Ujian dan pelajaran II

1222 Words
Setelah obrolan panjang yang terjadi di antara Raga dan anak anak jalanan, laki laki itu memutuskan untuk mengantarkan mereka pulang. Hari sudah semakin sore, Raga tidak tega melihat mereka berjalan kaki sampai rumah. Apalagi, cuaca sedang mendung takut jika anak anak itu kehujanan. "Tante Jiwa, kok diem aja? Enggak suka ya kalau kita nebeng." Tanya Farid, bocah yang sejak tadi terdiam ternyata terus memperhatikan Jiwa. Jiwa menggeleng, gadis itu bukannya tidak suka jika harus satu mobil dengan mereka. Ini semua gara gara Raga, seenaknya menyuruh anak anak itu memanggilnya Tante. Jiwa tidak suka, menurutnya usianya terlalu muda untuk panggilan itu. "Suka kok, malah rame kalau ada kalian. Aku, cuma lagi enggak enak badan aja." Ucap Jiwa lembut, ingin sekali rasanya memaki suaminya sendiri. Ketiga anak itu kompak mengangguk, mereka tidak berfikir terlalu jauh. Yang mereka ada di fikiran mereka, Jiwa benar benar tidak enak badan. "Kamu sakit Wa?" Mendengar pertanyaan dari Raga, membuat Jiwa semakin muak. "Cuma butuh istirahat Om," Jika tidak ada orang lain di mobil, sudah pasti Jiwa akan mengamuk. Namun, sebagai seorang istri Jiwa tidak mau mempermalukan suaminya. "Tante Jiwa ini, istrinya Om apa bukan? Kok manggilnya Om juga." tanya Farid lagi. Jiwa yang baru saja ingin memejamkan matanya, hanya melirik Raga. Biarkan saja Raga yang menjelaskan. Menyadari isyarat dari istrinya, Raga berdehem pelan. "Kami baru menikah karena perjodohan, istri Om orangnya pemalu. Kalau ada banyak orang kadang manggilnya Om, mungkin belum terbiasa." Jiwa melotot mendengar penjelasan Raga, dasar gila. Padahal sudah jelas, laki laki itu yang memaksanya menikah tapi malah mengatakan jika pernikahan ini terjadi karena perjodohan. Ketiga anak itu kompak mengangguk, mereka tidak mau bertanya terlalu jauh. "Makasih ya Om udah anterin kita pulang, makasih buat makanannya dan uang bulanannya. Kita seperti punya orang tua," Raga mengangguk, sudah menjadi kebiasaannya untuk memberikan uang setiap bulan pada anak anak itu. Selain uang bulanan, Raga juga membayar kontrakan untuk mereka selama 1 tahun. Waktu itu, Raga sudah melarang mereka bekerja. Tapi mereka menolak, anak anak itu tidak mau terus menerus merepotkan Raga. Apalagi, Raga juga sudah menyekolahkan mereka. "Kita pamit ya Om, kapan kapan om sama tante Jiwa main kesini ya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," Jiwa dan Raga memperhatikan anak anak itu sampai masuk ke dalam rumah. "Kamu beneran sakit?" Jiwa menatap sinis suaminya, dasar laki laki tua tidak peka. "Aku pura pura." Ujar Jiwa, gadis itu tidak perlu menahan rasa kesalnya. "Kamu, enggak suka sama mereka? Mereka sudah lama kenal sama saya, saya pikir kamu menyukai anak anak." Raga mulai menghidupkan mobilnya, sudah saatnya mereka pulang. "Aku enggak suka di panggil tante, terlalu tua. Aku enggak suka," Raga tertawa mendengar alasan Jiwa, jadi karena itu istrinya menjadi pendiam? Sangat menggemaskan. "Jadi kamu diam gara gara saya manggil kamu tante? Kalau manggil sayang boleh?" goda Raga, sejak hari pernikahannya laki laki itu sangat ingin memanggil Jiwa dengan panggilan sayang. "Jangan aneh aneh om, mimpi aja manggil aku gitu." "Manggil gitu gimana Wa?" tanya Raga, sambil menyetir mobil. "Ya yang tadi," Melihat Jiwa kesal, membuat Raga semakin gencar menjahili istrinya. "Dari tadi kamu enggak ngomong apa apa Wa, jadi enggak mau di panggil apa?" "Sayang." "Iya sayang." Raga semakin gencar menjahili Jiwa, gadis itu pasti akan mengamuk. "Bodo amat, aku enggak denger!" Raga tertawa terbahak-bahak, lucu sekali istri kecilnya itu. "Udah jangan marah, nanti saya tambah cinta sama kamu." Ucap Raga. "Makan tuh cinta, aku enggak mau cinta sama om!" Ketus Jiwa, sampai kapanpun tidak akan cinta untuk Raga. "Berani taruhan? Kalau kamu cinta sama saya, kamu harus menjalani kewajiban sebagai seorang istri." Deg Akhirnya kata kata itu terucap dari mulut Raga, hal yang tidak akan pernah Jiwa berikan. Yang ada di pikiran Jiwa hanyalah cepat bercerai dari Raga, gadis itu ingin bebas dari hidup Raga. "Diam, berarti setuju." Kenapa diam selalu dianggap setuju, Raga memang menyebalkan. "Aku enggak mau, aku enggak bakalan cinta sama Om." Ucap Jiwa dengan bangga, gadis itu sangat yakin jika pernikahan ini tidak akan berhasil. Raga tersenyum remeh, sejauh ini belum pernah ada perempuan yang menolaknya. Kebanyakan dari mereka malah mengungkapkan perasaannya pada Raga, tapi langsung di tolak. Lihat saja, dalam waktu singkat istri kecilnya akan segera luluh. "Kamu tau, di luaran sana banyak perempuan yang suka rela menyerahkan diri. Tapi saya tipe pemilih, pilihan saya cuma kamu." "Om bukan pemilih, tapi pemaksa!" sepertinya, Jiwa harus menjelaskan bedanya pemilih dan pemaksa. Semakin Jiwa menolak, rasa cinta Raga akan semakin bertambah. Laki laki itu tidak suka penolakan, tapi saat bersama Jiwa penolakan akan menjadi hal yang sangat menantang. "Saya tau, dan saya suka kebiasaan saya yang satu itu. Hal yang harus kamu ingat, laki laki yang pernah memaksa kamu untuk menikah adalah laki laki yang akan membahagiakan kamu." Jiwa tidak peduli, semua kata kata yang di ucapkan Raga hanyalah omong kosong. Bagaimana ada kebahagiaan, sementara tidak ada cinta di antara mereka. Suaminya memang kaya, semua itu tidak cukup. Uang tidak menjamin kebahagiaan. "Om, udah lama kenal sama anak jalanan yang tadi?" Rasa penasarannya harus di selesaikan, kenapa Raga begitu peduli pada mereka. Raga mengangguk, anak jalanan yang sudah di anggap seperti adiknya. "Hampir 2 tahun, waktu itu saya mau pulang. Enggak sengaja ketemu mereka di dekat warung makan pinggir jalan, saya dengar mereka mengeluh karena lapar. Saya enggak tega liat anak kecil seusia mereka harus menahan lapar karena tidak punya uang," Raga menjeda ucapannya, ingatannya kembali saat pertama kali bertemu anak anak itu. "Saya ajak mereka berlima masuk ke warung makan itu, awalnya mereka menolak katanya enggak punya uang dan mereka enggak mau meminta minta. Saya salut sama mereka, meskipun hidupnya susah mereka enggak mau merepotkan orang lain." Lanjut Raga. Jiwa tidak menyangka, jika suami tuanya mempunyai hati yang baik. Tapi kenapa, kebaikan itu tidak berlaku untuk Jiwa? "Mau lanjut enggak nih ceritanya?" Raga tau, Jiwa mulai tertarik dengan anak anak. Hal itu Raga manfaatkan, agar bisa banyak berkomunikasi dengan istrinya. "Terserah." Jujur, Jiwa sudah terlanjur penasaran mendengar cerita Raga. Namun, gadis itu terlalu gengsi untuk mengakuinya. Raga tersenyum, kenapa Jiwa sangat menjunjung tinggi gengsinya. Padahal, Raga sudah menjadi suaminya. "Akhirnya, mereka mau saya ajak makan bersama. Hati saya terenyuh melihat keadaan mereka, padahal waktu itu saya cuma traktir mereka ayam bakar. Bagi saya, ayam bakar adalah makanan dengan harga yang masih terjangkau. Tapi mereka bilang, sudah lama tidak makan ayam bakar. Bahkan, sebungkus nasi mereka makan berlima. Sebenarnya, jadwal saya bertemu mereka masih 5 hari lagi. Tapi saat melihat makanan yang belum kamu makan, saya teringat mereka. Makanya tadi saya minta di bungkus makanannya, dari banyaknya makanan mahal yang kamu pesan hanya nasi goreng yang kamu makan." Papar Raga, laki laki itu tidak mempermasalahkan harga makanan yang Jiwa pesan. Namun, Raga sangat menyayangkan jika makanan itu terbuang begitu saja. Mengingat banyaknya orang yang kekurangan makanan. Mendengar cerita suaminya, Jiwa menjadi merasa bersalah. Niatnya memesan banyak makanan hanya untuk mengerjai Raga, tapi Jiwa malah mendapatkan pelajaran. "Maaf, aku enggak bermaksud boros." Ucap Jiwa tidak enak. Raga tersenyum, ini bukanlah sebuah kesalahan tapi kenapa Jiwa meminta maaf padanya? "Uang saya banyak Wa, kamu boros tiap hari enggak akan buat saya bangkrut. Lebih baik, uangnya saya habiskan bersama istri saya daripada dengan perempuan lain." Raga tidak berbohong, hanya bersama Jiwa laki laki itu menjadi royal. Jiwa memutar bola matanya jengah, baru saja merasa terharu karena Raga mempunyai sifat dermawan. Tapi semua itu menghilang saat suaminya, dengan bangga membanggakan hartanya. "Kalau gitu, besok pagi udah harus ada mobil baru di rumah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD