Surat Cinta dari Pengagum Tiara

1067 Words
Bel pertanda istirahat telah selesai pun berbunyi. Hal itu menandakan seluruh siswa harus kembali ke dalam kelas mereka dan mengikuti pelajaran seperti biasanya. “Sekarang pelajaran apaan dah? Gue kok jadi lupa gini ya, udah tua kali ya Gue.” “Lu nya aja yang gak pernah baca mapel,Dini Ariyani! pakek bawa-bawa umur segala lagi, mangkanya kalo malem tuh diliat dulu apa aja mapel yang bakal dipelajari besok!” “Iyadeh, Bu Guru! Ya gimana ya, Gue kan sok sibuk gitu jadi gak ada waktu,haha.” Tiara hanya menghela nafas panjang mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. Mereka banyak memiliki kesamaan. Contohnya saja, mereka sama-sama tidak bisa berubah, meski sudah diberitahu berulang kali. Tiara tidak bisa berubah meski ibunya meminta untuk selalu bangun pagi sendiri. Dini tidak bisa berubah meski Tiara selalu mengingatkan untuk mengecek barang bawaannya ke sekolah. Tak lama kemudian, bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa-siswi berhamburan pergi ke luar kelas. Mereka tidak sabar untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga dengan Tiara dan Dini. “Ra, Gue pulang duluan ya!sSoalnya Gue mesti ke toko kue dulu, biasa Ibu Gue nitip bahan-bahan buat bikin kue”. “Wihh, Tante Farah mau bikin kue nih. Mau dong nyobain kuenya, Din!” “Boleh-boleh, entar kalo Ibu Gue uda bikin kue. Gue bakal anterin ke rumah Lu deh. Tapi belum tau deh, Ibu bikin kuenya kapan.” “Okedeh, hati-hati ya!” Tiara berjalan sendiran melewati lorong-lorong kelas. Ia bergegas pergi karena takut pak supir sudah menunggunya. Brakkkk… suara tabrakan yang cukup keras. “Aww, sakitt banget!” ucap Tiara meringis kesakitan. “Ehh, sorry-sorry Lu gak apa-apa kan? Ada yang luka?” ucap seorang pemuda yang menabrak Tiara. “Gak apa-apa kok! cuman lecet dikit agak perih juga sih.” “Iya bener, kok Lu bisa tau sih? Tau dari mana tentang Gue?” tanya Tiara penasaran. “Siapa sih yang gak kenal Tiara Agustina! wajah sekolah di SMAN 1 Mutiara.” “Hah? Emang Gue seterkenal itu ya di sekolahan? Perasaan enggak tuh, biasa aja deh.” “Hehe, ternyata Lu emang sesuai banget ya sama apa yang anak-anak ceritain tentang Lu. Emm… btw, kenalin nama Gue Reno Alfian, Gue anak basket disini. Tapi Lu bisa panggil Gue Reno aja. Sekali lagi, Gue minta maaf ya! gimana kalo Gue obatin dulu lukanya?”. “Enggak , gak usah! Nanti, Gue obatin di rumah aja, lagian cuma lecet dikit doang kok.” “Haduh, Gue jadi gak nyaman gini. Gimana kalo Lu kasih tau Gue ID Line Lu aja! Gue mau traktir Lu makan. Gue ga enak soalnya uda bikin Lu luka gitu.” “Hah? Ngapain? enggak usah kali, cuma dikit doang lukanya.” “Plis! Gue bakal kepikiran terus sama luka Lu soalnya,” ucap Reno memaksa. “Ya udah deh, ini ID Line Gue! Sorry, Gue buru-buru udah ditungguin Pak Supir soalnya, permisi.” “Oke, nanti gue hubungi ya!” ucap Reno sumringah. *** Sesampainya di rumah, Tiara langung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ayah dan ibunya sedang tidak ada di rumah, karena sibuk mengurus bisnis mereka. Sebenarnya ibu Tiara hanya ikut menemani ayah Tiara saja, dia selalu setia menemani ayah Tiara bekerja di kantornya. “Non, ini makan siangnya sudah siap! mau bibi antar ke kamar atau makan di meja, Non?” ucap Bibi Tiara. “Aku makan di luar aja deh sama Bibi. Bibi ikut makan juga ya! Aku sendirian soalnya, ajak pak supir juga ya, Bi!. “Iya Non, siap laksanakan!" Selesai makan siang, Tiara langsung bergegas ke kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Kring.. Bunyi pesan dari HP Tiara. Tiara langsung bergegas mengambil HPnya yang berada di kasur dekat Ia belajar. Ia berpikir mungkin orang tuanya atau Dini yang memberi pesan untuknya. Ternyata Reno yang sedang mengiriminya pesan di Line Tiara. “Hai, Ra. Ini Reno, gimana lukanya sudah diobati?” tanya Reno di pesannya. Tiara baru ingat, kalo Ia punya luka lecet di tangannya. Bisa-bisanya Ia lupa tentang hal itu. “Ehh, iya nih. Baru inget kalo gue punya luka lecet di tangan. Makasih uda diingetin,” balas Tiara. “Cepet diobatin, Ra, entar takutnya infeksi lagi.” “Iya ini mau Gue obatin dulu bentar!” “Okedeh, gue tunggu ya!” Tiara heran, kenapa Reno begitu tertarik padanya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh pada Reno. Maklum, Tiara tidak pernah punya hubungan dengan laki-laki lain selain teman sekelasnya di sekolah. “Gimana, Ra. Uda diobatinnya?” “Emm.. iya, udah kok!” balas Tiara singkat. “Lagi ngapain nih sekarang? Aku ganggu gak?” tanya Reno Tiara terkejut, sejak kapan Reno berubah menjadi Aku. Bukannya tadi di sekolah, Ia masih seperti teman seumuran biasa. Tiara memilih untuk tidak membalasnya. Karena Ia merasa bingung dan takut, karena tidak pernah mendapat pesan seperti ini dari laki-laki lain selain teman kelasnya. *** Pagi pun datang, Tiara sudah bersiap untuk sarapan dan pergi ke sekolah. Seperti biasa jangan ditanya lagi, Tiara harus dibangunkan oleh ibunya dulu baru Ia bisa bangun dari tempat tidurnya itu. “Pagi, Ma. Ehh.. ada Ayah, tumben Ayah belum berangkat jam segini? Ada apa nih, lagi libur kah?” tanya Tiara penasaran. “Ayah mana ada libur sayang. Ayah memang sengaja berangkat siangan, karena mau sambil nganterin anak ayah nih.” Tiara sangat senang mendengar ucapan dari ayahnya tersebut. Ia merasa sangat jarang sekali ayahnya meluangkan waktu untuknya. Mereka pun langsung berengkat setelah menyelesaikan sarapan mereka. *** Sesampainya di sekolah Tiara tidak lupa bersalaman dan mencium pipi ayahnya tersebut dan mengucapkan terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah. “Makasih banyak ya, Yah. Tiara seneng banget, kalo gitu Tiara masuk dulu ya, Yah. Bye ayah sayang!” “Selamat belajar anak Ayah tersayang,” ucap ayah Tiara mengakhiri. Di kelas, Tiara langsung menghampiri Dini yang sibuk dengan HPnya. “Woyy, diem-diem bae dah lu, pagi-pagi itu baca buku biar pinter!” “Iyadeh yang Juara Olimpiade Matematika. Gue mah cuma remahan rengginang.” Tiara tertawa mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Tiba-tiba ada anak kelas mereka memberikan surat kepada Tiara. Tiara terkejut dengan hal itu. “Ra, nih surat buat lu! Katanya sih penting banget, Ra. Gue mah cuma ngasih ke Ellu aja.” “Dari siapa ya? Perasaan Gue gak pernah nerima surat-surat deh.” “Gak tau deh, baca aja deh ya! Gue buru-buru ini kebelet pipis.” Tiara langsung membuka surat tersebut dan…. **** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD