Janji di Bawah Matahari Tuscany

1514 Words
Sal tiba di penthouse dalam keadaan utuh, tetapi auranya telah berubah. Dia langsung menuju ruang komite. Isabella, yang masih duduk di depan layar, bangkit saat Sal masuk. Sal tidak mengeluarkan kata-kata dia hanya berjalan mendekat dan menarik Isabella ke pelukan yang memabukkan, memeluknya dengan kekuatan seorang pria yang baru saja hampir kehilangan segalanya. ​"Kau... kau menyelamatkanku, Bella," bisik Sal di rambut Isabella. Suaranya serak dan dipenuhi kekalahan yang indah. "Aku hampir membuang semuanya karena amarahku. Aku hampir membiarkan dia menjebak ku. Kau benar. Aku bodoh." ​Isabella membalas pelukannya, rasa lega membanjiri tubuhnya. "Kau tidak bodoh, Sal. Kau hanya Ayah. Dan Ayah akan selalu lebih mudah diprediksi daripada Giudice. Riccardo tahu itu." ​Sal menarik diri sedikit, menatap mata Isabella dengan rasa hormat yang mendalam. "Riccardo hancur total. Dia ditangkap dengan bukti yang kuat melibatkan Konsul Italia adalah harga yang harus dibayar Moretti. Aku tidak perlu mengeluarkan sebutir peluru pun. Ini... ini adalah jenis perang yang akan aku menangkan seratus kali." ​Sal kembali ke meja, meraih radio, dan membuat beberapa panggilan dingin. Perintahnya jelas dan ringkas. Segera perkuat jaringan legal untuk mengambil alih aset yang ditinggalkan Riccardo di Sisilia. Dan yang paling penting Don Moretti sekarang secara hukum tidak berdaya untuk melawan Keluarga Giordano. ​"Piero, perintahkan semua Capo di New York untuk mengadakan pertemuan segera besok malam," perintah Sal. Dia beralih ke Isabella. "Kau akan duduk di sebelahku, Bella. Kau akan memimpin laporan strategis. Mereka perlu tahu siapa yang benar-benar menjaga mahkota ini." ​Isabella tersenyum. Itu adalah pengakuan yang ia tunggu-tunggu. ​ ​Keesokan malamnya, ruang pertemuan terasa tegang. Para Capo dan kepala keluarga berkumpul, bingung dengan penangkapan Riccardo yang tiba-tiba. Sal, dengan wajah tenang dan otoritas baru, membuka pertemuan. ​"Riccardo dari Moretti mencoba mengambil kendali dari dalam," ujar Sal, suaranya menggelegar. "Dia menggunakan aset lama Sofia Mancini untuk menjebak kita dalam skema korupsi. Dia mengira saya akan sibuk dengan amarah dan pengejaran di jalanan." ​Sal kemudian menunjuk ke Isabella. "Kalian semua melihat saya kembali dengan utuh dan bisnis kita aman. Itu bukan karena pistol saya, itu karena Nyonya Giordano." ​Isabella berdiri, menatap setiap wajah di ruangan itu wajah-wajah yang dulu melihatnya sebagai sandera. ​"Strategi Riccardo gagal karena dia meremehkan kekuatan keuangan yang bersih," jelas Isabella, memproyeksikan data di layar. Dia merinci bagaimana Riccardo jatuh ke dalam jebakan meta-data transfer Milan, ditangkap oleh FBI, dan bahwa Don Moretti kini memiliki masalah besar dengan otoritas federal dan Roma. ​"Kemenangan ini adalah tentang kecerdasan, bukan tentang pertumpahan darah," tutup Isabella. "Siapa pun yang berpikir untuk bermain dengan Giordano Holdings harus tahu. Anda tidak lagi melawan Salvatore Giordano saja. Anda melawan tim. Dan kami lebih pintar dari Anda." ​Keheningan melanda ruangan itu. Lalu, salah satu Capo senior, seorang pria tua yang sinis, bangkat dan mengangguk perlahan. "Nyonya Giordano. Kami menyambut strategi Anda. Anda telah mengamankan keluarga ini." ​Dengan anggukan dari Sal, para Capo meninggalkan ruangan dengan pemahaman baru. Isabella bukan lagi jaminan utang. Dia adalah Ratu yang setara, dan kekuasaannya didasarkan pada kecerdasan yang tidak bisa ditembus oleh peluru. ​Malam itu, kembali ke kamar tidur mereka, Sal memeluk Isabella dengan hasrat yang mendalam, menciumnya dengan kelembutan seorang pria yang tahu ia telah menemukan separuh jiwanya. ​"Aku mencintaimu, Bella," bisik Sal. "Terima kasih sudah tidak membiarkan aku menjadi Giudice lama yang bodoh itu." ​"Aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi lagi," balas Isabella, memeluknya erat. "Kita adalah yang terbaik, Sal. Bersama." Setelah kekalahan Riccardo dan pengukuhan kekuasaan Isabella di hadapan para Capo, suasana di penthouse terasa lebih ringan, meskipun perlindungan tetap ketat karena kehamilan Isabella. Bisnis berjalan lancar, dan Sal kini mempercayakan sebagian besar keputusan kepada istrinya. ​Ketegangan antara mereka kini sepenuhnya berfokus pada perencanaan pernikahan sejati, yang didasari cinta, bukan kontrak. Isabella bersikeras upacara itu harus sederhana dan jauh dari politik Mafia. Sal, yang ingin memberikan yang terbaik, awalnya menuntut katedral megah, tetapi akhirnya menyerah pada keinginan Isabella. ​"Kita akan melakukannya di Tuscany," putus Isabella, memandang ke luar jendela. "Di vila terpencil, hanya kita, anak-anak, Nico sebagai saksi, dan pendeta. Tidak ada Capo, tidak ada Consigli mere. Hanya keluarga." ​Sal, yang duduk di belakangnya, memeluk Isabella dari belakang, dagunya bersandar di bahu Isabella. "Sebuah pernikahan yang sesuai dengan Nyonya Giordano yang paling licik. Baiklah. Aku menyukainya. Tapi aku akan memesan jet pribadi terbaik di dunia." ​"Tentu saja," Isabella tersenyum. "Kau adalah Giudice, bukan?" ​Persiapan pernikahan juga menjadi momen penting bagi Isabella dan anak-anak. Marco dan Lucio, yang kini berusia remaja, sangat antusias. Mereka berdua merasa lega melihat ayah mereka yang lama yang keras dan dingin telah digantikan oleh pria yang kini tersenyum dan memuja istri serta anak-anaknya. ​Suatu malam, saat Isabella memeriksa gaun pengantinnya yang sederhana namun elegan, Marco masuk ke kamar. ​"Mama Bella?" panggil Marco, suaranya sedikit ragu. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" ​"Tentu, amore," jawab Isabella, menoleh. ​Marco memegang sebuah foto lama Adriana di tangannya. "Apakah Mama masih mencintai Ayah karena... karena Mama merasa bertanggung jawab pada kami? Karena hutang?" ​Isabella berjalan mendekat dan mengambil foto itu. "Tidak, Marco," katanya lembut, menatap mata anak itu. "Utang itu sudah lama kubayar, dan kontraknya sudah disobek oleh Ayahmu sendiri. Jika aku masih di sini, itu karena pilihanku. Aku mencintai Ayahmu, Marco. Aku mencintai pria yang kau lihat hari ini. Pria yang rela mempertaruhkan nyawanya untukku, dan pria yang berlutut di depanku, memohon cintaku." ​Marco tersenyum lega. "Kami senang Mama memilih Ayah. Kami senang Mama adalah Mama kami yang sebenarnya." ​Momen itu mengukuhkan ikatan keluarga mereka. ​ ​Seminggu kemudian, mereka terbang ke Tuscany. Malam sebelum pernikahan, Sal membawa Isabella ke taman vila. Udara Italia terasa manis dan damai. ​Sal menyentuh wajah Isabella, jarinya membelai perutnya yang mulai membesar. "Kau tidak tahu betapa bahagianya aku, Bella. Bukan hanya karena kau memilih untuk menikahi ku lagi, tetapi karena kau memberiku kesempatan kedua." ​"Kita berdua mendapatkannya, Sal," bisik Isabella. "Kau memberiku kebebasan, dan aku memberimu kejujuran. Anak ini adalah simbol dari kebenaran yang kita perjuangkan." ​Sal mencium Isabella dengan gairah yang matang, bukan lagi kemarahan. Itu adalah ciuman yang menjanjikan masa depan yang dibangun di atas rasa hormat dan cinta yang diperoleh dengan susah payah. ​"Besok," ujar Sal, "kau akan menjadi Nyonya Giordano. Bukan jaminan. Tapi Ratu-ku. Dan aku akan pastikan dunia tahu, kau adalah kekuatan di balik tahta ini." Langit Tuscany yang biru jernih membentang di atas taman vila yang dipenuhi aroma lavender dan cypress. Altar sederhana, dihiasi mawar putih dan olive branch, telah disiapkan. Ini adalah kontras sempurna dari pernikahan pertama mereka yang dingin dan terpaksa. ​Isabella berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin putih sederhana yang elegan, memeluk siluet kehamilannya yang mulai terlihat. Dia tidak ditemani oleh maid of honor atau pengiring pengantin hanya Lucio dan Marco yang berdiri di pintu, mengenakan setelan jas kecil mereka, mata mereka penuh kekaguman. ​"Mama Bella, Mama cantik sekali," bisik Lucio, matanya berkaca-kaca. ​Marco, yang lebih dewasa, tersenyum lebar. "Ayah sudah menunggu. Dia terlihat gugup, Mama. Dia terus memeriksa jamnya." ​Isabella tertawa. "Ayahmu tidak pernah gugup, Marco. Dia hanya takut aku berubah pikiran." ​"Kami tahu Mama tidak akan," kata Marco, memegang tangan Isabella. "Kami mencintai Mama." ​Isabella merasakan hatinya penuh. Ia tidak hanya mendapatkan kembali kebebasannya, tetapi juga mendapatkan cinta dari dua jiwa yang paling rentan dalam hidup Sal. ​ ​Marco dan Lucio mengantar Isabella berjalan di atas karpet mawar. Musik klasik Italia dimainkan pelan. Sal berdiri di altar, mengenakan setelan krem yang lembut, bukan setelan hitamnya yang biasa. Ketika matanya bertemu Isabella, semua ketegangan di wajahnya menghilang, digantikan oleh emosi mentah yang jujur. ​Nico berdiri di samping Sal, kaku dan resmi sebagai satu-satunya saksi dewasa, tetapi bahkan di matanya terlihat kelegaan dan kebahagiaan untuk Bosnya. ​Pendeta memulai upacara, tetapi yang paling penting adalah janji yang mereka ucapkan sendiri. ​Sal memegang kedua tangan Isabella, matanya tidak berkedip. "Isabella," bisik Sal, suaranya dalam dan serak, "Pernikahan pertama kita adalah dosa yang ku buat karena kesombongan. Aku melihatmu sebagai jaminan, sebagai properti. Kau mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak bisa dipaksa. Kau menyelamatkan kerajaanku dan jiwaku. Aku bersumpah di hadapan anak-anak kita dan di hadapan Tuhan, bahwa aku adalah milikmu, karena kau memilihku. Aku akan melayani mu, menghormatimu, dan melindungi mu. Bukan sebagai Giudice yang kejam, tetapi sebagai suamimu, Salvatore." ​Isabella tersenyum, air mata hangat mengalir di pipinya. "Salvatore," balasnya, cengkeramannya pada tangan Sal menguat. "Aku datang ke kehidupanmu karena paksaan, dan aku tinggal karena cinta yang ku peroleh. Aku mencintai pria yang bersedia berlutut untuk mendapatkan kebebasan. Aku mencintai pria yang belajar untuk mendengarkan. Aku berjanji akan menjadi kekuatanmu, kecerdasanmu, dan ratu di sisi tahtamu. Aku milikmu, dalam kemitraan dan cinta, seumur hidup kita." ​Setelah bertukar cincin, cincin emas polos, berbeda dari cincin berlian pertama mereka yang terasa seperti rantai pendeta menyatakan mereka suami istri. ​Sal menarik Isabella ke dalam pelukan yang hangat dan lembut. Ciuman mereka adalah janji yang ditepati. Di belakang mereka, Marco dan Lucio bersorak, air mata bahagia di mata mereka. ​Momen itu melampaui Mafia, melampaui hutang dan jaminan. Itu adalah pengukuhan cinta yang dibangun dari abu kehancuran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD