gadis itu terlihat serius, tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda atau semacamnya. Lagipula, untuk apa dia bercanda soal Kak Vean?             Vean Armada adalah seniorku di kampus. Dia jurusan akuntansi. Dia dua tahun lebih tua dibandingkan diriku. Awal aku bertemu dengannya saat aku masih menjadi mahasiswi baru di kampus ini. Saat itu, ada acara kampus yang sedang diselenggarakan. Aku dan semua mahasiswa baru menjadi peserta dalam acara tersebut. Kak Vean adalah salah satu panitia yang sedang bertugas untuk mendata para peserta dan ketika giliranku tiba, aku benar-benar terpaku pada senyuman laki-laki itu.             Laki-laki itu memang tidak tampan. Setidaknya, menurutku seperti itu. Hanya saja, terdapat aura dan kharisma yang khas memancar dari wajahnya. Terlebih pada kedua mata dan senyumannya. Hal itulah yang membuatku terpikat pada Kak Vean. Aku selalu menatap Kak Vean dari kejauhan, mengamati caranya menatap lingkungan sekitar, mengamati caranya berbicara, mengamati caranya tersenyum dan tertawa. Semuanya membuatku lupa bahwa ada ribuan laki-laki tampan diluar sana yang kemungkinan besar lebih segala-galanya jika dibandingkan dengan Kak Vean. Tapi, tetap saja aku hanya melihat ke arahnya. Hanya ke arahnya.             Walau aku sadar, dia tidak pernah melihat ke arahku. Sama sekali.             “Oh ya?” Hanya itu respon yang bisa aku berikan. Selebihnya, aku kembali fokus kepada tulisanku.             “Cuma itu respon lo, Vhan?” tanya Lily tidak percaya. Aku menghembuskan napas berat dan kembali memusatkan perhatian pada sahabatku itu. Kusimpan semua hasil tulisanku dan kumatikan netbook. Entahlah, mendengar nama Vean disebut membuat moodku hilang seketika.             “Lo maunya gue gimana, Ly? Lompat-lompat kegirangan? Teriak-teriak nggak jelas? Atau apa?”             “Vhan... lo sebenarnya masih suka, kan, sama Kak Vean?”             Masih suka? Jika diberi pertanyaan seperti itu, aku sendiri bingung harus menjawab apa.             “Udah nggak,” balasku akhirnya. Aku memejamkan kedua mataku dan memijat pelipisku. Ini semua benar-benar membuatku pusing. Setelah berhasil melupakan Kak Vean—setidaknya selama liburan semester kemarin—kenapa sekarang aku harus mendengar nama itu lagi? Tidak tahukah betapa sulitnya aku berusaha untuk mengenyahkan nama itu dari benakku?             Tidak tahukah bahwa aku benar-benar lelah dengan semua perasaan ini?             “Jangan bohong, Vhan.” Lily menyentuh punggung tanganku, membuatku membuka kedua mata dan menatapnya dengan tegas. “Gue tau, jauh didalam lubuk hati lo, lo sebenarnya masih menyimpan rasa sama dia, kan?”             “Gue juga nggak tau, Ly....” Aku menggelengkan kepala. Frustasi dengan apa yang saat ini sedang kurasakan. “Gue udah bisa lupain dia selama liburan tiga bulan kemarin. Seenggaknya, gue udah nggak mikirin dia lagi. Tapi, begitu tadi lo sebut namanya, ada yang aneh, disini....” Aku menunjuk hatiku dengan jari telunjuk.             “Lo berdebar-debar?”             “Kind of...,” jawabku pelan.             “Itu berarti, lo masih suka sama dia, Vhan... bahkan, mungkin lo udah jatuh cinta sama dia....” Lily tersenyum lebar yang kubalas dengan hembusan napas panjang.             “Sayangnya, gue suka sama orang yang salah, Ly....” ### Jika aku diberikan tiga permintaan oleh peri cantik yang mendatangiku didalam mimpi, maka, permintaanku hanya satu... aku tidak ingin permintaan yang terlalu berlebihan... aku hanya ingin meminta, supaya dia menatap ke arahku... hanya ke arahku... menyadari bahwa aku hadir dan selalu berada tepat di depan matanya... sesederhana itu....   Suasana kantin kampus sangat ramai pada jam makan siang seperti ini, membuatku harus ekstra bersabar karena pesananku belum juga tiba. Padahal, cacing-cacing dalam perutku sudah berdemo sejak tadi, memintaku untuk segera memberikan jatah milik mereka. Kuedarkan pandanganku untuk mencari sosok Lily yang menghilang entah kemana. Sampai kemudian, tatapanku berhenti pada satu titik.             Dia... Vean Armada.             Kak Vean sedang duduk dibawah rindangnya pepohonan di depan kantin. Dia sedang bercanda bersama teman-temannya dan kulihat, beberapa diantara teman-temannya itu memberikan selamat dan menjabat tangan Kak Vean. Aku tersenyum kecil dan tanpa sadar menikmati pemandangan tersebut. Ternyata, aku sangat merindukannya. Liburan tiga bulan kemarin membuatku tidak bisa melihat wajahnya, senyumannya, tawanya juga kedua matanya. Hal yang paling kusukai dari Kak Vean memanglah kedua mata dan senyumannya. Lalu, aku menyadari satu hal.             Bulan depan, Kak Vean akan di wisuda.             Itu artinya, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Dia akan memulai kehidupan barunya sebagai orang dewasa. Meninggalkan semua atributnya selama di kampus.             “Lo lagi tatap-tatapan sama Kak Vean, Vhan?”             Suara itu membuatku tersentak lantas langsung menoleh ke sumber suara. Lily baru saja datang dengan membawa segelas jus jeruk segar yang begitu menggoda. Kukerutkan keningku saat gadis itu tersenyum penuh makna dan mengaduk minumannya.             “Maksud lo?”             “Loh? Elo lagi natap Kak Vean, kan? Dan yang gue liat, dia juga menatap ke arah lo.” Lily menunjuk Kak Vean dengan menggunakan dagunya. Ragu, kutatap lagi kerumunan yang berada dibawah pohon rindang tersebut, tempat dimana Kak Vean dan teman-temannya sedang berkumpul. Dan aku berani bersumpah, jantungku sempat berhenti berdetak ketika aku melihat dia tersenyum ke arahku.             “Sejak kapan dia ngeliat ke arah gue, Ly?” tanyaku setelah berhasil mengalihkan tatapanku dari wajah Kak Vean. Jantungku kini berdetak tidak karuan, membuatku kesulitan untuk bernapas.             “Mana gue tau,” jawab Lily cuek sambil mengangkat bahu. “Yang jelas, begitu gue nyamperin lo, gue ngeliat Kak Vean lagi menatap lo. Eh, nggak taunya lo juga lagi natap dia.”             “Gue nggak natap dia, Ly... gue tadi lagi melamun dan emang objek lamunan gue Kak Vean. Tapi, gue sama sekali nggak sadar kalau dia lagi ngeliat... gue....”             Hening. Beberapa kali aku berusaha mencari tahu apakah Kak Vean masih menatapku atau tidak namun aku tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Rupanya, Lily menangkap gerak-gerikku dan gadis itu langsung menghembuskan napas panjang.             “Givhana, dengarin gue....” Lily menggenggam tanganku dengan erat, membuatku mengernyitkan dahi karena bingung. “Lo pernah nggak berpikir kalau mungkin aja Kak Vean menaruh rasa sama lo?”             “Lo ngaco....”             “Gue serius!” tandas Lily langsung dengan suara tegas. Aku langsung bungkam dan menundukkan kepala.             “Ly... lo tau nggak kalau Kak Vean itu pernah suka sama Jacelyn? Bahkan, mereka berdua pernah jalan bareng, nonton bareng dan makan malam bareng....”             “Jacelyn?”             Aku mengangguk lemah.             “So what?!”             Aku menghembuskan napas panjang. Aku termasuk orang yang suka minder dan kurang percaya diri. Aku menilai penampilanku biasa saja, tidak cantik juga tidak menarik. Aku sama seperti Lily, memakai kerudung. Otakku juga biasa saja. Bisa dibilang, aku jika dibandingkan dengan Jacelyn yang cantik dan pintar, bagaikan langit dan bumi.             “Ly... gue sama Jacelyn itu....”             “Givhana! Elo itu terlalu minder. Sikap lo yang seperti itu yang justru membuat lo kurang menarik di depan orang lain.” Lily semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Gue punya pikiran kalau sebenarnya, elo sama Kak Vean itu sama-sama saling suka, hanya saja lo berdua terlalu takut untuk memulai. Lo berdua terlalu gengsi.”             Oke, ucapan Lily tadi membuatku tertawa hambar sekarang. Kak Vean? Suka padaku? Yang benar saja.             “Gue serius, Vhan....”Lily mendesis jengkel ketika tahu bahwa aku tidak mempercayai ucapannya barusan. “Dari semua cerita lo yang pernah lo ceritain ke gue, gue bisa narik kesimpulan kalau dia suka sama lo, sama kayak lo yang suka sama dia. Pertama, lo bilang dia selalu natap Keilvan sinis dan tajam kalau dia liat lo sama Keilvan ngobrol, kan?”             “Kenapa sohib gue jadi lo bawa-bawa, Ly?”             “Nggak usah interupsi dulu, deh,” potong Lily bete. Aku hanya mengangguk meskipun masih kurang paham kenapa Keilvan justru disangkut-pautkan dengan masalah perasaanku pada Kak Vean.             “Lo dulu pernah cerita, waktu lo lagi curhat sama Keilvan di depan kelas, Kak Vean lewat dan dia ngeliat ke arah lo berdua dengan tatapan tajam dan sinis. Bisa aja, kan, Kak Vean nggak suka sama kedekatan lo berdua?”             “Cemburu maksud lo?” tanyaku yang mulai mengerti arah pembicaraan Lily.             “Exactly!” Lily menjentikan jarinya dengan penuh semangat. “Terus, lo juga pernah bilang kalau bukan hanya sekali dia ngelakuin hal itu, tapi di setiap kesempatan lo lagi ngobrol sama Keilvan, dia selalu natap kalian sinis, kan? Apalagi itu namanya kalau bukan cemburu?”             “Yah, bisa aja, kan, Kak Vean nggak suka sama laki-laki playboy? Lo tau sendiri sahabat gue itu playboy kelas kakap.” Aku mencoba mencari alasan logis dari kejadian tersebut.             “Tapi....”             “Ly... jangan bikin gue berharap lagi,” ucapku akhirnya. Kemudian, aku memberanikan diri untuk menatap ke arah Kak Vean dan tersenyum pahit. Disana, aku melihat Kak Vean sedang berbincang dengan dua orang mahasiswi semester tiga sambil tertawa. Ketiganya begitu dekat dan sesekali, Kak Vean akan melirik ke arahku sambil tersenyum.             Untuk apa dia tersenyum kepadaku seperti itu, Tuhan? Apa dia ingin membuatku lebih sakit lagi dari sekedar memendam perasaanku padanya ini?             “Lo liat? Di mata Kak Vean, gue itu nggak pernah ada... sementara di setiap gue menatap, selalu dia yang gue liat... meskipun gue sakit hati, tapi tetap dia yang selalu ada di hati gue....” ### Kita akan dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu, sebelum kemudian dipertemukan dengan orang yang terbaik untuk kita...   Sudah dua hari terakhir ini, aku selalu dipertemukan dengan Kak Vean. Aku tahu, dia masih ada beberapa urusan di kampus sebelum nantinya laki-laki itu akan melaksanakan wisuda. Mungkin, dia harus mengurus biaya untuk wisuda atau semacamnya, entahlah, aku juga tidak terlalu ambil pusing. Yang membuatku pusing adalah kenyataan bahwa hatiku ternyata masih berlabuh padanya. Otakku masih memikirkannya, meskipun aku berkata bahwa aku sudah melupakannya dan tidak memikirkannya lagi.             Apakah mungkin hal tersebut kembali terjadi karena aku bertemu dengannya lagi?             Seperti kejadian dua hari yang lalu di kantin kampus. Saat dia terang-terangan menatapku bahkan tidak mengalihkan tatapannya meskipun aku sudah menangkapnya basah. Juga pada saat dia mengobrol dengan dua mahasiswi semester tiga dengan sangat akrab hingga membuatku cemburu. Aku akui, waktu itu aku memang cemburu. Aku kesal bukan main. Aku menyukai Kak Vean sejak aku duduk di semester satu dan sejak saat itu pula aku tidak pernah berani untuk berbicara dengannya. Bahkan hanya untuk menyapanya pun, aku tidak berani. Yang kulakukan hanyalah diam di tempatku dan memandangnya sepuas hatiku.             Lalu, saat aku sedang menunggu kendaraan umum sendirian di dekat kampus. Aku melihatnya berada di jok belakang motor Revo temannya. Karena sudah terlanjur melihatnya, akupun memberikan seulas senyum dengan anggapan tidak sopan kalau aku membuang muka. Satu senyuman darinya ternyata sanggup membuat debar jantungku menjadi tidak karuan. Ya, dia membalas senyumku.             Ternyata, itu hanyalah senyuman biasa saja. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap lebih karena termakan omongan Lily yang mengatakan bahwa Kak Vean sepertinya menaruh rasa padaku juga. Kemarin, aku melihatnya mengobrol lagi dengan dua orang gadis yang sepertinya adalah Kakak tingkatku. Dia berdiri diapit dua gadis cantik tersebut dan tertawa bersama mereka. Anehnya, ketika aku melintas di depan ketiganya, dia menatap ke arahku sambil tersenyum dan menaikan satu alisnya. Itupun aku tidak melihatnya langsung karena aku mengetahuinya dari Lily yang berjalan di sampingku.             Sejauh ini, aku tidak tahu apa yang ada didalam benak Kak Vean. Aku tidak tahu apa makna dari tindakan-tindakannya terhadapku itu. Dia seolah memberiku sinyal, memberiku tanda bahwa dia memang menyukaiku dan sedang mengujiku. Apakah aku cemburu atau tidak. Dia seolah memberi harapan palsu padaku.             “Kak Vean lagi?”             Sebuah suara berat yang muncul dari arah belakang membuatku terlonjak. Aku menoleh dan berdecak jengkel saat menemukan sosok Keilvan dengan senyum gelinya karena sudah berhasil mengagetkanku sudah duduk manis di sampingku.             “Sok tau,” ucapku kesal.             “Gue selalu tau apa yang terjadi sama lo....” Keilvan mencoba menjahiliku dengan cara ingin menarik kerudungku, namun aku lebih cepat darinya. Kutahan kerudungku sekuat mungkin hingga membuatnya tertawa karena gagal melaksanakan misi isengnya itu.             “Gue bingung sama dia, Keil,” kataku pelan. “Lo tau gue udah bisa ngelupain dia selama tiga bulan terakhir kemarin karena gue nggak ketemu dia, tapi, ketika dia muncul lagi sekarang, gue jadi mikirin dia lagi... mungkin, gue bisa bersikap biasa aja di depan dia, tapi, gue nggak bisa bohong kalau gue merasakan getaran aneh di hati gue kalau ngeliat dia.”             “Lo masih suka sama dia, Vhan... rasa sayang lo kayaknya besar buat dia,” jelas Keilvan kepadaku. “Lo mungkin bisa nipu diri lo sendiri, tapi nggak dengan perasaan lo....”             “Terus gue harus gimana, Keil? Gue nggak mau suka sama dia lagi... it hurts, Keil... menyukai seseorang yang bahkan nggak pernah menatap gue... yang mungkin menganggap gue nggak ada....”             “Elo terlalu cepat mengambil kesimpulan, Vhan,” ucap Keilvan sambil menarik napas panjang. Kedua mata elangnya menatapku dengan tegas, seolah memberikan kekuatan dan keberanian. “Menurut gue, lo sama dia sama-sama saling suka. Jelas-jelas dia cemburu tiap kali liat lo sama gue dulu, waktu kita masih semester empat.”             “Lo persis Lily... dia juga bilang hal yang sama ke gue.”             “Karena mungkin emang itulah yang terjadi.” Keilvan menepuk kepalaku pelan. “Lo sahabat gue dan gue nggak mau lo sakit hati atau bersedih karena laki-laki... sebelum dia pergi dari kampus ini, gimana kalau lo bilang perasaan lo yang sebenarnya ke dia?”             “Lo gila?”             “Be brave, Givhana... kalau ternyata dia memang nggak suka sama lo, nggak sayang sama lo, it’s ok... lo masih punya gue, masih punya Lily dan semua teman-teman lo yang lain. Masih banyak laki-laki baik diluar sana yang pantas buat lo. Lagian, dari awal gue tau lo suka sama dia sebenarnya gue juga udah nggak setuju. Dia itu playboy... dekat sama banyak cewek.”             “Kayak lo, ya?” tanyaku geli yang disambut dengan cibiran khas dari Keilvan. Aku tertawa dan diapun ikut tertawa. Ya, Keilvan benar... mungkin, aku memang harus mengatakan perihal perasaanku ini pada Kak Vean. Supaya semuanya jelas.             Dan sebelum kesempatanku hilang begitu saja. ### Mengapa sekarang kau inginkanku lagi? Akan kau toreh luka yang kedua kali... tak mungkin kubisa lagi menyayangmu, sementara sakitnya masih membayangi...   Hari ini ada acara debat antar calon ketua lembaga di kampus. Aku duduk untuk menyaksikan acara tersebut dengan Lily. Keilvan tidak terlihat dimanapun. Kurasa, dia berada di kantin. Sahabatku yang satu itu memang tidak bisa jauh-jauh dari kantin kampus.             Lagu Ada Band masih mengalun dari headset yang kukenakkan. Mungkin, lagu ini juga cocok untukku. Maksudku, bagian refrain dari lagu ini seperti menggambarkan keadaan diriku meskipun tidak terlalu persis. Intinya, Kak Vean seolah memberikan harapan untuk menorehkan luka yang kesekian kalinya di hatiku. Sementara aku diambang kebimbangan, antara ingin meneruskan perasaan sayangku padanya atau menyudahinya saja dan mencoba lagi untuk melupakannya karena rasa sakit yang masih membayangiku.             Melelahkan.             “Selain suka ngetik, lo juga suka nonton acara debat, Vhan? Kayaknya, lo juga cocok jadi anak hukum, deh.” Lily, untuk yang kesekian kalinya kembali berkomentar dan aku hanya diam sambil tersenyum. Malas untuk meladeni ocehannya itu.             Tak lama, ketika acara debat mulai berlangsung, lenganku diguncang dengan sangat kencang oleh Lily. Refleks, aku melepaskan headset yang memang hanya kupakai sebelahnya saja. Aku menoleh dan mengerutkan kening.             “What? What happened?” tanyaku malas.             “Ada Kak Vean,” bisik Lily panik. Tubuhku otomatis membeku ketika mendengar nama itu. Aku memejamkan kedua mata, menarik napas lantas memberanikan diri untuk mencari keberadaan Kak Vean. Dan begitu aku menemukan sosok yang sudah mencuri hatiku selama kurang lebih dua tahun ini, aku tertegun.             Dia menatapku!             Aku rasanya ingin terbang ke langit ketujuh saat melihatnya tersenyum tipis sambil masih saja menatap ke arahku. Tapi... tunggu dulu. Ada yang aneh disini. Aku merasa kesulitan bernapas. Entah kenapa. Aku mengedarkan pandanganku dan berhenti pada satu titik. Satu titik yang berada tepat di depanku. Satu titik yang membawaku pada sesosok gadis yang entah sejak kapan sudah duduk manis disana.             Dia... Jacelyn.             Jacelyn duduk tepat di depanku. Hatiku rasanya seperti diberi perasan jeruk nipis. Begitu perih. Lagi, aku dihempaskan ke bumi dengan sangat keras setelah sebelumnya sempat melambung tinggi ke angkasa. Kak Vean memang tidak pernah melihatku. Tidak pernah menatapku, tidak pernah menganggapku ada. Dia hanya ingin memberikanku harapan-harapan palsu dan hanya ingin menerbangkanku setinggi mungkin lalu menghempaskanku ke bumi tanpa ampun.             Dia masih menyukai Jacelyn.             Cukup! Cukup! Aku tidak tahan lagi!             Aku memberikan isyarat pada Lily untuk menunggu sebentar dan aku langsung melesat meninggalkan sahabatku itu. Aku berjalan dengan tergesa tanpa memperhatikan keadaan sekitar, sehingga aku tidak sadar bahwa seseorang berjalan dari arah yang berlawanan. Tabrakan pun tak terelakan lagi. Aku meminta maaf sekadarnya saja dan kembali meneruskan langkah, tak peduli bahwa orang yang kutabrak itu menyerukan namaku dengan keras.             Ketika sampai di kamar mandi, tangisku langsung pecah. Aku meluruh begitu saja di pintu kamar mandi sambil terisak hebat. Sebelah tanganku terangkat ke d**a dan menekan kuat bagian tersebut guna menghilangkan rasa sesak yang timbul disana. Namun, sekuat apapun aku mencoba, rasa sesak itu tidak mau menghilang. Yang ada, justru semakin menerjangku. Menghimpit rongga dadaku, tidak mau meninggalkanku.             Terdengar suara ketukan di depan sana, disusul suara yang sangat kukenal. Suara Keilvan. Aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli. Aku ingin menangis sepuasnya, berteriak sepuasnya.             Aku ingin melupakan Kak Vean, Tuhan...             Aku ingin melupakannya...             Melupakannya bersama rasa cintaku untuknya...   Engkau punya dia, sementara aku sendiri... ### Jangan menyalahkan cinta karena cinta tidak pernah salah dalam memilih... jangan salahkan dia, karena dia tidak pernah menyakiti... jika ada yang harus disalahkan, maka, salahkan dirimu sendiri... karena sebenarnya, kamulah yang menyakiti dirimu sendiri...   Sore ini aku pulang bersama Ezira, sahabatku selain Lily dan Keilvan. Lily sudah pulang terlebih dahulu bersama Karra sementara Keilvan mengantar pacarnya entah kemana. Dalam situasi seperti ini, aku masih saja memikirkan Kak Vean. Padahal, lagi-lagi dia sudah menyakiti hatiku meskipun itu tanpa dia sadari.             Atau... justru akulah yang sebenarnya sedang menyakiti diri sendiri?             “Kenapa, Vhan?” tanya Ezira pelan. Gadis itu menyenggol lenganku dan menatap wajahku. Semalam, aku menangis. Menangisi perasaanku pada Kak Vean. Menangisi ketololanku karena masih saja tetap menyukainya meskipun sudah jelas dia masih menyukai Jacelyn. Tapi, tidak mungkin, kan, sembap pada mataku masih terlihat?             “Nggak apa-apa,” dustaku sambil tersenyum. Aku menghembuskan napas panjang dan berkonsentrasi pada jalanan di depan. Aku dan Ezira harus berjalan kaki terlebih dahulu selama kurang lebih dua menit sebelum kemudian akan memakai jasa angkutan umum.             Tepat pada saat aku mendongak, aku terpaku. Tak jauh di depanku berdiri Kak Vean. Laki-laki itu sepertinya menyadari kehadiran kami karena dia langsung tersenyum. Ezira yang memang cukup sering mengobrol dengan Kak Vean—dan dia juga tahu perasaanku pada laki-laki itu sehingga beberapa kali sewaktu semester empat sempat mencoba mendekatkan kami—langsung menghampiri Kak Vean.             Tanpa tahu bahwa aku mencoba menahan airmataku yang mengancam untuk kembali membasahi wajahku seperti semalam.             “Hai, Kak,” sapa Ezira ramah pada laki-laki itu. Di belakang Ezira, aku hanya diam sambil berpura-pura berkonsentrasi pada ponselku. Jantungku kembali berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya dan tanganku mendadak dingin. “Mau pulang juga, Kak?” lanjut Ezira.             “Iya,” balas Kak Vean. Suaranya benar-benar menggema sampai ke dasar hatiku. Tegas dan lembut. Perpaduan yang begitu unik. Kulirik sekilas laki-laki itu dan dia sedang berjabat tangan dengan Ezira. Demi menghindari hal tersebut, aku langsung berjalan cepat ke arah trotoar yang sialnya harus melewati tubuh Kak Vean. Kulihat dia mengulurkan tangan kanannya. Karena, lagi-lagi merasa tidak sopan kalau aku melengos begitu saja, maka, dengan berat hati aku menyambut uluran tangan tersebut.             DEG!             Uluran tangan itu begitu tegas dan erat. Kudongakkan kepala dan aku terpaku. Kak Vean tersenyum ke arahku. Kedua matanya menyorot lembut dan membuatku diserang rasa sesak yang begitu hebat.             Apakah ini salah satu permainannya lagi untuk membuat hatiku hancur?             Dengan cepat kulepaskan tanganku. Aku berdeham dan mengambil jarak yang cukup jauh dari laki-laki itu. Kubiarkan Ezira mengobrol dengan Kak Vean sementara aku menatap jalan raya di depanku dengan tatapan menerawang.             Kenapa dia harus memberikan tatapan seperti tadi?             Seolah-olah dia memang benar-benar menyimpan rasa untukku, seperti yang Lily dan Keilvan pernah ucapkan tempo hari.   You appear just like a dream to me Just like kaleidoscope colors that cover me All I need Every breath that I breathe (Miley Cyrus-When I Look At You) ### “Lo yakin, nggak akan bilang perasaan lo ke Kak Vean, Vhan?”             Entah sudah yang keberapa kalinya, Lily dan Ezira memberiku pertanyaan serupa. Di depanku, Keilvan menatap dengan kedua mata elangnya. Aku tahu, ini adalah keputusanku yang terbodoh. Tapi, lebih baik Kak Vean tidak mengetahui tentang perasaanku ini. Aku tidak ingin dia mengasihaniku, itu saja.             “Vhan, lo bakalan nyesel nanti,” ucap Keilvan memperingatkanku.             Menyesal?             Kurasa aku sudah merasakannya sekarang.             “Gue tau lo semua peduli sama gue, tapi, gue udah ngambil keputusan. Gue akan simpan perasaan ini sendiri, sampai nanti ada seseorang yang bisa menghapusnya. Kak Vean nggak perlu tau soal rasa suka dan sayang gue ke dia, karena itu cuma akan jadi beban pikiran dia aja. Dia akan ngerasa kasihan dan terbebani sama perasaan gue. Itu akan lebih menyakitkan buat gue. Jadi, biarin aja dia nggak tau apa-apa. Anggap aja, semua ini nggak pernah terjadi dan nggak pernah gue alamin.” Aku menatap Keilvan, Lily dan Ezira secara bergantian dengan senyum tipis di bibirku.             “Vhan... lo... yakin...?” tanya Lily lagi. Aku mengangguk sebagai jawaban.             “Gue nggak akan kenapa-napa, Ly... gue akan baik-baik aja. Mungkin awalnya emang bakalan menyakitkan, tapi, gue yakin gue bisa menghadapi semuanya. Karena ada lo, Ezira juga Keilvan.”             Tidak ada lagi yang membantah ucapanku dan aku bersyukur akan hal itu. Aku menghembuskan napas panjang dan mengambil bolpoin. Aku menulis sesuatu di atas selembar kertas yang kemudian kubentuk menjadi seperti kapal terbang. Aku mendekati jendela kelas dan menatap langit biru di atas sana. Kupejamkan kedua mata dan kunikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Setelah hari ini, perasaanku pada Kak Vean akan ikut terbang bersama angin.             Setelah memantapkan hati, aku membuka kedua mataku. Aku tersenyum dan menerbangkan kapal terbang kertasku ke udara. Kertas tersebut sempat melayang selama beberapa detik sebelum akhirnya jatuh ke bawah. Aku tidak perlu khawatir akan ada orang yang menemukannya karena dibawah sana adalah taman belakang yang jarang didatangi para mahasiswa.             Dengan ini, aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk melupakan perasaan cintaku pada Kak Vean. ### Dibawah rimbunnya pepohanan, sesosok laki-laki bertubuh tinggi sedang duduk sambil membaca sebuah novel. Dia begitu fokus dalam membaca baris demi baris kalimat yang tertera disana. Sampai kemudian, sebuah kertas melayang tepat di depannya. Kertas yang menyerupai kapal terbang.             “Apaan, nih?” gumam laki-laki itu dengan kening berkerut. Dibukanya lipatan kertas yang menyerupai kapal terbang tersebut dan dia menaikkan satu alisnya. Senyum tipis tercetak di bibirnya yang merah. Sambil kembali menyandarkan punggungnya pada batang pohon, dia membaca tulisan tangan indah yang tertera pada kertas tersebut.   Hati tidak pernah salah dalam memilih, tetapi, kenapa di setiap pilihan justru ada rasa sakit yang menghampiri? Aku menyukainya selama ini, meskipun aku sadar bahwa dia tidak akan pernah melihat keberadaanku. Bodohnya, aku tetap saja menyukainya, terus menyukainya hingga aku sendiri tidak tahu kapan bisa mengakhiri perasaan sepihak ini... Jika sebuah rindu membuatmu merasa sesak, maka, jangan salahkan rindu tersebut... tapi, salahkan waktu yang sudah mempertemukanmu dengannya, seperti waktu yang sudah mempertemukanku dengan orang yang kusayangi itu... ingin aku memutar balik waktu, tetapi aku tidak punya kekuatan untuk melakukan hal tersebut... Caramu menatap, tersenyum dan tertawa akan selalu terekam jelas didalam benakku entah sampai kapan... mungkin, semua itu akan hilang seiring dengan berjalannya waktu... atau, sampai datang seseorang yang akan membantuku untuk melupakanmu... Aku tidak menganggapmu sebagai sebuah kesalahan... aku justru menikmati setiap detiknya ketika aku merindukanmu, ketika aku menyukaimu, ketika aku menyayangimu... aku percaya, Tuhan akan memberikanku kebahagiaan. Bukankah kita akan dipertemukan dengan orang yang salah terlebih dahulu sebelum akhirnya dipertemukan dengan orang yang tepat? Meskipun sekali lagi, aku tidak menganggapmu sebagai sebuah kesalahan... Pada akhirnya, setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan... walaupun kita tidak saling mengenal dekat, tetapi, inilah waktu perpisahan bagi kita berdua. Selamanya, akan kuingat dirimu sebagai seseorang yang pernah singgah di hatiku selama dua tahun terakhir ini, walaupun mungkin kau tidak akan pernah mengetahuinya...               “VEAN! JADI PERGI, NGGAK?”             Teriakan salah satu temannya itu membuat Vean terlonjak kaget. Laki-laki itu memberi isyarat kepada sang teman untuk menunggu sementara dirinya merapihkan semua benda yang dibawanya dan dimasukan kedalam ranselnya. Kertas yang baru saja dibacanya itu membuatnya tersenyum semakin lebar. Dilipatnya kertas tersebut dengan rapi dan laki-laki itu langsung berjalan menghampiri gerombolan teman-temannya yang sudah menunggu. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD