“Jadi, siapa kamu?” Axel terus menatap ke arah Callista yang duduk di samping bed. Sejak tadi terbangun dari tidurnya memang hanya ada Callista di dalam kamar, maka yang dilihat oleh Axel juga hanya Callista. Callista tersenyum. “Aku Callista. Aku ini … pacarmu, Axel.” “Pacar?” Axel mengerutkan kening. Callista mengangguk, masih dengan senyuman manisnya. Axel mencoba mengingat tentang Callista. Mencoba memanggil memory di dalam kepalanya yang ada hubungannya dengan Callista. Namun gagal. Tidak berhasil sedikitpun. Kening Axel mengernyit, dia memijat keningnya tepat di tengah kedua alis. “Ohh Axel, kamu kenapa? Kepalamu nyeri lagi, ya? Sudah jangan dipaksakan kalau begitu. Biar nanti pelan-pelan saja kalau mau mencoba mengingat lagi, ya.” Callista berdiri dari duduknya, lalu dia memba

