1. Menyangkal perbuatan menjijikkan Tama.

1148 Words
Tubuh kekar Tama memangku seorang wanita tak berbusana, wanita itu melingkarkan lengannya dalam dekapan Tama dan tenggelam dalam rengkuh kehangatan yang Tama berikan. Tawa riang wanita itu terdengar renyah setiap kali Tama menyentuh kulitnya yang halus dan tak lagi berbusana itu, sentuhan ringan yang Tama berikan membuat wanita itu semakin larut dalam danau kenikmatan yang menghanyutkan dari Tama. Jemari Tama menyentuh tepat di pelipis wanita itu. Menatapnya dengan dalam dan penuh makna. Tama pun tersenyum dengan begitu tulus. "Aku mencintaimu," bisiknya lirih tepat di telinga wanita itu. "Aku juga, aku sangat mencintaimu Tama!" Mata wanita itu terpejam seraya membalas bisikan cinta dari Tama. Napasnya semakin menderu kencang tiap kali Tama menyentuh tubuh mungilnya itu. Hentakkan yang Tama lakukan di tubuhnya membuat wanita itu semakin tenggelam dalam dekapan pria tercintanya. Whuuuuush... Tiba-tiba, Tama meniup telinga wanita itu yang seketika membuatnya tertawa geli. Tak pernah bosan bagi Tama untuk mengganggu wanita yang kini berada tepat dalam pangkuannya itu. "Tamaaa!!!" teriak wanita itu yang langsung berusaha untuk membalas segala perbuatan iseng Tama dengan memukul ringan bahu Tama. Kekehan riang pun seketika memenuhi ruangan tersebut. Di waktu yang sama Rima tunangan Tama yang baru saja pulang dari luar negeri itu tiba di apartemen mewah tersebut. Apartemen yang Tama beli bersama dengan Rima kekasihnya. Sebagai rumah masa depan mereka kelak setelah menikah. Akan tetapi, setelah berharap untuk bisa melepas rindu dengan sang kekasih, Rima malah mendengar suara tawa renyah yang membuat hatinya resah, tepat saat ia baru saja memasuki apartemen tersebut. "Su-suara apa itu?" Rima mencoba untuk mendengar lebih jelas suara yang terdengar mencemaskan tersebut. Perasaan Rima langsung terasa tidak enak di setiap langkah ia memasuki apartemennya itu. Belum lagi suara yang menggema itu membuat tubuh Rima gemetar tanpa terkendali. Jujur, Rima tak berani membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, sejenak Rima memikirkan kembali apa yang sempat sepupunya katakan saat ia berada di luar negeri. "Aku melihat seorang wanita masuk ke apartemen Tama!" itulah yang dikatakan oleh sepupu Rima saat itu, tapi Rima tentu tidak akan percaya itu sepenuhnya. Sejak awal, sepupu Rima memang tidak suka dengan Tama, ia tidak percaya akan ketulusan cinta Tama padanya dan pada akhirnya hal sepele pun selalu dianggap masalah oleh sepupunya. Sebab itu, Rima tidak terlalu memikirkan apa yang sepupunya katakan. Ia hanya merasa sepupunya mencari alasan agar pertunangan mereka batal. Sampai hari ini, ia mendengar dengan telinganya sendiri suara tawa seorang wanita di apartemen yang seharusnya hanya ditinggali oleh tunangannya itu saja. "Tuhan, semoga tidak seperti yang aku pikirkan!" Seraya berjalan perlahan mendekati sumber tawa tersebut, Rima terus berdoa dalam hatinya. Langkah kakinya terasa berat dengan segala pikirannya yang mulai kacau. Debaran hatinya tak terkendali, bercampur dengan segala emosi yang Berniat untuk memberikan kejutan untuk sang tunangan dengan kepulangannya Rima malah mendapati perselingkuhan yang di lakukan oleh sang tunangan. "Ini tidak mungkin, Tama tidak mungkin selingkuh dariku!" "Aku yakin, semua ini salah paham saja!" Masih menyangkal dengan pikirannya, Rima terus menduga berbagai hal yang mungkin tengah terjadi di apartemen tersebut. Ia berusaha menjauhkan pikiran buruk tentang perselingkuhan itu. Tamareza Andelio adalah kekasih yang telah menjalin hubungan selama tiga tahun oleh Rima Fahira Aratama. Tama selalu bersikap baik dan penuh kasih pada Rima, ia kerap melakukan banyak hal untuk Rima. Perhatiannya tercurah hanya untuk Rima, saat bersama dengan Rima, Tama tidak pernah melirik pada wanita mana pun, ia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain, dan lagi Tama selalu membisikkan kata cinta untuk Rima. Selama ini, begitulah yang Rima tahu tentang kekasihnya itu. "Benar, Tama tak mungkin melakukan itu semua!" "Tidak mungkin Tama yang begitu baik malah melakukan perbuatan hina seperti itu!" Penyangkalan itu semakin Rima perkuat, ia yakin bila Tama tidak akan mungkin melakukan hal menjijikkan seperti sebuah perselingkuhan. Tama yang baik hati tidak mungkin akan mencoreng namanya dengan hal hina dan keji yang sangat memalukan seperti itu. Apa lagi, bila mengingat segala yang sempat Tama lakukan dan korbankan untuknya. Rima yakin, Tama adalah pria setia yang tak mungkin berselingkuh. Segala yang Tama lakukan selama ini jugalah yang membuat Rima mantap dengan keputusannya untuk menikah dengan Tama. Hingga mereka pun menjalani pertunangannya beberapa bulan yang lalu dan kini Rima merasakan hal yang tidak mungkin, jika sang tunangan yang selalu bersikap baik dengannya ternyata memiliki wanita lain. "Jangan bilang, kalau kamu memang melakukan hal menjijikkan seperti itu, Tama!" gumam Rima yang sudah mendekati sumber suara gaduh itu. Hingga langkah kaki Rima yang mengikuti arah tawa itu terhenti tepat di depan pintu kamar. Pintu itu tidak tertutup rapat, sehingga Rima mampu melihat dengan jelas apa yang Tama dan wanita itu lakukan di dalam kamar tersebut. Langkah kecil Rima yang perlahan itu tak disadari oleh Tama, Tama justru asik dengan wanita yang kini berada dalam pangkuannya, menikmati tubuh mungil tersebut penuh dengan tawa dan canda riangnya. "Kenapa? kenapa semua ini terjadi?" Tubuh Rima gemetar saat menyaksikan kemesraan Tama dan wanita asing itu. Pikirannya seketika itu kacau dengan hatinya yang juga remuk seketika, pandangan matanya kabur dan samar dengan napasnya yang semakin tersekat, tenggorokannya kering mencekik menembus batinnya yang telah hancur. Rima, patah hati dengan kenyataan yang tak lagi bisa dibantah. Tertangkap basah, dari jauh Rima melihat kedua orang itu yang tak berbusana mesra dalam canda tawa yang justru meruntuhkan segalanya, termasuk masa depan yang pernah Rima bayangkan bersama sang kekasih. "Aduh, jangan Tama, geli!" tutur wanita itu dengan tawanya yang memenuhi kamar mewah apartemen tersebut. Tawa itu saling bersahutan saat Tama dengan lincah bermain nakal dengan wanita asing itu. Saling menggelitik dan menggoda satu dan lainnya dengan mesra. Rima yang kini tersentak akan kenyataan pahit itu menyerah dengan segala penyangkalan kerasnya yang sedari tadi ia ukir di benaknya. Semua sudah terbukti dan tak butuh lagi alasan apa pun untuk menyangkal perbuatan hina Tama. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Tenggelam dengan kebingungan yang nyata satu hal yang terus terpikir oleh Rima, ia tak boleh terlihat lemah oleh Tama. Ia tak boleh kalah dengan pengkhianatan besar yang Tama lakukan. Tekadnya bulat untuk membuat Tama jauh lebih terpuruk dari apa yang ia lakukan saat ini. "Benar, jika aku terlihat terluka, maka yang ada aku akan terlihat menyedihkan!" Berapi-api, Rima tidak ingin dirinya semakin terlihat rendah. Apa lagi dengan sikap baik Tama selama ini yang mungkin saja hanya sebuah sandiwara. Maka, itu membuat Rima semakin yakin bila ia harus lebih terlihat baik-baik saja. Menyerah, Rima pun masuk ke dalam kamar tersebut menyaksikan kedua orang yang sibuk dengan aksi nakal mereka dari dekat. Samar, Tama akhirnya melihat sosok Rima yang sudah berdiri di tepi kasur, ia berusaha meraih Rima. Memanggil nama Rima dengan suaranya yang tercekat dan tubuh wanita asing yang masih gemetar di atas tubuh Tama, mendesah dan bergeliat resah. "Rima!!" "Rima!!" Tama memanggil nama Rima berulang kali dengan suara paraunya. Begitu mendengar Tama memanggil nama Rima, wanita itu tersentak, ia secepat mungkin menutup tubuh tak berbusananya dengan selimut. Wanita itu terlihat kikuk dengan Tama yang masih berusaha menggapai Rima sementara wanita itu tak kunjung beranjak dari atas tubuh Tama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD