Persiapan Menuju Napoli

1409 Words
Pagi setelah Gala yang menghancurkan, penthouse Sal terasa tegang dan sunyi. Isabella bergerak seolah-olah malam di gudang anggur hanyalah mimpi buruk yang harus segera ia lupakan. Dia mengganti gaunnya yang rusak, tetapi rasa sakit dan trauma terasa nyata di setiap gerakan. Di bawah lapisan ketenangan palsunya, tekadnya kini menjadi kuat. Isabella tahu dia harus bertindak segera. Alfieri sudah tiada, dan Sal pasti sedang memperketat pengawasan. ​Sal kembali pada sore hari. Wajahnya dingin, memancarkan aura bahaya yang terkendali, tetapi matanya memancarkan rasa kepemilikan yang mendalam. Sal tidak membahas kejadian semalam, tetapi perintahnya kepada para pengawal menjadi lebih ketat. ​Isabella tidak menunggu Sal bertanya. Dia harus mendahului. ​Dia duduk di meja makan, berpura-pura membaca laporan keuangan Giordano Holdings, yang sebenarnya adalah penyamaran untuk merumuskan alasan kepergiannya. Dia memanggil sekretaris Sal, mengatur penerbangan komersial ke Italia, dan menyiapkan berkas yang menunjukkan bahwa perjalanan ini adalah audit keuangan mendesak yang disetujui Sal sebelumnya. Dia menggunakan kode akses Sal untuk menyuntikkan dokumen palsu ini ke dalam jadwal Sal. ​"Aku akan ke Italia, Sal," kata Isabella datar, meletakkan berkas audit yang sudah disiapkan di hadapan Sal. ​Sal menatap Isabella, ekspresinya sulit dibaca, campuran kecurigaan dan keangkuhan. "Ke Italia? Dengan alasan apa?" ​"Napoli," jawab Isabella, nadanya profesional. "Audit Trust lama Adriana terlihat mencurigakan di bank sana. Ada transfer yang tidak jelas ke luar dari yayasan amal kita, yang pasti Sofia sembunyikan. Kau bilang kau ingin Komite ini bersih tahun ini. Aku harus mengurusnya sebelum ada yang mencium baunya." ​Dia menggunakan alasan Sofia dan keuangan sebagai perisai, tahu betul betapa sensitifnya Sal terhadap ancaman internal. Sal meraih berkas itu dan memeriksanya. Dokumen itu tampak otentik, disetujui pada jadwal lama yang memang sempat didiskusikan mereka. ​"Kau berani sekali," desis Sal. "Setelah semalam? Kau berpikir kau bisa meninggalkanku begitu saja?" ​"Aku tidak meninggalkanmu," balas Isabella, menatap matanya tanpa takut. "Aku melindungi asetmu, Sal. Aku memastikan Sofia tidak bisa menggunakan keuangan lama untuk melawan mu. Kau butuh aku di sana. Atau kau lebih suka Sofia menemukan buktinya lebih dulu?" ​Perhitungan Isabella tepat. Sal tidak bisa menolak ancaman dari Sofia dan potensi kehancuran finansial. Sal menarik napas dalam-dalam, menelan amarahnya demi melindungi kekuasaannya. ​"Baiklah. Kau pergi," putus Sal. "Tapi kau tidak akan pergi sendirian. Aku tidak bisa kehilangan wanitaku untuk kedua kalinya. Nico akan bersamamu. Dia adalah yang terbaik. Dia akan menjadi bayanganmu, Isabella. Dia akan melaporkan setiap napas yang kau ambil." ​Nico. Pengawal sekaligus asisten pribadi Sal yang paling dingin dan paling tidak bisa disuap. Rencananya menjadi jauh lebih sulit, tetapi Isabella tahu dia harus mengambil risiko ini. ​"Tentu, Sal," kata Isabella, memasang senyum tipis. "Aku akan membawa kembali solusi untuk masalahmu. Dan aku akan kembali sebagai Nyonya Giordano yang kau harapkan." ​Malam itu, Isabella mengemasi koper. Dia tidak membawa pakaian mewah, hanya pakaian praktis. Di lapisan dalam kopernya, tersembunyi alamat bank di Napoli, tiket satu arah menuju kebebasan,. Dia meninggalkan semua jejak masa lalunya di penthouse itu. Dia tahu Nico akan menjadi bayangan, tetapi Nico tidak tahu bahwa Isabella tidak mencari uang. Dia mencari kunci untuk meruntuhkan seluruh kekaisaran Sal. ​ ​Koper Isabella sudah tertutup. Tiket ke Napoli tergeletak di atas meja, di samping paspornya. Dia sudah siap untuk pergi, tetapi belum benar-benar bebas. Sal berdiri di ambang pintu kamar tidur, wajahnya yang dingin sedikit melembut di bawah cahaya redup. Dia tidak terlihat seperti Bos Mafia; dia terlihat seperti pria yang takut akan kehilangan. ​"Kau pergi besok pagi," kata Sal, suaranya pelan dan serak, sebuah nada yang jarang ia gunakan. "Kau akan jauh dariku selama berhari-hari. Bersama Nico." ​Isabella tidak menjawab. Dia hanya menatapnya, membiarkan keheningan mengisi ruangan. Dia tahu apa yang akan datang. Perjalanan ini adalah pengkhianatan yang ia lakukan, dan Sal menuntut pembayaran di muka. ​Sal melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi klik yang dingin. Gerakannya lambat, posesif, berbeda dari kekerasan yang ia tunjukkan di gudang anggur. Dia mendekati Isabella, tangannya menyentuh lembut bahu Isabella, tetapi tatapannya adalah janji akan kepemilikan yang mutlak. ​"Malam ini, kau bukan jaminan yang melunasi utang," bisik Sal. "Malam ini, kau adalah Bella-ku. Kau akan mengingat siapa dirimu, dan kau akan mengingat siapa aku. Di mana pun kau pergi, kau membawaku di dalam dirimu." ​Ciuman Sal kali ini bukanlah hukuman, melainkan tuntutan gairah. Itu adalah ciuman yang memohon dan sekaligus mendominasi. Ada keputusasaan yang nyata dalam cengkeramannya, seolah-olah dia berusaha menyerap keberadaan Isabella agar dia tidak pernah bisa lari. Sal mendekatkan keningnya, menyatukan hidung mereka, lalu melingkari lengan di pinggang ramping Bella. Tangannya menelusuri punggung Bella, berhenti di lekuk dadanya. Ia mengangkat atasan Bella, memandangi keindahan itu sambil meremasnya. "Kau tahu, tubuhmu adalah candu bagiku, dan lekuk ini adalah favoritku," bisik Sal, seringai tipis terlukis. ​Bella memalingkan wajahnya yang memerah. Sal menunduk. Bibirnya mengecup dan menghisap puncak gunung Bella, dari gerakan lembut hingga tak sabar, seolah sedang memeras gairah yang terpendam. Desahan meluncur dari bibir Bella. Sal tersenyum tipis istrinya yang munafik ini menikmati sentuhannya. ​Dengan sekali sentak, ia menyapu semua yang ada di meja dan merebahkan tubuh Bella di sana. "Sal, sakit! Apa yang kau lakukan?" ucap Bella, panik. "Aku ingin bercinta di setiap sudut kamar malam ini, Sayang." Sal menanggalkan pakaian Bella, lalu melepaskan pakaiannya sendiri. Mereka kini polos tak sehelai kain ditubuh. ​Sal meraih kaki Bella, menekuk dan melebarkannya. Wajahnya menunduk. Ujung rasanya segera mengolah titik fokus Bella, menyesap setiap kelembapan hingga tubuh Bella bergetar. "Kau gila," desah Bella. "Kau menyukainya, 'kan? Aku akan memberimu kenikmatan malam ini yang takkan kau lupakan." ​Ujung rasa Sal menari-nari di sana. Wanita itu menggeliat tak berdaya, desakan dari perutnya terasa seperti gelombang yang memuncak, hingga ia tak kuasa melepaskan cairan yang meluap. Sal menghisap dan mengecup di saat Bella mencapai pelepasan, membuat tangan Bella mencengkeram dan menekan rambut Sal. ​Tak ingin membiarkan Bella puas hanya sekali, Sal memasukkan tonggaknya dengan sekali hentakan yang dalam, membuat tubuh Bella melengkung ke atas. "Sialan kau!" umpat Bella. Sal tertawa puas, mengencangkan irama dengan hentakan yang dominan, suara khas gairah memenuhi ruangan. "Oh, kamu sungguh nikmat." ​"Kau tahu, Bella, malam ini kau akan membawa bagianku. Aku akan mengisi dirimu berkali-kali, meskipun kau pingsan." Dengan goyangan gila, tonggak Sal bergerak keras, memenuhi kehangatan Bella. "Akh, Sal!" erang Bella. "Ya, Sayang, panggil namaku!" ​Dengan sekali tarikan, tubuh Bella diangkat dan dibawa ke balkon kamar. "Sal, kau gila! Bagaimana kalau ada yang lihat?" tanya Bella, panik. "Tidak, Sayang, aman. Aku sudah memerintahkan semua orang pergi. Hanya kita berdua malam ini," jawab Sal, terengah-engah menikmati jepitan dari milik Bella. Sal merebahkan tubuhnya di kursi santai balkon, tonggaknya tetap menyatu dengan kehangatan Bella. "Sekarang, bergeraklah, Bella," perintahnya. ​Bella yang sudah dikuasai gairah menurut. Ia bergerak naik turun dan memutar, mengolah tonggak Sal dengan ritmenya sendiri. "Lebih kencang, Sayang," desis Sal. Ia mendongak, merasakan jepitan Bella yang luar biasa. Wanita itu mencapai pelepasan, guncangan dahsyat melanda, dan cairan panas menyembur. ​Sal tertawa puas, menikmati keintiman yang liar. Ia mencium bibir Bella, menyesapnya dalam-dalam, lalu membawa Bella kembali ke tempat tidur. ​"Sal, aku lelah," pinta Bella. ​"Tidak, Sayang, ini baru pemanasan," tolak Sal. Ia segera menggerakkan tonggaknya dengan irama kencang dan dorongan dalam, membuat Bella menjerit dan nyaris pingsan karena gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi. Isabella, yang menyimpan alamat Napoli sebagai senjata terkuatnya, membiarkan dirinya diterkam Sal malam ini. Jika dia menolak, Sal akan curiga. Jika dia menyerah, dia akan kehilangan jiwanya. ​Saat puncaknya tiba, Sal mendorong lebih dalam, melepaskan semua esensi gairahnya di dalam milik Bella. Puas, ia berbaring tanpa melepaskan penyatuan mereka. Sal mencium bahu Bella dan memeluknya erat. ​Malam itu menjadi perpaduan emosi yang kompleks. Gairah Sal begitu intens, menuntut setiap inci dirinya. Ini adalah pengakuan Sal akan hasratnya yang tak tersembuhkan, bercampur dengan ketakutan primitif akan kehilangan. Isabella melawan dengan gairah yang sama, menggunakan energi itu sebagai perisai dan pengalih perhatian. *** ​ ​Saat fajar mulai menyentuh tirai, Sal memeluk Isabella dengan erat, memejamkan mata seolah ingin membekukan momen itu selamanya. ​"Kembalilah padaku," bisik Sal, perintah yang terdengar seperti permohonan. "Kau harus kembali, Bella." ​Isabella membelai pipinya. Dia tidak berbohong, tetapi dia tidak mengucapkan seluruh kebenaran. "Tentu, Sal," bisiknya. "Aku akan kembali. Tapi aku akan membawa jawaban yang kau butuhkan." ​Janji itu adalah sebuah pedang bermata dua. Sal menganggapnya sebagai janji kesetiaan. Isabella tahu itu adalah janji kehancuran. Dia berhasil melewati malam terakhir itu, menyempurnakan penyamaran sebagai Nyonya Giordano yang penurut, dan siap untuk memulai perjalanan paling berbahaya dalam hidupnya ke Napoli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD